Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Tiga jam berlalu seperti selamanya.
Kenzie duduk di tepi ranjang, sementara Clara sudah meringkuk di sofa kamar, tertidur karena kelelahan emosional yang luar biasa. Kenzie tidak bisa tenang. Indra pendengarannya yang tajam sesekali menangkap suara bentakan dari ruang kerja di lantai bawah, diikuti oleh keheningan panjang yang jauh lebih menakutkan.
Kenzie memikirkan penjelasan apa yang diberikan Julian. Apakah Julian menceritakan tentang The Constant? Tentang rahasia empat ratus tahun miliknya? Atau tentang bahaya yang sedang mengintai dirinya?
Kenzie meremas surat Elena. Ia merasa seperti orang asing yang baru saja menghancurkan kedamaian sebuah keluarga, meskipun niatnya adalah menolong. Kenzie merasa berat di dadanya, sebuah beban energi biru milik Julian yang kini berdenyut di nadinya, membuat ia bisa merasakan sisa-sisa kegelisahan Julian di bawah sana.
Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi, pintu kamar terbuka. Julian masuk terlebih dahulu, wajahnya tampak sangat lelah namun lebih tenang. Di belakangnya, Robert menyusul. Langkah Robert tidak lagi mengancam. Robert berhenti beberapa meter dari tempat Kenzie duduk, menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur yang sangat sulit dilakukan oleh pria dengan ego sebesar Robert.
"Aku minta maaf." suara Robert berat dan tulus. "Aku bertindak bodoh karena emosi. Clara benar, dan Ayah sudah menjelaskan semuanya. Terima kasih karena sudah memberikan waktu tambahan bagi Ibuku. Aku berhutang nyawa padamu."
Kenzie mengangguk pelan. "Aku melakukannya karena aku menyayangi Elena. Kau tidak perlu merasa berhutang."
Robert menoleh ke arah Julian, lalu kembali menatap Kenzie. "Ayah sudah menceritakan segalanya tentang kau. Tentang siapa kau sebenarnya dan tentang bahaya yang apa sedang mengintai mu."
Wajah Robert mengeras. "Aku tidak bisa membiarkan Clara tetap di sini. Jika benar darahmu menjadi incaran Stefanny dan rumah ini sudah tidak aman, Clara adalah sasaran yang paling empuk. Aku akan membawanya bersamaku pagi ini juga. Ke tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun di sini."
Julian melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Robert. "Itu keputusan yang benar. Aku tidak bisa menjaganya sepenuhnya jika perang ini akhirnya pecah."
Clara yang terbangun karena suara mereka, tampak bingung dan sedih. "Tapi Ayah, bagaimana dengan makam Ibu?"
"Ibu akan aman, Clara." Robert memegang bahu adiknya. "Ayah akan segera pergi dari rumah ini dan menutup segala akses untuk orang lain masuk, apalagi mencapai tempat pemakaman Ibu. Kau tidak bisa terus bersama dengan Ayah, kau harus ikut dengan Kakak. Tidak ada bantahan, Clara. Kota ini sudah bukan lagi tempat yang aman untuk makhluk seperti kau."
Kenzie melihat kepedihan di mata Julian saat melihat anak-anaknya harus pergi karena konflik supranatural yang melibatkan dirinya. Ini adalah harga dari keabadiannya, melihat orang-orang tercinta menjauh demi keselamatan mereka sendiri.
Robert memberikan tatapan terakhir pada Kenzie. Kali ini bukan tatapan membunuh, melainkan tatapan peringatan. "Jaga Ayahku. Jika dia mati karena urusan abadi kalian ini, aku akan kembali dan menuntut balasan, tidak peduli siapa pun kau sebenarnya. Tanganku sendiri yang akan membunuhmu!"
Setelah persiapan singkat yang penuh air mata, mobil Robert menderu pergi meninggalkan halaman rumah Julian tepat saat semburat fajar mulai muncul. Julian berdiri di teras, menatap kepergian anak-anaknya hingga lampu belakang mobil itu menghilang di tikungan jalan.
Kenzie berdiri di belakang Julian, menyentuh pundaknya dengan ragu. "Mereka akan aman, Julian."
Julian berbalik, menarik Kenzie ke dalam pelukannya di bawah langit fajar. "Mereka aman, tapi kita tidak. Robert benar. London sedang bersiap untuk menelan kita. Dan sekarang, hanya ada kau dan aku."
Di bawah langit fajar yang berwarna ungu pekat, pelukan Julian terasa seperti benteng terakhir yang tersisa di dunia yang mulai runtuh. Kenzie bisa merasakan detak jantung Julian yang tidak beraturan melalui dadanya, sebuah pengingat bahwa meskipun pria ini abadi, ia baru saja kehilangan separuh dari kemanusiaannya bersamaan dengan perginya mobil Robert.
"Kita tidak punya banyak waktu, Kenzie." bisik Julian, suaranya parau tertiup angin dingin pagi itu. Ia melepaskan pelukannya, menatap Kenzie dengan mata biru yang kini berkilat penuh tekad sekaligus kecemasan. "Stefanny tidak akan berhenti. Dia sudah mendapatkan sedikit darahmu dan dia akan terus mencoba sampai dia menemukan cara untuk menyempurnakannya."
Kenzie terdiam, jemarinya menyentuh lengan yang kini sudah sembuh total berkat energi Julian. "Aku terpikirkan soal Hallen. Dia pasti masih mencariku. Aku bisa merasakannya. Dia terjebak di tengah semua ini tanpa tahu apa-apa."
Julian mengeras. Nama itu masih menjadi duri dalam dagingnya. "Hallen adalah umpan, Kenzie. Dan jika kita tidak segera bertindak, dia akan menjadi korban pertama dari eksperimen Stefanny."
...•••...