NovelToon NovelToon
Warisan Dewa: Misteri Benua Tianyun

Warisan Dewa: Misteri Benua Tianyun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah menaklukkan Turnamen Alam Dewa dan mencapai ranah Ascendant, Zhao Xuan dan raksasa perunggu Long Chen kembali ke Benua Fana Tianyun tempat di mana legenda mereka berdua dimulai. Tujuan utama mereka adalah Lautan Kematian, sebuah wilayah terlarang yang menyimpan artefak legendaris.

Namun, turunnya Kunci Asal telah mengubah keseimbangan Benua Tianyun. Energi kuno yang bocor dari Lautan Kematian memicu kebangkitan berbagai warisan rahasia di benua fana. Para jenius lokal tingkat puncak yang merasa diri mereka tak tertandingi mulai bermunculan. Di saat yang sama, pasukan elit dari "Tujuh Penghancur Surga" diam-diam telah menyusup dan memanipulasi sekte-sekte raksasa benua fana untuk menggali Lautan Kematian.

Bagi Zhao Xuan dan Long Chen, Benua Tianyun kini tak ubahnya seperti taman bermain yang terbuat dari kaca tipis. Mereka harus menekan kekuatan destruktif mereka agar tidak menghancurkan benua tersebut, sambil menghadapi arogansi para jenius fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Kota Pelabuhan Ujung Darah.

Gema dari hancurnya menara kota dan terkuburnya Jian Wushuang masih membuat seluruh kota membeku dalam teror. Namun, Zhao Xuan yang berdiri di atas geladak kapal raksasa Sekte Pedang Langit justru menoleh ke arah timur, mengabaikan tatapan ngeri jutaan pasang mata di bawahnya.

"Long Chen," panggil Zhao Xuan tanpa menoleh. "Jaga kapal rongsokan ini. Jangan biarkan satu lalat pun naik atau turun sebelum aku kembali. Aku punya satu urusan kecil yang harus kuselesaikan sebelum kita membelah lautan itu."

Long Chen, yang sedang menyandarkan pilar hitamnya di geladak, menyeringai lebar dan menghentakkan pilarnya hingga kapal itu bergetar hebat. "Berapa lama,? Jika kau pergi terlalu lama, aku mungkin akan bosan dan menenggelamkan kota ini."

"Hanya sebentar," gumam Zhao Xuan.

Roda Biru (Ruang) di matanya berputar sekilas. Tanpa menggunakan Belati Kembar Jiwa, kultivasi Ascendant Awal-nya sudah lebih dari cukup untuk melipat ruang di benua fana layaknya selembar kertas tipis.

WUUUUUSSSSH!

Sosok Zhao Xuan melebur ke dalam udara kosong, lenyap tanpa meninggalkan riak Qi sedikit pun, membuat para tetua sekte fana yang bersembunyi di kota itu nyaris kencing di celana karena tidak bisa melacak kepergiannya.

Kekaisaran Zhao – Aula Takhta Istana Naga Hitam.

Ribuan mil dari pesisir, di pusat Benua Fana Tianyun, Kekaisaran Zhao berdiri megah sebagai penguasa tunggal daratan. Sejak keluarga inti Zhao (Raja Zhao, ibu Zhao Xuan, dan saudara-saudaranya) pergi ke Alam Dewa ke Klan Dewa Bintang, kekaisaran ini ditinggalkan di bawah perlindungan mutlak Sekte Asura.

Di dalam aula takhta yang luar biasa megah, lima sosok duduk melingkar di kursi-kursi emas tingkat tinggi. Aura yang memancar dari tubuh mereka membuat udara di dalam aula terasa seberat raksa. Kelimanya telah mencapai puncak dari rantai makanan benua fana Nascent Soul Puncak!

Mereka adalah lima murid pewaris langsung yang ditinggalkan oleh Zhao Xuan.

Di kursi pertama, duduk Jue Ying, sang pemimpin bayangan. Seluruh tubuhnya dibalut jubah hitam, auranya berbaur sempurna dengan kegelapan.

Di sebelahnya, Jian Yi duduk tegak layaknya pedang yang terhunus. Matanya tajam, memancarkan Niat Pedang yang jauh lebih murni dari Jian Wushuang yang baru saja diremukkan Zhao Xuan.

Tie Ba, pria bertubuh raksasa dengan otot sekeras baja, duduk menyilangkan lengan, auranya memancarkan daya hancur fisik.

Mu Bai, sang ahli strategi berwajah tenang dan elegan, memutar sebuah kipas spiritual di tangannya.

Dan di tengah mereka, Xin'er, satu-satunya kultivator wanita di antara kelimanya, memancarkan aura membunuh yang disembunyikan di balik kecantikannya yang sedingin es.

"Sekte-sekte dari perbatasan utara mulai bertingkah lagi," lapor Mu Bai dengan nada datar, menutup kipasnya. "Mereka mengira karena Guru dan keluarga Zhao telah lama menghilang, fondasi Kekaisaran Zhao mulai melemah. Mereka diam-diam mencoba menggali sumber daya di dekat Lautan Kematian."

Tie Ba mendengus kasar, menghantamkan tinjunya ke sandaran kursi hingga emas murni itu penyok. "Biar aku yang pergi ke utara! Akan kuremukkan tulang leluhur mereka dan kujadikan peringatan di gerbang kota!"

"Tahan otot bodohmu itu, Tie Ba," potong Jue Ying dingin dari balik bayangannya. "Perintah terakhir Guru sebelum pergi adalah menjaga stabilitas kekaisaran, bukan melakukan serangan tanpa alasan strategis. Jika kita membantai sekte utara sekarang, sekte-sekte pesisir akan panik dan bergabung melawan kita."

Xin'er menghela napas panjang, menatap takhta naga hitam yang kosong di ujung aula. Matanya memancarkan kerinduan dan rasa hormat yang mendalam.

"Sudah bertahun-tahun sejak Guru pergi ke Alam Dewa," gumam Xin'er lirih. "Terkadang aku bertanya-tanya... apakah kita telah mengurus rumah ini dengan baik sesuai ekspektasinya? Kultivasi kita terhenti di Nascent Soul Puncak. Benua fana ini tidak memiliki cukup Qi bagi kita untuk menyentuh ranah Soul Transformation."

Jian Yi mengangguk pelan, menyentuh gagang pedangnya. "Guru adalah eksistensi yang menentang surga. Di Alam Dewa sana, beliau pasti sudah menciptakan legenda baru. Kita hanya bisa menjaga tempat kelahirannya ini agar tidak dinodai oleh siapa pun."

Suasana di aula takhta menjadi hening dan penuh nostalgia. Kelima penguasa fana itu tenggelam dalam ingatan akan pemuda berjubah abu-abu yang dulu menarik mereka dari lumpur dan mengubah mereka menjadi monster.

Namun, keheningan itu mendadak pecah.

Bukan karena serangan musuh, melainkan karena ruang di tepat di depan takhta naga hitam itu mendadak melengkung ke dalam, membentuk sebuah pusaran ketiadaan absolut!

Kelima penguasa Nascent Soul Puncak itu tersentak berdiri seketika. Senjata mereka langsung ditarik keluar. Niat Membunuh yang telah membantai ratusan ribu musuh meledak memenuhi aula.

"Siapa yang berani menyusup ke Aula Takhta Asura?!" raung Tie Ba.

Namun, sebelum mereka bisa meluncurkan serangan, sebuah tekanan yang sangat familier tekanan yang jauh lebih dalam dari jurang kosmik, dan jauh lebih arogan dari penguasa alam mana pun menyapu seluruh ruangan. Tekanan itu menekan Qi Nascent Soul mereka kembali ke dalam Dantian, membuat mereka tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

Dari dalam pusaran dimensi itu, sebuah langkah kaki yang santai terdengar.

