“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2
Selama enam bulan Albiru tidak mengerjakan apapun selain berdiam diri di dalam kamarnya. Tapi hari ini, sesuai dengan saran dari Kartik—sahabatnya—Albiru kembali menjalani kehidupannya seperti biasa dengan melupakan Alisha.
Albiru kembali mengurus bisnis yang sudah dia jalani selama ini, dibantu oleh Adipati dan Kartik. Pria itu mencoba bangkit tanpa mengingat gadis yang pernah mencampakkannya begitu saja.
Sampai detik ini, Albiru tidak pernah lagi mendengar nama Alisha, bahkan mereka tidak pernah tahu di mana Alisha berada sekarang. Terakhir Kartik ke tempat mantan kekasih sahabatnya itu, mereka sudah pindah tidak tahu ke mana.
Kesibukan demi kesibukan Albiru jalani tanpa keluhan sama sekali, dia menjadi pria yang jauh lebih cuek, dingin, dan tidak mau membuka hati untuk siapapun.
Kesibukan ini berjalan hingga satu tahun setelah kepergian Alisha. Albiru kini sudah menjadi pria yang jauh lebih sehat secara fisik dan mental. Pria 30 tahun itu masih belum menemukan tambatan hati walau banyak gadis yang bersedia dipinang olehnya.
Satu tahun belakangan cukup membuat rasa sakit Albiru perlahan sembuh dan Alisha? Gadis itu masih belum ada kabar sampai detik ini. Mungkin saja dia sudah menikah dengan pria yang dia cintai itu atau sudah mati? Albiru tidak mau tahu lagi, baginya kehidupan ini sangat berharga untuk dijalani.
“Bagaimana kabarmu? Kau jauh lebih baik sekarang ya,” sapa Kartik yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruangan Albiru.
“Brengsek, baru datang sekarang kau setelah lima bulan ini menghilang ya, ayo masuk!” seru Albi diiringi sedikit kekehannya.
Kartik melangkah masuk dan duduk di kursi seberang meja kerja Albi dan melemparkan sebungkus rokok pada pria itu.
“Buka saja jendelanya biar asap tidak berkeliaran di sini,” ujar Kartik ketika Albi tampak ragu untuk mengambil rokok. Sudah lama sejak Kartik kembali ke Paris, Albi tidak lagi merokok.
Pria 30 tahun itu meraih rokok tersebut dan menarik satu batang lalu menyelipkan ke bibirnya, satu percikan api cukup untuk membuat rokok tersebut menyala.
“Bagaimana bisnismu? Apa semua berjalan dengan lancar?” tanya Albiru pada Kartik yang kini duduk dengan satu kaki dia lipat ke kaki lain.
“Lancar, sekarang aku ingin menghabiskan waktu di Indonesia. Kau sendiri bagaimana? Apa masih memikirkan gadis itu?” tanya Kartik yang tidak langsung dijawab oleh Albiru.
Albi menarik nafas pendek dan menghembuskannya pelan. “Terpikir sesekali tentu ada, dia satu-satunya gadis yang sangat aku cintai sampai detik itu tapi semua harus berjalan tanpa dia kan? Aku sudah mulai terbiasa tanpa Alisha, tanpa komunikasi dengannya dan tanpa bertemu dia. Aku jauh lebih baik sekarang,” jawab Albiru dengan senyum getirnya.
“Dalam satu tahun kau sudah mulai terbiasa tanpa dia, untuk tahun-tahun berikutnya kau akan bisa melupakan dia, Albi.”
“Semoga saja.”
...***...
Albi dan Kartik pulang ke kediaman Adipati, di sana sangat ramai mobil berjejer yang menandakan bahwa ada tamu penting dari Adipati.
“Tumben sekali seramai ini, apa orang tuamu mengadakan syukuran?” kelakar Kartik pada Albi.
“Tidak tau, ayo masuk!” balas Albiru.
Mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, seketika Albiru disambut hangat oleh Irma dan Adipati lalu memperkenalkan dia pada keluarga besar dari sahabat lama Adipati semasa mereka berada di Sulawesi dulu.
Albiru menyalami sahabat Adipati lalu duduk bergabung dengan mereka semua. Perbincangan kali ini tidak terlalu berat dan cukup membosankan bagi Albi hingga dia permisi untuk pamit ke dalam kamar terlebih dahulu.
