NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: TIGA MURID IBLIS

Seminggu telah berlalu sejak ritual berisiko itu.

Geumseong yang biasanya sunyi dan angker kini terasa berbeda. Di halaman belakang markas, di bawah bayangan bangunan batu hitam, tiga wanita berlatih dengan tekun di bawah pengawasan ketat Namgung Jin. Suara derap kaki, benturan pedang kayu, dan teriakan semangat memecah keheningan yang biasa menyelimuti lembah ini.

Matahari pagi menyinari tubuh mereka yang berkeringat, menciptakan kilauan di atas kulit yang basah. Udara dingin pegunungan tidak mampu mendinginkan semangat mereka yang membara.

Nyonya Hwa Ryun bergerak dengan lincah dan mematikan di tengah lapangan. Pedang kayunya menyambar cepat, menebas lawan imajiner dengan presisi tinggi. Pengalamannya sebagai mantan pemimpin Sekte Bunga Mekar dan mata-mata ulung membuatnya cepat menguasai jurus-jurus dasar yang diajarkan Namgung Jin. Gerakannya mengalir seperti air, tapi keras seperti es saat mengenai sasaran.

Dua puluh meridian kini terbuka di tubuhnya—lompatan luar biasa dari sebelumnya hanya tujuh. Kekuatannya kini setara dengan kultivator level menengah atas. Ia bisa merasakan perbedaannya: indra lebih tajam, reaksi lebih cepat, dan yang terpenting, ia bisa menggunakan jurus-jurus kecil Kitab Sembilan Jurang.

"Hwa Ryun, ulangi jurus ketiga."

Perintah Namgung Jin membuatnya mengangguk. Ia mengambil posisi, menarik napas dalam, lalu mengayunkan pedangnya dengan pola melingkar. Energi hitam tipis mengikuti gerakannya, meninggalkan jejak samar di udara.

"Bagus. Sekarang gabungkan dengan jurus pertama."

Ia melakukannya dengan lancar. Dua jurus bergabung menjadi satu gerakan mematikan.

Di sudut lain lapangan, Miho berlatih sendiri dengan fokus penuh. Sepuluh meridian terbuka—tidak sebanyak Nyonya Hwa Ryun, tapi cukup untuk seorang mantan mata-mata yang selama ini hanya mengandalkan kelicikan. Namgung Jin mengajarinya jurus-jurus yang memanfaatkan kecepatan dan kejutan, bukan kekuatan brutal.

Miho berlari kecil, lalu tiba-tiba berbelok tajam, pedang kayunya menyambar dari arah tak terduga. Gerakannya masih kaku, tapi pola pikirnya sudah benar—ia selalu mencari kelemahan lawan, bukan menantang mereka frontal.

"Miho, jangan terlalu fokus pada pedang. Gunakan seluruh tubuhmu."

*"Tapi Guru, pedang ini—"

"Pedang hanya perpanjangan tangan. Jika tanganmu kaku, pedang juga kaku."

Miho mengangguk, mencoba lagi. Kali ini gerakannya lebih cair, lebih alami.

---

Putri Sohwa adalah yang paling lemah secara fisik di antara mereka. Ritual itu nyaris membunuhnya, dan meskipun selamat, tubuhnya masih dalam masa pemulihan. Hanya enam meridian yang berhasil terbuka—jumlah terkecil. Tapi semangatnya tidak pernah padam.

Gadis itu berlatih di bawah pohon besar, mengulangi gerakan dasar yang sama puluhan kali. Kakinya gemetar, tangannya pegal, tapi ia tidak berhenti. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membasahi pakaian latihan yang sederhana.

"Istirahat."

Perintah Namgung Jin membuat mereka berhenti. Ketiganya duduk di bawah pohon yang sama, mengambil napas dan minum air.

Putri Sohwa hampir jatuh saat duduk. Miho menangkapnya, membantunya bersandar di batang pohon.

"Kau terlalu memaksakan diri," tegur Miho lembut.

