"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Violet akhirnya menoleh.
Dan untuk pertama kalinya ia melihat wajah dari suara itu.
Dia tinggi, dengan seragam dinas yang terpasang sempurna, tanpa satu kerutan pun. Rahang yang tegas, dengan mata yang memandang seperti elang, bukan cara seperti orang sedang melihat tapi seseorang yang sedang menilai, cepat dan dingin. Seolah tidak menyisakan sudut yang tidak terjangkau sekalipun.
Sementara pengusaha tua di depan mereka masih meringis menahan pergelangan tangannya yang ditangkap, tapi keringatnya sudah turun lebih deras dari tadi, dan matanya yang sayu itu sekarang sama sekali tidak sayu lagi, justru membelalak dengan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.
"Voss." Suaranya keluar nyaris seperti bisikan. "Jenderal Voss." ketakutannya jelas terlihat.
Adriel tidak menjawab. Hanya melepaskan pergelangan tangan itu dengan gerakan yang santai, gerakan orang yang memegang sesuatu bukan karena butuh tenaga besar tapi karena memang memilih untuk memegang.
Pengusaha itu tidak menunggu lebih lama.
Ia mundur satu langkah, dua langkah, lalu berbalik dan menghilang di antara kerumunan tamu dengan berlari terbirit-birit. Beberapa tamu yang menyaksikan saling pandang, berbisik, sebagian besar memilih mendekat untuk melihat lebih jelas seorang Adriel voss yang terkenal tidak memiliki perasaan itu tiba-tiba mencampuri urusan orang lain.
Keheningan di sekitar mereka mereda perlahan.
Di belakang Violet, Teresa berdiri dengan tangan terkatup di depan dada dan ekspresi yang belum pernah Violet lihat di wajah adik angkatnya itu. Bukan terkejut, bukan lega, lebih seperti seseorang yang baru melihat sesuatu untuk pertama kali dan belum selesai memproses apakah itu nyata atau tidak.
Ia menatap Adriel dengan mata yang berbinar dengan cara yang sangat Teresa. Violet tahu artinya itu, Teresa sedang terpesona.
Tidak tahu bahwa laki-laki yang baru saja ia tatap seperti itu adalah laki-laki yang namanya sudah membuat ia menangis di kamar kakaknya beberapa malam lalu.
Adriel tidak memperhatikan Teresa.
Matanya berpindah ke Violet, dan di sana ia berdiam lebih lama dari sekadar mengonfirmasi bahwa orang yang ada di depannya memang orang yang ia lihat. Ada sesuatu di tatapan itu yang tidak bisa langsung Violet baca, bukan kagum, bukan iba, lebih seperti seseorang yang sedang membandingkan sesuatu yang ia lihat sekarang dengan sesuatu yang sudah lebih dulu ada di kepalanya.
"Terima kasih," kata Violet akhirnya.
Dua kata yang keluar lebih tenang dari yang ia perkirakan mengingat jantungnya masih belum selesai berdebar.
Adriel tidak menjawab dengan kalimat yang hangat atau anggukan yang sopan. Ia hanya menatap Violet satu detik lagi dengan cara yang membuat Violet merasa seperti sedang dibaca dari halaman pertama sampai terakhir dalam waktu yang sangat singkat.
Lalu ia berpaling dan berjalan pergi dengan langkah yang sama teraturnya seperti saat ia datang, melewati kerumunan tamu yang tanpa sadar membuka jalan untuknya.
Violet berdiri di tempatnya.
Menatap punggung laki-laki itu sampai menghilang di antara kerumunan, dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama dengan tepat tapi terasa seperti sesuatu yang menempel dan tidak langsung hilang meski orangnya sudah pergi.
Yang tidak ia tahu, dan tidak akan ia tahu sampai jauh kemudian, adalah bahwa Adriel Voss sudah tahu siapa ia jauh sebelum malam ini.
Mata-matanya, seorang tukang kebun yang sudah berbulan-bulan bekerja di kediaman Hartawan, sudah melaporkan percakapan di kamar Violet dengan detail yang cukup. Ia tahu rencana penggantian itu. Ia tahu Violet yang akan berdiri di pelaminan, bukan Teresa.
Dan ia memilih untuk tidak menghentikannya.
Karena laki-laki yang sudah memutuskan sesuatu tidak membuang langkah untuk menghalangi sesuatu yang justru berjalan ke arah yang ia inginkan.
Naif, pikirnya tentang perempuan itu ketika pertama kali laporan itu masuk ke mejanya.
Tapi malam ini, setelah ia melihat langsung. Ia berpikir lagi, bahwa kata Naif itu bukan berarti selalunya lemah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari setelah pesta, Teresa masih terus membicarakan laki-laki yang menyelematkan mereka malam itu.
"Dia sangat tampan, aku tidak tahu ada seseorang berpangkat jenderal yang rupawan seperti itu di rumah ini. "
"Aaah dia datang seperti pahlawan pria di drama- drama romantis, benar- benar menakjubkan. "
Teresa tak berhenti- hentinya memuja. Barulah ketika ayahnya mengatakan kalau laki-laki itu adalah Adriel voss, kekaguman Teresa seketika sirna.
