Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi di kantor Nasution Property Group biasanya dimulai dengan aroma kopi yang kuat dan deru mesin fotokopi yang sibuk. Sheila baru saja meletakkan tasnya, masih sedikit terengah-engah setelah beradu argumen dengan driver ojek online yang salah mengambil jalan tikus. Ia menarik kursi kerjanya, menyalakan CPU, dan baru saja jemarinya hendak menyentuh keyboard untuk mengecek jadwal rapat pagi, sebuah bayangan besar tiba-tiba menaunginya dari belakang.
"Pagi, Calon Nyonya Nasution."
"Astaga! Apaan sih, Pak! Ngagetin orang saja! Kebiasaan banget sih!" Sheila melonjak dari kursinya, tangannya refleks memegang dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.
Jeremy berdiri di sana, bersandar santai pada meja kerja Sheila dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, dan aroma parfum sandalwood-nya langsung mendominasi area kubikel itu.
"Ya habisnya, aku kangen kamu. Semalam cuma teleponan sebentar, rasanya ada yang kurang," ucap Jeremy tanpa beban, senyum miringnya yang tengil itu tersungging sempurna.
"Dih! Apaan sih, nggak malu didengar karyawan lain? Ini kantor, Pak Jeremy yang terhormat! Jaga profesionalitas, tolong," bisik Sheila ketus sambil melirik kanan-kiri. Beberapa staf pemasaran yang lewat mulai berbisik-bisik sambil menutupi mulut mereka dengan map.
"Kenapa harus malu? Aku bosnya, dan aku kangen sama asisten pribadiku sendiri. Masalah?" Jeremy justru semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Sheila, membuat jarak di antara mereka menipis.
Di saat mereka sibuk berdebat kecil—rutinitas harian yang belakangan ini terasa lebih seperti "perang rayuan" bagi Jeremy—bunyi denting notifikasi ponsel Sheila yang tergeletak di atas meja memecah pembicaraan. Layar ponsel itu menyala, menampilkan pesan WhatsApp dari Alena.
Alena: "Shei! Gue tahu lokasi Malik. Dia kerja di proyek ruko daerah Bekasi Timur. Mau gue temenin ke sana?"
Waktu seolah membeku. Sheila tertegun, matanya terpaku pada deretan kalimat itu. Jantungnya yang tadi berdegup karena godaan Jeremy, kini berpacu karena rasa sesak yang tiba-tiba kembali datang. Nama Malik selalu menjadi tombol pemicu luka yang belum kering sempurna.
Namun, ia tidak menyadari bahwa mata elang Jeremy juga menangkap pesan tersebut.
Dalam sekejap, aura hangat dan tengil dari Jeremy menguap. Rahangnya mengeras, garis wajahnya menjadi sangat tegas dan dingin. Atmosfer di sekitar mereka mendadak menjadi berat. Jeremy menegakkan tubuhnya, menatap Sheila dengan tatapan yang tajam dan menuntut.
"Kamu masih nyariin dia ngapain sih, Sheila?!" suara Jeremy rendah namun penuh penekanan, sangat berbeda dari nada bercandanya tadi. "Dia sudah buang kamu. Dia sudah menyerah sama hubungan kalian. Dia pengecut yang bahkan nggak berani pamit dengan benar!"
"Pak... ini urusan pribadi saya," sahut Sheila lirih, mencoba meraih ponselnya.
Namun, gerakan Jeremy jauh lebih cepat. Tangan besar pria itu menyambar ponsel Sheila sebelum jemari Sheila sempat menyentuhnya.
"Urusan pribadi kamu adalah urusan aku juga sekarang," tegas Jeremy. Ia menatap layar ponsel itu dengan muak, lalu tanpa permisi, ia mematikan daya ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. "HP ini aku sita. Kamu fokus kerja saja. Jangan biarkan bayangan masa lalu yang sudah 'mati' itu merusak hari kamu... dan hari aku."
"Jeremy! Balikin! Itu barang aku!" Sheila berdiri, mencoba meraih saku jas Jeremy, namun pria itu justru menangkap kedua pergelangan tangan Sheila, menguncinya di udara.
