Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak di Rumah Kecil
Kembali ke pesantren setelah pertemuan tegang di Surabaya terasa seperti pulang ke tempat yang berbeda. Rumah kecil mereka masih sama — dinding kayu, kebun melati di belakang, sajadah yang tergantung rapi — tapi udara di dalamnya terasa lebih berat.
Raina meletakkan tas di sudut kamar tanpa suara. Gus Haris meletakkan tasnya di sebelah, lalu duduk di tepi kasur dengan punggung membungkuk. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatap lantai lama sekali.
Raina duduk di sebelahnya, jarak mereka hanya beberapa senti, tapi terasa sangat jauh.
“Haris…” panggilnya pelan. “Lo masih marah?”
Gus Haris menghela napas panjang. Suaranya rendah, tapi ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
“Aku bukan marah sama kamu. Aku marah sama situasinya. Aku muak melihat kamu menangis lagi di depan Dika. Aku muak karena dia masih bisa membuat kamu goyah meski kamu sudah berusaha sangat keras. Aku muak karena sebagai suami, aku merasa gagal melindungi hatimu.”
Raina merasa dada nya sesak. Ia meraih tangan Gus Haris, tapi suaminya tidak langsung menggenggam balik.
“Gue tahu gue bawa masalah terus,” kata Raina dengan suara bergetar. “Gue tahu lo capek. Gue takut lo mulai muak sama gue.”
Gus Haris akhirnya menoleh. Matanya tidak lagi lembut seperti biasanya. Ada kemarahan yang tertahan, campur dengan rasa sakit.
“Aku tidak muak sama kamu. Aku muak karena setiap kali kita mulai tenang, nama Dika selalu muncul lagi dan membuat kamu sedih. Aku muak melihat istriku yang sudah berani berdiri di depan semua santri masih harus menangis karena masa lalu yang seharusnya sudah selesai.”
Ia berdiri dan berjalan ke jendela, memandang kebun melati yang gelap.
“Malam ini aku butuh waktu sendiri,” katanya tanpa menoleh. “Aku ingin shalat Tahajud sendirian dulu. Kamu istirahat saja.”
Raina merasa seperti ditampar pelan. Gus Haris yang biasanya selalu memeluknya, yang selalu bilang “kita hadapi bareng”, kini memilih untuk shalat sendirian. Itu pertama kalinya.
Raina duduk sendirian di kasur. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia merasa bersalah yang sangat dalam. Ia tahu kemarahan Gus Haris bukan karena masa lalunya, tapi karena ia terus membawa luka itu ke dalam pernikahan mereka.
Malam itu Raina tidur dengan punggung menghadap ke arah suaminya. Gus Haris shalat Tahajud sendirian di ruang tamu, suaranya terdengar samar dari balik pintu. Raina mendengarkan dengan hati yang hancur. Suara suaminya yang biasanya menenangkan kini terasa jauh.
Keesokan paginya, suasana rumah kecil mereka masih dingin. Raina menyiapkan sarapan seperti biasa, tapi Gus Haris makan dengan diam. Ia tidak lagi tersenyum kecil saat Raina menyodorkan nasi goreng. Ia hanya mengucapkan “terima kasih” dengan suara datar.
Raina tidak tahan lagi.
“Haris… lo boleh marah sama gue. Lo boleh teriak. Tapi jangan diam seperti ini. Gue takut lo mulai menyesal nikah sama gue.”
Gus Haris meletakkan sendoknya. Ia menatap Raina lama sebelum bicara.
“Aku tidak menyesal nikah sama kamu. Aku menyesal karena aku terlalu sabar sampai kamu terus terluka. Aku muak melihat Dika masih bisa membuat kamu menangis meski dia sudah jauh di Surabaya. Aku muak karena aku merasa tidak cukup kuat melindungi kamu.”
Suara Gus Haris tetap rendah, tapi ada getaran kemarahan yang jelas.
“Aku suami kamu, Raina. Bukan hanya orang yang sabar nunggu kamu berubah. Aku juga laki-laki yang ingin melihat istriku bahagia. Dan akhir-akhir ini aku gagal melakukannya karena bayangan Dika terus datang.”
Raina menangis pelan di meja makan.
“Gue takut lo akan capek sama gue. Gue takut lo akan berpikir ‘kenapa gue nikah sama perempuan yang bawa masalah terus’.”
Gus Haris berdiri dan mendekat. Ia memeluk Raina dari belakang, tapi pelukannya kali ini kaku, penuh ketegangan.
“Aku tidak akan meninggalkan kamu. Tapi aku juga tidak bisa pura-pura semuanya baik-baik saja. Aku butuh waktu untuk mengolah kemarahan ini. Aku marah bukan karena masa lalu kamu. Aku marah karena aku mencintai kamu terlalu dalam, sampai melihat kamu sedih membuat aku sakit.”
Raina memegang lengan suaminya yang memeluknya.
“Gue janji gue akan lebih kuat. Gue akan berusaha tidak menangis lagi karena Dika. Gue akan belajar menutup pintu itu dengan lebih rapat.”
Gus Haris mencium puncak kepala Raina dengan lembut, tapi tidak lama.
“Aku percaya kamu bisa. Tapi malam ini… biarkan aku shalat sendirian lagi. Aku butuh bicara dengan Allah tentang kemarahan ini.”
Raina mengangguk, meski hatinya terasa hancur.
Malam itu, rumah kecil mereka terasa lebih sepi. Raina berbaring sendirian di kasur, mendengarkan suara Gus Haris yang shalat Tahajud di ruang tamu. Suaranya masih lembut, tapi Raina bisa mendengar ketegangan di dalamnya.
Ia menangis pelan ke bantal.
Ia tahu retak ini baru permulaan.
Gus Haris yang selalu sabar mulai menunjukkan batasnya.
Dan Raina mulai menyadari bahwa cintanya kepada suaminya bukan hanya tentang ia yang berubah, tapi juga tentang ia yang harus belajar melindungi hati suaminya dari luka yang ia bawa sendiri.
Di luar jendela, angin malam bertiup pelan.
Tapi di dalam rumah kecil itu, ada retak yang mulai terlihat di antara dua orang yang saling mencintai.