NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang mengiris

PIETRA PETROVSKY

Aku masuk ke kamar dengan wajah yang masih perih dan jiwa yang berkeping-keping. Aku mandi lama sekali, membiarkan air hangat mengalir membasuh wajahku, bercampur dengan air mata yang sudah tak sanggup lagi kutahan.

Aku berbaring di ranjang yang, hingga beberapa jam lalu, masih "milik kami berdua".

Aku tak tidur.

Semalaman aku terjaga, menatap langit-langit, mencoba memahami apa yang telah terjadi pada Ricardo. Ia tak pernah kasar, tak pernah meninggikan suara padaku, tak pernah menatapku dengan hina.

Lelaki yang kulihat di ruang tamu itu bukan lelaki yang kunikahi empat tahun lalu.

Ia berubah sama sekali.

Mungkin empat tahun "bahagia" itu tak lebih dari sebuah kebohongan yang indah.

Untung—atau mungkin karena pengecut—ia tak masuk ke kamar malam itu. Itu memberiku waktu untuk berpikir. Waktu untuk menyusun rencana.

Aku akan kabur.

Aku akan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Aku akan bilang berangkat kuliah, seperti biasa. Lalu aku akan pergi jauh. Aku belum tahu ke mana, tapi satu hal yang kuyakini: aku tak akan tinggal di sini lagi.

Menjelang fajar, aku bangkit dengan tubuh yang berat, tapi pikiran yang anehnya jernih. Aku mandi lagi. Menyisir rambut dengan hati-hati, menggosok gigi, lalu turun untuk sarapan seperti setiap hari.

Ketika sampai di ruang makan, ia sudah di sana.

Duduk di meja, berpakaian rapi tanpa cela, membaca sesuatu di ponselnya. Sikapnya tenang, ekspresinya datar. Seolah tak ada dosa sedikit pun di wajahnya.

Ia mengangkat pandangannya, dan ketika melihatku, ia tersenyum.

"Selamat pagi."

Jantungku berdegup kencang, tapi aku menarik napas dalam-dalam. Aku duduk di meja tanpa suara, lalu menjawab.

"Selamat pagi."

"Tidur nyenyak?"

Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa. Hampir.

"Nyenyak."

Bohong.

Ia menyesap kopinya, mengamatiku dari balik cangkir, seolah sedang menimbang sesuatu.

"Kemarin aku memang agak keterlaluan."

"Iya..."

"Maaf soal—"

"Tidak apa-apa," potongku.

"Aku benar-benar sudah kelewat batas..."

Aku menelan ludah, tanganku terkepal di pangkuan.

"Sudah berlalu," ucapku, menahan diri mati-matian agar tak menyuruhnya pergi ke neraka.

"Kau kuliah hari ini?"

"Iya..."

"Bagus... Nanti kalau kau pulang, kita bicara."

Aku mengangguk dan melanjutkan menyeruput kopi.

"Ayo... Kuantar kau ke kampus," katanya sambil berdiri, sementara aku belum selesai dengan kopiku.

"Tidak usah..."

"Aku memaksa."

Aku menelan ludah, lalu meraih ranselku—tempat kusimpan laptop, dokumen-dokumenku, termasuk paspor dan kartu-kartu kreditku.

Aku melangkah ke pintu apartemen, tepat di belakangnya. Ia membuka kunci, dan kami keluar tanpa sepatah kata.

Kami masuk ke lift. Ruang tertutup itu membuatku tegang. Ricardo mengusap punggungku dan menarikku ke dalam pelukan yang, dulu, terasa menenangkan. Kini, itu hanya membuatku ingin menangis.

Aku menekan tombol basement—tempat parkir.

Ponselnya bergetar.

Di layar, muncul nama dan foto Vitória.

Ricardo menatapku sedetik terlalu lama... lalu menolak panggilan itu.

Keheningan di dalam lift terasa semakin berat.

Di tempat parkir, saat kami berjalan menuju mobil, aku mendengar suara yang sudah kubenci.

"Mau mengantar si anak kecil ke sekolah?"

Vitória bertanya dengan nada mengejek, tangannya terlipat di dada.

Ricardo langsung berhenti.

"Sudah kubilang jangan muncul di sini hari ini!"

"Kau pikir bisa menyingkirkanku begitu saja sekarang?" balas Vitória. "Sudah dua tahun kau berjanji akan mengakhiri hubungan dengannya. Dia sudah tahu soal kita, jadi cepat sudahi saja dengannya!"

Jantungku seakan berhenti berdetak.

"Dua tahun?..." Suaraku keluar lemah, tersangkut di tenggorokan.

Vitória tersenyum.

"Betul sekali, Sayang," katanya penuh sindir. "Kami sudah bersama tiga tahun... Dan sudah dua tahun ini dia berjanji akan meninggalkanmu..."

Aku menoleh pada Ricardo.

Sesaat, aku tak bisa memastikan apakah itu penyesalan di wajahnya, atau hanya permainan cahaya remang di parkiran ini.

"Aku akan memesan taksi," ucapku pelan, sudah mulai menjauh.

Aku keluar dari tempat parkir tanpa menoleh ke belakang. Setiap langkah, ada sesuatu di dalam diriku yang mati, dan sesuatu yang lain lahir.

Sementara aku menjauh, masih terdengar perdebatan mereka dengan suara tertahan.

"Kenapa kau harus buka mulut?" bentak Ricardo.

"Kau memang tidak mencintainya! Kau bertahan dengannya hanya demi wari—"

"Tutup mulutmu!"

Kalimat itu terputus.

Dan aku pun begitu.

Aku tak sanggup merangkai satu kata pun untuk melengkapi kalimat yang terpenggal itu.

Warisan?

Napasku tercekat.

Dengan tangan gemetar, aku memanggil taksi.

Ketika masuk ke dalam mobil, aku menatap keluar jendela untuk terakhir kalinya, ke gedung yang dulu pernah menjadi rumahku.

"Bandara," ucapku pada sopir. "Secepat mungkin, tolong."

Sopir itu mengangguk.

Dan saat mobil melaju, aku membiarkan diriku hanyut dalam air mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!