"Dengar, Sheila Maharani," Jeremy menatap langsung ke dalam manik mata Sheila. "Aku sudah kasih kamu waktu dua minggu buat berduka. Aku sudah sabar nunggu kamu berhenti nangis tiap malam. Tapi kalau sekarang kamu mau lari lagi ke dia, ke orang yang sudah jelas-jelas menyerahkan kamu ke aku... aku nggak akan tinggal diam."
"Tapi dia sedang sakit, Jer! Tangannya..."
"Banyak orang sakit di dunia ini, Sheila! Tapi nggak semuanya membuang orang yang tulus mencintainya!" Jeremy memotong dengan telak. Ia melepaskan tangan Sheila, lalu merapikan jasnya dengan gerakan dingin. "Masuk ke ruangan aku sekarang. Kita bahas laporan tender dari Papa. Jangan keluar dari ruangan sebelum jam makan siang selesai. Mengerti?"
Sheila hanya bisa mematung, menatap punggung Jeremy yang berjalan menuju ruangan CEO dengan langkah angkuh. Ia merasa sesak. Di satu sisi, ia ingin sekali mengejar Malik ke Bekasi, menuntut penjelasan akhir agar ia bisa benar-benar move on. Namun di sisi lain, ia menyadari proteksi Jeremy—meski sangat posesif dan menyebalkan—adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak kembali hancur berkeping-keping.
Ia melangkah masuk ke ruangan Jeremy dengan bahu yang lesu. Di dalam, Jeremy sudah duduk di kursinya, meletakkan ponsel Sheila di dalam laci meja kerja yang terkunci.
"Duduk, Shei. Kita mulai kerjanya," ucap Jeremy tanpa menoleh, namun tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen. Ia takut. Jeremy yang selalu punya segalanya, mendadak merasa sangat takut jika satu pesan dari Alena itu bisa merenggut kembali satu-satunya wanita yang ia cintai dari pelukannya.
***
Suasana hening di dalam ruangan CEO yang biasanya hanya diisi oleh suara denting kibor Sheila dan sesekali gumaman Jeremy, mendadak pecah oleh bunyi bantingan pintu jati yang cukup keras. Tanpa mengetuk, Tuan Nasution melangkah masuk dengan setelan jas hitam formal dan aura yang mampu membuat suhu ruangan seolah turun beberapa derajat.
Matanya yang tajam langsung tertuju pada meja kecil di sudut ruangan yang kini ditempati oleh Sheila. Gadis itu tersentak, jemarinya membeku di atas tuts laptop saat ia mendapati sang pemilik gedung sedang menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Tuan Nasution mendengus sinis, suaranya terdengar berat dan penuh penghinaan. "Bagus. Asisten ini sekarang masuk ke ruangan kamu ya! Sejak kapan kantor ini punya kebijakan asisten pribadi duduk satu napas dengan bosnya?"
Sheila segera berdiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Selamat pagi, Pak," sapa Sheila lirih, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti terdakwa yang tertangkap basah di ruang sidang.
Jeremy, yang tadinya sedang mempelajari draf proyek terbaru, meletakkan pulpennya dengan tenang di atas meja kerja mahoninya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, menatap ayahnya tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Pa, udahlah. Sheila cuma kerja di sini supaya koordinasi jadwal aku lebih cepat. Nggak ada yang salah dengan itu," jawab Jeremy dengan nada datar namun penuh penekanan.
"Cuma?" Tuan Nasution tertawa sinis, langkah kakinya bergerak mendekati meja Jeremy, namun matanya tetap melirik ke arah Sheila yang masih mematung. "Mana ada kerja di ruangan bosnya secara privat kalau bukan ada 'apa-apa'. Kamu pikir Papa nggak tahu gosip yang beredar di lobi? Kamu jemput dia, kamu antar dia, dan sekarang kamu kurung dia di sini?"
"Papa terlalu banyak dengerin omongan orang luar yang nggak kompeten," sahut Jeremy. Ia berdiri, melangkah mendekat ke arah Sheila, lalu meletakkan satu tangannya di sandaran kursi gadis itu—sebuah gerakan protektif yang sangat kentara. "Sheila itu aset berharga buat operasional aku. Kalau dia di luar, banyak distraksi. Di sini, dia fokus."
"Fokus? Fokus apa? Fokus menggoda kamu supaya denda kontraknya hangus?!" bentak Tuan Nasution. Beliau memutar tubuhnya menghadap Sheila sepenuhnya. "Dengar ya, Nona. Saya sudah peringatkan kamu di rumah sakit. Jangan karena anak saya sedang buta karena obsesi, kamu jadi besar kepala. Kamu itu tetap asisten, dan di mata saya, kamu cuma beban yang mengganggu kinerja Jeremy."
Sheila mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menusuk telapak tangan sendiri untuk menahan air mata yang mulai menggenang. Rasa malu dan terhina itu kembali menghantamnya. "Saya mengerti, Pak. Saya di sini murni karena instruksi Pak Jeremy untuk menyelesaikan laporan tender Bapak..."
"Berhenti membela diri!" potong Tuan Nasution telak. Beliau kembali menatap putranya. "Jeremy, Papa mau dia keluar dari ruangan ini sekarang juga. Kembalikan dia ke kubikel asisten di luar. Kalau tidak, Papa sendiri yang akan menandatangani surat pemindahannya ke divisi lapangan di luar pulau."
Jeremy terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, matanya menatap sang Papa dengan kilat perlawanan yang sangat kuat. Ia melirik ponsel Sheila yang masih ia simpan di dalam laci terkunci—ponsel yang berisi rahasia lokasi Malik. Jeremy tahu, jika ia membiarkan Sheila keluar sekarang dalam kondisi hati yang hancur karena bentakan ayahnya, Sheila akan sangat rentan untuk melarikan diri mencari Malik.
"Sheila nggak akan ke mana-mana, Pa," ucap Jeremy dengan suara rendah namun bertenaga. "Papa boleh punya gedung ini, tapi di ruangan ini, aku CEO-nya. Keputusanku absolut."
"Kamu berani melawan Papa demi wanita ini?!"
"Aku membela asisten pribadiku dari intervensi yang nggak profesional," balas Jeremy dingin. Ia kemudian menoleh pada Sheila. "Sheila, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan dengarkan apa pun selain instruksiku."
Tuan Nasution tampak sangat murka, wajahnya memerah padam. Beliau menunjuk Jeremy dengan jari gemetar. "Kamu bakal menyesal, Jeremy. Jangan pikir Papa nggak tahu apa yang kamu sembunyikan dari dia soal pria itu."
Mendengar kata "pria itu", jantung Sheila seolah berhenti berdetak. Ia menatap Tuan Nasution dengan penuh tanya, namun pria paruh baya itu sudah berbalik dan melangkah keluar dengan gusar, membanting pintu sekali lagi hingga vas bunga di meja Jeremy sedikit bergetar.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Sheila terduduk lemas di kursinya, air matanya akhirnya jatuh satu per satu ke atas kibor laptop. Ia merasa seperti pion yang sedang dipermainkan di antara dua pria berkuasa.
Jeremy menghela napas panjang. Ia mendekati Sheila, berlutut di samping kursi gadis itu agar mata mereka sejajar. Ia meraih tangan Sheila yang gemetar, menggenggamnya erat.
"Maafin Papa, Shei. Dia emang keras kepala," bisik Jeremy.
"Apa yang Papa Bapak maksud soal 'pria itu'?" tanya Sheila dengan suara serak, menatap Jeremy dengan tatapan menyelidik. "Ada apa lagi yang Bapak sembunyikan dari saya soal Malik?"
Jeremy terpaku. Ia tahu ayahnya sengaja memancing di air keruh. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Sheila. "Nggak ada, Shei. Papa cuma mau provokasi kamu supaya kamu nggak fokus. Percaya sama aku... aku cuma mau jagain kamu."
Namun di dalam hatinya, Jeremy merasa semakin terdesak. Rahasia tentang Malik di Bekasi Timur dan tekanan dari ayahnya adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membuat Sheila pergi menjauh darinya untuk selamanya.