NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 22: Intelijen dan Kudeta Pesta Teh

​Dua jam setelah insiden "Sidak Helena" yang nyaris merenggut nyawaku itu, penthouse kembali ke setelan pabrik.

​Pukul delapan malam, meja marmer kitchen island kami telah resmi berubah fungsi menjadi ruang War Room (ruang kendali perang). Di atasnya, tergeletak laptop super tipis milik Rayan, layar iPad-nya yang menyala menampilkan grafik, dan buku catatan spiral murahan milikku yang sudah bersiap menampung data intelijen.

​Rayan berdiri di seberang meja, lengannya bertumpu di atas marmer, menatap layar laptopnya dengan raut wajah serius.

​"Musuh utamamu minggu depan bukan hanya Tante Sonia," Rayan memulai briefing-nya, menggeser layar iPad-nya ke arahku. "Ini Jeng Dina. Suaminya adalah pemilik PT Cipta Logistik, salah satu vendor menengah di bawah Adristo Group. Dan ini Tante Rika, istri dari anggota dewan direksi bank swasta, hobi memamerkan tas miliaran namun diam-diam ekspansi butiknya sedang berdarah-darah."

​Aku menunduk, mencatat nama dan afiliasi mereka dengan cepat. "Cipta Logistik dan butik high-end. Dicatat. Apa peluru yang kita punya untuk mereka?"

​Rayan terdiam.

​Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu tanpa ada suara tambahan dari pria di depanku itu.

​Aku mendongak dari buku catatanku.

​Rayan masih berdiri di posisinya, tapi pandangannya tidak lagi tertuju pada layar laptop maupun deretan angka di iPad-nya. Mata kelamnya terpaku lurus padaku. Lebih tepatnya, tatapannya terkunci pada bagian bawah wajahku pada bibirku.

​Ekspresinya terlihat... kosong, namun di saat yang bersamaan otot rahangnya menegang kaku. Jakunnya bergerak perlahan saat ia menelan ludah. Pria ini, CEO yang otaknya terbiasa memproses ribuan data per detik, tiba-tiba mengalami system failure alias hang di tengah presentasinya sendiri.

​Tentu saja aku tahu apa yang sedang me- reboot paksa memori di kepalanya. Sisa-sisa dari adegan "Protokol Darurat" sore tadi rupanya masih meninggalkan cache yang belum terhapus di otaknya.

​Aku mengetukkan ujung penaku ke atas meja marmer dengan bunyi Trak! yang cukup keras.

​"Bapak Rayan?" panggilku dengan intonasi selurus penggaris. "Apakah server otak Anda sedang down? Atau koneksi WiFi di lantai empat puluh ini sedang putus? Kita masih di slide ketiga dan Bapak berhenti berbicara selama delapan detik penuh."

​Rayan tersentak pelan. Matanya mengerjap cepat, seolah baru saja ditarik paksa dari dimensi lain.

​Seburat warna merah yang sangat samar melintasi ujung telinganya, sebuah pemandangan anomali yang nyaris membuatku tertawa jika saja situasinya tidak secanggung ini. Ia segera membuang muka, berdeham keras, dan kembali menatap layar laptopnya seolah benda itu adalah hal paling menarik di dunia.

​"Fokus saya terbagi," dalih Rayan cepat, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. "Saya... kurang tidur."

​"Tentu saja. Kurang tidur adalah kambing hitam korporat yang paling valid," balasku sarkastis, tidak berniat memperpanjang masalah ini demi kewarasanku sendiri. "Mari kembali ke Pihak Oposisi. Apa kelemahan Jeng Dina dan Tante Rika?"

​Rayan menarik napas panjang, mengembalikan mode tiran berdarah dinginnya.

​"PT Cipta Logistik milik suami Jeng Dina sedang menunggak pajak miliaran rupiah dan sedang diaudit diam-diam. Adristo Group berencana memutus kontrak mereka kuartal depan jika mereka tidak bisa membuktikan likuiditas arus kas mereka," jelas Rayan tanpa ampun. "Sementara Tante Rika, butiknya gagal berekspansi, dan suaminya diam-diam meminjam dana dari perusahaan capital milik saya dengan bunga tinggi untuk menutupi hutang istrinya."

​Ujung penaku menari di atas kertas. Aku menyeringai tipis. Ini bukan sekadar amunisi. Ini adalah hulu ledak nuklir.

