Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMADAMKAN BARA KERINDUAN.
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui jendela kamar perawatan, menandakan waktu bagi Alisha untuk kembali ke rumah. Dokter telah memberikan lampu hijau setelah memastikan seluruh sisa obat dalam tubuhnya telah luruh. Alisha sudah bersiap dengan pakaian rapi, namun ia mendadak mematung saat melihat Fardan masuk ke ruangan sambil mendorong sebuah kursi roda dengan wajah yang terlampau serius.
"Yang, apa yang kau lakukan dengan benda itu?" tanya Alisha dengan dahi berberkerut heran.
Fardan menepuk bantalan kursi roda tersebut dengan bangga. "Tentu saja untukmu, Sayang. Kau harus duduk di sini sampai kita masuk ke dalam mobil. Aku tidak ingin kau membuang energi untuk berjalan."
Alisha menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa pipinya memanas karena malu. "Fardan, aku hanya diberi obat bius, bukan baru saja operasi patah tulang! Aku sudah sehat walafiat, tidak perlu kursi roda!"
"Tidak boleh. Keamanan dan kenyamananmu adalah prioritas nomor satu. Cepat duduk, atau aku yang akan mengangkatmu paksa," ancam Fardan dengan nada tegas yang dibuat-buat.
Bukannya menurut, Alisha justru mengambil tasnya dan melangkah seribu seraya keluar kamar. Terjadilah drama kejar-kejaran di koridor rumah sakit. Alisha berjalan cepat sembari berpura-pura tidak mengenali pria di belakangnya, sementara Fardan terus mengekor sambil mendorong kursi roda kosong itu dengan kecepatan tinggi. Beberapa perawat yang lewat hanya bisa menahan tawa melihat tingkah konyol sang pengusaha besar tersebut.
Sesampainya di lobi, Alisha berhenti dan berbalik dengan wajah galak. "Berhenti sekarang juga! Kalau kursi roda itu tidak dikembalikan ke perawat sekarang, aku bersumpah akan pulang naik taksi sendirian!"
Mendengar ancaman itu, nyali Fardan ciut seketika. Ia segera menyerahkan kursi roda tersebut kepada seorang perawat yang kebetulan lewat, lalu ia berlari kecil mengejar Alisha yang sudah masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Alisha memalingkan wajahnya ke jendela dengan bibir yang mengerucut tajam.
"Kau sungguh keterlaluan, Yang. Di mana wibawamu sebagai CEO yang dingin itu? Semua orang tadi melihat kita," omel Alisha tanpa menoleh.
Fardan meraih jemari Alisha dan mengecupnya lembut. "Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin memastikan kau tidak kelelahan. Dan satu hal yang harus kau ketahui Sayang. Bagiku, kedudukan atau wibawa di mata publik tidak ada artinya jika harus dibandingkan dengan dirimu dan putra kita. Hmm... Tapi apakah kau malu, karena suamimu yang seperti ini?"
Alisha menghela napas, kemarahannya menguap saat melihat ketulusan di mata suaminya. Ia berbalik dan memberikan kecupan singkat tepat di bibir Fardan. "Aku tidak malu memiliki suami sepertimu, karena kau pria yang hebat."
Mata Fardan terbelalak mendapat serangan mendadak itu. Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari, lalu tersenyum nakal. "Kau harus bertanggung jawab nanti malam atas kecupan ini, Istriku."
Alisha hanya tertawa kecil sebagai jawaban. "Dewa, ayo kita jemput Ghifari dulu ke sekolah."
Namun, setibanya di sekolah, suasana hati Fardan kembali memanas. Guru kelas mengabarkan bahwa Ghifari sudah dijemput oleh Fajar. Tanpa menunggu lama, Fardan langsung menghubungi sepupunya itu dengan nada bicara yang meledak-ledak.
"Fajar! Beraninya kau membawa anakku tanpa izin! Kau mau kucoret dari daftar mitra bisnis kita?" teriak Fardan ke arah ponselnya.
Di seberang sana, Fajar tertawa terbahak-bahak. "Tenanglah, Fardan. Aku hanya ingin belajar sedikit sistem dari Ghifari sambil bermain. Lagi pula, inikan kesempatan emas bagimu. Manfaatkan waktu luang ini untuk membuatkan adik bagi Ghifari agar dia tidak terlalu sibuk mengurus server perusahaanku. Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu kasar padanya!"
Fardan terdiam sejenak. Ia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya yang tiba-tiba serak. "Baiklah, kalau begitu jaga anakku baik-baik. Pastikan dia makan tepat waktu."
Alisha menatap suaminya penuh selidik saat Fardan menutup telepon. "Kenapa Ghifari dibawa Fajar?"
"Fajar sedang butuh bantuan Ghifari untuk mengamankan sistem perusahaannya dari peretas. Sepertinya mereka akan lembur belajar," dusta Fardan dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
Mobil pun akhirnya sampai di depan mansion megah mereka. Belum sempat Alisha melangkah turun, Fardan sudah lebih dulu menyambutnya dan langsung mengangkat tubuh Alisha ke dalam gendongannya.
"Fardan, turunkan! Aku sudah sehat, sungguh!" protes Alisha sembari meronta pelan.
"Benarkah kau sudah sehat? Mana buktinya?" tantang Fardan dengan sorot mata yang menantang.
Alisha yang merasa tertantang langsung melingkarkan lengannya di leher Fardan dan membalas dengan ciuman yang lebih dalam di bibir suaminya. Reaksi itu di luar dugaan Fardan. Ia segera mempercepat langkahnya menaiki tangga, membawa Alisha langsung menuju kamar pribadi mereka. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Fardan meletakkan Alisha di atas ranjang dengan sangat lembut.
"Kau harus bertanggung jawab, Lisha. Kau terus saja menggodaku sejak di rumah sakit tadi," ucap Fardan dengan suara berat yang penuh dengan hasrat yang tertahan.
Alisha tidak memberikan jawaban melalui kata-kata. Ia justru meraih kerah baju Fardan dan menarik pria itu mendekat, kembali menyatukan bibir mereka. Kecupan itu berubah menjadi cumbuan yang sangat dalam. Suara kecapan terdengar berkali-kali memenuhi keheningan kamar saat mereka saling menyesap dengan rasa rindu yang meluap-luap.
Hasrat yang sempat padam selama enam tahun lamanya itu kini bangkit kembali seperti bara api yang tersiram bensin. Fardan merasa oksigen di sekitarnya menipis. Dengan gerakan yang sedikit kasar karena tak sabar, ia melepas jas dan kemejanya, lalu perlahan melucuti pakaian Alisha satu demi satu.
Tangannya menjelajahi setiap jengkal kulit Alisha yang selama bertahun-tahun ini hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi. Suara lenguhan lembut yang keluar dari bibir Alisha menjadi musik paling indah bagi Fardan, semakin memicu gairahnya untuk memiliki wanita itu sepenuhnya lagi.
"Aku sangat merindukanmu, Alisha. Sangat merindukanmu," bisik Fardan di sela-sela cumbuan mereka.
"Aku juga, Fardan. Jangan tinggalkan aku lagi," jawab Alisha dengan napas yang memburu.
Sore itu, kamar yang biasanya sunyi berubah menjadi saksi bisu bersatunya kembali dua jiwa yang telah lama terpisah. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada rasa cinta yang membara dan kerinduan yang akhirnya menemukan muaranya. Di bawah hangatnya cahaya sore yang menembus jendela, Fardan dan Alisha tenggelam dalam mahligai cinta yang begitu panas, berjanji untuk tidak akan pernah membiarkan satu sama lain menjauh lagi.