"Kalian masih terlalu berisik, Tie Ba," sebuah suara serak dan datar yang bergema menembus kedalaman jiwa mereka terdengar. "Dan kewaspadaanmu menurun, Jue Ying. Aku bisa berdiri di belakang lehermu selama satu jam tanpa kau sadari."

Seketika, senjata di tangan Jian Yi terjatuh berdenting ke lantai. Kipas Mu Bai terlepas dari genggamannya. Mata Xin'er membelalak lebar hingga air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

Sesosok pemuda berjubah hitam pekat, dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai dan mata sehitam ketiadaan, melangkah keluar dari dimensi itu. Ia berjalan santai menaiki tangga takhta naga hitam, lalu berbalik dan duduk di atasnya dengan postur malas yang luar biasa mendominasi.

Zhao Xuan menopang dagunya dengan satu tangan, menatap kelima muridnya dengan senyum tiran yang tipis.

"Aku pulang."

Hanya dua kata itu yang dibutuhkan untuk meruntuhkan pertahanan mental kelima penguasa benua fana tersebut.

BRUUUUUK!

Tanpa aba-aba, Jue Ying, Jian Yi, Xin'er, Tie Ba, dan Mu Bai langsung menjatuhkan diri mereka. Mereka berlutut dengan kedua lutut menghantam keras lantai, lalu bersujud dalam-dalam hingga dahi mereka menyentuh lantai.

"MENYAMBUT KEPULANGAN GURU!" raung kelimanya serentak, suara mereka bergetar hebat oleh kebahagiaan, rasa hormat mutlak, dan kesetiaan yang tak pernah luntur.

Bagi dunia, mereka adalah iblis-iblis Nascent Soul yang kejam. Tapi di aula ini, mereka hanyalah anak-anak anjing yang kembali melihat majikannya.

Zhao Xuan mengibaskan tangannya pelan, melepaskan tekanan dari tubuh mereka. "Berdirilah. Jangan merusak lantai kekaisaranku dengan air mata kalian. Melihat kalian mencapai puncak fana ini... kalian tidak mengecewakanku."

Kelima murid itu bangkit berdiri, tubuh mereka masih gemetar karena kegembiraan yang luar biasa. Xin'er buru-buru menyeka sudut matanya yang basah.

"Guru... K-Kultivasi Guru..." Mu Bai terbata-bata, mencoba menembus aura Zhao Xuan namun hanya menemukan kekosongan yang tak berujung, seolah ia sedang menatap ke dalam lubang hitam yang bisa menelan benua. "Kami bahkan tidak bisa merasakan ujung dari kekuatan Guru."

"Alam Dewa cukup menyenangkan untuk digunakan sebagai batu loncatan," jawab Zhao Xuan santai. Matanya menyapu kelima muridnya satu per satu. "Kekaisaran ini stabil. Pasukan rahasia Asura masih tajam. Kalian telah menjaga rumah ini dengan baik."

Mendengar pujian langka dari mulut sang Tiran, dada Tie Ba membusung bangga, sementara Jian Yi menundukkan kepala dengan hormat.

"Namun," nada suara Zhao Xuan berubah menjadi serius, membuat suhu aula anjlok drastis. "Benua Tianyun tidak lagi aman. Sebuah artefak kuno telah memicu kebocoran energi di Lautan Kematian. Tikus-tikus dari langit, sosok yang jauh melampaui benua ini, sudah mulai menyusup kemari."

Kelima murid itu menegang. Jika Guru mereka yang memiliki kekuatan tak terukur itu menyebut para pendatang ini sebagai "tikus dari langit", maka bahaya yang datang adalah kehancuran bagi benua fana.

Zhao Xuan membuka telapak tangannya. Roda Ketiadaan dan Roda Ruang berputar pelan. Ia menarik sekelumit kecil hanya seukuran butiran debu dari aura Ascendant miliknya, lalu membaginya menjadi lima pilar cahaya kecil yang memancarkan pencerahan hukum alam yang murni.

