Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2
Aku berjalan di sekitaran sekolah untuk melihat ada hal apa yang bisa aku temui disini. Namun kakiku terhenti saat tiba di sebuah gedung olahraga. Terdapat dua tim yang tengah bertanding bola basket dan segerombol wanita yang tengah bersorak memanggil nama kedua tim untuk mendukung mereka.
"Selamat sore."
Sapa seorang siswi saat melihatku.
"Ah halo, selamat sore."
"Ada yang bisa aku bantu? "
Tanyanya dengan sopan sambil membawa setumpuk makanan dan minuman berenergi.
"Yuka!! "
Teriak temannya diantara gerombolan supporter itu.
"Ah, maaf. Aku harus pergi. "
Aku membalasnya dengan anggukan sambil tersenyum padanya. Lalu wanita itu pergi dari hadapanku.
"Orang negara P itu sangat ramah ya. Mungkin aku tidak akan kesulitan mendapatkan teman disini."
Aku memperhatikan seluruh area didekat lapangan basket itu. Begitu besar dan bersih. Aku tak pernah masuk kegedung olahraga yang sebesar ini sebelumnya. Apalagi dengan bangku penonton bak stadion namun berukuran kecil. Dan disebelah lapangan basket itu juga ada lapangan untuk olahraga voli. Mungkin jika aku berkeliling lebih lama, aku akan menemukan lapangan lain?
Saat aku tengah asyik melihat-lihat, mataku tidak sengaja menatap salah satu pemain yang tengah bermain dilapangan itu. Entah itu hanya perasaanku, rasanya dia terus menatapku bahkan saat aku tidak melihatnya. Pria itu begitu tampan. Rasanya cukup sulit melepaskan pandanganku pada pria yang sedang menatapku yang tangannya tampak sibuk menggiring bola basket. Seketika fokusnya kembali lalu memasukkan bola yang di giringnya sedari tadi kedalam ring basket. Kemudian ia menatapku kembali. Aku merasa bingung. Dia sengaja menatapku ya?
"Sok keren!"
Ucapku kesal karena merasa sedang diejek oleh pria itu.
"Carmila!"
Panggil ayahku yang tiba-tiba sudah ada di pintu masuk gedung olahraga dengan membawa jinjingan berisi seragamku ditangannya.
"Ayok kita pulang"
"Iya ayah."
Saat aku pergi, pria itu masih tetap menatapku.
...----------------...
Poin of view Yuka
"Kamu lama sekali Yuka! Siapa wanita yang kamu ajak bicara tadi? "
"Entahlah? Sepertinya mangsa baru. Dia terlihat begitu cantik. Aku yakin dia akan merebut Mark dari kita. "
"Lihat!! Mark mencetak skor lagi!! "
"Mark!! "
...----------------...
Point of view Carmila
Sebenarnya masih banyak hal yang belum aku lihat disekolah. Namun melihat ayah yang nampak ingin segera sampai kerumah, mungkin aku akan melanjutkannya besok.
Sesampainya ditempat tinggal kami, ayah beserta supir taksi menurunkan barang bawaan kami dari bagasi. Ayah mengeluarkan ponselnya lalu membayarnya dengan sebuah aplikasi digital. Yah, negara P memang terkenal dengan teknologinya yang maju juga.
"Terimakasih, pak. "
Aku berdiri bersama ayahku didepan gerbang rumah baru kami. Jarak pagar dan pintu masuk cukup dekat. Kata ayah, itu juga termasuk ciri khas rumah di negara P.
Rumah berukuran sedang dengan dua kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi kecil di dalamnya. Satu kamar mandi untuk tamu, ruang tamu, dan juga dapur yang tidak terlalu besar. Rumah yang kami tinggali ini nampak sangat nyaman. Kata ayah, rumah ini di rancang khusus olehnya.
"Ayah benar-benar menyiapkan rumah ini dengan baik. Begitu masuk, tidak ada debu didalamnya. Benar-benar bersih."
"Ini disebut, the power of money. Haha."
Sesuai request-anku, aku memang sengaja meminta kepada ayah untuk membuat rumah yang pas untuk ditinggali kami berdua saja walau sebenarnya ayahku mampu membeli rumah yang lebih besar seperti di negara S. Namun aku menolak dan meminta rumah yang biasa saja. Tapi sepertinya biasa menurut ayah dan aku sedikit berbeda. Biarpun hanya dua kamar, rumah ini lebih besar dari yang aku bayangkan.
Rumah kami tepat berada disamping kamar sewa khusus mahasiswa. Ibu pemilik kamar sewa itu juga sangat ramah. Saat kami mengantar oleh-oleh ke rumahnya untuk menyapa tetangga baru kami, ibu pemilik kamar sewa itu menyambut kami dengan ramah. Kami mengobrol sebentar. Setelah itu kami pulang.
"Ayah, aku akan berjalan-jalan sebentar"
"Kamu mau kemana malam-malam begini?"
"Aku ingin membeli sesuatu ayah."
"Baiklah, jangan lama-lama."
"Siap komandan."
Ucapku semangat sambil memberi hormat.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku ingin berjalan-jalan sebentar untuk mencari udara segar sambil melihat-lihat lingkungan di sekitar sini. Di tempat aku tinggal sekarang ini sebenernya hampir sama dengan tempat tinggalku dinegara S dulu. Hanya saja di sini aku bisa melihat pemandangan alam setiap hari. Karena aku tinggal di daerah perbukitan. Lumayan jauh dari keramaian kota.
