NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru

Senin kembali menyapa dengan ritme yang tak kenal ampun. Matahari baru saja naik sepenggalah, namun suasana di kantor Natural & Balance sudah terasa hidup. Bunyi ketukan keyboard yang beradu dengan deru pendingin ruangan menjadi musik latar yang menemaniku sejak pukul delapan pagi.

​Aku menatap layar monitor dengan fokus penuh, jemariku bergerak lincah menyusun laporan  dan evaluasi produk bulanan. Bos kami memang unik; ia sangat tidak suka melihat karyawannya pulang telat, tapi ia juga mengharamkan kami bekerja dalam tekanan yang membuat stres. Sebuah paradoks yang indah.

​Banyak orang di luar sana mungkin menganggap kebaikan atasan sebagai celah untuk bersantai, namun di sini justru terjadi sebaliknya. Kami—termasuk aku—merasa berutang budi. Loyalitas kami tumbuh bukan karena ancaman surat peringatan, melainkan dari rasa dihargai. Inilah rahasia yang kubawa dari masa depan: alasan mengapa aku mampu bertahan hampir sepuluh tahun di perusahaan ini.

​"Ra, data yang baru sudah masuk?" tanya Mili dari meja sebelah, wajahnya masih segar meski tumpukan map ada di hadapannya.

​"Sudah, Mil. Sudah aku masukkan ke folder share. Coba cek, ada beberapa poin yang aku tandai kuning untuk kita diskusikan nanti," jawabku tanpa mengalihkan pandangan.

​"Siap, Bos Kecil!" canda Mili dengan jempol terangkat. Aku tersenyum tipis.

Di lini masa yang asli, aku sempat melihat beberapa rekan kerja mengundurkan diri di tahun-tahun awal karena merasa gaji di sini kurang menjanjikan dibandingkan perusahaan rintisan lain yang sedang bakar uang.

Mereka menganggap kenyamanan ini sebagai stagnasi. ​Padahal, aku tahu apa yang akan terjadi tiga tahun lagi. Saat ekspansi perusahaan membuahkan hasil yang gemilang, Bos akan menjadi sosok yang sangat royal. Gaji akan melompat naik, dan bonus tahunan akan membuat siapa pun tercengang. Mereka yang memilih bertahan karena 'hati' akan memanen hasil yang sangat manis.

​Aku menarik napas dalam, meminum sedikit kopi hitam yang mulai mendingin di atas meja. Bekerja di sini sekarang terasa seperti menanam benih di tanah yang subur. Aku tidak hanya bekerja untuk hari ini, tapi aku bekerja dengan kepastian tentang apa yang akan tumbuh di masa depan.

​Setiap baris data yang kuinput, setiap koordinasi yang kulakukan dengan tim,  kulakukan dengan semangat yang menggebu. Bukan karena paksaan, tapi karena aku ingin memastikan perusahaan ini mencapai kejayaannya tepat waktu—atau bahkan lebih cepat dari yang seharusnya.

​"Teman - teman, jangan terlalu serius. Ingat kata Bos, mata butuh istirahat lima menit setiap jam," tegur sebuah suara salah satu teman yang familier.

​Aku menoleh. Ia di dekat dispenser, sedang mengisi botol minumnya. Ia menatapku dengan tatapan yang seolah berkata: jangan biarkan semangat kalian membakar kalian sendiri.

​Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil. "Hanya menyelesaikan sedikit lagi,  Setelah itu aku akan 'bermeditasi' sebentar di pantry."

​Si teman pengingat ini hanya tersenyum tipis, lalu berlalu menuju ruangannya.

Di kantor ini, di tengah kesibukan yang nyata ini, aku merasa hidupku kembali memiliki poros. Bukan lagi tentang melarikan diri dari masa lalu, tapi tentang membangun masa depan yang sudah kuketahui akhirnya akan sangat indah.

Jam makan siang tiba, dan aku bersama teman-temanku masih berdiri di lobi gedung, terjebak dalam perdebatan sengit tentang cara terbaik menghabiskan voucer makan jatah kantor hari ini. Kantin gedung yang luas itu menawarkan terlalu banyak opsi untuk perut yang sudah mulai keroncongan.

​"Ayyara?"

​Sebuah suara memanggil namaku dengan tenang. Aku menoleh dan mendapati sosok yang tak asing sedang berjalan ke arahku. Zayn. Ia tampak lebih santai dengan kemeja kantor yang lengannya digulung rapi, jauh dari kesan kaku yang kulihat saat kencan buta kemarin.

