Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Bayangan Yang Mendekat
Sore itu langit desa tampak meredup lebih cepat dari biasanya. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah menekan atap-atap rumah yang berderet rapi. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan sekaligus menyisakan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Di halaman rumah sederhana mereka, Alana duduk di bangku kayu tua, tangannya sibuk merangkai bunga liar yang ia petik sejak siang. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Matanya sesekali melirik ke jalan setapak di depan rumah, seperti menunggu seseorang yang entah kapan akan datang.
Dan benar saja, tidak lama kemudian sosok itu muncul.
Edward berjalan dengan langkah santai, mengenakan pakaian sederhana yang membuatnya tampak seperti orang desa biasa. Namun aura yang ia miliki tetap berbeda—tenang, dalam, dan sulit ditebak. Saat pandangan mereka bertemu, Alana segera berdiri, tanpa sadar menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
“Kamu datang lagi,” ucap Alana, berusaha terdengar biasa.
Edward tersenyum tipis. “Apa aku tidak boleh?”
Alana menggeleng cepat. “Bukan begitu… hanya saja, kamu jadi sering ke sini.”
“Dan itu mengganggumu?”
Alana terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Tidak.”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Edward melangkah lebih dekat. Ia duduk di bangku yang sama, hanya berjarak beberapa inci dari Alana. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda.
“Bunga apa itu?” tanya Edward, menunjuk rangkaian di tangan Alana.
“Bunga liar,” jawabnya. “Tidak punya nama khusus. Tapi aku suka warnanya.”
Edward memperhatikan dengan saksama. “Kamu merangkainya dengan rapi. Seperti kamu sudah terbiasa.”
“Aku memang sering melakukannya sejak kecil,” kata Alana. “Kalau bosan, aku akan pergi ke ladang atau tepi desa… lalu memetik bunga.”
Edward mengangguk, namun ada sesuatu dalam tatapannya—ketertarikan yang lebih dalam dari sekadar percakapan biasa.
“Apa kamu tidak pernah ingin pergi lebih jauh?” tanyanya tiba-tiba.
Alana menoleh. “Lebih jauh?”
“Dari desa ini.”
Alana tersenyum kecil, tapi senyumnya terasa pahit. “Tidak bisa.”
Edward memperhatikan perubahan itu. “Karena segel itu?”
Alana mengangguk. “Batasnya jelas. Kami tidak bisa melewatinya. Sejak kecil aku sudah tahu… dunia kami hanya sampai di sini.”
Edward menunduk sedikit, menyembunyikan sesuatu di balik ekspresinya.
“Apa kamu tidak penasaran?” lanjutnya.
Alana menatap langit. “Tentu saja penasaran. Tapi… kadang aku berpikir, mungkin memang begini takdir kami. Hidup di dalam batas yang tidak bisa dilanggar.”
Edward tidak langsung menjawab. Ia menatap Alana lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata gadis itu.
“Kamu tidak terlihat seperti orang yang menyerah pada takdir,” katanya akhirnya.
Alana tertawa kecil. “Aku juga tidak merasa seperti itu. Hanya saja… aku tidak punya pilihan.”
Hening sejenak.
Angin berembus lebih kencang, membuat beberapa helai rambut Alana berterbangan. Tanpa sadar, Edward mengulurkan tangan dan merapikannya dengan lembut. Gerakan itu spontan, hampir seperti refleks.
Alana terdiam.
Begitu juga Edward.
Waktu seolah berhenti di antara mereka.
“Maaf…” Edward menarik tangannya perlahan.
Alana menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Namun suasana sudah berubah. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak lagi bisa dianggap biasa.
Sejak hari itu, kedekatan mereka semakin terasa.
Edward mulai sering datang, bukan hanya sekadar berbincang ringan, tapi juga membantu Alana dalam hal-hal kecil—memperbaiki pagar, mengambil air, atau sekadar menemani saat ia merangkai bunga. Setiap pertemuan terasa semakin nyaman, semakin akrab, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Alana pun mulai membuka diri.
Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang sudah lama tiada Bahkan tentang mimpinya yang sederhana—melihat dunia di luar desa, meski ia tahu itu mustahil.
Edward mendengarkan semuanya dengan penuh perhatian.
Namun di balik itu semua, ia menyimpan rahasia besar.
Dan setiap kali ia menatap Alana, ada perasaan bersalah yang semakin tumbuh.
—
Di tempat lain, jauh dari desa yang tenang itu, suasana yang berbeda sepenuhnya terjadi.
Istana kerajaan vampir berdiri megah di bawah langit gelap yang tak pernah benar-benar terang. Pilar-pilar tinggi menjulang, dihiasi ukiran kuno yang menceritakan sejarah panjang kekuasaan mereka.
Di dalam aula utama, seorang pria berdiri tegak di depan singgasana kosong.
Henry.
Sebagai tangan kanan raja, ia kini memikul tanggung jawab besar. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam, mencerminkan beban yang tidak ringan.
“Laporan dari wilayah utara,” ujar seorang penjaga, menyerahkan gulungan kertas.
Henry membukanya dengan cepat, membaca setiap baris dengan cermat.
“Masih ada pergerakan mencurigakan?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
“Ya, Tuan. Beberapa kelompok terlihat berkumpul di perbatasan.”
Henry menghela napas pelan. “Mereka mulai berani.”
“Apakah kita akan mengambil tindakan?”
Henry terdiam sejenak, berpikir.
“Tidak sekarang,” jawabnya akhirnya. “Kita tidak tahu apa tujuan mereka yang sebenarnya. Jangan bertindak gegabah.”
Penjaga itu mengangguk. “Baik, Tuan.”
Setelah penjaga itu pergi, Henry melangkah perlahan menuju singgasana. Ia tidak duduk, hanya berdiri di depannya, menatap kursi kosong itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Sampai kapan…” gumamnya pelan.
Ia tahu raja tidak akan pergi tanpa alasan. Tapi kepergian itu terlalu lama, terlalu sunyi. Tidak ada kabar, tidak ada tanda.
Dan itu membuat segalanya menjadi tidak pasti.
Henry mengepalkan tangan.
“Aku akan menjaga semuanya sampai kau kembali,” katanya pelan, seolah berbicara pada seseorang yang tidak ada di sana.
Namun di dalam hatinya, ada kekhawatiran yang tidak bisa ia abaikan.
—
Kembali ke desa, malam mulai turun.
Lampu-lampu kecil menyala di setiap rumah, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan gelapnya langit. Suara jangkrik mulai terdengar, mengiringi malam yang perlahan menelan sisa-sisa cahaya.
Di halaman rumah, Alana dan Edward masih duduk bersama.
Mereka tidak banyak bicara. Namun keheningan di antara mereka terasa nyaman, bukan canggung.
“Apa kamu akan terus datang?” tanya Alana tiba-tiba.
Edward menoleh. “Kalau kamu mengizinkan.”
Alana tersenyum kecil. “Aku tidak pernah melarang.”
Edward menatapnya lebih dalam. “Kalau suatu saat aku tidak datang… apa kamu akan menungguku?”
Pertanyaan itu membuat Alana terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” baliknya.
Edward mengalihkan pandangan. “Hanya penasaran.”
Alana memandangnya sejenak, mencoba membaca sesuatu di balik sikapnya.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Tapi… mungkin iya.”
Edward tersenyum tipis, namun senyum itu terasa getir.
Karena ia tahu… suatu saat nanti, ia mungkin benar-benar tidak bisa kembali.
Dan saat itu terjadi, ia tidak tahu apakah Alana akan mengerti.
Atau justru membencinya.
Angin malam berembus pelan, membawa dingin yang menusuk.
Namun di antara mereka, ada kehangatan yang perlahan tumbuh.
Sesuatu yang indah.
Namun juga berbahaya.
Karena semakin dekat mereka, semakin besar risiko yang harus dihadapi.
Dan tanpa mereka sadari, bayang-bayang masa lalu mulai bergerak mendekat… siap menghancurkan segalanya yang mereka bangun.