“Jangan ke kamar dulu, Naya ingin ditemani jalan-jalan di Jakarta. Kamu temenin dong, Bi. Sekalian ajak dia kulineran biar gak bosen, kasian kan, dia sesekali datang ke sini,” sanggah Irma saat mencekal lengan putranya itu.
“Aku lelah, Ma. Minta sopir atau siapa saja yang menemani,” bisik Albiru membalas permintaan ibunya itu.
“Jangan gitu ih, tadi Mama udah bilang kalau kamu yang akan menemani Naya.” Irma juga berbisik pada putranya agar tidak ada yang mendengar perkataan mereka.
“Tapi aku ingin menghabiskan waktu bersama Kartik.”
“Kartik kan bisa menginap di sini nanti malam, bisa kalian ngobrol panjang lebar. Tapi Naya, dia bakalan balik dua hari lagi ke Sulawesi dan dia cuma minta waktu sore ini doang kok.”
Albiru tak mau membantah atau berdebat lagi, dia menyetujui permintaan Irma untuk membawa Naya pergi jalan-jalan keliling kota. Paling tidak jauh-jauh karena Albiru sendiri begitu malas pergi begini. Apalagi jika mengajak kulineran, dia pasti akan ingat pada Alisha sebab mantannya itu sangat suka jajanan.
Naya berdiri saat Albiru berdiri, gadis itu sangat cantik dan anggun, dia juga lebih muda dari Alisha. Usianya baru 23 tahun dan menjadi lulusan terbaik di kampusnya dulu.
Selama di dalam perjalanan, Albiru tidak bicara sepatah katapun pada Naya. Dia memilih fokus mengemudi hingga kecanggungan terasa sekali di dalam mobil.
“Memangnya kita mau ke mana ya, Mas?” tanya Naya hati-hati karena takut Albiru nanti kesal karena wajah pria itu terlihat tidak senang.
“Mana aku tau, kamu sendiri mau ke mana?” Albiru malah balik bertanya dengan nada ketus.
“Aku gak tau, kan aku baru ke Jakarta. Aku gak begitu hafal tempat ini, Mas.” Albiru mendengus kesal lalu menoleh pada gadis itu.
“Lalu? Kamu mau aku yang ajak dan nunjukin titik lokasi yang bagus, begitu?”
“Kalau Mas bersedia sih.”
“Menyusahkan saja,” decak Albiru lalu melajukan mobil menuju sebuah mall di pusat kota.
Albi memarkirkan mobilnya di sana lalu mereka turun. Dia memilih untuk menemani Naya jalan-jalan di mall ketimbang di luaran.
Naya terlihat sangat senang, dia memilih beberapa barang yang dia inginkan lalu membelinya. Albi sendiri hanya mengekori gadis itu tanpa berniat untuk membantu membawakan barang belanjaannya.
Setelah puas jalan-jalan, Albi membawa Naya pulang tanpa bertanya ingin kulineran dulu atau bagaimana. Dia sangat tidak betah bersama dengan gadis itu.
Setibanya di rumah, Albiru langsung pamit ke dalam kamarnya untuk istirahat sementara Kartik sudah pulang sejak tadi.
...***...
Pagi harinya waktu sarapan, Albiru sedikit kaget melihat Naya yang sudah ada di meja makan. Tatapannya pada Irma seakan bertanya, kenapa dia ada di sini? Irma yang paham akan tatapan itu tersenyum lalu mengajak Albiru menepi untuk bicara berdua.
“Naya akan menetap sementara di rumah ini sampai dia menemukan lokasi toko perhiasan yang ingin dia dirikan,” kata Irma memberitahu pada putranya.
“Dia akan buka toko di Jakarta?”
“Iya, Albi. Semua itu atas saran dari papa kamu. Orang tuanya setuju asalkan anaknya tinggal di sini dan dijaga oleh kamu.”
“Hah? Aku? Kenapa harus aku? Memang aku ini bodyguard dia?” Albiru mempertanyakan karena dia merasa sangat tidak terima.
“Albi. Apa salahnya menjaga gadis itu? Dia cantik dan manis, kasian kalau harus tinggal di apartemen sendiri.”
“Ma, aku mengerti ya, pasti dia di sini untuk dijodohkan denganku. Benarkan?” tebak Albiru yang membuat Irma senyum-senyum dan Albiru langsung mendengus kesal.
“Tidak ada salahnya untuk membuka hatimu, Albi.”