​Ternyata, dunia kembali menunjukkan betapa sempitnya ia. Kantor tempat Zayn bekerja baru saja pindah ke kantor kosong  di sebalah natural & balance jadi kami bekerja digedung yang sama.

Teman-temanku, yang seolah memiliki radar tajam untuk urusan privasi, segera memberiku ruang. Mereka bergegas pergi lebih dulu ke kantin dengan alasan "takut kehabisan tempat duduk", meninggalkanku berdua dengan Zayn.

​Zayn tersenyum tipis, ada raut penyesalan yang tulus di wajahnya. "Ra, aku mau minta maaf soal kemarin. Kencan buta itu... yah, benar-benar berjalan di luar kendali. Aku tidak enak hati padamu."

​Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tidak apa-apa, Zayn. Anggap saja itu pengalaman unik yang tidak akan terulang dua kali."

​"Syukurlah kalau kamu tidak keberatan," sahutnya lega. "Karena kantor kita sekarang bersebelahan, aku berharap kita bisa tetap berteman. Setidaknya, ada wajah yang kukenal di kawasan ini."

​Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Aku sengaja tidak menanyakan hal-hal pribadi, terutama soal drama dengan Devanka kemarin. Kami mengobrol layaknya teman lama, membahas betapa strategisnya lokasi gedung ini dan menimbang-nimbang menu kantin mana yang paling layak dicoba. Sebelum makan siang berakhir, kami pun bertukar nomor ponsel.

​Di sela obrolan, Zayn memberikan informasi yang membuatku sedikit terkejut. "Sebenarnya aku satu perusahaan dengan Rain, Ra. Hanya saja, aku ditempatkan di tim yang baru pindah ke kantor cabang di sini."

​Pantas saja kemarin Rain terlihat tidak canggung sama sekali saat harus duduk satu meja dengan Zayn. Selain satu angkatan saat kuliah, mereka ternyata rekan kerja didalam perusahaan yang sama.

​Zayn kemudian melirikku dengan tatapan penasaran. "Ngomong-ngomong, aku lihat kamu dan Rain cukup akrab kemarin. Kalian sudah kenal lama?"

​Aku menjawab singkat, menggunakan alibi yang sudah kusiapkan di kepala sejak lama.

"Kami dulu teman kerja part-time saat masih kuliah.

​Zayn mengangguk-angguk paham, seolah penjelasan itu cukup masuk akal baginya.

Makan siang itu berakhir dengan suasana yang jauh lebih ringan daripada pertemuan kami sebelumnya.

Namun, saat kembali ke meja kerjaku, aku mendapati sebuah pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan.

​[Zayn]: Senang bisa satu area kantor denganmu, Ra. Besok-besok, jangan pakai voucer terus ya, sesekali biar aku yang traktir sebagai permintaan maaf yang resmi.

​Aku menatap layar ponselku, dan menjawab dengan singkat. "Ok"

--

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga pekat, pertanda jam pulang kantor telah tiba. Aku melangkah keluar gedung dengan bahu yang sedikit pegal, menuju halte bus yang tak jauh dari gerbang utama. Antrean calon penumpang sudah mengular, menciptakan barisan manusia yang lelah namun rindu rumah.

​Saat aku sedang asyik mengatur posisi tas agar tidak terjepit di antara kerumunan, sebuah suara yang kini mulai familier menyapa dari belakang.

​"Naik bus juga, Ra?"

​Aku menoleh. Zayn berdiri di sana, masih mengenakan kemeja kantor yang rapi dengan tas punggung tersampir di satu bahu. Ia tersenyum ramah, tampak jauh lebih segar dibandingkan orang-orang di sekitarnya yang terlihat layu karena pekerjaan.

​"Eh, Zayn. Iya, hari ini lagi ingin menikmati kemacetan dari jendela bus saja," jawabku sembari membalas senyumnya.

​"Kebetulan sekali. Aku juga lagi malas bawa kendaraan. Parkiran di gedung itu seperti labirin, keluar saja bisa makan waktu setengah jam sendiri," keluhnya jenaka, membuatku tertawa kecil.

​Tak lama kemudian, bus TransKota koridor satu merapat. Kami beruntung masih mendapatkan ruang untuk berdiri yang tidak terlalu berdesakan di bagian tengah.

Aku berpegangan pada handgrip plastik yang dingin, sementara Zayn berdiri di sampingku, menjaga keseimbangan dengan satu tangan di besi pembatas, memastikan posisinya cukup kokoh agar tidak menabrakku saat bus mengerem mendadak.

