NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Para Pengawal

Empat pengawal dan kusir yang merupakan saudara seperguruan Arjo sontak mengikuti arah pandangnya.

"Wedok?" Jupri memicingkan mata, tapi gerakan sosok tadi terlalu cepat. Tak bisa membedakan laki-laki atau perempuan. "Mosok, to?"

"Iyo, ono susune. Gedhi. Semene." (Iya, ada buah dadanya. Besar. Sebesar ini.)

Arjo membentuk kedua telapak tangannya seperti mangkuk, mengukur di depan dadanya sendiri.

Sontak semua kepala menoleh padanya. Melongo.

"Kok ngerti, kowe?" tanya Jono—kusir yang berdiri di dekat kuda.

"Yo ngerti. Kan tak periksa. Soale matane apik."

(Soalnya, matanya indah.)

Dirno menepuk pelan dahi Arjo. "Sempet-sempete, hlo! Wong tarung yo tarung ae, kok sempet-sempete gratil. Memangnya kenapa kalau perempuan?"

(Orang bertarung ya, bertarung saja. kok sempat-sempatnya usil.)

Arjo terkekeh. "Yo disempet-sempetke, to. Soale … sepertinya aku pernah lihat matanya, Dir. Tapi di mana … lupa."

Tikno berseloroh sambil menyeka keringat, "Nek bupati asli koyo kowe, bahaya, Jo. Entek wedok sekadipaten."

(Kalau bupati asli sepertimu, bahaya, Jo. Habis perempuan sekadipaten.)

Arjo terkekeh semakin keras. "Mangkane aku cuma dadi tukang urus jaran (kuda), yo. Gusti Allah adil."

Wondo mengangkat tangan hendak menepuk kepala belakang Arjo, tapi yang bersangkutan lebih cepat menghindar.

"Utekmu isine wedokan ae! Eling... Ndoro Gusti Bupati ora mata keranjang."

(Otakmu isinya perempuan saja. Ingat … Ndoro Gusti Bupati tidak mata keranjang.)

Arjo nyengir lebar. "Hlo, Ndoro Gusti Bupati tidak kurang ajar karena punya banyak istri, cantik-cantik. Lah aku … perempuan cantik mana yang mau dengan pengurus kuda? Orangtua tidak punya, tidak jelas siapa orangtuanya. Warisan tidak punya. Lah kalah saing aku sama meneer-meneer itu. Yang cantik-cantik tapi melarat jadi gundik. Kalau tidak, jadi istri selir pejabat kadipaten. Mumpung ada kesempatan, Won. Kapan neh?"

Jupri terkekeh sambil memasukkan pedang ke sarung. "Ora ngamuk mbok cekel ngono e?" (Tidak marah kamu pegang itunya?”

"Yo ngamuk." Arjo menyentuh hidungnya yang masih ngilu. "Yo marah, to. Ini hidungku yang mancung sampai dihantam dengan kepala.”

Jupri menepuk bahunya. “Kapok! Untung ora perkututmu seng dihajar.”

Kelimanya tertawa. Kecuali satu orang.

Kamto—pemimpin pengawal, pria paling tua di antara mereka, sejak tadi diam mengamati sekeliling. Matanya menyisir pepohonan, semak-semak, bayangan apa pun yang mencurigakan, memetakan ke arah mana kemungkinan para penyerang itu kabur.

"Wis." Suaranya pelan tapi tegas, memotong tawa mereka. "Cukup tertawanya. Ayo pergi."

Tawa para pemuda itu langsung surut.

Kamto memberi perintah dengan suara tegas. Empat pengawal kembali ke posisi mengawal. Ia sendiri akan berpisah, mencari Ndoro Gusti Bupati yang asli untuk melapor.

"Selama aku tidak ada, jangan macam-macam." Matanya menatap tajam satu per satu, lalu berhenti di Arjo. "Terutama kamu, Jo. Kamu itu yang paling bandel. Jaga wibawa. Kamu sekarang Gusti Bupati."