"Benua ini tidak memiliki cukup Qi untuk mendorong kalian ke ranah Soul Transformation," ucap Zhao Xuan. "Terimalah pemahaman hukum alam ini. Ini adalah esensi dari ruang dan ketiadaan tingkat dewa. Dengan fondasi Nascent Soul Puncak kalian, menyerap secuil pencerahan ini sudah cukup untuk memaksa hukum benua ini bertekuk lutut dan menarik kalian ke ranah Soul Transformation."

Zhao Xuan menjentikkan jarinya. Kelima pilar cahaya kecil itu melesat dan masuk ke dalam kening mereka (titik di antara alis) kelima muridnya.

Seketika, tubuh Jue Ying, Jian Yi, Xin'er, Tie Ba, dan Mu Bai bergetar luar biasa hebat. Dantian mereka mendidih! Batas ranah fana yang selama ini membelenggu mereka mulai retak dengan suara yang memekakkan telinga. Pemahaman tentang peleburan jiwa yang tidak bisa mereka dapatkan selama puluhan tahun tiba-tiba terbuka lebar bagaikan bendungan yang jebol.

"Mulai hari ini, Kekaisaran Zhao harus berada dalam status siaga perang mutlak," titah Zhao Xuan, bangkit berdiri dari takhtanya. "Segel perbatasan. Bantai sekte mana pun yang mencoba mencari masalah. Aku dan seorang naga liar akan pergi ke Lautan Kematian untuk membereskan sumber kehancuran ini."

Kelima murid itu, yang sedang menahan rasa sakit dan pencerahan dari terobosan Soul Transformation yang akan segera terjadi, kembali berlutut dengan penuh tekad.

"Kami akan mematuhi nya dengan nyawa kami!"

Zhao Xuan tersenyum tipis. Ia melangkah turun dari takhta, dan dalam satu langkah, tubuhnya kembali menyatu dengan udara kosong, berteleportasi kembali ke Kota Pelabuhan Ujung Darah, meninggalkan lima iblis baru yang akan segera mengguncang benua fana dengan terobosan massal mereka.

1
Andi Heryadi
akhir mati juga MCnya,sombong arogan lupa klo diatas langit msh ada langit
saniscara patriawuha.
semoga lekas sembuh mang otor sehat selalu...
Ghotam
kenapa Gu Tianxue jadi begitu ya. dan semoga Tuan mudanya menepati janjinya untuk menemukan tubuh yang tepat untuk Gu
saniscara patriawuha.
sayang inti monster nirwana puncak cuma naikin sampe ascendan menengah,, minimal ya nirwana awal lah mang otor....
Solihin Syamsuddin
Semoga lekas sembuh….
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍😍😄👍👍👍
Markinyo
kenapa tidak menguraa harta sekte & kerajaan yg telah menyerang? itu kn rampasan perang?
Ahmad Nasir
katanya dah jadi dewa... dikit-dikit kalah, dikit-dikit mau mati...🙄😏😏😏
saniscara patriawuha.
sikattttt....
saniscara patriawuha.
sikattttt.,
saniscara patriawuha.
serappppp sampeeee keringggg...
saniscara patriawuha.
sikatttty manggg guuuu,, tunjukann kejantananmuuu...
saniscara patriawuha.
sikattttt dannn serapppppppp....
saniscara patriawuha.
mangapppp manggg otorrrr,,, gasssss
eka suci
syafakillah Thor, semoga cepat sembuh 🤲🏻 biar bisa beraktifitas normal n crazy up lagi💪
eka suci
semakin naik ranah yg dibutuhkan pun semakin sulit tapi bukan berarti tidak bisa💪
saniscara patriawuha.
zrasssdsssss....
saniscara patriawuha.
gasssddd deuiiii...
saniscara patriawuha.
jarahhhh harta sektenya...
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnn sudahhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!