​"Mereka bertingkah seperti bangsawan di depan publik, tapi secara finansial, mereka sedang berpegangan di tepi jurang," simpulku.

​"Tepat," Rayan mengangguk. "Tante Sonia sengaja mengumpulkan istri-istri yang posisinya bergantung pada Adristo Group agar ia bisa menjadi ratu lebahnya. Sonia adalah pelindung mereka, dan mereka adalah anjing pelacak Sonia. Mereka akan menggunakan segala cara untuk mempermalukan latar belakangmu demi mencari muka."

​Aku menutup buku catatanku dengan bunyi Bruk! yang memuaskan.

​"Presentasi diterima, Pak CEO," kataku, menyelipkan penaku ke saku. "Serahkan sisanya pada saya."

​Rayan menatapku lekat. Kali ini, tidak ada lagi jejak tatapan kosong atau kecanggungan. Yang ada hanyalah keyakinan absolut dari seorang atasan kepada eksekutor terbaiknya.

​"Jangan hancurkan meja pestanya, Nara," pesan Rayan dengan nada memperingatkan, meski sudut bibirnya berkhianat dengan sedikit tarikan ke atas. "Bikin mereka diam, bukan bunuh diri."

​"Saya hanya akan menyajikan fakta, Rayan. Bagaimana mereka mencernanya, itu urusan lambung mereka masing-masing."

​Satu Minggu Kemudian. Hari-H Charity High Tea.

​Hotel bintang lima di kawasan Thamrin itu disewa khusus untuk acara sore ini.

​Grand Ballroom disulap menjadi taman mawar indoor yang dipenuhi oleh meja-meja bundar berhiaskan taplak sutra pastel, rangkaian bunga peony segar, dan tumpukan macaron serta porselen fine china.

​Begitu aku melangkah masuk melewati pintu ganda raksasa ballroom, hawa permusuhan langsung terasa menyengat kulit. Ratusan mata yang dibingkai bulu mata palsu premium dan riasan jutaan rupiah serentak menoleh ke arahku. Kasak-kusuk langsung menjalar dari satu meja ke meja lain dengan kecepatan infeksi virus.

​Hari ini, aku mengenakan gaun midi berlengan tiga perempat berwarna emerald green (hijau zamrud) yang dikirimkan oleh Daniel pagi tadi sebagai 'inventaris tempur' terbaruku. Rambutku disanggul modern yang sangat rapi. Aku tidak memakai kalung atau perhiasan berlebihan, hanya jam tangan elegan di pergelangan kiri. Simple, clean, and unbothered.

​Aku melangkah dengan tenang, mencari namaku di table arrangement. Tentu saja, Helena memastikan aku duduk di meja VVIP. Sayangnya, karena Helena sendiri berhalangan hadir tepat waktu karena urusan mendadak, aku terpaksa duduk di meja bundar yang sama dengan ratu lebah kita: Tante Sonia.

​Di meja itu sudah duduk Tante Sonia, Jeng Dina, Tante Rika, dan dua sosialita lain yang tidak masuk dalam radar ancamanku.

​"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang akhirnya bergabung dengan kita," sambut Tante Sonia dengan senyum palsunya yang sudah dipatenkan. Ia mengulurkan tangan yang dipenuhi cincin berlian untuk menyentuh lenganku sekilas. "Nara sayang. Silakan duduk. Kami pikir kamu akan tersesat di lobi hotel, maklum kan tempatnya besar sekali."

​Aku menarik kursiku sendiri sebelum pelayan sempat membantuku. Aku duduk dengan punggung tegak, tersenyum sopan.

​"Terima kasih atas kekhawatirannya, Tante Sonia. Namun navigasi spasial saya masih berfungsi dengan sangat baik," jawabku membalas senyumannya.

​Jeng Dina, wanita berwajah bulat dengan riasan alis yang terlalu menukik, langsung mengambil alih serangan.

​"Nara, gaunmu cantik sekali warnanya. Hijau zamrud ya?" puji Jeng Dina dengan nada yang sengaja ditinggikan agar meja sebelah mendengar. "Kelihatannya seperti rancangan lokal. Keluarga Kusuma... hmm, saya kok jarang dengar ya nama itu di yayasan amal mana pun? Sebenarnya yayasan panti asuhan atau yayasan sosial apa yang biasa didanai oleh keluarga Kusuma, Jeng Nara? Biar kami di sini bisa ikut berdonasi."

