NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Masih lama ya Pa? Katanya udah mau landing, Papa boong sama Lia" oceh Melia yang kembali bosan saat berada di bandara sejak tadi hanya duduk diam.

Josep menoleh ke belakang. "Iya sabar dong Sayang, kamu mau snacks? Biar Papa belikan di minimarket" Josep tak ingin putri nya bosan. Ia begitu menyayangi Melia hingga semua permintaan putri nya itu pasti ia turuti walau harus mengeluarkan banyak uang.

"Boleh deh, Lia mau ikut juga dong" ucap Melia hendak bangkit dari duduk, ia ingin menemani Papa nya membelikan camilan.

"Eh nggak usah Sayang, kamu disini aja tungguin teman Papa. Biar mereka nggak pusing nyari-nyari lagi" Josep segera menahan pundak Melia yang hampir setengah berdiri.

Melia mengernyit heran. "Emang nya teman Papa tau Lia? Lia aja nggak tau loh teman Papa yang mana, saking banyak nya teman Papa" balas Melia membuat Josep tersenyum.

"Nanti kamu juga ingat kalau udah ketemu, udah ya? Papa ke minimarket dulu, nanti Papa bawain camilan yang banyak buat stok di rumah" ucap Josep segera berjalan menuju minimarket yang tersedia di bandara.

Melia menghela napas pelan dan kembali duduk di tempat nya yang belum sempat terasa dingin.

"Ini kenapa semua nya lama banget sih hari ini" keluh Melia merasa terlalu lama menunggu akan lumutan rasanya.

"Nak Melia?" panggil seorang paruh baya diikuti anak dan istri nya di belakang yang menyeret koper masing-masing.

Melia menoleh ke kanan dan mengernyit bingung. Ia belum menyahut karena masih mencoba mengingat siapa ketiga orang yang ada di hadapan nya ini.

Deg

Entah kenapa hati nya seakan ada yang menusuk dan membuat degupan jantung nya berbunyi kencang dan cepat.

"Kamu Melia kan? Anak nya Josep Julio kan?" tanya lelaki paruh baya itu lagi saat berada di hadapan Melia.

Tetapi, Melia tak fokus pada lelaki paruh baya itu, melainkan pada pemuda di samping nya yang terasa familiar di pikiran nya, bahkan hati nya seperti menyuruh nya untuk memeluk pemuda itu.

"Hai Rico!" sapa Josep langsung membuyarkan lamunan Melia yang terus menatap lekat ke arah pemuda yang memakai kacamata hitam dengan pandangan lurus ke arah nya juga.

"Di sapa nak, jangan cuma bengong aja" tegur Josep membuat Melia nampak kikuk dan mengusap tengkuk nya canggung.

"Maaf Om, tadi Lia lagi berusaha ngingat" elak Melia, padahal otak nya sama sekali tak singkron dengan mulut nya.

"Sorry ya nunggu lama, jadi nggak enak harus nunggu lama" ucap Rico dengan raut sungkan, apalagi ia juga sempat memperhatikan Melia yang nampak bosan.

"No problem, kita langsung ke rumah ku aja kah? Istri ku udah masak banyak buat nyambut kedatangan kalian" ajak Josep di angguki Rico dan sang istri.

...****************...

Di dalam mobil, Melia nampak curi-curi pandang ke arah sebelah kiri, tepat nya di pinggir. Sedangkan di tengah ada wanita paruh baya yang ia ketahui itu Mama dari pemuda itu.

Dia masih ingat aku nggak ya?

Batin Melia terus bertanya-tanya sesekali mencuri-curi pandang, saat hampir kepergok ia langsung berpura-pura seolah-olah melihat ke arah pemandangan di sebelah kiri.

Sesampainya dirumah, Melia segera masuk ke dalam rumah dengan membawa sekantong paperbag yang berisi camilan, ia akan menyimpan nya di dalam kamar nya.

"Lia, panggil Mama di dapur ya Sayang, bilang tamu kita sudah datang" ucap Josep di angguki patuh oleh Melia yang sejak tadi diam.

Usai memanggil Gina, Melia langsung naik ke lantai 2 dan mengunci diri nya di dalam kamar nya. Degupan jantung nya masih terasa bahkan rasa nya sulit menahan.

"Nggak salah lagi, dia Kak Dim.." lirih Melia yang yakin dengan pemuda yang nampak begitu dingin, dan tak terlihat garis senyum nya sama sekali.

"Tapi.. Kenapa dia beda sama Kak Dim yang dulu hangat ke siapapun.." lirih Melia lagi, ia bahkan tak mendengarkan suara panggilan dan ketukan pintu.

Tok tok tok

"Melia" panggil Gina menyadarkan Melia dan langsung Melia bukakan pintu nya sedikit, dengan kepala yang menyembul di balik pintu.

"Kenapa Ma?" tanya Melia dengan cengiran kuda menampilkan gigi gingsul nya yang membuat wajah nya terlihat lucu.

"Cepat turun, kita makan siang" jawab Gina di angguki Melia. "Lia ganti baju dulu bentar, gerah pakai seragam terus" Gina mengangguk dan kembali turun ke lantai 1.

Melia turun dengan pakaian yang lebih santai, ia mencoba menetralisir kegugupan yang tiba-tiba melanda.

Terdengar tawa dan obrolan singkat di meja makan sembari menunggu kedatangan nya.

"Maaf menunggu lama" ucap Melia dengan tak enak, ia pun duduk di kursi kosong samping Gina yang langsung berhadapan dengan pemuda itu.

Kini terlihat jelas mata pemuda itu tanpa ditutupi oleh kacamata hitam, ya pemuda itu benar-benar Dimas. Laki-laki itu. Melia begitu merindukan nya.

"Karena semua anggota sudah lengkap, sekarang kita mulai makan siang nya" ucap Josep sebagai kepala keluarga dan pemilik rumah.

Mereka pun makan siang dengan khidmat dan hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring putih.

Usai makan, barulah mereka kembali mengobrol diiringi canda dan tawa.

"Mel, Dim.. Kok kalian jadi canggung begini? Dulu kalian nggak terpisahkan" cetus Emelin, istri dari Rico yang merasa Melia dan Dimas tak ada obrolan atau sapaan satu sama lain.

Melia nampak tersenyum malu dan mengusap tengkuk leher nya yang terasa dingin.

"Aih malu-malu itu mereka, udah besar juga. Tau lah nama nya malu-malu kucing" balas Gina ikut mencairkan suasana Melia dan Dimas.

"Ma.." seru Melia dengan lirih, ia sempat tertangkap basah sedang curi-curi pandang oleh si empu yang ia tatap sejak tadi.

Gina terkekeh begitu juga Emelin yang merasa lucu dengan tingkah Melia yang malu-malu.

Melia kembali melirik tipis ke arah Dimas yang nampak berbisik ke arah Emelin, kemudian Emelin mengangguk dengan tersenyum.

"Mau kemana anak mu Lin?" tanya Gina seperti mewakili Melia yang penasaran tiba-tiba Dimas beranjak tanpa mengucapkan apapun selain berbisik.

"Cari angin katanya, Lia mau temanin Dimas di luar nak?" jawab Emelin membuat Melia mengedipkan mata nya beberapa kali.

"Ah nggak usah deh Tante, Lia mau balik ke kamar aja. Ada tugas sekolah yang belum Lia selesaiin" balas Melia menolak dengan halus.

Emelin mengangguk disertai senyuman. Melia segera berpamitan dan kembali ke kamar nya.

Dengan helaan napas Melia berjalan menuju balkon yang terdapat di kamar nya, memang khusus untuk nya bersantai, dan itu di buatkan oleh Josep yang memang seorang arsitek terkenal.

"Masa Kak Dim lupa sama aku?" gumam Melia sembari menatap ke arah pepohonan yang tinggi dan hijau di depan nya.

Tanpa Melia sadari, Dimas memperhatikan nya dari bawah dengan tatapan tajam tapi tersirat kerinduan yang mendalam.

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!