Aku masih memikirkan apakah aku akan mendapatkan teman besok dihari pertamaku masuk. Seseorang yang akan mengerti karakter dan sifatku seperti halnya dinegara S dulu. Sebelumnya aku sempat bilang bukan? Mengenai aku memiliki teman di negara S? Sebenarnya dari pada disebut teman, lebih seperti keluarga kedua bagiku. Sahabatku yang selalu mengerti aku dan paham akan sikap dinginku ini. Apakah akan ada yang seperti mereka disini? Kalian tau, sebenernya aku berencana mengubah image-ku di sini.
'Ping!'
Suara ringtone pesan grup dari ponselku.
Itu dari Ara.
"Mila? Kamu sudah sampai? Bagaimana disana? Apakah nyaman? Apa kamu akan melanjutkan hobby-mu disana?"
"Iya, disini sangat nyaman dan bersih. Berbeda dengan dinegara kita, saluran air disini airnya jernih. Bahkan aku bisa melihat ikan. Aku sudah melewatkan kelas beberapa hari. Aku akan menjadi murid baru besok. Aku akan melanjutkan hobby-ku dan juga taekwondo."
"Dengan tingkat itu, harusnya kamu sudah jadi atlet."
"Tidak, ra. Kamu itu terlalu berlebihan. Lagi pula aku mempelajarinya untuk melindungi diri saja. Sedangkan hobby-ku ya untuk bersenang-senang."
"Mila, hanya kamu yang melakukan semua itu untuk bersenang-senang."
Hobby-ku adalah memanah. Dan hal yang akan aku beli tadi itu perlengkapan memanahku. Aku tidak membawa peralatan memanahku dari negara S karena aku pikir akan repot jika membawanya. Sebelumnya saat perjalanan menuju rumah, aku melihat toko olahraga. Rencananya aku akan pergi membelinya malam ini. Aku melihat ayah sangat kelehan karena mengurus kepindahan kami. Sehingga aku berpikir akan membelinya sendiri. Namun saat aku melihat jam di ponselku, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku menepuk jidatku.
"Sudah berapa lama aku disini? Tanpa sadar aku melewatkan apa yang ingin aku beli!"
Aku mengurungkan niatku untuk membeli perlengkapan olahraga itu.
"Aku akan berjalan-jalan di kota besok dengan ayah dan memintanya untuk membelikan perlengkapan memanahku."
Aku mulai belajar memanah dan bela diri ini tidak lama setelah kematian ibuku. Awalnya aku hanya mendapat teori-teori dasar saja mengenai hal itu. Lalu aku mulai menekuninya. Aku baru saja mendapatkan sabuk hitamku seminggu sebelum aku pergi kesini. Aku belajar ilmu bela diri karena aku ingin melindungi diriku dan tentunya untuk melindungi orang-orang yang aku cintai.
Dinegara S, aku hanya memiliki 2 sahabat. Ara dan Karin. Aku mengenal Ara dan Karin sejak sekolah dasar. Saat aku duduk dibangku kelas 6. Itu pun karena aku menolong mereka yang sedang di-bully habis-habisan oleh murid di sekolah kami. Sedikit cerita mengenai pertemuanku dengan mereka. Di sekolah lamaku, aku terkenal karena kecerdasan dan prestasiku. Entah sejak kapan juga orang-orang mulai men-cap diriku sebagai anak 'Orang Kaya'. Mungkin karena pernah melihat ayahku datang ke sekolah dengan mobil mahal? Atau guruku mungkin tahu seberapa besar rumahku? Aku juga tidak tahu bagaimana pastinya. Namun karena hal itu, semua murid di sekolah menyukaiku sampai dari apa yang aku pakaipun bisa menjadi trend di sekolah. Biarpun begitu, ada saja orang yang membenciku karena cemburu dan iri. Tapi aku tidak peduli akan semuanya. Aku lebih suka menyendiri dan menjauh dari orang-orang di sekolah.
Saat pertama kali bertemu Ara dan Karin di sekolah, mereka berdua benar-benar dua anak culun yang saling menempel. Terkadang aku berpikir "Pantas saja mereka diperlakukan seperti itu." Untuk berpura-pura tidak peduli saat ketidakadilan terjadi di depan mataku, aku tidak mampu. Jadi aku memutuskan untuk menolong mereka.
Namun kini, perubahan Ara dan Karin sekarang justru membuatnya seperti kisah siburuk rupa yang berubah jadi seorang putri bangsawan. Haha. Tidak-tidak. Aku hanya bercanda. Dari awal mereka memang sudah cantik. Mereka berdua kini tumbuh dengan baik dan lebih kuat. Semua itu tidaklah mudah. Karena ada banyak proses yang kami lewati hingga sampai pada titik ini. Akupun tanpa sadar juga ikut berubah sedikit demi sedikit. Setidaknya sekarang aku sudah bisa mempercayai orang lain. Walaupun hanya kepada mereka berdua saja. Dan semenjak ada mereka, aku sudah tidak menyendiri lagi. Dan ayahku juga merasakan perubahanku itu. Kata ayah, aku sudah jauh lebih ceria dan bawel sekarang. Ara dan Karin bilang, saat pertama kali melihatku mereka pikir aku ini orang aneh. Karena kata mereka biasanya ketika aku berhadapan dengan orang lain, aku seolah-olah tidak peduli. Mereka bilang, perhatianku kala itu merupakan berkah bagi mereka.
Kepindahanku kali ini, aku ingin mencoba membuka lembaran baru dan ingin mencoba menjadi seseorang yang lebih akrab nantinya. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya.