Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Laura, dengan tekad membulat, menentukan langkah untuk segera keluar dari rumah yang terasa memberikan jeratan. Setiap derit lantai kayu tua yang diinjaknya terasa seperti genderang ancaman yang mengiringi langkahnya menuruni tangga yang remang. Belum sampai mencapai pintu keluar, langkahnya kembali terhenti, matanya menangkap siluet sebuah ruangan yang sepertinya belum ia periksa, seolah ada magnet tak terlihat yang menariknya. Dorongan rasa ingin tahu yang tak tertahankan mengalahkan naluri untuk melarikan diri. Laura memutuskan masuk ke sana.
Ruangan itu diselimuti aura yang ganjil. Sebuah meja besar mendominasi tengah ruangan, di atasnya berderet wadah lilin tua yang sudah menghitam, gulungan benang berwarna merah darah yang terurai acak, dan beberapa alat makan yang berserakan, kotor, dan berkarat. Di sekitar meja, seekor babi hutan yang telah mati diawetkan dengan posisi aneh terpajang, anak panah yang menancap di dahi hewan itu tetap dibiarkan, menjadi penanda kematian yang kejam. Di atas langit-langit, beberapa kulit ular yang dikeringkan tampak digantung, melambai pelan tertiup angin yang menyelinap masuk dari celah-celah. Matanya juga mengamati deretan mandau besi dengan noda darah yang telah mengering, lalu beberapa mata tombak yang telah berkarat, perisai kayu berbentuk persegi panjang yang kusam, dan potongan-potongan pakaian tua yang tercabik berserakan di lantai, seolah sisa-sisa dari sebuah pertempuran atau ritual kuno.
Di tengah observasinya yang intens, sekelebat bayangan hitam melesat dari sudut sempit di atas, seolah sedang mengintainya. Laura merasakan gelombang dingin merayap di punggungnya; ia benar-benar dapat merasakan bagaimana kehadiran yang tersamar itu kini sedang mengincarnya, napasnya tercekat memaksa jantung berpacu kencang.
Gambaran dari rasa ketakutan itu menghilang sesaat tatkala ia memalingkan wajah; seperti kepala seorang wanita yang terpenggal, dengan dua tanduk yang menyerupai tanduk rusa kutub, itulah yang ia tangkap sepintas dalam sepihan kilatan cahaya. Identifikasi oleh instingnya mengungkap bahwa sang penguntit itu masih berada di sekitarnya, bersembunyi di balik dinding-dinding usang, seraya mencoba menyeruakkan rasa ketakutan, mengacaukan relung perasaan, menawarkan hal-hal yang mengganggu, mengacak situasi yang sebelumnya memang sudah teramat berantakan.
Di bagian area sudut ruangan yang lain, Laura berupaya keras untuk melupakan sepenuhnya wajah si nenek tua yang tadi membanjiri ingatan traumatisnya, bayangan tatapan kosong dan senyumannya yang menyeramkan. Tidak mudah melawan citra yang telah terukir penuh kesan di benaknya. Belum mampu menghilangkan, tiba-tiba terdengar di telinganya bentakan seorang pria dari balik sebuah pintu lain yang tampak ditutup permanen oleh beberapa palang kayu tebal, barikade kawat berduri yang melilit rapat, dan deretan kunci gembok berukuran besar yang berkarat. Aksara-aksara itu sangat tinggi, kasar, penuh gejolak luapan amarah yang menggelegar, mengguncang menjatuhkan nyali siapapun yang mendengarnya;
"Haaaaaaah! Haaaaaaah!! Di dalam gelap kamar yang lembap tanpa penerangan. Jantung berdebar seperti kawat bertegangan. Kaulah sambungan fase positif dan negatif yang seperti bergentayangan. Menghubungkan dunia dengan transisi kegelapan yang tampak serampangan."
"Jari-jari ini menyentuh kulitmu yang dingin, seperti menyentuh kabel tanpa selubung dan terhembus angin. Sebuah kilatan putih menyambar dalam sekejap waktu, membakar rasa hingga ke tulang rusuk yang membatu."
"Cintamu adalah arus yang tak terkendali.
Menggeliat di dalam urat seperti sambaran petir. Setiap sentuhan adalah renjatan yang menusuk dengan kail bertali, namun aku tetap meraihnya dengan gigi yang menggigit perasaan getir."
"Bayanganmu mengambang di atas kasur kosong. Tanganmu yang tak terlihat masih meremas dadaku sesekali. Setiap denyut adalah kejutan yang membekukan hingga gosong. Namun aku tak mau lepaskan, meskipun daya ditambah seriba kali."
