NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis yang Ketiban Batang Pohon

Pagi di Bukit Pheng San

Bukan ayam yang membangunkan Kwee Lan.

Ranting Pohon.

Sebatang pohon jati ukuran sedang tergeletak tepat di atas dadanya. Masih basah, masih berat, dan getahnya sudah mulai meresap ke baju tidurnya yang sudah lusuh sejak tahun lalu.

Kwee Lan membuka mata. Menatap langit-langit rumah yang bolong di tiga tempat. Lalu menatap pohon itu.

"Ini... pohon?"

Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Hujan deras. Angin kencang. Genting rumahnya bocor di tiga tempat—yang bolong itu. Dia naik ke atap untuk menambal dengan anyaman bambu dan daun pisang. Lalu petir menyambar. Lalu gelap. Lalu...

Bruk.

Pohon itu rupanya memilih dadanya sebagai tempat beristirahat.

Kwee Lan mencoba menggerakkan tangan kanan. Bisa. Tangan kiri. Bisa. Kaki. Bisa. Leher. Kreek. Tidak patah. Hanya pegal. Dan getah. Banyak getah.

Dia mencoba mengingat apa kata Ayah dulu dalam situasi seperti ini. Ayah selalu punya wejangan untuk segala hal. Untuk musibah, untuk senang, untuk sedih.

"Lan, hidup tidak selalu mulus. Yang ada hanya dijalani dengan hati yang terus berproses."

Tiga tahun sudah. Ayah, Ibu, kakak laki-lakinya yang suka memanjat pohon, dan Si Pheng Kiok—adik bungsu yang berbeda dengan jari kelingking buntung yang selalu curi gula aren. Wabah itu datang cepat, pergi cepat, dan meninggalkannya sendirian di rumah peninggalan keluarga sinseh ini.

Kwee Lan mengusap muka. Getahnya tambah lengket.

"Bangun," katanya pada diri sendiri. "Pohon tidak akan pindah sendiri."

 

Dua jam kemudian

Dengan sistem tanpa chi—ilmu pertama yang dia pelajari dari Ayah, jauh sebelum bicara soal tenaga dalam atau Bu Ki Sut—Kwee Lan berhasil menggeser pohon itu.

Badan terasa remuk. Tapi dia sudah biasa.

Duduk di ambang pintu, dia memandangi rumahnya. Dulu, pagi-pagi begini, Ibu pasti sudah masak bubur. Ayah sudah buka praktek. Pasien antri di halaman. Si Pheng Kiok main kejar-kejaran dengan anak tetangga.

Sekarang sunyi.

Hanya ia yang bisa ilmu pengobatan, sekarang. Dan walaupun kehilangan semua chi, tapi kepekaan inderanya bisa menutupi kekurangan chi untuk penyakit yang tidak terlalu berat. Meskipun begitu, paling berujung jadi bidan melahirkan dan dupa greget yang dibeli para kupu-kupu malam.

Nasibnya cuma sedikit beruntung karena bertemu orang-orang sekte aneh yang suka beramal. Namanya sulit, tapi kami mengenalnya sebagai Sekte Sip karena hiasan membentuk angka 10 (+) yang mereka bawa ke mana-mana.

Dari mereka lahir Bu Ki Sut, karena bagi mereka chi diharamkan entah bagaimana alasannya, karena Kwee Lan gak sanggup mikirnya. Meskipun sangat berjasa menghindarkan mereka dari penggerebekan berulang, sekte aneh ini malah mengeluarkan Bu Ki Sut dari ajarannya. “Ini olahraga, kebetulan orang kami yang meneliti”, kata tetuanya.

Makam orang tua di belakang rumah, di bawah pohon jambu, setiap tahun buahnya selalu manis. Ironis. Tapi Kwee Lan sudah tidak menangis lagi. Air matanya kering, mungkin ikut habis terbawa wabah dulu. Ia bersyukur bahwa orang Sekte Sek membantu membangun kebun kecil tahan pangan ini. Walaupun belum ada beras, setidaknya makan sehari dua kali terpenuhi.

Dia berganti baju. Baju kerja: lusuh warna abu-abu, celana hitam digulung sampai betis, ikat pinggang rotan tempat menggantung tas perkakas. Palu kecil. Pahat tiga ukuran. Gergaji lipat. Tali rami. Dan sebuah kotak kecil berisi roda gigi bekas yang dia kumpulkan dari mana-mana.

Bu Ki Sut—ilmu mesin berdaging—tidak butuh senjata pusaka. Butuh alat. Dan alat butuh uang. Dan uang butuh kerja dan cinta. Kata guru Sekte Sek kenalan ayah, tanpa cinta, inti ilmu Bu Ki Sut tidak bisa ada bahkan menghancurkan diri.

Saatnya turun ke desa. Cari orderan: bikin ramuan atau bantu lahiran.

 

Jalan Setapak Menuju Desa Bang Kah Chng

Hutan di lereng Pheng San pagi itu lembab. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Kwee Lan melangkah hati-hati. Sepatu jerami buatannya sendiri cukup kuat, tapi licin kena lumut.

Di tanjakan terakhir, dia sedang fokus menapak, mencari pijakan yang aman—

Kesandung.

Bukan akar. Bukan batu.

Kaki.

Kaki manusia.

Kwee Lan jatuh berguling, membentur pohon bambu, baru berhenti setelah pantatnya terasa seperti dihantam palu godam. "Aduh... aduh... aduh..."

Dia mengusap pantat sambil bangun. Lalu menatap sumber masalah.

Seorang pemuda tergeletak di semak-semak. Pakaian compang-camping, tapi bahan kainnya dulu pasti mahal. Bordir naga—atau ular? susah bedain karena kotor darah dan lumpur. Wajah pucat pasi, bibir kering pecah-pecah, dadanya naik turun lemah.

Masih hidup.

Kwee Lan mengamati. Pendekar? Mungkin. Pedagang? Bisa jadi. Pelarian? Yang jelas, dia bukan orang desa sini.

Apes sekali menemukannya. Karena dia sudah menjalani Sumpah sinseh: Menolong yang lemah dan jangan minta bayaran pada sesama sinseh.

Dia jongkok di samping pemuda itu. Memeriksa luka. Banyak luka sayatan. Satu tusukan di perut—untungnya tidak tembus organ vital, cuma daging. Darah masih keluar pelan.

Instingnya bicara. Bukan insting sinseh—dia tidak punya cukup ilmu lagi untuk itu. Chi miliknya habis. Jadi hanya bisa ilmu mekanis medis ringan plus lahiran aman asal tidak komplikasi.

Daging robek. Jahit. Darah keluar. Mampetin dulu. Pake daun-daun di tas.

Dari tasnya, dia ambil tali rami. Bukan cara medis ideal, tapi cukup untuk mengikat luka-luka terbuka agar tidak kemasukan kotoran. Dia kerja cepat. Tali diikat. Dililit. Dikencangkan.

Pemuda itu mengerang pelan, tapi tidak sadar.

"Kamu tunggu di sini," kata Kwee Lan. "Jangan ke mana-mana."

Pemuda itu diam. Wajar.

Kwee Lan bangun dan melanjutkan perjalanan ke desa. Urusan lapor orang temuan bisa menunggu lima menit. Kepala desa pasti tahu harus bawa ke mana orang kayak begini.

 

Rumah Kepala Desa Lau Cu

Kwee Lan baru sampai di depan pagar bambu rumah Lau Cu ketika suara orang mengamuk sudah terdengar dari luar pagar.

"KAU BILANG MAU BENERIN SUMPELAN ITU KEMARIN! KEMARIN! INI SUDAH PAGI, SUMPELAN MASIH ADA, AIR MASIH MACET, DAN KAU MASIH DUDUK DI SANA SEPERTI PATUNG TAI!"

Suara perempuan. Keras. Paru-paru bagus. Istri kepala desa, Nyonya Lau. Satu-satunya orang di desa yang suaranya bisa memecahkan genting.

Kepala desa Lau Cu keluar dari rumahnya dengan langkah mundur. Pria 50-an dengan kumis tipis dan kepala setengah botak itu mundur sambil kedua tangan di depan, posisi memohon ampun.

"Ibu... Ibu tenang... Saya sudah panggil tukang, dia bilang sore—"

"SORE? SORE BABI! KALAU SORE AIRKU HABIS, MANDI PAKAI APA? LUDAH?"

Sebuah benda terbang dari dalam rumah.

Lau Cu menghindar dengan lincah—refleks menghindari amukan istri yang sudah terlatih bertahun-tahun. Benda itu melesat melewati Lau Cu, terbang dalam lintasan parabola sempurna, dan tepat mengenai...

Kwee Lan.

Byur.

Kwee Lan menunduk.

Sebuah kutang warna merah jambu dengan renda pudar melingkar di kepalanya. Lembab. Bau sabun murah. Masih setengah basah, mungkin baru dicuci dan dijemur, lalu diambil dan dilempar dalam keadaan darurat.

"..."

Kwee Lan mengambil kutang itu dari kepalanya dengan dua jari. Menjulurkannya ke arah Lau Cu.

Lau Cu menatapnya dengan tatapan campuran: malu, iba, dan kelelahan tingkat dewa.

"Kwee Lan, Nona... maaf... ibu sedang... yah... ibu sedang..."

"Stress," Kwee Lan membantu.

"STRES BENAR!" Lau Cu mengacak rambutnya yang tinggal sedikit. "Sumur macet tiga hari, air ngadat, dia ngamuk terus. Aku... aku... aku mau kabur rasanya!"

Kwee Lan melirik ke dalam rumah. Nyonya Lau, wanita tambun bersarung, mondar-mandir di dapur sambil membanting panci. Suara panci dentang-dentung terdengar sampai luar.

Kwee Lan menarik napas. Urusan lapor orang temuan sepertinya harus menunggu. Tapi karena dia sudah di sini, setidaknya coba dulu.

"Pak Cu, saya mau lapor, saya nemu orang di—"

"LAN! TOLONG!" Lau Cu mencengkeram bahunya. "Kamu anak sinseh kan? Tolong ibu! Benerin sumpelan itu! Air! Air!"

"Ayah saya sinseh. Saya cuma tukang—"

"TERSERAH! YANG PENTING BENERIN! NANTI BAYAR!"

Kwee Lan diam. Lalu mengangguk.

Bayar. Kata ajaib.

 

Dua jam kemudian di sumur rumah Lau Cu

Kwee Lan jongkok di samping sumur. Di depannya, sistem katrol dan bambu penyedot air yang rusak. Dia sudah periksa semuanya: sambungan bambu bocor di tiga titik, katrol miring karena tanah longsor kecil, talinya sudah mulai rapuh.

Dia mengeluarkan pahat, palu, dan tali rami.

Tidak punya pipa baru. Tidak punya lem. Tapi dia punya akal. Dan tangan yang terlatih Bu Ki Sut level 3—cukup kuat untuk memahat bambu dengan cepat, cukup presisi untuk membuat sambungan rapat.

Satu jam pertama: memotong bambu baru, membuat sambungan pasak dan lubang. Satu jam kedua: memperbaiki katrol, mengganti roda yang miring dengan potongan kayu bundar yang dia bentuk manual.

Dia bekerja tanpa henti. Keringat bercucuran. Otot lengannya bekerja seperti mesin—stabil, kuat, tanpa gemetar. Itulah Bu Ki Sut: tubuh sebagai mesin. Tidak ada chi, tidak ada tenaga dalam, hanya otot yang terlatih, sendi yang kuat, dan napas yang diatur.

Sesekali dia berhenti, minum air, lalu lanjut lagi.

Dari dalam rumah, suara Nyonya Lau mulai reda. Mungkin mulai lelah mengamuk. Mungkin mulai berharap.

Dua jam kemudian, Kwee Lan menarik tuas.

Air keluar.

Lancar. Deras. Tidak bocor.

Dari dalam rumah, terdengar suara gayung menyentuh air. Lalu suara cipratan. Mandi.

Lau Cu keluar dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya mencengkeram tangan Kwee Lan.

"LAN... KAU PENYELAMAT... KAU MALAIKAT... KAU... KAU..."

Kwee Lan menarik tangannya pelan. "Pak Cu, bayar."

"Oh iya iya." Lau Cu merogoh saku celananya, mengeluarkan uang logam beberapa keping—cukup untuk beli beras seminggu. Ditambah sebungkus kecil gula aren. "Ini tambahan dari ibu. Katanya... maaf soal lemparan tadi."

Kwee Lan menerima gula aren. Dia suka gula aren. Manis, legit, dan mengingatkan pada Si Pheng Kiok yang dulu selalu curi gula.

Dia simpan gula itu di saku.

"Pak Cu, tadi saya mau lapor."

"Lapor? Lapor apa?"

"Saya nemu orang pingsan di hutan. Luka-luka. Darah banyak. Saya tinggal di sana, sekarang mungkin masih di situ."

Lau Cu, yang baru saja tenang, langsung kembali pusing. Mukanya berubah. "Orang pingsan? Luka? Darah? Sakit? sinseh? Mana sinseh? sinseh desa lagi pergi ke kota! Aku... aku... kalau orang itu mati di desaku, bisa repot urusan sama—"

"Saya rawat dulu di rumah saya."

Lau Cu berhenti. Menatap Kwee Lan.

"Kamu mau?"

Kwee Lan mengangkat bahu. "Daripada mati di hutan. Nanti jadi hantu gentayangan, ganggu desa. Ganggu sumur lagi."

Lau Cu berpikir keras. Logika Kwee Lan memang ajaib, tapi masuk akal. Hantu gentayangan bisa bikin desa resah. Warga bisa kabur. Pajak desa turun. Istrinya tambah stres. Lau Cu menggeleng sendiri membayangkannya.

"Baik... baik... bawa ke rumahmu. Rawat. Nanti kalau sembuh, kabari aku. Kalau... kalau mati, kuburkan saja di belakang rumahmu. Jangan di sini."

Kwee Lan mengangguk. Perjanjian aneh dengan kepala desa selesai.

 

Sore hari di hutan

Kwee Lan berjalan pulang dengan langkah berat. Tas perkakas di pinggang. Gula aren di saku. Dan di punggungnya, tergendong dengan kain sarung yang dijadikan gendongan darurat, seorang pemuda pingsan.

Jalan naik ke Bukit Pheng San terasa dua kali lebih berat sekarang. Tapi Kwee Lan kuat. Ototnya terbiasa. Napasnya teratur. Sendi-sendinya—yang makin kuat setiap hari karena latihan Bu Ki Sut—bekerja seperti engsel yang terawat.

Dia tidak bisa serangan jarak jauh seperti pendekar chi. Tidak bisa mengeluarkan gelombang tenaga dalam. Tapi dia bisa menggendong orang seberat ini sejauh lima li tanpa istirahat. Itu juga ilmu.

Pemuda itu sesekali mengerang, tapi tidak sadar.

Sampai di rumah, Kwee Lan meletakkannya di dipan bambu. Memeriksa luka-lukanya. Tali rami yang dia ikat tadi masih utuh. Darah sudah berhenti keluar banyak.

Dia menghela napas. "Ini proyek besar. Minggu ini tidak bisa cari orderan lain. Thien, berikan keajaibanMu. Semoga rimpang-rimpang itu banyak hasil meskipun aku tanam pakai cara aneh minim cangkul"

Dia mengambil alatnya, duduk di samping dipan, dan mulai bekerja.

Matahari sore masuk lewat celah dinding bambu. Debu-debu menari di sinarnya. Kwee Lan menjahit luka dengan jarum dan benang dari daun-daun yang tumbuh. Membersihkan darah kering dengan air rebusan sirih merah dan bunga lempuyang. Mengoles luka dengan getah tanaman yang dia tahu dari Ayah dulu.

Pemuda itu mengerang. Kwee Lan menepuk bahunya.

"Sabarlah. Aku bukan sinseh sejati. Tapi aku tukang obat yang lumayan. Lukamu akan kujahit rapi. Nanti kalau sembuh, bekasnya cuma seperti dijahit tukang jahit kampung. Tapi aku nanti bisa buatkan salep cuma bahannya mahal"

Pemuda itu diam lagi. Mungkin pingsan lagi. Mungkin juga sadar tapi memilih pura-pura pingsan setelah mendengar penjelasannya.

Kwee Lan bekerja sampai malam. Lampu minyak di sampingnya redup. Tangannya terampil. Wajahnya lelah tapi tenang.

Di luar, burung malam mulai berbunyi.

Dan di dalam rumah kecil di lereng Pheng San, seorang gadis tukang servis merawat seorang jenderal besar yang menurut kabar sudah dikubur minggu lalu.

Kwee Lan belum tahu itu. Lagipula, dia terlalu sibuk menjahit luka.

Besok, kalau pemuda itu sadar, baru dia tanya nama.

Atau mungkin tidak usah tanya. Kadang-kadang, lebih baik tidak tahu.

 

[Bersambung]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!