Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sebuah taksi berhenti di depan kediaman mewah keluarga Fang.
Lolitta turun dengan pakaian kasual—kaos putih dilapisi kemeja panjang merah kotak-kotak, celana jeans hitam, dan rambut dikuncir kuda. Penampilannya sederhana, tetapi sorot matanya tajam saat menatap rumah besar itu.
"Rumah ini akan aku rebut kembali!" ucap Lolitta.
Tanpa ia sadari, sebuah mobil mewah terparkir di seberang jalan. Seorang pria memperhatikannya dari dalam mobil.
“Tuan, dia adalah Lolitta Fang,” ucap sopir yang juga merangkap asisten, duduk di kursi depan.
Mata pria itu tak lepas dari sosok Lolitta yang kini melangkah masuk ke halaman.
"Lolitta Fang… kita bertemu lagi, "batin pria itu. Ia adalah Dev Zhang.
Begitu masuk ke ruang keluarga, Lolitta disambut suara tawa dan candaan. Di sana ada ayahnya, ibu tirinya, adik tirinya, dan seorang pria muda, mantan kekasihnya yang kini berselingkuh dengan adik tirinya.
“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat,” ucap Lolitta sinis.
Semua mata menatapnya dengan sorot meremehkan.
“Lolitta, pergi mandi dan buang sialmu. Jangan membawa kesialan ke rumah ini,” kata ayahnya, Alex Fang, dingin.
Lolitta tertawa pelan. “Pa, justru orang yang memberiku kesialan itu adalah dirimu sendiri.”
Wajah Alex mengeras. “Apa maksudmu? Kau menyalahkanku?”
“Tidak salah sama sekali,” jawab Lolitta santai. “Karena jasamu, aku belajar banyak selama di penjara.”
“Bagus kalau begitu. Besok malam jaga sikapmu. Jangan mempermalukan aku di depan Dev Zhang,” tegas Alex.
Lolitta menyilangkan tangan di dada. “Dev Zhang adalah pria paling berkuasa di kota ini. Banyak wanita yang antre ingin mendapatkannya. Kenapa harus aku yang bertunangan dengannya? Kenapa bukan putri kesayanganmu?”
Alex mendengus. “Seharusnya kau merasa beruntung. Tidak semua orang bisa bernasib sebaik itu. Kakek Dev sendiri yang memilihmu sebagai calon cucu menantunya.”
"Kakek Zhang… satu-satunya orang yang paling baik padaku, "batin Lolitta.
“Kakak, masa lalumu sangat memalukan. Kalau sampai keluarga Zhang tahu, apa Kakek Dev masih akan memilihmu?” sindir adik tirinya, Yunny, dengan senyum licik.
“Masa laluku buruk dan masa depanku hancur… semua karena ulahmu,” balas Lolitta tajam.
“Lolitta, kau ini kakaknya Yunny. Jangan membesar-besarkan masalah kecil,” sela Eric, mantan kekasih Lolitta.
Tatapan Lolitta langsung menusuk ke arahnya. “Hanya orang luar, sudah berani banyak bicara di hadapanku. Kau tidak punya hak di sini.” Ia berbalik hendak pergi.
“Kau mau ke mana lagi?” bentak Alex.
“Aku tidak akan tinggal di sini. Aku punya tempat sendiri.”
Ibu tirinya, Lolla, tersenyum meremehkan. “Jangan sombong. Kalau bukan di rumah ini, ke mana lagi kau bisa pergi? Kau mantan narapidana. Siapa yang mau menerimamu?”
Lolitta menoleh perlahan, matanya dingin.
“Aku menjadi mantan narapidana karena ulah putrimu. Berani berbuat, tapi tidak berani bertanggung jawab.”
Eric mendekati Lolitta dengan senyum meremehkan.
“Lolitta, aku tahu kau masih mencintaiku. Karena itu kau iri pada adikmu. Tidak ada salahnya kalau kau menggantikan Yunny menanggung kesalahan itu. Yunny adalah nona besar di keluarga ini. Kau harus sadar diri. Sementara Dev Zhang adalah pria berkuasa yang tak bisa disentuh. Sedikit saja kau melawan, nyawamu yang jadi taruhannya,” ejek Eric.
Lolitta tertawa kecil. Tatapannya dingin menelusuri wajah pria itu dari atas ke bawah.
“Aku justru sangat berterima kasih pada papaku karena membiarkanku bertunangan dengan Dev Zhang. Setidaknya dia jauh lebih hebat darimu. Sementara kau…” ia berhenti sejenak, tersenyum tipis, “…hanya pria yang punya sosis mirip kucing dan telur busuk."
