Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Matahari pagi, terasa lebih menyengat, namun angin semilir dari arah pegunungan membawa aroma tanah dan ketenangan yang belum pernah Zaheera rasakan di Kota A.
Hari ini adalah babak baru. Zaheera berdiri di depan gedung Fakultas Ekonomi Universitas, merapikan kemeja oversized dan celana kulot-nya. Rambutnya ia ikat satu dengan gaya messy bun, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang dipoles makeup natural—sangat kontras dengan mahasiswi lain yang mayoritas mengenakan kerudung.
Meskipun kampus ini berada di bawah naungan yayasan pesantren, aturannya cukup fleksibel karena merupakan kampus umum. Tidak semua mahasiswi dituntut berjilbab, namun tetap diwajibkan berpakaian sopan.
Tiba-tiba, suasana di koridor utama yang tadinya bising menjadi sedikit sunyi, lalu berubah menjadi bisik-bisik yang riuh. Zaheera menoleh, mengikuti arah pandang puluhan pasang mata.
Di sana, di seberang lapangan tengah yang memisahkan gedung Ekonomi dan gedung Syariah, sesosok pria berjalan dengan langkah tenang. Itu Zavier, Kekasihnya.
Ia mengenakan kemeja batik berwarna gelap yang pas di tubuh tegapnya, celana kain hitam. Tidak ada lagi topi bisbol atau kaus hitam polos semalam. Ia berjalan sambil memegang beberapa kitab dan buku tebal, sesekali mengangguk sopan saat para dosen atau santri senior menyapanya.
“Rupanya kekasihku begitu sempurna,” ucap Zaheera dalam hati, dadanya berdenyut antara rasa bangga dan sesak yang aneh.
Zavier tampak berkali-kali lipat lebih tampan daripada saat ia bergaya urakan di Kota A. Ada aura wibawa dan karisma yang keluar secara alami, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan botol sampanye termahal sekalipun.
"Eh, lihat! Itu Gus Zavier, kan?" bisik seorang mahasiswi di belakang Zaheera. "Ganteng banget, ya Allah. Udah pinter, hafal Qur'an, anak Kyai lagi. Kurang apa coba?"
"Iya, denger-denger dia baru pulang dari Kota A. Makin keren aja gayanya sekarang. Idaman banget buat dijadiin imam," sahut temannya dengan nada memuja.
Zaheera mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasanya aneh melihat pria yang biasanya berbisik manja di telinganya kini menjadi pusat kekaguman religius banyak orang. Ada rasa cemburu yang membakar, namun ia sadar, di sini ia hanyalah "orang asing" yang baru pindah, sementara Zavier adalah pangeran di kerajaannya sendiri.
Dari jauh, mata mereka sempat bertemu selama Beberapa detik. Zavier tidak tersenyum, tidak juga melambaikan tangan. Ia hanya menatap datar, seolah Zaheera adalah mahasiswi biasa yang kebetulan lewat. Namun, Zaheera tahu, di balik tatapan tenang itu, ada gejolak yang sama besarnya dengan yang ia rasakan.
"Mahasiswi baru?"
Sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Zaheera. Seorang gadis dengan jilbab panjang berwarna dusty pink berdiri di sampingnya. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, namun memancarkan keramahan yang tulus.
"I-iya, saya mahasiswi baru," jawab Zaheera sedikit canggung.
Gadis itu tersenyum manis, tidak menunjukkan tatapan menghakimi meski melihat pakaian Zaheera yang paling berbeda di antara yang lain. "Kenalkan, saya Fatimah. Jurusan Ekonomi juga, sepertinya kita sekelas. Ayo duduk di dalam, dosen akan tiba sebentar lagi. Biasanya jam pertama Pak Anwar sangat disiplin."
Zaheera mengangguk pelan, mengikuti langkah Fatimah masuk ke dalam kelas. Sambil berjalan, ia kembali melirik ke arah lapangan. Zavier sudah hilang di balik pintu gedung Syariah.
Kelas dimulai, namun pikiran Zaheera masih tertinggal di lapangan tadi. Ia duduk di bangku deretan tengah, mendengarkan dosen memaparkan silabus, sementara mahasiswi di sekitarnya masih sesekali membicarakan "Gus Zavier".
Zaheera baru menyadari satu hal: bersaing dengan gadis-gadis di club malam, jauh lebih mudah daripada bersaing dengan doa-doa tulus dari gadis-gadis berjilbab yang mendambakan Zavier di sini.
Suara gesekan bangku kayu di ruang kelas Ekonomi Makro terdengar seperti musik latar yang membosankan bagi Zaheera.