​Itu dia. Jebakan Batman.

​Jika aku menjawab keluargaku tidak punya yayasan amal karena ayahku hanyalah petani dan ibuku pedagang daster, mereka akan menertawakanku, mengasihanku, dan melabeliku sebagai 'Cinderella miskin pengincar harta'.

​Mata Tante Sonia berbinar penuh antisipasi. Tante Rika menutupi senyum mengejeknya dengan cangkir teh porselen.

​Mode Staf Analis Data tingkat dewa: ON.

​Aku tidak baper. Aku tidak berkeringat dingin. Aku perlahan mengambil cangkir teh Earl Grey di depanku, menghirup aromanya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas tatakan dengan bunyi denting pelan yang elegan.

​"Keluarga saya memang tidak mendirikan yayasan sosial publik berskala besar yang mengundang press release media, Jeng Dina," jawabku dengan suara yang luar biasa tenang, jernih, dan mengandung otoritas yang membuat semua orang di meja itu refleks mencondongkan telinga.

​"Kami lebih percaya pada tindakan amal langsung dan... restrukturisasi efisiensi ekonomi mikro."

​Aku menatap mata Jeng Dina yang alisnya sedang menukik itu dengan senyum ramah yang mematikan.

​"Ah, bicara soal penyaluran dana sosial dan arus kas," lanjutku lancar, menyilangkan kakiku di bawah meja. "Saya baru saja berdiskusi dengan Rayan semalam mengenai likuiditas beberapa mitra logistik Adristo Group. Kebetulan sekali, nama PT Cipta Logistik milik suami Jeng Dina muncul di draf paling atas."

​Seketika, senyum di wajah Jeng Dina membeku. Tangan Tante Sonia yang sedang memegang garpu dessert terhenti di udara.

​"Kuartal ini sepertinya cukup berat ya, Jeng?" tanyaku dengan nada penuh empati palsu yang menjijikkan. "Melihat laporan bahwa perusahaan suami Jeng Dina sedang dihadapkan pada sengketa pajak yang nominalnya cukup... signifikan. Saya jadi berpikir, mungkin sebelum kita membahas soal donasi ke luar, kita harus membuat yayasan amal untuk membantu likuiditas kas PT Cipta Logistik terlebih dahulu? Kasihan kalau sampai ada PHK massal ratusan karyawan bulan depan hanya karena tagihan pajaknya belum terbayar."

​BOOM.

​Hening.

​Ruangan ballroom di sekitar kami mungkin masih dipenuhi suara tawa dan dentingan alat makan, tapi meja kami mendadak berubah menjadi makam.

​Wajah Jeng Dina memucat seputih taplak meja di bawah kami. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi yang kehabisan oksigen. Rahasia dapur perusahaannya yang dijaga mati-matian, baru saja dibongkar dengan nada santai oleh 'gadis rakyat jelata' di depan teman-teman arisannya yang bermulut ember.

​Tante Rika, yang tadi ikut tersenyum mengejek, langsung salah tingkah dan mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menyelamatkan temannya.

​"Ah... Jeng Nara ini pasti salah baca laporan. Urusan bisnis laki-laki kadang memang rumit," Tante Rika tertawa sumbang. "Kita di sini kan tujuannya untuk bersenang-senang dan melihat koleksi mode terbaru. Seperti butik saya yang baru rilis"

​"Tentu saja rumit, Tante Rika," potongku halus, menggeser moncong meriamku ke arahnya. Senyumku belum luntur satu milimeter pun.

​Aku mencondongkan kepalaku sedikit ke arah Tante Rika, merendahkan suaraku seolah membagikan rahasia negara.

​"Saking rumitnya, terkadang seorang suami harus diam-diam meminjam suntikan dana bertenor pendek dengan bunga tinggi dari capital venture milik keponakannya sendiri, hanya untuk menutup lubang operasional ekspansi butik istrinya yang... mohon maaf, gagal Return on Investment-nya."

​Aku kembali menegakkan punggungku, menatap Tante Rika yang matanya kini membelalak ngeri, seolah ia baru saja melihat malaikat pencabut nyawa duduk minum teh di mejanya.

