"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Siang hari, di kantor agensi tempat Bagas bekerja ruangan lagi panas-panasnya. Bukan karena AC mati, tapi karena kehadiran Cindy—si anak baru di tim Account Executive yang merasa dirinya adalah reinkarnasi model papan atas.
Cindy sudah dua jam duduk di ujung meja Bagas, memainkan rambutnya, dan mencoba masuk ke radar perhatian si Creative Lead. Rasa percaya dirinya benar-benar setara dengan model internasional.
"Mas Bagas," panggil Cindy dengan suara yang dibuat-buat serak basah, padahal cuma serak karena kebanyakan makan gorengan di kantin.
"Aku bingung deh sama brief klien ini. Kayaknya kalau kita bahas sambil makan siang di resto fine dining yang baru buka itu lebih dapet deh feel-nya, kan. Mas Bagas mau, kan?"
Bagas yang sedang fokus mengedit layout iklan (sambil sesekali menggaruk hidung pakai pulpen) hanya menoleh sekilas. Bagas kemudian merogoh ponselnya di atas meja.
"Bentar ya, Cin. Gue harus minta izin sama Mabes dulu. Kalau Mabes nggak ngeluarin visa, gue bisa dideportasi dari kamar tidur bentar malam," jawab Bagas santai.
Bagas langsung mengetik pesan di grup WhatsApp yang isinya cuma dia dan Dira. Nama grupnya:"DINAS KEBERSIHAN HATI"
BAGAS(TAPIR): Ndoro, lapor! Ada objek tak dikenal, spesies 'Ulat Bulu Estetik' di kantor ngajak makan siang di resto mahal yang piringnya segede gaban tapi nasinya cuma segumpal upil. Gimana? Gas atau Rem?
Hanya butuh sepuluh detik bagi Dira untuk membalas.
DIRA(NDORO): Gaskan, Pir! Tapi ada syaratnya. Lo harus bisa bikin dia bayarin makan lo, terus lo bungkusin gue porsi yang paling mahal di sana. Gue mau steak wagyu yang sapinya mati karena dipijet, bukan karena disembelih.
BAGAS(TAPIR): Siap Mabes! Tapi kalau dia mulai pegang-pegang tangan gue gimana? Gue harus pura-pura kena sawan atau gimana?
DIRA(NDORO): Kalau dia pegang tangan lo, lo tantang dia panco. Kalau lo menang, dia harus bayar makan kita berdua buat seminggu. Kalau lo kalah, lo harus pake daster gue buat buang sampah nanti malem. Deal?
BAGAS (TAPIR): DEAL! Doakan suamimu menang panco demi harga diri dan perut kita!
Bagas mematikan layar ponselnya dengan senyum penuh kemenangan. Dia menoleh ke Cindy yang masih setia menunggu dengan pose andalannya.
"Oke, Cin. Ayo berangkat. Tapi gue nggak bawa dompet ya, ketinggalan di patung ayam di rumah. Lo yang bayar dulu, nanti gue ganti pake doa," ujar Bagas sambil bangkit dan menyambar jaketnya.
Cindy langsung sumringah. Dalam hati dia membatin, "Gampang banget nih cowok ditaklukin. Bentar lagi juga luluh."
Sementara itu, di kantornya, Dira malah cekikikan sendiri gak peduli lagi di kantor, sambil megang ponsel pintarnya.
Teman sebangkunya, Manda—si Ratu Konspirasi—menoleh dengan curiga.
"Dir, lo kenapa? Ketawa sendirian kayak orang baru nemu harta karun di bawah ubin," tanya Manda sambil merapikan lipstik merahnya yang harus senada dengan warna kabel charger-nya.
"Nggak, Man. Ini si Tapir lagi dapet tawaran makan siang gratis dari 'ulat bulu' di kantornya. Gue lagi nunggu hasil taruhan panco mereka," jawab Dira enteng banget.