"Tidak jadi aku mengagumi nya. Tampan juga buat apa kalau kejam dan bringas. Iww! "
Semua kata- kata memujanya sirna berganti dengan hujatan dan cibiran, seolah-olah Teresa lupa kalau laki-laki itu lah yang menyelamatkan nya dari godaan si pengusaha tua.
Dan Violet hanya bisa menggeleng melihat tingkah adiknya itu.
******
Lalu, tanpa terasa riga bulan berlalu lebih cepat dari yang Violet perkirakan.
"Kak, gaunnya sudah datang. Muat tidak, ya?"
Violet mengangkat wajah dari buku catatannya siang itu. Teresa berdiri di pintu kamar dengan kantong plastik besar berwarna putih di tangan, wajahnya bersinar dengan ekspresi perempuan yang sedang merencanakan sesuatu menyenangkan dan lupa bahwa rencana itu sebenarnya bukan sesuatu yang menyenangkan sama sekali.
Rencana mereka yang akan di realisasi kan dengan serius hari ini.
"Coba dulu," kata Violet pendek.
Teresa masuk, mengeluarkan gaun dari kantong plastik itu, dan menggantungkannya di belakang pintu. Putih bersih dengan renda di bagian leher dan kancing kecil memanjang di punggung. Gaun pernikahan yang sederhana untuk ukuran keluarga Hartawan, tapi tetap terlihat seperti sesuatu yang harganya tidak main-main.
Violet mencoba gaun itu di balik pintu kamar yang dikunci, sementara Teresa duduk di ranjang memainkan ponselnya dengan santai.
"Muat?" tanya Teresa.
"Muat."
"Bagus?"
Violet menatap bayangannya di cermin kecil di balik pintu. Gaun itu memang muat. Bahkan lebih pas dari yang seharusnya karena tubuh mereka tidak berbeda jauh, hanya Violet sedikit lebih kurus di bagian bahu dan sedikit lebih tinggi dua atau tiga sentimeter.
"Cukup," jawab Violet.
Ia melepas gaun itu dan berganti ke baju hariannya. Ketika membuka pintu, Teresa sudah berdiri dengan ekspresi yang sedikit berbeda.
"Kak Vi." Teresa menggigit ujung jarinya, kebiasaan lama yang muncul ketika hendak mengatakan sesuatu yang tidak mudah. "Aku mau minta satu hal lagi."
Violet menunggu.
"Mobilnya Ayah." Teresa tidak memandang langsung. "Aku perlu pergi jauh setelah hari pernikahan itu. Sedangkan naik angkutan umum tidak akan aman.Aku... aku perlu mobil ayah, kak. "
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Itu nanti aku cerita. Yang penting aku perlu mobilnya."
"Teresa, itu mobil Ayah. Bukan mobilku." tekan Violet.
"Tapi kamu yang pegang kuncinya." Teresa menatap Violet langsung. "Kamu yang selalu dipercaya Ayah untuk menyimpan kunci cadangan."
Violet memejamkan mata sebentar.
"Dan satu lagi," lanjut Teresa dengan suara yang lebih pelan. "Tabunganmu, Kak. Aku butuh modal untuk mulai hidup di tempat baru. Tidak banyak. Tpi cukup untuk tiga bulan pertama."
Violet membuka matanya dan menatap Teresa lama. Adik angkatnya itu menatap balik dengan ekspresi yang campuran antara memohon dan meyakinkan diri sendiri bahwa permintaan ini wajar.
"Kamu minta mobilnya Ayah dan terus tabunganku," ulang Violet datar.
"Aku akan ganti semuanya, Kak. Aku janji. Begitu kondisiku nanti sudah stabil—"
"Teresa."
Teresa berhenti bicara.
Violet berjalan ke jendela, menatap tembok tetangga yang sudah sangat ia hafal, lalu berbalik.
"Berapa tabunganku yang kamu butuhkan?"
Teresa menyebutkan angka.
Violet tidak berkedip. Hampir separuh dari yang ia kumpulkan selama empat tahun, dari pekerjaan paruh waktu yang dilakukan diam-diam karena uang bulanan dari keluarga Hartawan tidak pernah cukup untuk disebut uang saku.
"Aku mohon kak, kamu kan yang selalu bisa membantu ku dalam kondisi tersulit sekali pun. Kalau bukan ke kamu, aku ke siapa lagi kak? hanya kamu satu- satu nya yang kupunya. " Teresa memohon dengan netra sendu.
"Baik," kata Violet akhirnya.
Teresa menghambur memeluknya. "Makasih, Kak Vi. Kamu memang yang paling baik."
Violet tidak membalas pelukan itu. Tangannya menggantung di sisi tubuhnya dan matanya menatap titik kosong di dinding.
Paling baik? atau paling tidak bisa menolak. Violet sudah lama tidak yakin keduanya adalah hal yang berbeda.
*****
BERSAMBUNG