​"Beban bunga pinjamannya lumayan mencekik bulan ini ya, Tante Rika?" tanyaku manis. "Semoga koleksi terbarunya laku keras, agar sertifikat rumah di Pondok Indah tidak perlu dilepas."

​Double Kill.

​Sekarang, Tante Rika dan Jeng Dina sama-sama terlihat seperti ingin muntah atau pingsan di tempat. Nafas Tante Rika memburu, sementara Jeng Dina menunduk dalam-dalam menatap sepatunya.

​Aku mengalihkan pandanganku perlahan, menatap tepat ke arah Ratu Lebah yang sejak tadi mematung kaku. Tante Sonia.

​Wajah Sonia sangat tegang. Urat di lehernya terlihat menonjol. Ia baru menyadari satu fakta yang sangat menakutkan: Rayan Adristo tidak menikahi perempuan lemah yang bisa ditindas dengan bullying sosial. Rayan menikahi seseorang yang memegang akses langsung ke brankas rahasia semua orang di ruangan ini, dan tidak takut menggunakannya sebagai senjata eksekusi di meja minum teh.

​"Teh Earl Grey-nya sangat enak, Tante Sonia. Terima kasih atas sambutan hangatnya," ucapku, memecah keheningan maut di meja itu.

​Aku berdiri dari kursiku dengan gerakan yang sangat rapi. Menghaluskan sedikit lipatan di gaun zamrudku.

​"Namun sayang sekali, diskusi filantropi kita harus berakhir di sini. Saya harus segera kembali ke kantor untuk menyusun portofolio efisiensi kuartal depan," pamitku dengan anggukan kepala yang sangat berwibawa. "Mari, ibu-ibu. Semoga harinya menyenangkan."

​Aku membalikkan badan, meninggalkan meja bundar yang kini terasa seperti area radiasi nuklir itu.

​Saat aku berjalan menyusuri karpet ballroom menuju pintu keluar, tidak ada satu pun yang berani membisikkan namaku. Tidak ada lagi kasak-kusuk merendahkan. Yang tertinggal hanyalah aura ketakutan yang sangat memuaskan egoku.

​Begitu pintu taksi online pesananku tertutup di depan lobi hotel, napas yang sedari tadi kutahan akhirnya kulepaskan.

​Aku menyandarkan punggungku ke jok kulit taksi. Kakiku sedikit gemetar karena lonjakan adrenalin. Ya ampun. Aku baru saja mem- bully balik sekumpulan sosialita elit menggunakan ancaman kebangkrutan ekonomi. Rasanya... luar biasa melegakan.

​Aku mengeluarkan ponselku dari clutch kecil yang kubawa. Aku membuka aplikasi chat dan mencari kontak Rayan.

​Ini bukan pesan mesra. Ini adalah laporan kinerja. Jariku mengetik dengan cepat.

​Nara: Laporan Lapangan: Operasi Selesai. Tante Rika dan Jeng Dina berhasil dinetralisir dengan data pajak dan hutang modal. Tidak ada perlawanan lebih lanjut dari Ratu Lebah.

​Nara: Target bungkam. Tidak ada korban jiwa dari Pihak Kedua. Return on Investment dari briefing semalam: 100%.

​Aku menekan tombol kirim.

​Tidak sampai sepuluh detik, indikator 'sedang mengetik' muncul di layar chat Rayan. Balasannya masuk sesaat kemudian.

​Rayan: Bagus. Daniel sedang menyiapkan karangan bunga anggrek untuk dikirim ke butik Tante Rika sebagai ucapan belasungkawa finansial.

​Rayan: Kerja yang sangat rapi, Partner.

​Aku menatap layar ponselku. Kata Partner itu seolah memiliki denyut nadinya sendiri. Aku mendengus geli, sebuah tawa kecil lolos dari bibirku untuk pertama kalinya hari ini.

​Duniaku mungkin gila, pernikahan ini mungkin palsu, dan hidupku dipenuhi oleh kontrak-kontrak yang menyesakkan. Tapi satu hal yang pasti: Nara Kusuma tidak lagi menjadi pihak yang kalah dan diinjak-injak.

​Aku telah berevolusi. Dan ular-ular berbisa itu baru saja mempelajari akibat fatal jika sembarangan mematuk analis datanya Rayan Adristo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!