Di depannya, dosen mulai mencoret-coret papan tulis putih dengan kurva permintaan dan penawaran, namun mata Zaheera terus melirik ke arah jendela yang menghadap langsung ke arah gedung Syariah di seberang lapangan.
"Fokus, Zee. Kamu di sini untuk kuliah, bukan untuk berburu," bisik Zaheera pada dirinya sendiri, meski hatinya tertawa sinis mendengar peringatan itu.
Fatimah, gadis berjilbab dusty pink yang duduk di sampingnya, menyenggol lengan Zaheera pelan. "Zaheera, Pak Anwar baru saja menyebutkan referensi buku. Kamu sudah punya bukunya?"
Zaheera tersentak, lalu menggeleng kaku. "Ah, belum. Nanti saya cari di koperasi atau perpustakaan."
"Kalau di koperasi habis, coba cari di perpustakaan pusat. Biasanya di sana lebih lengkap, tapi lokasinya agak dekat dengan asrama putra pesantren," Fatimah menjelaskan dengan suara rendah agar tidak ditegur dosen.
Mendengar kata "perpustakaan pusat", jantung Zaheera berdesir. Itu adalah wilayah kekuasaan Zavier.
Sementara itu, di gedung Syariah, Zavier duduk di barisan depan kelas Ushul Fiqh. Ia tampak sangat kontras dengan Zavier yang dua minggu lalu memegang gelas whisky di Kota A. Punggungnya tegak, pena di tangannya bergerak lincah mencatat penjelasan dosen.
Sesekali, ia membenarkan posisi peci hitamnya yang sedikit miring—sebuah kebiasaan baru yang ia lakukan saat merasa gugup atau gelisah.
Namun, di balik wajah seriusnya, pikiran Zavier sebenarnya sedang menyeberangi lapangan tengah. Ia membayangkan Zaheera duduk di kelas ekonomi, dikelilingi oleh mahasiswi yang penampilannya sangat berbeda dengan gadis itu.
“Dia pasti merasa asing,” batin Zavier.
Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya. Selama di kota A, ia selalu merasa was was jika Zaheera pergi ke kelab malam tanpa dirinya. Ia takut pria lain mendekati kekasihnya. Namun di sini, di bawah atap Universitas Al-Iman, ia merasa jauh lebih tenang. Zaheera berada dalam jangkauan pandangannya, berada di "kerajaannya". Meski mereka tidak sedekat nadi seperti saat di apartemen mewah dulu, setidaknya mereka menghirup udara yang sama setiap pagi.
Saat kelas usai, Zavier tidak langsung pulang ke ndalem. Ia sengaja berlama-lama di selasar gedung Syariah, berpura-pura membaca kitab Fathul Mu'in, padahal matanya terus memantau pintu keluar gedung Ekonomi.
Dan benar saja, sosok yang ia tunggu muncul. Zaheera berjalan keluar bersama Fatimah. Kemeja putihnya yang oversized berkibar tertiup angin sore, dan gaya berjalannya yang penuh percaya diri masih sangat mencolok.
Zavier tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya. Ia melihat Zaheera tertawa kecil menanggapi ucapan Fatimah. Ada rasa syukur yang mendalam; setidaknya Zaheera menemukan teman yang baik seperti Fatimah, yang ia tahu adalah santriwati yang akhlaknya sangat terjaga.
Takdir seolah sengaja mempermainkan mereka. Saat Zaheera dan Fatimah berjalan menuju arah gerbang luar, jalur mereka bersilangan dengan Zavier yang hendak menuju perpustakaan.
"Assalamualaikum, Gus Zavier," sapa Fatimah dengan sopan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Zavier berhenti, jantungnya berdegup kencang saat melihat Zaheera berdiri hanya satu meter di depannya. Aroma parfum vanilla mahal milik Zaheera menusuk penciumannya, mengalahkan aroma melati yang biasa tercium di area pesantren.
"Waalaikumsalam, Fatimah," jawab Zavier tenang, suaranya berat dan berwibawa. Matanya melirik Zaheera yang berdiri dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan binar menantang yang sangat ia kenali.
"Ini mahasiswi baru, Gus. Namanya Mbak Zaheera, putri Pak Narendra yang baru pindah," Fatimah memperkenalkan dengan polos.
Zavier mengangguk pelan, memerankan perannya dengan sempurna sebagai seorang Gus yang baru mengenal tamu. "Iya Fatimah, Kemarin sore, Saya sudah ke rumah Pak Narendra, Karna tamu kehormatan Abi. Selamat datang di Universitas Al-Iman, Mbak Zaheera. Semoga betah menuntut ilmu di sini."
