NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7. Sambutan Karina

Lampu indikator di atas pintu ruang Intensive Care masih menyala merah, namun bagi Nara, warna itu tak lagi sepekat tadi pagi. Ayahnya, Pak Rahardi, telah melewati masa kritisnya. Melalui kaca kecil di pintu, Nara melihat ayahnya tertidur lelap dengan bantuan selang oksigen yang kini mengalirkan napas kehidupan, bukan lagi sesak yang mencekik.

Nara menempelkan telapak tangannya di kaca dingin itu. "Pak... Nara pergi sebentar ya. Bapak harus sehat. Jangan pikirkan biaya lagi. Nara sudah dapat... jalan keluar."

Suaranya tercekat. Jalan keluar yang ia maksud adalah sebuah terowongan gelap yang ujungnya ia sendiri tidak tahu. Ia baru saja menjual kebebasannya demi detak jantung pria di dalam sana.

Apakah ini yang dinamakan bakti? Ataukah ini sebuah kekalahan yang paling hina?

Ia berbalik, mendapati Ibunya sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah yang jauh lebih tenang, meski sisa-sisa kelelahan masih menggelayuti kelopak matanya.

"Bu, Nara harus pulang sebentar. Mau beres-beres baju," ucap Nara lembut sambil mengusap bahu ibunya.

"Loh, mau ke mana, Nduk? Kamu kan harus istirahat juga. Biar Ibu saja yang di sini," jawab Ibu heran.

Nara mengatur napasnya, mencoba memasang wajah setenang mungkin. "Nara dapat tawaran kerja bagus, Bu. Jadi guru privat di rumah keluarga kaya. Karena jadwalnya padat dan lokasinya jauh, mereka minta Nara tinggal di sana untuk sementara. Gajinya besar, Bu... cukup untuk pengobatan Bapak sampai tuntas."

Ibu Nara menatap mata putrinya dalam-dalam. Sebagai wanita yang melahirkannya, ia menangkap ada sesuatu yang disembunyikan di balik binar mata Nara.

"Keluarga siapa, Nara? Kok mendadak sekali? Apa ini ada hubungannya dengan uang administrasi yang tiba-tiba lunas tadi?"

Nara memaksakan senyum tipis. "Gusti Allah boten sare, Bu. Ini jalan yang dibuka untuk kita. Keluarga Setiawan... mereka memang tegas, tapi mereka butuh bantuan Nara untuk mendidik putri mereka."

Ibu terdiam, lalu mengelus pipi Nara. "Hati-hati, Nduk. Orang kaya terkadang punya aturan yang sulit dimengerti orang seperti kita. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri hanya karena uang."

Nara hanya bisa mengangguk, meski di dalam hati ia ingin berteriak bahwa ia sudah mulai kehilangan dirinya sejak pena itu menyentuh kertas kontrak Danu.

Pukul dua siang. Nara sampai di rumah mungilnya. Kamarnya yang berukuran 3x3 meter itu terasa jauh lebih luas sekaligus lebih menyesakkan dari biasanya. Bau harum melati dari pengharum ruangan murah yang ia beli minggu lalu masih tercium.

Ia membuka lemari kayu yang pintunya sudah sedikit miring. Satu per satu pakaiannya ia keluarkan. Gamis-gamis katun, jilbab kain yang ia jahit sendiri pinggirannya, dan seragam guru yang kemarin baru saja ia setrika dengan rapi.

Nara menyentuh seragam batik gurunya. Air matanya jatuh tepat di atas logo sekolah di lengan kiri. Kemarin, ia adalah seorang pendidik yang dihormati. Hari ini, ia hanyalah pion dalam permainan balas dendam seorang remaja manja dan kakaknya yang angkuh.

Ia mengambil koper tua milik ayahnya. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya beberapa potong pakaian kantun, alat salat, dan sebuah mushaf kecil pemberian ayahnya saat ia lulus kuliah. Bagi Nara, mushaf itu adalah satu-satunya kompas yang tersisa agar ia tidak tersesat di rumah mewah yang dingin nanti.

Saat sedang berkemas, matanya tertuju pada foto keluarga di atas meja rias. Di sana, ia tampak sangat bahagia memakai toga, diapit ayah dan ibunya. “Jadilah guru yang tidak hanya mengajar ilmu, tapi juga menjaga kehormatan,” bisikan suara ayahnya dalam foto itu seolah menamparnya.