"Di ujung nyawa yang terhubung dengan kawat. Kita terjerat dalam cinta yang menyengat. Hingga api putih menghabiskan semua jejak. Kita tetap satu, meskipun terpisah oleh kulit empiris yang tersayat."
"Terkutuklah para pendosa dan pemain cinta yang berkhianat! Wahai peminum darah manusia yang terbuai asmara, terkutuklah para perampas hasrat! Wahai pemakan daging manusia yang panas oleh keringat percintaan, engkau akan meminum darah dan menyantap daging dirimu sendiri di atas ranjang klimaks! Engkau akan dikira mati sebab jantungmu terhenti saat bercinta, tetapi tidak dengan sisa aliran darah yang masih perlahan mengalir. Pada saat itu engkau akan diturunkan hidup-hidup ke bawah antara dua dinding romansa tipuan, dan disanalah engkau akan dikoyak, runtuh bersama seluruh elemental yang meliputi jiwamu yang bodoh. Apakah engkau akan membalas perkataan ini? Pendengaranku ada padamu, dan setiap perkataanmu beredar di depan cermin aibmu sendiri. Engkau mengurung perasaanmu ke dalam kebusukan, ke dalam sangkar penjerat, ke dalam lokus ruh yang terjatuh dan diliputi oleh bangkai manusia!"
Laura yang mendengar suara misterius itu tertegun sejenak, napasnya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya membeku bersamaan dengan saraf-sarafnya yang menegang, seolah ia merasakan pasungan rantai tak kasat mata. Suara berat yang mendengung itu, membawa kalimat-kalimat aneh yang terasa begitu nyata. Setiap kata, setiap ancaman, menusuk relung jiwanya dengan ketajaman belati. Ia berupaya mendustakan, otaknya berputar cepat mencari penjelasan logis atas kata-kata kejam yang menombak itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah halusinasi atau bualan. Namun, naluri purbanya berteriak bahwa ini lebih dari sekadar ilusi.
Perlahan, kedua kakinya mundur, langkahnya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar, mencari batas jarak aman, menjauh dari sumber suara yang terasa begitu mengintimidasi. Di setiap langkah yang menjauh, ia berharap bisa terbebas dari cengkeraman aura mengerikan yang terpancar dari balik pintu itu.
Kini suara yang mengancam dan penuh amarah sudah tidak terdengar lagi. Keheningan kembali merayap, menelan setiap sudut ruangan yang membuatnya terasa lebih pekat dan mencekam dari sebelumnya. Detak di dada Laura yang berpacu kencang terasa seperti palu granit yang memukul-mukul gendang telinganya. Akan tetapi, Laura tetap berdiri di sana, terpaku, seolah akar tak kasat mata menahan kakinya ke lantai. Matanya yang tajam diam menatap ke arah pintu yang terkunci rapat di depannya. Pintu itu, memancarkan aura misteri yang terselubung rapat, seolah di baliknya tersimpan jawaban atas segala kengerian yang baru saja ia alami, suatu penuturan yang kejam dan penuh lapisan makna.
Tidak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah meja kecil yang terbuat dari kayu jati tua menarik perhatiannya. Permukaannya yang kusam dipenuhi debu tebal, namun benda-benda di atasnya memancarkan daya tarik yang tak bisa diabaikan. Di atas meja itu, ditemukan beberapa lilin tua yang sudah sangat keras, meleleh dan patah, menyisakan gumpalan-gumpalan lilin yang membentuk pola-pola aneh. Di sampingnya, tergeletak sebuah gelang batu cempaka, warnanya sudah kusam, dengan ukiran-ukiran kuno yang nyaris tak terlihat, seolah telah disentuh dan dikenakan oleh banyak generasi. Dan satu lagi, sesuatu yang dibungkus sampul kulit yang usang, dengan jahitan yang kasar, terlihat seperti buku kuno atau mungkin sebuah jurnal. Selain itu, di sana juga ditemukan benda yang sangat mengganggu: mirip tulang manusia, tepatnya potongan dua tulang pergelangan tangan yang tampak tua, rapuh, dan menguning dimakan usia, diletakkan dengan sengaja di antara benda-benda lain, seolah menjadi bagian dari sebuah ritual atau pengingat yang mengerikan. Aroma debu bercampur bau apek dan sedikit anyir samar-samar tercium di udara, menambah kesan suram pada ruangan itu.
