NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Balik Seragam

​Pagi di SMA Garuda tidak pernah benar-benar tenang, terutama di ruang OSIS yang terletak di sudut bangunan utama. Gibran menghela napas panjang melihat tumpukan proposal kegiatan ulang tahun sekolah yang terbengkalai di meja Arkan. Sahabatnya itu, yang biasanya dikenal sebagai "mesin pengolah data" manusia, kini hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lapangan basket.

​"Ar, lo sakit?" tanya Gibran sambil meletakkan segelas kopi hitam di depan Arkan. "Ini sudah tiga kali lo salah input poin pelanggaran kelas 11 IPA 2. Lo masukin nama Ziva lagi, padahal dia nggak ada di daftar hari ini."

​Arkan tersentak. Ia segera membenarkan letak kacamatanya yang tidak miring.

"Cuma kurang tidur, Gib. Persiapan... acara keluarga."

​"Acara keluarga apa sampai bikin Ketos kita yang perfeksionis jadi linglung begini? Lo kayak orang yang lagi mikirin cicilan rumah," canda Gibran, yang tanpa sengaja menusuk tepat ke jantung rahasia Arkan.

Arkan tidak menyahut. Pikirannya melayang pada pertemuan semalam dengan vendor katering yang dipilih ibunya. Ia dipaksa memilih antara menu Western atau Traditional untuk sebuah acara yang bahkan ia harap tidak pernah terjadi.

​Di sisi lain sekolah, tepatnya di ruang redaksi majalah dinding 'Gema Garuda', suasana tak kalah tegang. Ziva sedang dikerumuni oleh anggota klub jurnalisme.

​"Ziv, lo beneran mau ambil liputan tentang 'Sisi Gelap Kedisiplinan'?"

tanya Revan, cowok kelas 12 yang merupakan senior sekaligus fotografer andalan klub. Matanya menatap Ziva dengan penuh minat. "Lo tahu kan itu bakal bikin lo makin sering berurusan sama Arkan? Dia nggak bakal suka rahasia OSIS dikulik-kulik."

​Sisil, yang duduk di atas meja sambil mengunyah permen karet, menyahut, "Halah, si Ziva mah emang hobi cari penyakit. Tapi gue dukung sih. Sekali-kali itu si Es Balok harus dikasih paham kalau sekolah bukan penjara."

Ziva hanya diam sambil mencoret-coret bukunya. Pikirannya bukan pada liputan, melainkan pada gaun pengantin sederhana yang tadi pagi ia lihat tergantung di balik pintu lemari ibunya.

"Gue... gue cuma mau cari keadilan aja, Kak Revan. Lagian, Arkan nggak punya hak buat ngelarang pers sekolah, kan?"

​Revan tersenyum, lalu menepuk bahu Ziva pelan. "Oke. Kalau lo butuh bantuan atau... butuh tempat cerita kalau si Arkan keterlaluan, lo tahu di mana cari gue, kan?"

​Sisil menyikut lengan Ziva saat Revan pergi. "Ciee, kapten basket kita mulai perhatian nih. Hati-hati, Ziv, ntar ada yang cemburu."

​"Siapa yang cemburu? Arkan? Dih, najis," ketus Ziva, meski hatinya mencelos. Ia membayangkan bagaimana reaksi Arkan jika tahu ia berdekatan dengan Revan—bukan karena Arkan cinta, tapi karena Arkan sangat benci jika "properti" miliknya diganggu orang lain.

​Polemik tidak hanya terjadi pada pemeran utama. Di ruang

guru, Pak Danu, guru kesiswaan yang terkenal killer, sedang berbicara serius dengan Bu Maya, wali kelas Arkan dan Ziva.

​"Saya perhatikan prestasi Arkan sedikit menurun, Bu Maya. Dia sering terlambat datang rapat inti," ujar Pak Danu sambil menyesap tehnya. "Dan Ziva... anak itu makin berani menantang aturan. Saya khawatir pengaruh buruk Ziva mulai mengganggu konsentrasi Arkan dalam memimpin OSIS. Mereka itu seperti bensin dan api."

​Bu Maya mengangguk prihatin. "Saya akan coba bicara dengan mereka secara terpisah, Pak. Sayang sekali kalau Arkan gagal dapat beasiswa hanya karena masalah disiplin siswa lain."