Manda langsung membulatkan mata, kaget sampai lipstiknya melenceng sedikit. "Lo gila Dir?! Suami lo diajak jalan cewek lain lo malah taruhan? Lo nggak takut si Bagas kecantol? Secara ya, Bagas itu kalau diem doang mirip aktor Korea, tapi pas ngomong emang mirip aktor sirkus sih. Tapi tetep aja bahaya!"
Dira menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap langit-langit kantor dengan santai.
"Man, lo harus paham hukum alam. Cewek itu bakal kena mental bukan karena gue labrak, tapi karena dia sadar kalau Bagas itu nggak bisa diajak serius. Biar dia tau rasa, makan siang sama Bagas itu lebih capek daripada lari maraton."
"Lu gak tau sih, se absurd apa laki gue itu."
Benar saja. Satu jam kemudian, ponsel Dira bergetar. Sebuah foto masuk. Foto Bagas sedang makan dengan lahap, sementara di depannya, Cindy tampak memegang kening dengan wajah pucat pasi.
BAGAS(TAPIR): Ndoro, gue menang panco! Tapi dia nggak mau bayarin seminggu, katanya kelamaan, bisa-bisa dia bangkrut, dia cuma mau bayarin sekarang doang. Soalnya tadi pas makan gue ceritain soal hobi kita yang suka ngumpulin tutup botol buat bikin replika Monas. Dia langsung diem seribu bahasa. Kayaknya dia sadar kalau gue bukan manusia, tapi alien yang tersesat.
DIRA(NDORO): Bagus! Mana pesenan gue?
BAGAS(TAPIR):Ini lagi nunggu wagyu lo di bungkus. Tadi mbak-mbak pelayannya bingung pas gue nanya 'Ini sapinya pas hidup bahagia nggak mas?'. Si Cindy pura-pura main HP biar nggak dianggap kenal sama gue.
Dira tertawa sampai bahunya terguncang. Dia menunjukkan pesan itu ke Manda dengan raut wajah bangganya.
"Tuh liat, Man. Mana ada pelakor yang betah dengerin Bagas nanya sejarah kebahagiaan sapi wagyu sebelum dipotong? Dia bakal mundur teratur tanpa perlu gue jambak."
Manda hanya bisa melongo. "Gue bener-bener heran... kalian berdua itu sebenernya pasangan suami istri atau pasangan komedian yang lagi magang di dunia nyata sih?"
"Dua-duanya, Man. Dua-duanya," sahut Dira puas.
Sore itu, Bagas pulang membawa satu kantong besar berisi steak wagyu mahal hasil "keringat" taruhannya. Di depan pintu, Dira yang lebih dulu sampai di rumah mereka, sudah menunggu dengan tangan bersedekap, bukan untuk marah, tapi untuk menagih upeti.
Bagas tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih sambil mengangkat tinggi-tinggi paper bag berisi makanan.
"Wagyu gratisss meluncurr Ndoro," seru Bagas bersemangat.
Bagas dan Dira bersama-sama masuk ke dalam kerajaan mereka(rumah), melangkah denga. Penuh ceria karena keduanya berhasil mendapatkan keuntungan dari seseorang yang normalnya bisa menjadi ancaman rumah tangga mereka.
Tapi karena Dira dan juga Bagas spesies yang berbeda dengan manusia kebanyakan, mereka justru menjadikannya candaan dan mengambil keuntungan dari hal tersebut.
Benar-benar pasangan terabsurd sejagad raya.
Entah di dunia ini hanya ada mereka atau mungkin ada Dira dan Bagas lain di belahan dunia, entah di mana.
Tapi, apakah kejayaan mereka kali ini akan bertahan lama? Ataukah besok Cindy akan kembali dengan rencana yang lebih ekstrem, seperti... membawa psikiater ke kantor untuk memeriksa kejiwaan Bagas?
Yang jelas mereka adalah pasangan kocak yang mungkin sebenarnya hubungan absurd mereka justru sangat di idam-idamkan oleh pasangan rumah tangga lainnya, yang kaku, atau bahkan yang tidak tau cara menghidupkan kehangatan di dalam rumah tangganya.
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