Ketika pilihan pertamanya tertuju kepada benda yang bersampul kulit, ia pun lantas membukanya, menyeruakkan aroma pahit dari kertas tua, bercampur dengan bau debu yang telah lama terperangkap. Di dalamnya tersimpan sebuah koleksi foto hitam putih yang sudah menguning, warnanya memudar dimakan zaman. Di sela-sela foto, terdapat tulisan-tulisan aneh yang meliuk-liuk, sebuah aksara kuno yang sama sekali tak dapat Laura baca, seolah itu adalah bahasa dari masa lalu yang telah lama mati, rahasia yang terkubur bersama pemiliknya. Dengan tenang, seolah masuk ke dalam trans, Laura meneliti selembar demi selembar halaman album itu, membiarkan setiap gambar berbicara jujur kepadanya.
Di sana, terukir jelas koleksi foto hitam putih yang menampilkan sosok tiga orang gadis. Tidak salah lagi, Laura mengenali wajah-wajah itu: gadis-gadis yang baru saja dijumpainya semalam di perahu. Apa yang didapatinya juga memantik perasaannya kala ia kembali mengingat tentang mimpi beberapa waktu yang lalu.
"Seperti catatan bergambar, ini semua telah menjawab sebagian besar pertanyaanku," gumam Laura, suaranya nyaris tak terdengar, seolah ia sedang berbicara dengan arwah masa lalu. Jari-jarinya yang ramping menyentuh lembut setiap gambar, meresapi setiap momen yang terekam. Setiap halaman menjelaskan suatu kronologi, sebuah kisah yang terbentang dari masa lalu yang cerah hingga ke masa yang kelam.
Halaman pertama menampilkan foto hitam putih yang sudah mengelupas di bagian tepinya, mengabadikan momen tiga gadis kecil yang menggemaskan. Rambut mereka masing-masing dikepang dua, wajah-wajah mereka ceria, penuh tawa, berdiri di depan sebuah rumah kayu yang rapi, dikelilingi taman bunga yang indah dan asri. Sebuah gambaran masa kecil yang sempurna.
Di halaman berikutnya, ada foto-foto ketika ketiga gadis itu memasuki masa remajanya. Mereka tampak lebih tinggi, senyum mereka lebih lebar, saling berpegangan tangan erat, tertawa lepas, dan berlarian riang di tepi sungai yang jernih, airnya berkilauan di bawah sinar matahari, dikelilingi semak belukar yang indah dan rimbun, penuh dengan bunga-bunga liar. Sungguh kenangan yang bahagia, penuh dengan kepolosan masa muda, kebebasan, dan persahabatan yang erat. Lalu ada foto ketika mereka sedang bermain tali dengan semangat, saling lari mengejar satu sama lain dengan senyum lebar, hingga berada di sebuah acara keluarga yang meriah, dikelilingi sanak saudara yang berbagi tawa.
Namun, di tengah album, ada beberapa halaman yang kosong, menganga seperti luka. Halaman-halaman itu bersih, tanpa foto, tanpa tulisan, seolah ada bagian cerita yang hilang, sengaja dihilangkan oleh tangan yang tak terlihat, atau terhapus secara misterius oleh waktu yang kejam. Kekosongan itu terasa lebih mengerikan daripada gambar apapun.
Berikutnya, muncullah foto-foto yang lebih kelam, memudarkan keceriaan sebelumnya, seperti awan gelap yang menutupi mentari. Foto ketiga gadis yang duduk murung, bahu mereka terkulai, wajah ketiganya benar-benar terlihat sedih, mata mereka cekung, kosong seolah kehilangan harapan, cermin dari jiwa yang tersayat. Kemudian foto mereka kala menatap hampa ke arah sungai, air mata membasahi pipi, aliran air mata yang tak terbendung, sebuah simbol kesedihan yang mendalam. Dan yang paling mengerikan, mereka tampak diikat di sebuah pohon, dan dibentak oleh leher yang berurat, sebuah tangan besar dengan jari-jari kasar mencengkeram erat leher salah satu gadis, sebuah tindakan kekerasan yang diabadikan.
Laura mencoba mengendalikan ingatannya yang berkecamuk, memilah-milah setiap fragmen visual dan auditori yang baru saja menghantamnya. Ia berusaha menyatukan kepingan-kepingan puzzle yang terasa begitu acak, namun pada saat yang sama, begitu saling terkait. Apakah ia baru saja menangkap rekaman sesuatu yang lebih dari sekadar penglihatan dan suara? Sebuah rekaman universalitas jiwa manusia, yang melampaui batas ruang dan waktu, memungkinkan afiliasi dari aktualisasi visual yang menimpanya; wajah-wajah gadis di perahu, suara pria di balik pintu, mimpi aneh yang pernah ia alami, gambar-gambar di album, dan keterangan historis yang kini terasa begitu mendasarinya. Seolah-olah, jiwanya telah menjadi wadah resonansi bagi masa lalu yang tersembunyi.