"Aku harus cepat kuat."

"Kuat tidak datang dalam sehari."

Nyonya Hwa Ryun menambahkan, "Dia benar. Aku butuh bertahun-tahun untuk mencapai level ini. Kau baru seminggu."

Putri Sohwa menunduk. "Tapi Majin tidak akan menungguku."

Namgung Jin yang mendengar percakapan itu hanya diam. Ia duduk agak jauh, mengamati ketiga muridnya dengan ekspresi tak terbaca.

---

Sore harinya, setelah latihan usai, Putri Sohwa duduk sendirian di tepi tebing dekat markas. Dari sini, ia bisa melihat lembah di bawah, dengan kabut tipis yang mulai turun. Pemandangan yang indah, tapi pikirannya tidak di sana.

Langkah kaki mendekat. Nyonya Hwa Ryun duduk di sampingnya.

"Melamun?"

"Memikirkan banyak hal."

"Seperti?"

Putri Sohwa diam sejenak. Lalu berkata, "Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini. Dulu, di istana, aku hanya boneka. Diam, patuh, tidak berguna. Sekarang..." Ia menatap tangannya yang penuh luka dan kapalan. "...sekarang aku merasa hidup."

"Itu karena kau punya tujuan."

"Tujuan?"

"Melindungi sesuatu. Atau seseorang." Nyonya Hwa Ryun tersenyum tipis. "Itu yang membuat kita bertahan."

"Kau juga?"

"Aku? Awalnya, aku hanya ingin bertahan. Lalu aku bertemu Guru. Dan sekarang..." Ia menghela napas. "...sekarang aku ingin membantunya. Membantu kalian."

Putri Sohwa menatapnya. "Kau benar-benar percaya padanya?"

"Seperti kau percaya padanya."

Mereka tersenyum, saling mengerti.

---

Malam harinya, Namgung Jin duduk di kamarnya, merenung.

Di depannya, Mawanggeom tergeletak di atas kain hitam. Pedang itu bersinar redup dalam gelap, seolah hidup.

"Tiga murid. Tiga wanita dengan masa lalu berbeda."

Ia ingat dulu, sebagai Iblis Murim, ia hanya punya satu murid—Cheon Mu-gi. Dan murid itu mengkhianatinya. Sekarang, ia punya tiga. Apakah sejarah akan terulang?

Simma di dadanya berdenyut—bukan peringatan, tapi keyakinan. Keyakinan bahwa kali ini berbeda.

"Kau benar. Mereka berbeda."

Pintu diketuk. Miho masuk dengan nampan berisi teh.

"Guru, aku membuatkan teh."

"Letakkan di meja."

Miho meletakkannya, tapi tidak segera pergi. Ia berdiri di sana, seperti ingin bicara.

"Ada apa?"

"Aku... aku ingin berterima kasih, Guru."

"Untuk apa?"

"Untuk menyelamatkanku. Untuk memberiku tujuan." Ia menunduk. "Dulu, aku hanya mata-mata yang hidup dalam ketakutan. Sekarang, aku punya keluarga."

"Keluarga?"

"Kau, Hwa Ryun-unnie, Putri Sohwa. Kalian keluargaku sekarang."

Namgung Jin diam. Kata "keluarga" terasa asing di telinganya. Selama ribuan tahun, ia tidak pernah punya keluarga. Hanya murid yang mengkhianati.

"Pergilah. Istirahat. Besok latihan lagi."

"Ya, Guru."

Miho pergi dengan senyum.

---

Keesokan harinya, latihan dimulai lebih pagi.

Namgung Jin memutuskan untuk mengajari mereka jurus pertama Kitab Sembilan Jurang—Mageukdan, Telapak Tangan Iblis. Jurus dasar yang mengumpulkan energi hitam di telapak tangan dan melepaskannya dalam ledakan kecil.

