Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Masa Lalu
Samudra dan Samira masih tidur di ranjang yang sama.
Hanya saja, ada pembatas tak kasatmata di antara mereka, jarak yang bahkan lebih tebal daripada dinding. Jarak itu sudah ada sejak awal pernikahan mereka.
Alasannya sederhana.
Sejak awal, Samira bukan perempuan yang diinginkan Samudra.
Mengapa tidak pisah kamar saja?
Jawabannya pun sederhana. Orang tua Samudra sering datang ke rumah. Ia tak ingin menimbulkan kecurigaan. Di mata orang tuanya, pernikahan ini harus tampak harmonis dan penuh kasih sayang.
Maka mereka berbagi ranjang.
Bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai dua orang asing yang dipaksa berperan.
Meski kini mereka telah menikah, bahkan memiliki seorang anak, bagi Samudra, Samira tetaplah orang luar. Sampai detik ini, tak ada perasaan yang tumbuh. Tak ada cinta yang hadir. Tidak juga keterikatan.
Namun soal hubungan suami istri, Samudra tak sepenuhnya menjauh.
Ia tetap melakukannya.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena kebutuhan.
Samudra tak munafik. Ia tahu, di mata siapa pun, sikapnya menjijikkan. Memanfaatkan perempuan yang tak ia cintai demi memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri. Ia sadar betul betapa brengseknya itu.
Dan Samudra mengakuinya dalam diam.
“Ugh…” Samudra merenggangkan otot-otot tubuhnya saat terbangun. Rasa lelah semalam telah berubah menjadi rileks yang hambar. Ia menggerakkan tangan ke samping, menyentuh kasur sebelahnya.
Dingin.
Alisnya berkerut tipis. Ia melirik ke arah sisi ranjang yang biasa ditempati Samira. Kosong.
“Kemana perginya perempuan itu…” gumamnya pelan.
Tak ingin mengambil pusing, Samudra bangkit. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu bersiap berangkat ke kantor. Rutinitas yang sama. Pagi yang sama. Tanpa rasa.
•••••
Samira terbangun dengan tubuh sedikit kaku. Ia terkejut saat menyadari dirinya tertidur di kamar Binar. Sekilas, ia menata posisi putrinya yang masih terlelap, menarik selimut agar menutupi bahu kecil itu dengan sempurna. Pandangannya lalu beralih ke jam dinding jarumnya sudah menunjukkan hampir pukul lima setengah.
Samira lekas bangkit. Ia merapikan selimut Binar sekali lagi, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah ringan. Rumah masih sunyi, udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Seperti biasa, ia menuju dapur.
Tangannya langsung cekatan menyiapkan sarapan untuk Samudra yang sebentar lagi akan berangkat kerja, dan untuk Binar yang kini sudah mulai masuk sekolah TK. Padahal di rumah itu ada asisten rumah tangga, namun asisten rumah tangganya itu tidak menginap. Ia biasanya datang sekitar pukul delapan pagi, membantu membersihkan rumah, terkadang juga membantunya memasak.
Jam masih menunjukkan setengah enam. Matahari belum menampakkan diri, tetapi dapur sudah terasa hangat oleh aktivitas Samira. Ia menumis telur, menggoreng tempe, lalu menyiapkan secangkir kopi hitam kesukaan Samudra. Setelah itu, ia menggoreng ayam. Semua ia lakukan seperti rutinitas yang telah melekat selama lima tahun terakhir. Tanpa diminta. Tanpa pernah benar-benar mendapatkan apresiasi.
Sesekali Samira melirik ke arah tangga, memastikan Binar belum bangun. Anak itu kalau sudah terjaga, pasti langsung menyusulnya ke dapur.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga. Benar saja, Binar muncul dengan wajah kusut khas anak yang baru bangun tidur.
Samira mematikan kompor, lalu menghampiri putrinya.
“Selamat pagi, Bibi. Hari ini sarapan dulu, ya. Habis itu baru mandi. Bibi duduk dulu, oke?” ucapnya lembut.
“Oke, Mama,” jawab Binar polos.
Saat Binar sudah duduk di kursinya, tak lama kemudian suara langkah lain terdengar dari tangga. Samudra turun dengan kemeja rapi dan wajah datar seperti biasa. Ia langsung duduk di kursi makan tanpa menoleh, membuka ponselnya, menunggu Samira selesai menata hidangan.
Samira buru-buru menyusun masakan di atas meja.
“Mas, ini bekalnya sudah aku taruh di tas,” ucap Samira pelan.
Samudra hanya mengangguk singkat, lalu langsung menyantap makanannya. Tak ada percakapan. Tak ada senyum. Hanya suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.
Binar yang juga sedang sarapan menatap ayahnya dengan mata berbinar.
“Pa, nanti pulangnya jangan malam ya.”
Samudra berhenti makan sejenak.
“Papa lihat nanti, ya,” ucapnya terdengar halus, meski nadanya tak benar-benar hangat.
Binar mengangguk, namun sinar di wajahnya sedikit meredup.
Samira menggenggam jemarinya sendiri di balik apron. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap tersenyum demi Binar. Sebenarnya ia tak tega melihat putrinya yang kerap dicueki oleh ayahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Samudra berdiri. Ia mengambil tas kerjanya dan menenteng paper bag berisi bekal, lalu berjalan ke arah pintu.
“Aku berangkat,” ucapnya singkat.
“Iya, hati-hati,” balas Samira.
“Papa!” teriak Binar. Ia turun dari kursinya dan berlari kecil menghampiri Samudra.
“Kenapa?” tanya Samudra.
“Peluk,” ucap Binar singkat.
Samudra terdiam sesaat, lalu menurunkan tubuhnya. Ia memeluk anaknya sebentar singkat, canggung, tapi cukup membuat Binar tersenyum. Setelah itu, ia langsung melangkah pergi menuju kantor.
Pintu tertutup. Sunyi kembali menyelimuti rumah.
Samira menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Dalam hati, Samira bertanya pada dirinya sendiri. Sampai kapan aku harus kuat sendirian seperti ini?
Ia menoleh ke arah Binar yang masih berdiri di dekat pintu, menatap kosong bekas kepergian ayahnya. Samira menghampiri, mengelus rambut putrinya lembut.
“Ayo, Bibi. Kita siap-siap sekolah,” ucapnya.
Binar mengangguk pelan.
Namun di balik senyum tipis Samira, ada hati yang mulai lelah, hati seorang perempuan yang perlahan belajar apa arti menyerah, meski belum berani mengucapkannya dengan suara.
•••••
Samudra sampai di kantor, namun tubuhnya seolah hadir tanpa jiwa. Ia duduk diam di depan meja kerjanya, layar laptop menyala, tetapi pandangannya kosong. Tak satu pun huruf benar-benar ia baca. Pikirannya melayang jauh, lima tahun ke belakang, ke masa sebelum ia menikah dengan Samira.
Andai malam itu tak pernah ada…
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat.
Kalau kejadian itu tak pernah terjadi, mungkin sekarang aku sudah hidup bersama perempuan yang kucintai.
Kenangan itu datang tanpa izin.
Flashback on
Saat itu, Samudra baru saja menerima undangan ulang tahun dari temannya sekaligus rekan bisnisnya. Sebuah pesta yang diadakan di hotel mewah, dihadiri banyak pejabat dan kolega kantor. Undangan itu terlihat biasa saja. Tak ada yang mencurigakan. Samudra pun datang tanpa pendamping.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, perasaannya sebenarnya sudah tidak enak. Ada firasat samar yang menggelitik dadanya, seolah sesuatu akan terjadi. Namun Samudra mengabaikannya.
Sesampainya di pesta, suasana begitu ramai. Tawa, musik, dan gelas-gelas berisi minuman keras memenuhi ruangan. Banyak tamu datang berpasangan. Samudra, sendirian, hanya tersenyum tipis dan langsung menghampiri temannya untuk memberi ucapan selamat.
Setelah itu, ia mengambil minuman. Alkohol tersedia bebas. Samudra yang sedang ingin melupakan banyak hal memilih untuk minum satu gelas, lalu gelas berikutnya. Ia ingin menumpulkan kepalanya, menenggelamkan pikirannya.
Ia tak sadar kapan batasnya terlewati.
Kepalanya mulai berat. Pandangannya sedikit berputar. Kesadarannya perlahan mengabur. Merasa tak sanggup berlama-lama, Samudra memutuskan untuk pergi. Ia melangkah tertatih, berusaha keluar dari ruangan pesta.
Namun di tengah jalan, tubuhnya menabrak seseorang.
“Maaf—” suara itu terdengar panik.
Orang itu adalah Samira.
Malam itu, Samira sedang bekerja sebagai salah satu pegawai hotel tempat pesta tersebut berlangsung. Ia mengenakan seragam rapi, rambutnya terikat sederhana. Awalnya ia hanya ingin lewat, namun begitu melihat kondisi Samudra yang nyaris terjatuh, nalurinya langsung bergerak.
“Pak… Anda tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
Samudra tak menjawab jelas. Ucapannya kacau, langkahnya tak seimbang. Samira menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh. Meski tak mengenalnya sama sekali, ia merasa tak tega meninggalkannya begitu saja.
Dengan susah payah, Samira menopang tubuh Samudra.
“Bapak mau saya bantu ke mana?” tanyanya lagi.
Samudra menggumam pelan, hampir tak terdengar, menyebutkan nomor kamar. Kamar yang memang telah ia sewa untuk menginap setelah pesta.
Samira ragu.
Ia tahu ini bukan bagian dari tugas resminya. Namun melihat kondisi Samudra yang benar-benar tidak sadar, ia akhirnya mengangguk pelan. Dalam benaknya hanya satu: menolong, memastikan tamu hotel itu aman.
Ia membawa Samudra ke kamar tersebut, membantunya berbaring di atas ranjang. Samira hendak pergi setelah itu. Ia tak berniat lebih.
Namun malam itu tak berjalan sesuai rencana siapa pun.
Kesadaran Samudra yang setengah hilang, kondisi Samira yang sendirian, dan situasi yang tak seimbang menjadi awal dari sebuah kesalahan besar, kesalahan yang mengubah hidup Samira selamanya.
Keesokan paginya, Samira terbangun dengan tubuh gemetar. Seragam kerjanya kusut, kepalanya berdenyut hebat. Dan saat kesadarannya sepenuhnya kembali, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa runtuh—
Masa depannya telah direnggut dalam satu malam yang tak pernah ia minta.
Air mata jatuh tanpa suara.
Bukan hanya harga dirinya yang hilang malam itu, tapi juga harapannya tentang hidup yang bersih, tentang masa depan yang ia bangun dengan susah payah.
*****
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!