"Maafkan Nara, Pak. Kali ini, Nara harus meletakkan kehormatan itu di bawah keselamatan nyawa Bapak," bisiknya lirih.

Pukul 15.45 WIB. Sebuah mobil sedan hitam mewah berbeda dengan yang tadi pagi berhenti di depan pagar kayu rumah Nara yang catnya sudah mengelupas. Tetangga sekitar mulai mengintip dari balik gorden, bertanya-tanya mengapa ada mobil seharga miliaran rupiah masuk ke gang sempit mereka.

Ibu Nara yang baru pulang dari rumah sakit untuk mengambil perlengkapan tambahan, tertegun melihat mobil itu.

"Itu jemputannya, Bu," ucap Nara sambil menjinjing koper tuanya.

Ibu Nara memandangi mobil itu dengan tatapan cemas. "Mobilnya bagus sekali, Nduk. Rasanya... Ibu jadi takut."

Nara segera memeluk ibunya erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu wanita yang telah merawatnya dengan kasih sayang tanpa batas itu. Di bahu itu, Nara melepaskan semua ketakutannya sesaat. Ia menangis tanpa suara, membiarkan air matanya membasahi daster ibunya.

"Nara... kalau kamu merasa tidak kuat, pulang ya? Kita cari jalan lain. Biar Ibu jualan jamu lagi, biar kita jual rumah ini, asal kamu tidak tertekan di sana," bisik Ibu, seolah tahu bahwa putri satu-satunya ini sedang masuk ke mulut harimau.

Nara melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dengan ujung jilbab. "Nara kuat, Bu. Nara

kan anak Bapak dan Ibu. Ibu doakan saja supaya tugas Nara cepat selesai dan kita bisa kumpul lagi."

Nara mencium tangan ibunya lama sekali. Ia menghirup aroma minyak telon dan dapur yang selalu melekat pada ibunya aroma rumah yang mungkin tidak akan ia temukan di mansion Setiawan.

"Nara berangkat ya, Bu. Jaga kesehatan. Kabari Nara setiap jam kalau ada perkembangan soal Ayah."

Supir berpakaian rapi itu turun dan mengambil koper Nara tanpa sepatah kata pun. Wajahnya datar, seolah-olah dia sedang mengangkut barang mati, bukan seorang manusia.

Nara masuk ke dalam mobil. Melalui jendela belakang, ia melihat sosok ibunya yang semakin mengecil, berdiri sendirian di depan pagar rumah mereka sambil melambai lemah.

Pemandangan itu adalah hal terakhir yang membuat Nara merasa menjadi "Nara yang bebas".

Begitu mobil berbelok di ujung gang, Nara menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang empuk. Ia menutup matanya. Di balik kelopak mata itu, wajah dingin Danu Setiawan muncul.

“Jangan bawa banyak barang. Di rumah saya, Anda akan memakai apa yang saya instruksikan.”

Kalimat Danu tadi pagi kembali terngiang. Nara meremas tasbih kecil di sakunya. Ia tahu, mulai detik ini, ia bukan lagi subjek atas hidupnya sendiri. Ia adalah objek yang dibeli. Ia adalah tawanan yang diberi label "guru".

Perjalanan dari pinggiran kota menuju kawasan elit tempat tinggal keluarga Setiawan memakan waktu satu jam, namun bagi Nara, rasanya seperti perjalanan menuju planet lain. Di luar sana, gedung-gedung tinggi mulai menjulang, lampu-lampu jalanan mulai menyala, namun hati Nara justru semakin redup.

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang sangat tinggi dan tebal. Dua penjaga berseragam lengkap memeriksa mobil itu sebelum gerbang terbuka secara otomatis dengan bunyi mesin yang halus.

Nara menatap ke depan. Sebuah istana berdiri megah dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi. Taman yang luas dengan air mancur di tengahnya tampak sangat indah, namun di mata Nara, tempat itu lebih mirip penjara mewah yang siap menelannya bulat-bulat.

"Sudah sampai, Bu Nara. Silakan turun. Tuan Muda Danu dan Nona Karin sudah menunggu di dalam," ucap sang supir dingin.

Nara menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan jilbabnya, memastikan hatinya telah ia kunci rapat-rapat dalam kotak kesabaran. Ia melangkah keluar dari mobil, menatap pintu jati besar yang terbuka perlahan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!