NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang Nyawa dan Lamaran Ujung Pedang

Satu bulan berlalu sejak rombongan jenderal itu angkat kaki dari Bukit Pheng San.

Kwee Lan sekarang sudah punya segalanya: duit ada, kebon ijo lagi, rumah tegak kembali. Bahkan kuburan ortunya, koko, sama adiknya sudah beres dipugar rapi.

Tapi ya itu, Kwee Lan kayak mayat hidup.

Dia tutup praktik sebulan penuh. Bangun, beli makan, liat kebon bentar, cuci baju, terus turu-sek (tidur mati). Tatapannya kosong, bener-bener bo-ji-lang (kayak bukan manusia). Kadang ngelamun sampe sup hati ayam dingin di depan mata.

Warga Pheng San? Bo-kan-hu (nggak berani ikut campur). Mereka tahu yang kemarin jagain rumah Kwee Lan itu militer kelas kakap. Mau julid juga mikir dua kali, takut kepalanya pindah ke dengkul. Paling mereka cuma bisa ngerenungi nasib sinseh itu—orang baik yang nasibnya amsiong (sial) tujuh turunan.

Dekat akhir bulan, orang-orang mulai liat Kasim Law dan kawan-kawannya sudah seger bugar. Mulai deh banyak cewek nanya-nanya mau berobat. Warga cuma bisa bilang, "Masih hidup sih orangnya, tapi kewarasannya... ya kita agak ragu, kwa-chia (mungkin) udah rada gesrek."

Ah Niu dateng buat pamit ujian lagi. "Lan-A, kalau gue naik jadi pejabat nanti, gue bakal tekan si Go Beng Liong itu buat tanggung jawab!"

Kwee Lan cuma jawab datar, "Kam-sia, Niu. Tapi gue udah nggak peduli."

Ah Niu ngupil bentar, mikir. "Lo serius?"

Kwee Lan geleng. "Gue capek, Niu. Capek mikirin orang lain. Capek ngerasain apa-apa."

Ah Niu diem. Lalu pergi.

 

Jenderal yang Kehilangan Selera

Di tempat hiburan, biasanya Go Beng Liong itu rajin gandeng cewek kiri-kanan. Tapi sekarang? Dia malah gandeng buku kitab Bu Ki Sut terus. Dalam 3 mingguan udah nguasai 3 kitab. Temen-temennya sampai bingung, "Ini jenderal mau jadi biksu apa gimana?"

Biasanya jatah libur 3 bulan habis buat foya-foya. Kali ini, 3 minggu aja dia udah bosan. Jurus kitab jilid 1 sama 2 mirip-mirip semua. Pas masuk jilid 3, dia malah ngomel, "Ini jurus apa mau manggung barongsai? Cantik amat tapi bikin pusing!"

Kim yang kebetulan lewat cuma bisa geleng. "Lo kenapa sih, Go? Kayak orang kehilangan arah."

Go garuk kepala. "Gue juga nggak tahu, Kim. Dulu gue bisa nikmatin hidup. Sekarang... hambar." Katanya sambil membuka buku 3 jilid yang sudah ia kuasai jurusnya itu.

Kim nyengir sinis. "Mau gue tebak? Itu sinseh Pheng San lagi ngapaian?"

Go diem. Muka merah dikit.

Kim: "HAHAHAHA! GILA LO! Jenderal Naga yang dianugerahi Kaisar malah jatuh cinta sama sinseh desa!"

Go: "DIEM LO! Bukan gitu!"

Kim: "Terus kenapa lo diem-diem baca kitab Bu Ki Sut? Mau jadi murid doi?"

Go: (makin merah) "Gue... gue penasaran sama ilmunya aja!"

Hatinya berdesir tapi dia tidak mau buru-buru. Masih cari cara untuk pendekatan.

Kim: "Iya-iya. Ilmunya. Bukan orangnya."

Go kesel sendiri. Tapi tiap malem, otaknya malah macet mikirin satu hal: Itu sinseh Pheng San udah makan belum ya?

 

Sidang Meja Hijau Keluarga Go

Melihat tingkah anaknya yang makin ngaco, Ibu Go nggak tinggal diam. Dia konsul sama petinggi sinseh soal kondisi Kwee Lan.

Ternyata sejarahnya pahit banget. Dulu bokap Kwee Lan—salah satu dari 12 sinseh jagoan—didik 30 sinseh wanita. Tapi ujian negara itu kejam. Dari 30 orang, 23 gagal dan jadi sinseh desa biasa. Mereka praktek di kampung-kampung, nanganin warga, hidup pas-pasan.

Yang 7 lulus jadi sinseh negara. Mereka dapet fasilitas, gaji tetap, dan tugas resmi dari kerajaan. Dan Kwee Lan—yang paling muda, paling pinter, paling le-hai—diminta tugas di perbatasan. Di Bukit Pheng San. Deket ortu, katanya biar bisa jagain keluarga.

Tapi pas wabah cacar sialan itu dateng, semuanya berubah.

23 sinseh desa itu—yang gagal ujian—justru yang paling banyak nolong warga. Mereka ada di garda depan, di kampung-kampung, tanpa perlindungan. Banyak yang gugur.

7 sinseh negara? Yang 6 selamat karena fasilitas kerajaan. Tapi Kwee Lan? Dia di perbatasan. Sendirian. Nanganin wabah tanpa bantuan.

Sekeluarganya mati semua. Dia sendiri selamat, tapi chi-nya bangkrut total.

Dia dipecat jadi sinseh negara gara-gara kehilangan chi. Tapi plakat Kong Teik-nya nggak dicabut karena dia emang udah lulus ujian. Tahun ini? Amsiong total. Nggak ada satu pun sinseh wanita yang lulus ujian. Yang cowok aja banyak yang me-me (gagal).

Pas Mak Comblang—yang biasa ngurus jodoh para jenderal—dateng, keluarga besar Go, Choa, dan Kim langsung ngumpul. Satu suara.

Mereka dudukin Beng Liong di kursi panas.

"Gas! Lamar sinseh Kwee Lan!"

Beng Liong kaget setengah mati. "Eit, nggak bisa gitu dong! Masa jenderal disuruh kawin paksa?!"

Bapaknya—sang Wakil Panglima, yang mukanya lebih serem dari singa laut—langsung gebrak meja.

BRAK! Gelas-gelas pada loncat.

"DIEM LO! "

Seketika itu juga, suasana hening. Jangankan Beng Liong, macan di kandang sebelah ikut diem.

"Lo nginep di rumah sinseh perawan, kita terima. Lo ancurin rumahnya, kita terima. Lo bawa rombongan pasien sampe 20 orang, kita terima. Tapi lo nyiksa dia pake pasien sampe dia kejang?! Lo paksa dia pegang 20 dan belasan pasien sehari. Cuma terakhir aja 7 padahal jatah sinseh itu cuma 8 maksimalnya, kan?"

Bapaknya napas berat. Matanya nyalang.

"Itu bo-li-mo (amoral), Go. Bukan cuma ke dia, tapi ke profesinya. Lo sebagai sesama sinseh harusnya tahu batasan!"

Beng Liong cuma bisa melongo. Mulutnya kebuka, tapi suara nggak keluar.

Bapaknya lanjut, suara mulai turun tapi lebih tajam.

"Kalau lo mau kawin sama cinta-cintaan nanti, ambil selir 100 juga gue nggak peduli. Tapi yang satu ini, ini utang nyawa. Lo utang nyawa puluhan orang sama dia. 23 sinseh desa itu gugur, Go. Mereka nggak sempat nolong keluarga sendiri. Tapi Kwee Lan—dia masih hidup. Dia nolong lo. Dia nolong Kim. Dia nolong Choa. Dia nolong keluarga kalian semua—"

Dia nunjuk ke Kim dan Choa yang ikut hadir.

"—kalau bukan Kwee Lan yang tanganin, lo semua udah jadi bangkai sekarang! Dan 23 sinseh desa itu? Mereka mati biar yang lain bisa hidup!"

Kim nunduk. Choa garuk kepala. Mereka berdua sadar itu bener.

Ibu Go nambahin pelan, "Nak... Ibu udah liat sendiri. Lo jagain dia. Lo pegang tangannya. Lo diemin pas dia panggil 'papa'. Ibu tahu lo bukan tipe orang yang bisa diatur. Tapi kali ini, Ibu minta lo dengerin."

Go diem. Otaknya muter kenceng.

Bapaknya nunjuk muka Go. "Lo punya dua pilihan. Satu, lo lamar dia secara resmi, kita urus semua. Dua, lo pergi dari rumah ini, nggak usah balik, dan tanggung malu seumur hidup."

Kim nyengir sinis. "Gua saranin pilih satu, Go. Yang dua... ribet."

Choa manggut-manggut. "Iya. Gua udah pernah nyoba kabur dari tanggung jawab. Hasilnya? 3 tahun diusir keluarga."

Beng Liong nengok ke Ibu Go. Ibunya cuma tersenyum kecil. Tapi matanya—matanya berkata: "Nak, ini jalan terbaik."

 

Di Bukit Pheng San, Malam Itu

Kwee Lan duduk di depan rumah. Kebun udah ijo. Kuburan udah rapi. Duit cukup. Tapi hatinya? Kosong.

Tiba-tiba—

DANG! DANG! DANG!

Kentongan? Jam segini?

Dari bawah bukit, muncul barisan obor. Bukan massa marah, tapi iring-iringan yang rapi. Terlalu rapi untuk warga biasa.

Kwee Lan menyipit. Matanya yang terlatih Bu Ki Sut bisa lihat dari jauh.

Di depan: Jenderal Go Beng Liong naik kuda. Pake baju resmi. Bukan baju perang, tapi baju... lamaran?

Di belakangnya: Kim, Choa, dan puluhan prajurit dengan obor.

Dan di tengah: Ibu Go naik tandu. Senyumnya manis, tapi matanya—matanya tajam. Ibu ini datang untuk urusan serius.

Kwee Lan berdiri. Jantungnya berdegup.

Mereka balik.

Tapi ini bukan buat periksa.

 

[BERSAMBUNG]

 

Catatan :

Bo-kan-hu Nggak berani ikut campur urusan orang

Amsiong Sial, nasib buruk

Kwa-chia Mungkin, kira-kira

Turu-sek Tidur mati atau tidur kayak orang mati (istilah peranakan Tionghoa Surabaya)

Bo-ji-lang Kayak bukan manusia (hampa)

Siat-sin Asusila, bejat

Le-hai Hebat, punya kemampuan

Me-me Gagal

Bo-li-mo Amoral

 

Sejarah 30 Sinseh Wanita

Gagal ujian 23 orang. Jadi sinseh desa, banyak gugur di wabah.

Yang Lulus ujian 7. Jadi sinseh negara, 6 selamat, 1 di perbatasan. Yaitu Kwee Lan.

Kwee Lan 1 Sinseh Negara Wanita Tugas di Pheng San, keluarga mati, chi bangkrut, dicopot dari jabatannya tapi ijazah tidak dicopot karena bikin obat cacar sirih merah manjur.

 

Wah, ga sabar nunggu hal yang indah-indah deh… 🐉🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!