Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19: SAATNYA BERMAIN API
Nenek Wati menarik tangan Langit dengan lembut, matanya penuh dengan rasa sayang bercampur rasa bersalah.
"Aku tahu kamu marah dan bingung Nak... Tapi Kakek Jui bukan hanya ingin menjeratmu untuk kepentingan sendiri. Ada alasan tersembunyi yang membuat dia harus melakukan itu."
Langit mengangkat wajahnya, matanya masih menyimpan kegamangan dan luka mendalam.
"Apa alasan yang bisa membuat seseorang membuang cucunya sendiri ke kampung terpencil ini, hanya untuk menjeratnya di kemudian hari Nek? Siapa sebenarnya dia?"
"Setahu Nenek, Kakek Jui berasal dari Ibukota. Dulu, sesudah Nenek menikah dengan almarhum suami Nenek, dan suami nenek meninggal, kami pun menjalin hubungan. Saat bersamanya, Nenek tahu dia orangnya sangat royal dan berkuasa. Mungkin dia orang kepercayaan atau bahkan pemilik salah satu pengusaha ternama di negeri ini. Maaf Nak, Nenek hanya bisa memberitahu sedikit saja..."
"Lalu di mana dia sekarang Nek?" tanya Langit lagi.
"Entahlah... Dia sangat misterius. Sulit bagi orang sembarangan untuk bertemu langsung. Walaupun kami sering bicara lewat telepon, tapi nomornya selalu berubah-ubah, tidak bisa ditelepon balik."
Tiba-tiba, kedua mata Langit menelisik tajam ke sekeliling ruangan. Pendengaranya yang tajam menangkap suara napas tipis di luar sana. Indranya bekerja maksimal.
Dengan cepat ia memberi kode mata pada Nenek untuk berhenti bicara.
"Sudah Nek, jangan diteruskan. Aku sudah paham dan... aku tak mau tahu lagi tentang sosok yang Nenek bicarakan itu."
Ucapan Langit membuat Nenek Wati mengerutkan kening, bingung dengan perubahan sikap cucunya yang tiba-tiba.
Menyadari hal itu, Langit segera tersenyum manis dan menjelaskan seolah ia pasrah.
"Aku hanya ingin hidup sederhana seperti pesan Ibuku, Nek. Tidak perlu mencari siapa jati diriku."
Nenek Wati akhirnya tersentuh dan mengangguk lega.
"Nenek ikut bahagia nak, akhirnya kamu ingin lepas dari jeratan takdir yang bisa membawamu pada kenistaan jika kamu kalah berperang melawan mereka."
Nenek pun tersenyum sambil mengelus rambut hitam legam cucunya itu.
"Iya nek. Sebaiknya Nenek istirahat, Langit juga mau masuk kamar tidur."
"Ya nak... Kalau begitu Nenek tidur duluan ya."
Saat punggung Nenek menghilang di balik pintu kamar, senyum manis di wajah Langit perlahan berubah. Sebuah senyuman miring yang sangat licik dan menakutkan terukir jelas di bibirnya.
"Maafkan Langit ya Nek... Langit terpaksa berbohong. Karena ada beberapa tikus yang sedang menguping di luar sana." bisiknya pelan.
"Dengan aku bilang begitu, rencanaku justru makin mulus berjalan. Pardi... Jaji... Kalian ingin bermain api dengan aku? Baiklah... akan aku ladeni habis-habisan. Sudah saatnya aku bertindak kejam!"
Di luar rumah, di balik kegelapan malam...
Pardi berdiri mematung di balik pagar bambu. Ia mendengar jelas ucapan Langit yang katanya "tidak mau mencari jati diri, lagian jati dirinya pasti seorang anak haram.
'Hahaha! Ini kesempatan emas!' batinnya bersorak jahat. 'Tugas dari Jaji untuk menghabisi nyawa bocah ini bakal gampang banget kayaknya.'
Dengan cepat ia mengetik pesan di ponselnya.
"Besok saya dan anak buah akan bertindak. Dipastikan nyawa anak itu melayang hari ini juga."
Tak butuh waktu lama, balasan masuk.
"Saya harap segera selesaikan tugas yang sudah saya bayar. Dan ingat... JANGAN KAU SENTUH INTAN."
Darah Pardi mendidih membaca ancaman itu.
"Sialan kau Jaji! Berani sekali kau mengatur-atur aku! Tunggu saja... setelah urusan dengan Langit beres, gue habisin lo duluan!" geramnya dalam hati.
Setelah puas mengintai, Pardi pun pergi menuju motornya yang diparkir jauh agar tidak dicurigai.
"Uno, gue otw ke markas. Siapkan anak buah!" kirimnya singkat sebelum melesat menghilang di keheningan malam.
Malam kian merambat pelan, menyelimuti pinggiran sungai yang tenang. Hanya terdengar suara gemericik air yang mengalir berirama, seolah berbisik menenangkan kegelisahan.
Di sana, sebuah warung kayu sederhana berdiri kokoh di bibir sungai. Cahaya lampu bohlam kuning yang temaram bercampur dengan nyala api dari kompor minyak, menciptakan suasana remang-remang yang syahdu. Cahaya itu memantul lembut di permukaan air sungai yang hitam legam, membentuk bayangan yang bergoyang pelan ditiup angin malam.
Asap putih mengepul tipis dari ceret yang mendidih, bercampur dengan aroma kopi robusta yang kuat, gorengan yang baru matang, dan wangi tanah basah yang khas. Angin malam berhembus sejuk menusuk kulit, membawa kesegaran dari aliran sungai, membuat siapa saja yang duduk di sana ingin berlama-lama menikmati kesunyian.
Di meja-meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia, hanya terlihat siluet orang-orang yang sibuk dengan pikiran masing-masing, ditemani secangkir teh hangat dan sebatang rokok, menjadikan tempat ini surga kecil pelarian dari riuhnya dunia.
Pardi sampai di lokasi di mana sahabatnya sekaligus pemegang kekuasaan wilayah di pinggiran sungai tempat para kupu kupu malam menjajakan kue apem nya.
Kedatangan Pardi menjadi saya tarik wanita-wanita muda itu, selain Pardi royal dalam hal materi, dia pun sahabat Uno yang memegang kendali wilayah ini.
"Pak Pardi, sini mampir dah lama lo, kue apem ku gak di lihat." Ucap wanita muda seraya mengelus ngelus goa kenikmatan yang masih tertutup celana ketat.
"Mas Pardi sini, udah gatel duh punyaku.
"Om Pardi mending sama aku yuk, aku masih belia.
Para kupu-kupu malam dengan kemampuannya mulai mengeluarkan jurus jurus maut agar pelanggan jatuh ke pelukannya.
Pardi menjawab dengan busung dada dan keangkuhan, bangga bahwa dirinya jadi rebutan para wanita muda.
"Nanti ya para wanita ku. Saat ini bertemu dengan Pak Uno lebih penting." Jawab Pardi melangkah cepat ke arah salah satu ruangan yang berada di ujung.
Malam semakin larut, bulan purnama di malam ke-13 menerangi bumi dengan cahaya keperakan. Bintang-bintang berkelap-kelip seolah menjadi saksi bisu.
Seorang pemuda keluar dari rumah panggungnya. Langit berdiri tegak di halaman, matanya mengamati setiap sudut mulai dari halaman sendiri hingga ke rumah Teh Intan.
"Surat klaim tanah dari notaris ya... Hahaha!" tawanya kecil terdengar menyeramkan. "Sungguh licik cara main kalian. Kalian pikir dengan cara begitu aku akan ketakutan dan lari tunggang langgang?"
Seringai licik itu kembali terlihat, memperlihatkan barisan giginya yang rapi namun memancarkan aura dingin yang membekukan.
"Kalian salah besar... Kalian sedang berhadapan dengan hiu, bukan ikan kecil."
Ia berjalan mengelilingi rumah neneknya dengan langkah santai namun penuh wibawa. Berhenti tepat di bawah jendela kamarnya, tangannya mulai menggali tanah di bawah pohon besar.
Beberapa menit kemudian, sebuah kotak besi kecil tertimbun tanah terangkat.
Langit buru-buru membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel Android canggih lengkap dengan casannya yang sudah lama disembunyikan.
"Tadinya aku tak ingin melibatkan siapa-siapa... Tadinya aku ingin hidup tenang..." ucapnya pelan, namun suaranya berubah menjadi garang. "Tapi kalian terlalu jauh! Kalian mulai mengusik orang-orang yang sayang padaku!"
Jari telunjuknya menekan tombol power. Layar ponsel menyala terang memantul di wajahnya yang setengah tertutup bayangan malam. Wajahnya tampak sangat mengerikan dan penuh tekad membara.
"Sudah saatnya... Tiga sahabat terbaikku ikut andil dalam permainan ini."
"RIYAN... YUSUF... BARA..."
Satu per satu nama itu disebutkan dengan nada rendah dan berat.
"Kalian yang dulu selalu aku beri makan siang dan malam saat kita kecil... kalian yang pernah aku janjikan akan kuangkat derajatnya... Sudah saatnya kalian membantuku membalas semua ini!"
"Selama satu tahun penuh aku mengubur ponsel ini, mengubur identitasku... karena aku tak ingin terjerat urusan dunia kota. Tapi sekarang... aku yang akan menjerat kalian semua!"
Langit menghentakkan nafas kasarnya, takdir ku, aku yang akan menjalani sendiri, tidak mau di jerat oleh semua orang.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.