NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Kesalahan yang Terlalu Jauh”

Benny masih berdiri di tempat yang sama.

Sudah lima menit berlalu sejak Cessa meninggalkan ruangannya, tapi tubuhnya seolah membeku. Ponsel di tangannya terasa berat. Layar masih menyala, menampilkan pesan terakhir dari gadis itu.

Aku mau menikah sama kamu.

Benny menghembuskan napas kasar, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut. Ini gila. Sangat gila.

“Anak itu benar-benar sudah kelewat batas,” gumamnya.

Namun suara hatinya tidak sepakat.

Jika Cessa yang salah, lalu kenapa tubuhnya bereaksi?

Kenapa jantungnya berdebar seperti remaja bodoh yang baru jatuh cinta?

Benny membanting ponsel ke atas meja, lalu duduk di kursi kerjanya. Ia mencoba memaksa otaknya bekerja. Menjadi CEO berarti terbiasa mengambil keputusan besar dalam kondisi tertekan. Tapi keputusan ini… bukan soal bisnis.

Ini soal moral.

Soal usia.

Soal persahabatan.

Dan itu membuatnya jauh lebih sulit.

Ketukan keras di pintu membuat Benny tersentak.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka tanpa izin.

Brain berdiri di sana.

Wajahnya tegang. Matanya tajam. Aura santainya sebagai chef terkenal lenyap entah ke mana. Yang tersisa hanyalah seorang ayah.

“Lo apain anak gua?” tanya Brain tanpa basa-basi.

Benny mendongak. “Gua nggak ngapain-ngapain.”

“Jangan bohong,” suara Brain meninggi. “Cessa keluar dari kantor lo dengan wajah aneh. Dan barusan dia bilang—”

Brain berhenti. Rahangnya mengeras.

“Dia bilang apa?” tanya Benny pelan, meski jantungnya sudah tahu jawabannya.

“Dia bilang lo cium dia.”

Udara di ruangan itu seolah menghilang.

Benny berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras. “Itu bohong!”

“Dia bilang lo balas,” sambung Brain dingin.

Benny menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa langsung membantah.

Brain menyadarinya.

“Jadi benar,” ucap Brain lirih, tapi justru lebih berbahaya. “Lo sadar nggak apa yang lo lakuin?”

Benny mengusap rambutnya frustasi. “Dia yang mulai, Brain.”

“Dia masih anak gua!”

“Dia sudah delapan belas,” potong Benny cepat, lalu langsung menyesali ucapannya sendiri.

Wajah Brain makin gelap.

“Oh, sekarang lo pakai usia buat pembelaan?” sindirnya tajam.

Benny menghela napas panjang. “Gua nggak minta ini terjadi. Gua nggak pernah niat.”

“Terus kenapa lo balas?”

Pertanyaan itu menusuk tepat di dada.

Benny terdiam.

Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Keheningan menggantung berat di antara mereka. Dua sahabat lama. Dua pria dewasa. Terjebak oleh satu kesalahan kecil yang terasa terlalu besar.

“Gua bakal bawa Cessa pulang,” kata Brain akhirnya. “Jauh dari lo.”

Kata jauh itu membuat dada Benny menegang.

“Bagus,” jawabnya cepat. “Itu memang seharusnya.”

Brain menatapnya lama. Seolah mencari kejujuran di wajah sahabatnya. “Dan lo janji… nggak akan mendekatinya lagi.”

Benny mengangguk. “Gua janji.”

Namun entah kenapa, kata itu terasa hambar di lidahnya.

Brain berbalik pergi. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu saat ponsel Benny kembali bergetar di atas meja.

Benny refleks menoleh.

Nama yang sama muncul lagi.

Anak Nakal.

Brain ikut melihatnya.

Tatapan mereka bertemu.

“Angkat,” perintah Brain.

Benny ragu. “Brain—”

“Angkat. Sekarang.”

Benny menekan tombol panggil.

Suara Cessa terdengar di speaker, ceria tapi rapuh. “Ben…”

Benny memejamkan mata. “Cessa, pulang. Sekarang.”

“Aku nggak mau.”

Brain menyambar ponsel dari tangan Benny. “Cessa, ini ayah.”

Hening sejenak.

Lalu suara Cessa terdengar lebih kecil. “Yah…”

“Kamu pulang,” ucap Brain tegas. “Ayah jemput sekarang.”

“Aku nggak mau,” ulang Cessa keras kepala. “Aku mau sama Benny.”

Brain menutup mata, jelas menahan emosi. “Cessa, ini sudah kelewatan.”

“Kenapa sih semuanya ribut?” suara Cessa mulai bergetar. “Aku cuma jatuh cinta.”

Benny mengepalkan tangan.

“Dia sahabat ayah,” lanjut Cessa. “Terus kenapa? Perasaan aku salah ya?”

Brain terdiam.

Dan Benny… tidak sanggup mendengar lebih lama.

Ia mengambil ponsel itu kembali. “Cessa, dengar gua.”

“Ben…”

“Gua nggak bisa,” ucap Benny pelan tapi tegas. “Apa yang kamu rasain… salah tempat.”

Terdengar isakan kecil di seberang sana.

“Oh…” Cessa tertawa kecil, pahit. “Berarti ciuman tadi juga salah?”

Benny terdiam.

Kesunyian itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Gua ngerti,” kata Cessa akhirnya. Suaranya terdengar lebih dewasa dari biasanya. “Gua pulang.”

Telepon terputus.

Benny menatap layar ponselnya lama.

“Ini yang terbaik,” katanya pada dirinya sendiri.

Brain mengangguk pelan. “Gua harap begitu.”

Namun sebelum Brain benar-benar keluar, Benny bicara lagi.

“Brain.”

“Iya?”

“Kalau… kalau Cessa tetap ngotot?”

Brain tersenyum tipis, lelah. “Gua ayahnya. Gua yang bertanggung jawab.”

Benny mengangguk.

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Namun kali ini, sunyinya terasa menusuk.

Benny duduk perlahan. Ia menatap kursi di depannya—tempat Cessa tadi duduk di pangkuannya. Kenangan itu masih segar. Terlalu segar.

Ia mengira dengan menolak, semuanya akan selesai.

Ia salah.

Karena jauh di lubuk hatinya, satu ketakutan mulai tumbuh:

Bagaimana jika menjauh justru membuatnya kehilangan kendali?

Benny yakin keputusan ini benar.

Tanpa sadar, ia baru saja memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!