Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Ghent, Belgia.
Enam Tahun Kemudian.
Suara lonceng gereja berdentang pelan di kejauhan. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi suara langkah kaki kecil sudah terdengar dari lantai tiga rumah kontrakan tua di pinggiran kota Ghent.
Di loteng yang disulap menjadi kamar sempit, seorang bocah lelaki dengan rambut cokelat keemasan dan mata abu-abu cerah sedang duduk di depan papan tulis kecil. Ia mengenakan kaus tidur lusuh, tapi tangannya memegang spidol hitam, sibuk menulis rumus matematika yang bahkan tidak akan dipahami oleh siswa SMA.
Leon. Usianya lima tahun.
Rambutnya halus, wajahnya simetris, dan matanya tajam, penuh pengamatan. Ia tampak seperti versi mini dari model iklan pakaian anak-anak Paris, namun memiliki otak seperti ahli fisika yang dilahirkan terlalu cepat.
Tapi satu hal yang berbeda dari anak-anak jenius pada umumnya adalah, Leon menyembunyikan kejeniusannya.
Setiap pagi, sebelum dunia terbangun, sebelum ibunya berangkat kerja, dan sebelum dia dijemput oleh Madam Verenne, pemilik rumah kontrakan tempat mereka tinggal, Leon akan “bermain” dengan papan tulis, laptop bekas, dan buku-buku matematika dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris yang ia pinjam diam-diam dari perpustakaan kota.
Namun saat jarum jam menunjuk ke angka 6:30 pagi, Leon menutup semua itu, menyembunyikan catatan rumus ke dalam kotak sepatu, dan berpura-pura menjadi anak kecil biasa yang suka menggambar dinosaurus dan mobil-mobilan.
Karena ibunya, Elena, tidak tahu.
Bagi Elena, putranya adalah anak manis, pintar dalam cara sederhana. Bisa membaca sebelum usia tiga tahun, bisa berhitung dengan cepat, dan sopan. Tapi tidak lebih dari itu.
Elena terlalu sibuk bekerja, menjadi penerjemah freelance, guru les privat, dan sesekali pelayan kafe, untuk benar-benar melihat apa yang tumbuh di depan matanya.
Pagi ini, Elena masuk ke kamar Leon dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum.
“Sayang, Mama harus pergi lebih awal hari ini. Madam Verenne akan mengantarmu ke taman. Jangan lupa makan siangmu, ya?”
Leon berlari dan memeluk pinggang ibunya, menahan diri untuk tidak berkata banyak.
Dia ingin berkata,
“Mama, aku sudah membuat sistem kecil untuk menyimpan energi surya. Mau lihat?”
Atau,
“Mama, aku belajar bahasa Prancis sendiri minggu lalu.”
Tapi Leon tahu… ibunya terlalu lelah. Matanya bengkak karena begadang, dan tubuhnya gemetar karena cuaca dingin dan tekanan pekerjaan yang tak kunjung reda.
Jadi Leon hanya berkata,
“Baik, Mama. Hati-hati di jalan, ya.”
Elena tersenyum dan mengecup kening anaknya. “Anakku yang manis. Mama janji, suatu hari kita akan hidup lebih baik dari ini.”
Setelah Elena pergi, Leon duduk di kursi kecil dan memandangi langit dari jendela loteng.
“Suatu hari,” bisiknya, “aku yang akan mengubah hidup Mama.”
---
Hari-hari Leon dipenuhi dua kehidupan. Di depan Madam Verenne dan tetangga-tetangga, ia hanya bocah cerdas yang cepat menangkap pelajaran, mudah tersenyum, dan suka mengamati burung dari jendela. Tidak ada yang menyangka bahwa anak lima tahun itu telah meretas koneksi WiFi milik universitas lokal untuk mengakses jurnal ilmiah, atau diam-diam membangun robot kecil dari komponen microwave rusak yang ia ambil dari gudang belakang rumah.
Namun ada satu hal yang mulai tumbuh di dalam hati Leon, rasa ingin tahu tentang asal-usulnya.
Ia tak pernah melihat sosok seorang ayah. Elena tidak pernah membicarakannya. Tidak satu kali pun.
Dan saat ulang tahunnya kelima, Leon memberanikan diri bertanya saat mereka makan kue sederhana berdua.
“Mama… siapa ayahku?”
Pertanyaan itu membuat Elena terdiam, garpunya menggantung di udara.
“Mengapa kamu bertanya itu, Leon?”
Anak itu menatapnya dengan mata besar. “Semua anak di taman bermain punya ayah. Aku cuma ingin tahu… apakah ayahku punya mata seperti aku?”
Elena menunduk. Hatinya seperti dihantam petir yang tidak terlihat.
Dia tidak pernah menyiapkan jawabannya.
“Dia... pria yang sangat pintar. Tapi dia tidak tahu tentang kamu.”
“Kenapa?”
“Karena Mama memilih sendiri untuk membesarkanmu. Dan itu bukan keputusan yang mudah. Tapi Mama tidak menyesal.”