Zaheera mengangkat alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. "Terima kasih, Gus... Zavier. Universitasnya cukup... tenang. Sangat kontras dengan Kota A. Saya harap saya tidak bosan di sini."
Kalimat "saya harap saya tidak bosan" adalah kode keras bagi Zavier. Itu adalah ancaman bahwa jika Zavier tidak memberinya perhatian, Zaheera bisa saja berulah.
"Ilmu tidak akan membuatmu bosan jika dicari dengan niat yang benar," balas Zavier diplomatis, namun matanya memberikan kilatan peringatan pada Zaheera.
Fatimah yang merasa suasana sedikit kaku segera mengajak Zaheera pergi. "Kalau begitu, kami permisi dulu, Gus. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Zavier.
Zavier berdiri mematung di selasar, menatap punggung Zaheera yang menjauh. Ia bisa melihat Zaheera sempat menoleh ke belakang sebentar dan mengedipkan sebelah matanya sebelum hilang di balik tikungan gedung.
Zavier menghela napas panjang, meremas kitab di tangannya. Bahagia? Ya, ia sangat bahagia. Tapi tantangan ke depan jauh lebih besar. Ia harus menjaga jarak agar martabat Abinya tidak hancur, namun ia juga harus memastikan api di hati Zaheera tidak padam karena rasa sepi di desa ini.
...****************...
Malam Harinya, di kamarnya yang sunyi, Zavier kembali menatap Al-Qur'an di meja belajarnya. Ia teringat ucapan Abinya tadi sore saat pengajian. “Seorang pemimpin harus bisa menjaga nafsunya, karena nafsu adalah tunggangan setan yang paling cepat membawa kita ke jurang kehancuran.”
Zavier memejamkan mata. Ia merasa seperti berdiri di atas jembatan tipis yang di bawahnya adalah api neraka. Di satu sisi, ia ingin menjadi Gus yang diharapkan Abinya. Di sisi lain, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Zaheera.
Tiba-tiba, ponsel rahasianya bergetar di bawah bantal. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia hafal.
Zee❤️ : Gus Zavier... ceramah mu tadi sore membosankan. Tapi aku suka caramu membetulkan peci. Sangat seksi. Temui aku di taman belakang rumahku jam 11 malam. Aku punya sesuatu untukmu.
Zavier mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu ia harus menolak. Ia tahu ini berbahaya. Tapi tubuhnya seolah bergerak sendiri, Mengambil jaket gelap untuk menyelinap keluar.
"Maafkan hamba, ya Allah... hamba hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," gumamnya, sebuah alasan klasik yang selalu ia gunakan untuk membenarkan kemunafikannya.
Zavier melompati pagar pesantren dengan gerakan yang sudah terlatih. Di bawah naungan langit yang penuh bintang, ia berlari menuju rumah Pak Narendra.
Rasa bahagianya saat melihat Zaheera di kampus tadi siang kini berubah menjadi adrenalin yang memacu darahnya. Mereka memang sudah dekat secara fisik, namun secara jiwa, mereka masih terperangkap dalam labirin rahasia yang setiap saat bisa meledak dan menghancurkan segalanya.
Sesampainya di taman belakang rumah Narendra, Zavier melihat Zaheera sedang duduk di ayunan besi, menatap bulan sabit. Ia tampak begitu rapuh namun juga berbahaya.
"Kamu datang," bisik Zaheera tanpa menoleh.
Zavier mendekat, berdiri di belakangnya. "Aku hanya punya waktu sepuluh menit, Sayang. Kalau Abi tahu aku keluar lagi..."
Zaheera bangkit, berputar dan langsung melingkarkan lengannya di leher Zavier. Ia menatap mata Zavier dengan lekat. "Jangan bicara soal Abi sekarang. Bicaralah soal kita. Bagaimana rasanya melihatku memakai baju sopan tadi siang, Gus?"
Zavier tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik pinggang Zaheera, mendekapnya erat. "Kamu tetap Zaheera-ku. Di manapun kamu berada, dengan baju apapun yang kamu pakai. Tapi kumohon, Zee... bantu aku. Jangan buat aku terlihat mencurigakan di depan Yang lain."
Zaheera tersenyum, lalu mengecup rahang Zavier yang tegas. "Aku akan jadi mahasiswi yang baik, asalkan kamu tetap jadi Zavier-ku yang liar saat kita hanya berdua. Adil, kan?"
Zavier terdiam. Adil? Tidak ada yang adil dalam sandiwara ini. Namun baginya, senyum Zaheera di tengah malam sunyi ini adalah satu-satunya oksigen yang membuatnya bisa bertahan hidup di dalam sesaknya tembok pesantren.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