Wajah Eric memerah. “Apa yang kau katakan?!”
Di sudut ruangan, Yunny memperhatikan dengan jantung berdebar.
"Kenapa dia berubah seperti ini? Dulu dia sangat diam dan sabar. Bahkan tidak pernah melawan satu kata pun…"
“Lihat dirimu,” lanjut Lolitta tajam. “Seperti badut yang bangga karena bisa bergantung pada wanita. Tapi kau memang cocok dengan adik tiriku. Yang satu tidak tahu malu, yang satu lagi tak punya harga diri.”
Seisi ruangan langsung memanas.
“Lolitta, diam!” bentak Lolla.
“Lolitta, cepat minta maaf pada ibumu!” perintah Alex keras.
Lolitta mengeluarkan kain dari sakunya dan melilit telapak tangan kirinya perlahan.
“Dia bukan ibuku. Dia hanya wanita murahan yang masuk ke rumah ini lewat pintu belakang,” jawab Lolitta dengan senyum tipis.
Alex mengangkat tangannya, hendak menamparnya. Namun dengan cepat Lolitta menangkap pergelangan tangan ayahnya.
“Alex Fang, kau yakin ingin menamparku? Kalau sampai Kakek Dev bertanya kenapa wajahku ada bekas tamparan, aku hanya perlu mengatakan bahwa papaku sendiri yang melakukannya,” ucap Lolitta dingin sebelum mendorong tangan itu kasar.
“Lolitta, berlutut dan minta maaf pada Yunny karena kau sudah menghinanya!” bentak Eric sambil mencengkeram pundaknya.
Lolitta menepis tangan Eric, lalu dengan gerakan cepat menendang bagian bawah tubuh pria itu.
Eric langsung terjatuh sambil mengaduh kesakitan, membuat semua orang di ruangan itu terkejut dan terdiam.
“Lolitta!” teriak Alex marah.
Namun Lolitta sudah lebih dulu menghampiri Eric yang masih meringkuk di lantai. Dengan tangan kirinya, ia melayangkan satu pukulan keras ke wajah pria itu.
Bruk!
“Aaah!” jerit Eric kesakitan. Yunny dan Lolla ikut menjerit panik.
“Ini pukulan untuk perselingkuhanmu, dasar pria tak berguna,” ucap Lolitta tenang sambil berdiri kembali.
“Lolitta! Eric itu adik iparmu. Kenapa kau tega memukulnya?” teriak Lolla.
Lolitta menoleh pelan. “Aku tidak pernah mengakui putrimu sebagai adikku. Jadi jangan sembarangan mengaku sebagai keluargaku.”
Alex semakin murka. “Apa yang kau pelajari di dalam penjara sampai kau jadi semakin berani seperti ini?!”
Lolitta menatap ayahnya lurus tanpa gentar.
“Kau ingin tahu apa yang kupelajari di sana? Kekerasan. Cara bertahan hidup. Keberanian. Semua itu kudapatkan lewat penderitaan dan siksaan.” Ia menarik napas dalam. “Dan karena aku sudah berkorban demi putri kesayanganmu, jangan pernah mencoba menyentuhku lagi.”
Yunny memapah Eric yang mulutnya berlumuran darah. Beberapa giginya tampak patah.
“Lolitta… kau mematahkan gigiku…” rintih Eric.
Lolitta menatapnya tanpa iba. “Itu hanya peringatan. Lain kali jangan berani memerintahku. Kau bukan siapa-siapa.”
“Tuan, Dev Zhang datang!” seru asisten Alex dengan wajah panik.
“Apa? Dev Zhang? Bukankah besok? Kenapa hari ini dia tiba-tiba ke rumah?” tanya Alex heran.
"Tidak kusangka… kita akan bertemu dalam situasi seperti ini, "batin Lolitta.
Tak lama kemudian, Dev Zhang melangkah masuk bersama asistennya. Aura angkuh dan wibawanya langsung memenuhi ruangan.
“Tuan Zhang, selamat datang. Kenapa tidak memberi tahu kami sebelumnya?” sambut Alex dengan sangat sopan. Lolla ikut tersenyum ramah, sementara Yunny terpaku oleh ketampanan pria itu.
Namun Dev Zhang sama sekali mengabaikan mereka.
Tatapannya lurus tertuju pada Lolitta.
Lolitta membalas tatapan itu dengan wajah datar, tanpa emosi.