Leon diam. Ia tidak menangis, tidak marah. Tapi malam itu, setelah Elena tertidur, ia membuka laptop bekasnya dan mengetik.
"Top CEOs Europe with grey eyes, age 30s, genetic intelligence markers, 2019."
Hasil pencarian itu menampilkan satu nama yang menarik perhatian Leon.
Alexander Thorne.
Dan meski dia belum tahu pasti apa arti semua ini, hatinya berkata satu hal,
"Mungkin… aku berasal dari dunia yang sangat berbeda dari tempatku sekarang."
***
Malam di Ghent sunyi. Hujan gerimis mengetuk jendela kamar loteng dengan ritme lembut. Lampu baca kecil menyala redup, memantulkan cahaya ke layar laptop usang di atas meja.
Leon duduk dengan kaki dilipat, mengenakan piyama biru tua, dan mata tajamnya menatap layar penuh konsentrasi. Tangannya kecil, tapi cepat mengetik.
“Alexander Thorne, CEO, London, Grey Eyes, IQ 150+”
Ia menggulir hasil pencarian satu per satu. Foto-foto pria itu muncul. Wajahnya tampak dari berbagai sudut, dalam jas mahal di forum bisnis internasional, di majalah Forbes, di konferensi teknologi di Zurich. Pose tegas, senyum tipis, mata abu-abu dingin.
Leon mendekatkan wajah ke layar.
Wajah itu…
Bentuk alisnya. Tulang rahangnya. Hidung lurusnya. Bahkan caranya menatap kamera.
“Dia... mirip aku.”
Itu bukan perasaan biasa. Leon mungkin baru lima tahun, tapi dia tahu cara membandingkan fitur wajah secara struktural. Ia membuka file foto dirinya saat usia empat tahun, lalu menempatkan gambar itu di sebelah potret Alexander dari artikel Financial Times.
Sudut wajah, rasio lebar hidung dan jarak antar mata, bentuk dagu… 92% identik.
Leon meneguk ludah. Jari-jarinya bergerak pelan di atas touchpad.
“Alexander Thorne, Birth record, DNA projects, private fundings, Drexler Biolabs.”
Satu nama muncul lagi dan lagi. Drexler Biolabs, London.
Tempat ibunya dulu bekerja.
Leon melirik jam. 01:18 dini hari.
Ia membuka terminal kode, lalu memulai program kecil yang diam-diam ia kembangkan selama beberapa bulan terakhir. SCRYNet.
Sebuah alat sederhana untuk mengakses data metadata dari jaringan lama.
Setelah 12 menit, koneksi berhasil.
ACCESS GRANTED: Internal Archive, Drexler BioLabs
Leon tidak tahu sepenuhnya apa yang ia cari. Tapi instingnya kuat. Ia memasukkan kata kunci:
Donor Code: A.T.011
Fertility Program – Confidential Case – Genetic match 98.8% – Candidate: Elena Stratford
Layar menyala.
Leon membaca perlahan. Data itu sangat teknis, sangat formal. Tapi cukup untuk satu kesimpulan besar.
Alexander Thorne adalah sumber genetik dari program donor yang melibatkan ibunya.
Dan itu berarti satu hal.
---
Leon menatap pantulan wajahnya di layar. Kini ia tahu dari mana ia berasal.
Tidak dari pelukan, bukan dari cinta, bukan dari pelukan ayah-ibu seperti anak-anak lain. Ia dilahirkan dari kontrak, angka, dan laboratorium.
“Papa…”
Kata itu keluar begitu pelan dari bibir kecilnya.
Ia menutup laptopnya perlahan, lalu bangkit dan berjalan ke tempat tidurnya. Ia tahu tidak bisa mengatakannya langsung pada Mama.
Belum sekarang.
Tapi suatu hari…
ia akan bertemu pria itu.
Ia akan berdiri di depannya dan berkata, “Lihat aku. Kau tidak mengenalku, tapi aku lahir darimu.”
***
Musim semi datang ke Ghent, membawa hangat yang samar dan bau tanah basah dari taman kota. Bagi Elena, itu berarti waktunya berganti pekerjaan musiman, dari guru les menjadi penerjemah turis, dari barista ke pemandu wisata. Hidup masih keras, tapi senyum Leon selalu menjadi penyejuk paling manjur.
Dan Leon? Dia masih sama. Bocah lima tahun yang tidak pernah rewel. Tidak pernah meminta mainan mahal. Tidak pernah mengeluh saat makan malam hanya roti dan sup kentang.
“Terima kasih, Mama,” katanya setiap kali Elena pulang membawa biskuit sisa dari kafe tempat ia bekerja.
Dia tidak pernah membiarkan ibunya tahu bahwa dia bisa membuat sistem keamanan berbasis AI dari webcam tua dan dua sensor suhu. Dia tidak pernah menunjukkan catatan kecil yang ia sembunyikan di balik laci, skema sirkuit, algoritma pemetaan gerak, dan pengujian efisiensi daya.
Semua itu dilakukan di waktu-waktu di mana Elena tidur lelap, kelelahan karena hari yang panjang.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya