NovelToon NovelToon
Anak Sang Mafia

Anak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Horor / Iblis / Mafia / Tamat
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Erik Meijer adalah pemimpin mafia paling ditakuti yang dikenal tak memiliki belas kasih. Namun, dunianya yang penuh kekerasan berubah drastis saat ia menemukan seorang bayi perempuan bernama emia di kursi belakang mobilnya setelah sebuah baku tembak. Sebuah pesan misterius mengklaim bahwa bayi itu adalah darah dagingnya.
Demi melindungi emia , Erik Meijer memutuskan untuk meninggalkan takhta kekuasaannya dan bersembunyi di sebuah desa terpencil di pegunungan. Ia mencoba belajar menjadi ayah yang normal, mengganti senjata dengan botol susu, dan strategi perang dengan lagu pengantar tidur.
Namun, masa lalu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ketika musuh-musuhnya menemukan tempat persembunyian mereka dan mengancam nyawa emia, Erik Meijer menyadari bahwa ia tidak bisa terus berlari. Ia harus kembali menjadi sosok yang mematikan untuk terakhir kalinya demi memastikan putrinya memiliki masa depan yang damai. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, penebusan dosa, dan sisi lembut mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emia Meijer

Walaupun Emia masih bayi dan belum bisa bicara, komunikasi antara mereka berdua terjadi melalui insting, sentuhan, dan bahasa kalbu yang hanya dipahami oleh seorang ibu yang sedang dalam pelarian.

Di dalam gerbong kereta yang gelap menuju perbatasan, Claudia mendekap Emia erat. Ia tidak berani menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk dari celah jendela.

"Sstt... Emia, dengarkan detak jantung Ibu," bisik Claudia pelan.

Emia, yang baru berusia beberapa bulan, menggeliat pelan. Ia tidak menangis kencang meskipun suara tembakan dari kejauhan masih terngiang. Bayi itu menatap mata ibunya dengan binar jernih. Bagi Emia, tatapan mata Claudia adalah dunianya. Saat Claudia merasa takut, Emia akan menggenggam jari telunjuk ibunya dengan sangat kuat—seolah berkata, "Aku di sini, Ibu. Jangan menyerah."

Ketika Emia mulai merengek karena lapar, Claudia tidak perlu mendengar tangisan keras. Ia cukup merasakan perubahan ritme napas bayinya. Claudia akan mencium kening Emia, memberikan aroma tubuhnya yang menenangkan, dan Emia akan kembali tenang, seolah tahu bahwa suara sekecil apa pun bisa memanggil Si Pelacak.

"Kau adalah satu-satunya bagian suci dari darah Medici yang kotor ini," gumam Claudia sambil mengelus pipi mungil itu.

Emia membalasnya dengan senyuman tanpa dosa, sebuah tawa kecil yang hampir tak terdengar namun mampu meruntuhkan tembok pertahanan Claudia yang paling keras.

Emia memberikan harapan, dan Claudia memberikan perlindungan.

Di tengah dunia mafia yang penuh pengkhianatan, bahasa cinta antara ibu dan anak inilah satu-satunya hal yang tidak bisa diretas oleh teknologi kakeknya atau dihancurkan oleh peluru mana pun.

.....

Dalam sebuah gubuk tua di tepi tebing yang diterjang badai, Claudia duduk di lantai kayu yang berderit. Emia terbangun, matanya yang bulat besar menatap lurus ke arah ibunya. Tidak ada tangisan, hanya sebuah gumaman kecil yang seolah bertanya tentang kegelapan di luar sana.

"Kau merasakannya, ya, Sayang?" bisik Claudia. Ia mendekatkan keningnya ke dahi Emia.

"Langkah kaki mereka di atas salju... Ibu tahu kau bisa mendengarnya sebelum Ibu."

Emia membalas dengan gerakan tangan mungil yang meraba wajah Claudia, menyentuh bekas luka kecil di pipi ibunya akibat pecahan kaca tadi malam. Sentuhan itu tidak terasa seperti sentuhan bayi biasa; ada ketenangan yang tidak wajar, seolah Emia sedang menyerap semua ketakutan Claudia dan menggantinya dengan kekuatan.

"Kakekmu bilang kau adalah kunci harta," Claudia tersenyum pahit, air mata jatuh mengenai pipi Emia.

"Tapi bagiku, kau adalah kunci untuk tetap menjadi manusia."

Emia kemudian mengeluarkan suara "A-gaa..." yang lembut, lalu menarik kerah baju Claudia, memaksa ibunya untuk tetap waspada.

Komunikasi ini bukan lagi sekadar antara ibu dan bayi, melainkan antara dua jiwa yang terikat takdir pelarian. Emia seolah menjadi "radar" alami bagi Claudia; setiap kali musuh mendekat, tubuh bayi itu akan menegang, memberi sinyal tanpa suara.

"Sstt... kita akan segera pergi," Claudia menggendongnya, merasakan detak jantung Emia yang sinkron dengan detak jantungnya sendiri.

Saat pintu gubuk didobrak dari luar, Emia tidak terkejut. Ia justru menutup matanya rapat-rapat di dada ibunya, memberikan kepercayaan penuh bahwa Claudia akan melibas siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Komunikasi terakhir sebelum peluru melesat hanyalah sebuah kecupan di ubun-ubun, sebuah janji bisu bahwa darah sang pewaris tidak akan pernah tumpah selama napas sang ibu masih ada.

*******

Di tengah kepungan musuh yang mendobrak pintu, komunikasi antara Claudia dan Emia mencapai titik paling emosional. Saat debu reruntuhan pintu beterbangan, Emia tidak menangis; bayi itu justru menatap mata Claudia dengan sorot yang sangat tenang, seolah memberikan izin kepada ibunya untuk melakukan apa pun demi bertahan hidup.

"Satu napas, Emia. Ikuti Ibu," bisik Claudia dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ajaibnya, Emia seolah mengerti. Bayi itu menarik napas dalam dan menahannya, persis seperti yang dilakukan Claudia saat membidik sasaran. Ini adalah komunikasi instingtif yang lahir dari genetik petarung mereka.

Saat peluru pertama melesat, Claudia berputar dengan lincah. Emia tetap diam, tangannya mencengkeram erat kain gendongan, menjadi bagian dari tubuh ibunya yang bergerak cepat.

Setiap kali Claudia menarik pelatuk, ia membisikkan doa kecil, dan Emia membalasnya dengan degup jantung yang stabil, menjadi pengingat bagi Claudia untuk tidak kehilangan kendali.

"Kita hampir sampai di ujung jalan ini, Sayang," ujar Claudia sambil melompati jendela belakang.

Emia kemudian mengeluarkan suara "Ma-ma..." yang serak dan pelan di tengah desingan peluru. Itu adalah kata pertama yang keluar dari bibir kecilnya. Bukan di taman yang indah, tapi di tengah medan perang. Kata itu bukan sekadar panggilan, melainkan pernyataan setia bahwa ia memilih Claudia sebagai pelindungnya, bukan sang kakek.

Mendengar itu, kekuatan Claudia berlipat ganda. Ia bukan lagi ibu yang ketakutan; ia adalah badai yang menghancurkan siapa pun di depannya.

Pelarian ini bukan lagi tentang sembunyi, tapi tentang memastikan bahwa kata "Mama" dari Emia adalah suara terakhir yang didengar oleh para musuh mereka.

Setelah gubuk itu meledak, Claudia merangkak keluar dari puing-puing, melindungi tubuh Emia dengan punggungnya sendiri. Di bawah hujan salju yang mulai turun, suasana mendadak sunyi. Claudia terengah-engah, namun ia merasakan tangan kecil Emia menepuk-nepuk pipinya.

Emia tidak menangis karena ledakan itu. Sebaliknya, bayi itu mengeluarkan suara gumaman ritmis, seolah sedang menenangkan ibunya yang sedang syok. Claudia menunduk, menatap mata putrinya yang berkilat di kegelapan.

"Ibu... Ibu baik-baik saja, Sayang," bisik Claudia, suaranya parau.

Emia kemudian menyandarkan kepalanya di ceruk leher Claudia, memberikan kehangatan yang kontras dengan udara musim dingin yang menggigit. Komunikasi mereka saat itu adalah keheningan yang bicara. Emia seolah sedang menyalurkan keberanian murni kepada Claudia, menghapus sisa-sisa keraguan di hati sang ibu.

"Kau tahu, kan?" Claudia berbisik lagi sambil mulai berjalan menembus hutan.

"Kakekmu tidak akan pernah mendapatkanmu. Karena kau bukan miliknya. Kau adalah napasku."

Emia membalas dengan cengkeraman kuat pada jari Claudia. Itu adalah janji tanpa kata bahwa mereka akan terus melangkah, tak peduli berapa banyak pelacak yang dikirim Don Medici. Di tengah hutan yang gelap, hanya ada dua detak jantung yang menyatu dalam satu irama: irama perlawanan.

Mereka bukan lagi mangsa yang melarikan diri. Dengan komunikasi batin yang semakin kuat, Emia seolah menjadi kompas spiritual bagi Claudia, membimbingnya menuju tempat di mana darah Medici tak lagi menjadi kutukan, melainkan awal dari legenda baru.

" LihatLa Erik , anak kita sudah pandai bicara , ia menyebut kalimat pertamanya " Mama" ,jika kau ada pasti kau akan sangat senang mendengarnya " kata Claudia dengan sedih .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!