Dengan perasaan campur aduk antara ketakutan, kebingungan, dan dorongan tak terelakkan untuk memahami, Laura lalu membalik halaman terakhir album yang usang itu.
Halaman terakhir album itu menampilkan sebuah foto hitam putih yang sudah sangat buram, dengan objek tiga buah makam tua. Makam-makam itu tampak hanya berupa gundukan tanah, sebagian nisan kecilnya telah runtuh, dan ditumbuhi lumut tebal serta rerumputan liar yang menjalar tak beraturan, seolah telah lama dilupakan oleh waktu. Ketika Laura memperhatikan lebih detail, ia dapat menyimpulkan bahwa berdasar bentuk nisan yang pudar, ukiran yang nyaris tak terbaca dan goresan angka tahun yang masih tersisa, hari ini usia ketiga makam itu sudah lebih dari sembilan puluh tahun lamanya.
Di selembar foto terakhir itu kembali tertera beberapa catatan, ditulis dengan tinta biru, karena adanya dorongan rasa ingin mengetahui, Laura memutuskan mencabut foto itu dari album dan menyimpannya ke balik pakaiannya, berpikir mungkin suatu hari ia akan mendapat informasi penting dari sana.
"Sebuah linier yang dingin, serasa menusuk perasaanku. Tiga gadis kecil yang ceria, remaja yang berpegangan tangan, tiga gadis yang menjadi isteri seorang pria tua misterius, dan... aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu, tapi aku juga berpikir tentang makna sosok tiga gadis yang menemui diriku dalam mimpi? Tiga gadis bergaun merah, dan hari ini aku mendapati satu keterangan lain, tentang tiga gadis yang ternyata telah terbaring di bawah tanah, selama hampir satu abad. Ini membuatku bingung, ini benar-benar membuatku bingung." Pikir Laura berusaha mencerna.
"Tetapi yang pasti, apa yang kini berada di depan mataku adalah sebuah album memori," bisiknya lagi, suaranya terdengar seperti gaung di lorong-lorong pikiran. Laura menatap foto-foto usang itu, seolah mereka adalah jendela yang berbicara tentang masa lalu yang kelam. "Dengan narasi berbagai kejadian, aku dapat membaca sebuah konklusi berdasarkan berbagai paksaan keingintahuan yang melanda melalui kilas balik ini. Semua menjadi sangat jelas, semacam korelasi rantai peristiwa, pola teka-teki yang sejak awal membesitku untuk segera merangkai arti." Setiap kata yang terucap dalam benaknya adalah upaya untuk menyatukan setiap kepingan informasi yang kini ada di hadapannya, dari senyum ceria gadis-gadis di halaman pertama hingga makam tua di halaman terakhir.
Diperhatikannya sekali lagi dua potongan tulang pergelangan tangan manusia yang tergeletak di meja, dua benda yang kini terasa lebih mengerikan, bukan hanya sebagai artefak lama, tetapi sebagai sisa-sisa tragis dari sebuah kehidupan. "Sungguh gadis yang malang," lirih Laura, hatinya dipenuhi keprihatinan yang menggugah. "Masa lalu yang sangat kejam menimpa dirinya dan dua gadis lainnya." Matanya memudar, memvisualisasikan kembali adegan-adegan kelam di album. "Tetapi aku tidak dapat menyimpulkan apa yang sebenar-benarnya terjadi." Laura menggigit bibir bawahnya, otaknya bekerja keras mencari motif di balik semua ini. "Mungkinkah ada alasan lain? Atau adanya semacam penebusan? Sebuah malapetaka yang tak terelakkan, untuk tegaknya sebuah keadilan?" Pertanyaan-pertanyaan terputus itu berputar di benaknya, silih berganti. Laura menyadari bahwa jawabannya mungkin jauh lebih kompleks dari sekadar kisah biasa. Akan tetapi, pada dasarnya ia tetap berpegang dengan prinsip konsekuensi, bahwa setiap aktualisasi, setiap kejadian, pasti ada pemicu alasannya, ada benang merah yang menghubungkannya. Tidak ada yang terjadi begitu saja di dunia ini.