Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERCERAI???
Vina kembali melangkahkan kakinya ke depan. Jaka yang memang sedang berbaring di atas ranjang bambu yang berada di ruang tamu langsung menyadari kehadirannya.
"Mau kemana?" tanya Jaka sambil menatapnya. Bukannya menjawab pertanyaan dari Jaka . Vina malah terpesona oleh ketampanan Jaka.
"Gila....apa ini suami Vina? tampan juga ternyata. Tak kalah tampan dibanding aktor-aktor yang pernah Aku tonton," gumam Vina dalam hati. Tatapannya tak beralih sekalipun dari wajah Jaka.
Jaka merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Wajahnya terasa panas.
"Ekhm....."
Mendengar deheman Jaka, Vina langsung tersadar dari lamunannya.
"Maaf....tadi apa yang Kamu katakan?" tanya Vina dengan gugup.
"Kamu mau kemana? Apa tubuhmu sudah baikan?" Jaka mengulang perkataanya.
"Oh....lumayan. Aku mau keluar sebentar buat cari udara segar diluar," jawab Vina dengan agak kikuk.
Nadanya terdengar lembut di pendengaran Jaka. Justru itu membuat Jaka merasa terkejut. Karena tidak biasanya Vina berbicara dengan lembut dengannya.
Sejak menikah dengan Jaka, Vina memang tidak pernah berkata dengan lembut dengannya. Dalam segi usia Jaka memang lebih tua Jaka delapan tahun.
Saat ini Jaka sudah berusia dua puluh lima tahun, sedangkan Vina masih berusia delapan belas tahun.
"Vina!"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar rumah. Kebetulan pintu rumah memang tertutup. Sebelum Dewi keluar tadi , ia memang menutup pintu terlebih dahulu.
Vina pun bergegas membukanya. Ternyata yang datang adalah kakek Darma. Kakek Darma merupakan Kakek dari Vina. Beliau merupakan satu-satunya keluarga Vina yang tersisa dari pihak ibunya. Sedang untuk ayahnya, ia belum pernah mengenalnya.
Ayah Vina merupakan seorang pemburu yang berasal dari Kota. Hingga nyawanya melayang, Vina tidak pernah tahu identitas ayahnya. Karena memang sengaja dirahasiakan oleh Kakek Darma.
"Kakek!" seru Vina dengan riang. Entah kenapa ia tidak merasa canggung sama sekali saat berhadapan dengan Kakek Darma. Seolah-olah ia merupakan cucu aslinya.
Mendengar seruan Vina , perasaan tertekan yang sempat Kakek Darma rasakan perlahan menghilang. Siapapun bisa melihat kecemasannya saat bertemu dengannya tadi.
Siapa yang tidak akan cemas bila mendengar cucu kesayangannya tenggelam. Jika sampai cucunya itu tidak terselamatkan , ia pun tidak ingin hidup lagi. Tanpa Ia tahu bahwa cucu aslinya telah pergi meninggalkannya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Kakek Darma dengan lembut.
"Baik , seperti yang Kakek lihat, " jawab Vina tak kalah lembut. Kakek Darma juga terkejut mendengar nada bicara Vina.
"Ada yang bilang Kamu baru saja tenggelam."
"Ehm...tapi sekarang sudah baik-baik saja. Ayo masuk ke dalam dulu. Tidak baik berbincang di depan pintu."
Kakek Darma tanpa ragu mengikuti Vina masuk kedalam rumah. Beliau sudah tidak sungkan lagi masuk kesana. Karena hampir setiap hari beliau datang untuk menjenguk kondisi Jaka. Bagaimanapun Jaka tidak akan mengalami kondisi seperti ini , apabila tidak menyelamatkan nyawanya.
"Sore kek," sapa Jaka dengan hangat. Kakek juga menanggapinya dengan senyum hangat. Beliau duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.
Sebenarnya rumah ini hanya memiliki empat kamar. Satu kamar ditempati kedua orang tua Jaka. Satu kamar milik Dewi. Satu kamar milik adik lelaki Jaka . Dan satu kamar lainya milik Jaka.
Saat ini kamar milik Jaka ditempati Vina. Namun Vina tidak mau satu kamar dengannya. Jadilah Jaka tidur di ruang tamu. Sedangkan untuk si kembar tidur bersama adik-adik Jaka.
Ruangan itu juga tidak besar. Luasnya hanya dua kali tiga meter. Hanya ada satu ranjang bambu yang kini ditempati oleh Jaka dan dua kursi serta satu buah meja. Semuanya terbuat dari batang bambu .
Bukan hanya barang-barang itu saja yang terbuat dari bambu. Bahkan dinding rumah pun terbuat dari batang bambu yang sudah dipotong dan diolah menjadi sebuah anyaman.
Atapnya pun bukan dari genteng. Melainkan dari ijuk, yang berasal dari serat pohon aren (enau) yang hitam, keras, dan lentur, yang dianyam dan diikat dengan bambu.
Setelah Kakek Darma duduk , Vina juga duduk di kursi yang satunya.
Kakek Darma telah mendengar semuanya dari para tetangga. Jadi Beliau meminta maaf atas nama Vina.
"Maaf...lagi-lagi Vina membuat kekacauan," kata Kakek Darma dengan tulus. Vina langsung terkejut mendengarnya. Kakek berbicara seperti di depannya.
Jaka diam cukup lama sebelum menjawab ucapan Kakek Darma. Ia mengingat ucapan Dewi sebelum keluar dari rumah. Sepertinya ia memang harus tegas.
"Maaf Kek...Saya sudah tidak sanggup lagi menerima Vina tingal disini. Saya ingin bercerai dengannya."
Deg!
Bukan hanya Kekek Darma saja yang kaget mendengarnya. Vina pun turut terkejut . Namun setelah ia pikir-pikir apa yang dilakukan Jaka tidak salah. Siapa yang tahan hidup bersama wanita seperti Vina asli.
"Apa tidak bisa dipikir-pikir lagi? Kalau kalian bercerai siapa yang akan membantumu?" pinta Kakek dengan lembut.
"Soal itu tidak perlu Pak Darma pikirkan. Kami masih sehat untuk melakukan itu semua," ujar Pak Budi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Lagipula selama Vina tingal disini belum pernah sekalipun Ia menjalankan tugasnya dengan baik," lanjut beliu.
Semua menatap kearah Vina yang sedari tadi hanya diam tanpa bersuara. Vina langsung gugup dibuatnya.
"Kenapa Kalian menatapku seperti itu?" tanya Vina dengan gak kikuk.
Sebenarnya Vina lupa jika saat ini ia sedang menjadi sumber pembicaraan mereka, sangking asyiknya mendengar pembicaraan mereka. Bahkan dalam hati ikut mengumpat perilaku Vina yang asli.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Jaka datar.
"Apanya yang bagaimana?" tanya balik Vina dengan linglung.
"Kamu dengar kan pembicaraan Kami?"
Vina menganggukkan kepalanya dengan polos.
"Jadi?"
"......."
Vina bingung mau menjawab apa, sedangkan ketiga pria yang ada di sana menunggunya memberi jawaban atas pernyataan Jaka yang ingin bercerai dengannya.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Kakek Darma dengan panik.
"Baik," jawab Vina dengan jujur.
"Apa Kamu setuju bercerai?" tanya Jaka dengan serius.
"Nikah aja belum, kenapa sudah cerai," ucap Vina dengan polosnya.
"Ha?!!!!" ketiga pria yang ada disana langsung terkejut mendengar jawabanya. Apa setelah tenggelam ada masalah dengan otaknya. Kakek Darma langsung merasa khawatir dengan kondisinya.
"Sepertinya kondisinya tidak baik-baik saja. Aku akan membawa Vina pulang kembali ke rumah terlebih dahulu. Untuk masalah perceraian, tolong pertimbangkan sekali lagi," kata Kakek Darma sebelum membawa Vina pergi dari sana.
Tidak ada satupun yang menghalanginya . Vina pun juga patuh mengikuti kakek Darma pulang ke rumahnya.
Kini tinggallah Jaka dan Pak Budi di sana. Pak Budi kembali menanyakan keputusan Jaka.
"Kamu yakin kan mau bercerai dengan Vina."
"Hmmm...."
"Baguslah kalau begitu. Tenang saja nanti Kamu pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik darinya."
"Tidak usah berfikir terlalu jauh. Kami belum bercerai secara resmi. Meski bercerai pun Aku tidak berniat untuk menikah lagi."
Setelah mengucapkan itu , Jaka memejamkan kedua matanya.
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️