Nyonya Hwa Ryun langsung bisa melakukannya setelah beberapa kali mencoba. Telapak tangannya bersinar hitam, dan saat ia menekannya ke batang pohon, bekas tangan terbakar muncul di kulit kayu.

"Luar biasa." Ia tersenyum puas.

Miho butuh waktu lebih lama. Tangannya gemetar, energinya tidak mau mengalir dengan benar. Tapi setelah satu jam berlatih, ia berhasil—meskipun hanya percikan kecil.

Putri Sohwa adalah yang paling kesulitan. Setiap kali ia mencoba mengumpulkan energi, tangannya justru terasa dingin, bukan hangat. Energinya sepertinya tidak mau bekerja sama.

"Aku... aku tidak bisa."

"Kau bisa." Namgung Jin berdiri di belakangnya, memegang kedua tangannya. "Rasakan aliran energi dari dantian. Jangan paksakan. Biarkan mengalir."

Untuk pertama kalinya, Putri Sohwa merasakan kehangatan di dadanya. Energi itu mengalir perlahan ke lengan, ke pergelangan, ke telapak tangan. Tangannya mulai bersinar—samar, tapi nyata.

"Aku... aku merasakannya!"

"Lepaskan."

Ia menekankan telapak tangannya ke batu kecil di depannya. Batu itu retak. Tidak hancur, tapi retak.

Putri Sohwa menatap tangannya tidak percaya. Lalu ia tersenyum—senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan.

"Aku berhasil!"

Miho dan Nyonya Hwa Ryun bertepuk tangan. Bahkan Namgung Jin tersenyum tipis.

"Bagus. Sekarang ulangi seratus kali."

"Apa?!"

"Sampai kau bisa melakukannya dalam tidur."

Putri Sohwa menghela napas, tapi matanya berbinar. Ia segera berlatih lagi.

---

Seminggu lagi berlalu.

Kemajuan mereka luar biasa. Nyonya Hwa Ryun sudah menguasai tiga jurus dasar. Miho mulai menggabungkan jurus dengan gerakan mata-matanya. Putri Sohwa, meskipun paling lambat, berhasil membuka satu meridian lagi—total tujuh.

Suatu sore, Cheon Wu-gun memanggil Namgung Jin.

"Ada kabar dari utara."

"Majin?"

"Dia bergerak. Menghancurkan desa-desa di jalannya. Dalam sebulan, ia akan mencapai kota besar pertama."

"Kota apa?"

"Bukit Naga."

Namgung Jin mengerutkan kening. Bukit Naga adalah kota perdagangan penting. Jika jatuh, ribuan akan mati.

"Kita harus bergerak cepat."

"Tapi kau belum siap."

"Aku tahu. Tapi ada satu tempat di utara—gunung es abadi. Konon, di sana tersimpan pedang es yang bisa melawan api Majin."

Cheon Wu-gun mengangguk. "Legenda itu benar. Aku pernah membaca catatan kuno tentangnya."

"Aku akan pergi ke sana."

"Sendirian?"

Namgung Jin diam. Ia memikirkan ketiga muridnya.

"Aku akan bawa mereka."

"Kau yakin? Mereka belum siap."

"Perjalanan ini akan jadi latihan."

---

Malam harinya, Namgung Jin mengumpulkan ketiga muridnya. Ia menjelaskan situasi dan rencana untuk mencari pedang es.

"Aku akan pergi ke utara. Kalian boleh memilih: tetap di sini, atau ikut."

Ketiganya saling pandang. Luna, tanpa ragu, mereka menjawab serentak.

"Kami ikut."

"Kau tahu risikonya?"

"Kami tahu." Nyonya Hwa Ryun mewakili. "Tapi kami tidak akan membiarkan Guru pergi sendirian."

"Kalian bisa mati."

"Maka kami akan mati bersama."

Namgung Jin menatap mereka lama. Di mata ketiga wanita itu, ia melihat tekad yang sama—tekad yang tidak bisa digoyahkan.

"Baik. Kita berangkat besok pagi."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!