NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Sang Putri dan Belati dalam Gelap

Aula pribadi Istana d’Orléans selalu terasa lebih hangat daripada bagian istana lainnya. Di sana, Raja Alaric d’Orléans, kakak lelaki Geneviève, sedang memijat pelipisnya. Di hadapannya, adik perempuannya duduk dengan tenang sambil menyesap teh, wajah baby face-nya tampak kontras dengan tatapan matanya yang cerdas dan penuh tekad.

"Ève, pikirkan sekali lagi. Perbatasan itu bukan laboratorium forensikmu yang steril. Itu tempat yang kotor dan berbahaya," Alaric memulai, suaranya berat dengan nada protektif.

Geneviève meletakkan cangkirnya perlahan. "Setuju, Kak. Aku akan pergi."

Alaric mendesah panjang. "Tolong pikirkan lagi. Tanya Ibu dulu, kamu tahu kan dia itu suka khawatir? Kalau Ayah tahu putri bungsunya masuk ke zona perang, dia bisa kena serangan jantung."

Geneviève terkekeh kecil, sebuah suara yang merdu namun menyimpan ketegasan. "Aku sudah bicara dengan mereka. Aku ini dokter, Kak. Aku punya jiwa petualang, dan aku ingin tahu lebih dalam soal negaraku sendiri lewat pengabdian medis. Aku tidak akan hanya duduk diam di balik tembok istana sementara rakyatku bertaruh nyawa."

"Baiklah, tapi aku akan bicara pada Jenderal Eisérre Valois. Aku akan memberitahunya bahwa kau adalah adikku agar dia menjagamu secara khusus," ujar Alaric sungguh-sungguh.

Mendengar nama itu, Geneviève langsung memutar bola matanya. "Kakak, berhentilah khawatir! Aku ini bukan anak kecil lagi. Kalau kamu kasih tahu Jenderal dingin itu, yang ada keadaan tidak seru. Nanti dia malah mengejekku; 'Masa tuan putri turun ke lapangan?'. Itu tidak mungkin terjadi, Kak. Aku ingin pergi sebagai prajurit medis biasa, tanpa protokol kerajaan yang kaku."

Alaric hanya bisa menyerah. Ia menatap putrinya yang masih bayi, Princess Amélie, yang sedang bermain di sudut ruangan. "Ingat, Ève. Kau adalah d’Orléans. Lembutlah pada yang lemah, tapi hancurkan siapa pun yang berani menindasmu."

Geneviève tersenyum tipis, matanya berkilat tajam. "Jangan khawatir. Aku tahu cara menjaga diriku sendiri."

"Ève, berhenti bersikap keras kepala," Alaric mencoba sekali lagi, suaranya kini lebih lembut namun penuh penekanan. "Perbatasan d’Orléans bukan hanya soal merawat luka. Itu adalah tempat di mana politik dan peluru bercampur aduk. Kau tahu sendiri posisi kita sedang tidak stabil."

Geneviève d’Orléans berdiri, merapikan rok sutranya yang jatuh dengan sempurna di kakinya yang jenjang. Meskipun wajahnya tampak selembut bayi—sering kali membuat orang salah sangka bahwa dia adalah remaja yang butuh perlindungan—tatapan matanya adalah replika dari ayahnya, sang mantan Raja. Tajam dan tak tergoyahkan.

"Justru karena itu aku harus di sana, Kak. Sebagai dokter forensik, aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata prajurit biasa. Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berkhianat di garis depan," sahut Geneviève tenang. "Dan tolong, jangan libatkan Jenderal Eisérre Valois. Aku sudah mendengar reputasinya. Pria itu kaku seperti batu dan dingin seperti es kutub. Jika dia tahu aku seorang Putri, dia hanya akan mengurungku di tenda utama dan memperlakukanku seperti pajangan porselen. Itu akan membosankan."

Alaric menghela napas, menyerah pada argumen adiknya yang selalu masuk akal. "Baiklah. Tapi kau akan pergi dengan identitas medis standar. Nama belakangmu akan disamarkan menjadi Geneviève de Lyon. Jangan pernah lepaskan kalung identitasmu, mengerti?"

Geneviève tersenyum manis—jenis senyuman yang bisa menipu siapapun bahwa dia adalah gadis penurut—lalu mencium pipi keponakannya, Amélie, bayi mungil yang menggemaskan. "Dimengerti, Yang Mulia."

Di Sudut Gelap Kota...

Di sebuah bar mewah yang tertutup untuk umum, Camille menyesap wine merahnya dengan kasar. Di depannya duduk seorang perwira militer dengan seragam yang kotor, Letnan Varg, pria yang telah ia suap dengan jumlah fantastis.

"Kau bilang gadis itu akan ikut ke perbatasan?" Tanya Camille, matanya menyipit penuh kebencian.

"Benar, Nona. Dia terdaftar sebagai tenaga medis sukarelawan untuk detasemen forensik. Namanya Geneviève, dari rumah sakit pusat d’Orléans," jawab Varg rendah.

Camille tertawa sinis. "Geneviève... nama yang terlalu indah untuk seorang dokter mayat. Gara-gara dia, Zukho bahkan tidak melirikku di pesta dansa kemarin. Dia lebih memilih mendiskusikan laporan otopsi dengan gadis berwajah bocah itu!"

Camille memajukan tubuhnya, aura kegelapan terpancar dari wajahnya yang cantik namun berbisa. "Dengarkan aku, Varg. Begitu kalian sampai di garis depan, manfaatkan kekacauan saat serangan fajar. Culik dia. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan padanya, tapi pastikan identitasnya hilang. Hancurkan papan namanya, sobek lambang di seragamnya. Biarkan dia mati sebagai sampah perang yang tak dikenal. Jika dia selamat pun, aku ingin dia menjadi orang asing yang bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri."

Varg mengangguk patuh. Dia tidak tahu bahwa targetnya adalah putri tunggal Kerajaan Prancis. Di matanya, ini hanyalah tugas mudah untuk melenyapkan seorang warga sipil biasa demi kantong yang tebal.

Camille tersenyum puas, membayangkan penderitaan Geneviève. Ia tidak tahu bahwa rencananya baru saja menyentuh "Matahari" dari Kerajaan d'Orléans. Ia tidak sadar bahwa satu goresan pada kulit Geneviève adalah hukuman mati bagi seluruh garis keturunan keluarganya.

Satu Minggu Kemudian: Medan Perang d’Orléans

Geneviève benar-benar membuktikan ucapannya. Di medan perang, dia tidak menye-menye. Dengan rambut yang diikat kencang dan seragam militer yang menutupi kulit halusnya, dia bekerja tanpa lelah. Dia tidak jijik memegang luka yang membusuk atau mengidentifikasi jenazah yang sudah tak utuh. Keramahannya pada prajurit rendahan membuatnya dicintai, namun ketegasannya pada perwira yang mencoba meremehkannya membuatnya disegani.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pengabdiannya, Geneviève tidak menyadari bahwa sepasang mata mengintainya dari balik bayang-bayang tenda. Varg sedang menunggu saat yang tepat.

Malam itu, ketika badai salju tipis mulai turun dan penjagaan sedikit melonggar karena kelelahan pasca-perang, Geneviève sedang sendirian di tenda otopsi sementara. Ia baru saja meletakkan pisau bedahnya ketika sebuah bayangan besar menyergapnya dari belakang.

Srett!

Mulutnya dibekap dengan kain yang berbau kimia menyengat. Geneviève meronta, insting beladirinya mencoba melawan dengan menyikut ulu hati penyerangnya, namun pukulan keras mendarat di pelipisnya.

"Maaf, Cantik. Ini perintah," bisik Varg kejam.

Dalam keadaan setengah sadar, Geneviève merasakan seragamnya ditarik kasar. Papan namanya dicopot hingga kainnya robek. Lambang d’Orléans di bahunya dipotong paksa. Identitasnya sebagai manusia, sebagai dokter, dan sebagai Putri, seolah ikut tercabut bersama benang-benang seragam itu.

Dunia menjadi gelap. Hal terakhir yang ia ingat adalah rasa dingin tanah yang menyentuh pipinya sebelum semuanya lenyap ditelan kegelapan. Ia tidak tahu, bahwa beberapa jam kemudian, sang Jenderal dengan mata biru setenang danau malam akan menemukannya dan mengubah seluruh takdirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!