​Pembicaraan itu tanpa sengaja didengar oleh Nandar, seorang siswa pendiam yang sedang mengumpulkan tugas di meja sebelah. Nandar adalah tipe siswa "hantu"—ada tapi tidak dianggap. Namun, pendengarannya tajam. Ia tahu Ziva dan Arkan sering terlihat di area-area sepi belakangan ini. Sebagai seseorang yang bercita-cita masuk militer, Nandar punya insting observasi yang kuat.

Ada yang nggak beres, pikir Nandar sambil berjalan keluar ruang guru. Ia melihat Arkan dan Ziva berpapasan di koridor. Tidak ada teriakan, tidak ada adu mulut seperti biasanya. Mereka hanya saling tatap selama dua detik—tatapan yang penuh beban—lalu melengos pergi.

​Sore itu, hujan turun dengan deras. Sekolah sudah mulai sepi, menyisakan anak-anak ekskul. Di parkiran belakang yang tersembunyi, sebuah mobil hitam mewah terparkir. Itu mobil jemputan Arkan, tapi supirnya diperintahkan menunggu di luar gerbang.

​Arkan berdiri di bawah halte, menunggu seseorang. Tak

lama, Ziva muncul dengan payung kuningnya. Ia terlihat lelah.

​"Masuk ke mobil. Supirku sudah pergi, aku yang setir sendiri," perintah Arkan tanpa basa-basi.

​"Gila lo? Gimana kalau ada yang lihat?" Ziva menoleh kanan-kiri dengan waspada.

"Hujan deras, Ziva. Tidak ada yang akan peduli. Kita harus ke toko perlengkapan rumah. Ibu bilang kita harus beli seprai dan peralatan dapur sendiri supaya 'merasa memiliki' apartemen itu," Arkan mengucapkan kata 'memiliki' dengan nada jijik.

​Ziva mendengus tapi tetap masuk ke kursi penumpang depan. Di dalam mobil, aroma parfum maskulin Arkan memenuhi ruangan. Sunyi menyergap. Hanya ada suara wiper mobil yang berdecit ritmis.

​"Arkan," panggil Ziva pelan.

​"Hm."

​"Lo beneran nggak punya rencana buat kabur? Gue denger Revan bilang lo bakal dapet beasiswa ke luar negeri. Kalau

kita nikah, beasiswa itu gimana?"

​Tangan Arkan yang memegang kemudi mengencang hingga

buku jarinya memutih. "Itu urusanku. Kamu fokus saja jangan sampai ketahuan Sisil. Aku lihat tadi dia mulai curiga kenapa kamu sering izin ke toilet tiap kali aku lewat."

"Sisil itu sahabat gue! Dia bukan agen FBI," bela Ziva.

​"Bagi rahasia seperti ini, sahabat adalah musuh yang paling berbahaya," ucap Arkan dingin.

​Tiba-tiba, sebuah motor sport melaju kencang di samping mobil mereka dan berhenti mendadak karena genangan air. Pengendaranya membuka kaca helm. Itu Revan. Ia menatap ke arah kaca mobil Arkan yang gelap. Revan tidak bisa melihat siapa di dalam, tapi ia mengenali gantungan kunci berbentuk kamera yang tergantung di spion tengah mobil itu—gantungan kunci yang sama dengan yang pernah ia berikan pada Ziva sebagai hadiah ulang tahun klub jurnalisme.

​Revan menyipitkan mata, mencoba menembus kegelapan kaca mobil sebelum akhirnya melaju lagi.

​Di dalam mobil, Ziva menahan napas. "Dia liat, Ar... Kak Revan liat."

​Arkan menginjak gas lebih dalam, wajahnya mengeras. "Makanya aku bilang, rahasia ini akan membunuh kita kalau kamu terus-terusan ceroboh."

​Pernikahan mereka tinggal menghitung hari, dan retakan pada dinding rahasia itu sudah mulai muncul, bahkan sebelum mereka resmi mengucap janji. Bukan hanya tentang mereka, tapi tentang orang-orang di sekitar mereka yang perlahan mulai menyusun kepingan teka-teki yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!