​"Ternyata kamu tangguh juga ya, mau berdesakan begini," ujar Zayn tiba-tiba, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di antara deru mesin bus dan bisingnya jalanan.

​"Sudah biasa, Zayn. Hidup di kota kalau tidak tangguh, bisa ketinggalan rombongan," sahutku.

​Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan.

Zayn bercerita tentang tim barunya di kantor cabang yang ternyata cukup seru, meskipun beban kerjanya mulai menumpuk karena baru saja pindahan. Ia adalah lawan bicara yang menyenangkan—pembawaannya santun dan ia tahu kapan harus melemparkan lelucon ringan yang membuat perjalanan di tengah macet ini tidak terasa membosankan.

​Ada satu hal yang kusadari; Zayn punya cara bicara yang penuh perhatian. Ia selalu menatap lawan bicaranya dengan tulus, tipikal pria yang akan sangat mudah disukai oleh Ibu atau kerabatku jika mereka sempat bertemu.

​"Oh, halteku sudah dekat," ucap Zayn saat bus mulai melambat mendekati sebuah halte. Ia melihat ke luar jendela, lalu beralih menatapku lagi. "Aku turun di sini, Ra. Kamu masih lanjut?"

​"Masih beberapa halte lagi, Zayn," jawabku.

​Zayn bergeser menuju pintu keluar yang mulai terbuka, namun ia sempat menoleh sekali lagi dengan lambaian tangan yang hangat. "Hati-hati ya, Ra. Sampai ketemu besok di jam makan siang!"

​"Hati-hati, Zayn!" sahutku pelan.

​Aku memperhatikannya dari balik jendela kaca bus yang sedikit buram. Sosoknya menghilang di tengah hiruk pikuk orang-orang yang tumpah ruah di halte. Kini, aku kembali berdiri sendirian di tengah bus yang bergoyang mengikuti ritme jalanan yang tidak rata.

​Satu hal yang pasti, bertemu Zayn secara tidak sengaja seperti ini membuat perjalanan pulangku yang biasanya melelahkan terasa sedikit lebih ringan. Aku menarik napas panjang, menatap gedung-gedung pencakar langit yang mulai menyalakan lampu-lampunya, sambil memikirkan rencana survei kos yang sudah dijanjikan untuk akhir pekan nanti.

Hari-hari berikutnya bergulir dengan ritme yang lebih berwarna. Gedung perkantoran yang  kini terasa lebih hidup sejak kehadiran Zayn dan rekam - rekanya di unit sebelah. Tanpa direncanakan, momen makan siang kami perlahan menjadi rutinitas yang tetap.

​Kadang, kami duduk melingkar di meja panjang kantin bersama Mili dan rekan-rekan kantorku yang lain. Di lain waktu, giliran aku dan beberapa rekanku yang bergabung di meja Zayn dan rekanya, mendengarkan obrolan seru tim barunya yang penuh semangat khas orang-orang yang baru pindah ruangan.

​Zayn adalah pribadi yang menyenangkan. Ia punya bakat alami untuk mencairkan suasana. Kehadirannya di meja makan tidak pernah terasa mendominasi, namun ia selalu tahu bagaimana cara menyelipkan perhatian kecil—seperti menggeser botol sambal sebelum aku memintanya, atau memastikan aku mendapatkan tisu saat pesanan bakso kami datang.

Rekan-rekan kerjaku pun mulai terbiasa melihat kami beriringan, bahkan Mili sesekali melempar godaan halus lewat tatapan matanya, meski aku selalu membalasnya dengan gelengan kepala yang tegas.

Di balik batasan yang tetap kujaga, aku tidak bisa memungkiri bahwa obrolan ringan dengan Zayn adalah jeda yang manis di tengah tumpukan laporan evaluasi produk. Kami bicara tentang banyak hal; mulai dari keluhan soal AC kantor yang terlalu dingin, hingga perdebatan kecil tentang kedai kopi mana yang punya pastry terbaik di area ini.

​Tanpa terasa, sore ini matahari kembali tenggelam dengan warna jingga yang sama, menandakan hari kerja terakhir telah usai. Saat aku merapikan meja kerja dan mematikan monitor, sebuah pesan singkat muncul di layar ponselku. Bukan dari Zayn yang biasanya mengajak pulang bersama di halte, melainkan dari Rain.

​[Rain]: Besok pagi jadi?

​Aku tertegun sejenak, memandangi pesan itu dengan senyum yang tak sadar terukir. Besok adalah akhir pekan. Waktunya kembali ke misi utama kami: mencari tempat berteduh yang nyaman dan tak membuat energiku habis perjalanan pulang pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!