Arjo mengangguk, wajahnya berubah serius, takut pada pria 40an tahun ini.

"Bersihkan kereta dari anak panah. Buat seperti tidak pernah diserang. Kalau sudah sampai bengkel kadipaten, serahkan kereta untuk diperbaiki. Ndoro Gusti Bupati akan pulang pakai kereta cadangan."

"Lha aku, Pakde?" tanya Arjo.

"Kamu langsung pulang ke padepokan. Jangan mampir-mampir."

Arjo hendak protes, tapi tatapan Kamto membuatnya mengurungkan niat.

"Nggih, Pakdhe."

Kamto mengangguk singkat, lalu memacu kudanya ke arah berlawanan, menghilang di tikungan jalan.

\~\~\~

Kereta kembali bergerak setelah dirapikan. Di dalam, Arjo duduk dengan tirai sedikit terbuka, cukup untuk mengintip ke luar tanpa terlalu mencolok. Beskap hitamnya sudah dibersihkan sebisanya dari debu pertarungan tadi. Wajahnya kembali memasang topeng ningrat yang penuh wibawa.

Meski dalam hati masih memikirkan mata perempuan tadi, mencoba mengingat-ingat di mana pernah bertemu.

Jalan yang mereka lalui semakin ramai ketika mendekati kawasan pembangunan. Suara-suara mulai terdengar bahkan sebelum pemandangannya terlihat; dentang palu menghantam besi, derit roda gerobak pengangkut batu, seruan mandor, dan sesekali... suara pecut membelah udara.

Arjo menyibak tirai lebih lebar.

Di sisi kanan jalan, membentang proyek raksasa yang mengubah wajah tanah kadipaten: pembangunan jalur kereta api.

Rel-rel besi mengkilap di bawah terik matahari, terbentang lurus membelah sawah dan perbukitan, menghubungkan kadipaten ke kota-kota besar di pesisir utara.

Tiang-tiang kayu penanda jalur berdiri tegak sejauh mata memandang. Di beberapa titik, jembatan besi sedang dibangun, rangka-rangkanya menjulang seperti tulang rusuk raksasa yang belum ditumbuhi daging.

Dan yang membangun semua itu, puluhan lelaki bertelanjang dada, kulit terbakar hitam kemerahan, bekerja di bawah matahari yang tak kenal ampun.

Mereka mengangkat bantalan kayu, memikul batu kerikil, meratakan tanah dengan cangkul yang tampak terlalu berat untuk tubuh mereka yang kurus.

Rantai besi melingkar di pergelangan kaki mereka, saling terhubung satu sama lain, lima orang per kelompok. Mustahil melarikan diri tanpa menyeret empat orang lainnya.

Tahanan.

Arjo tahu siapa mereka. Pembunuh. Pemerkosa. Perampok yang tangannya berlumur darah. Penjahat-penjahat yang hukumannya diringankan dari tiang gantung menjadi kerja paksa sampai mati, membangun kebesaran kadipaten dengan keringat dan penderitaan mereka.

Seorang mandor bertubuh tambun dengan kumis tebal dan cambuk kulit di tangan, mengayunkan pecutnya ke punggung tahanan yang gerakannya terlalu lamban. Lelaki itu meringis tapi tidak berteriak. Mungkin sudah terlalu sering merasakan.

"Kerja! Jangan bermalas-malasan!"

Di sudut lain, seorang tahanan tertawa sendiri. Rambutnya gimbal berantakan, matanya kosong, mulutnya terus bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar Arjo. Bahkan ketika pecut mendarat di punggungnya, ia tetap tertawa, suara yang lebih menyerupai lolongan.

‘Wong gendeng,’ pikir Arjo.

Polisi pribumi berjaga di sekeliling area kerja, senapan teracung siaga. Seragam mereka lusuh oleh debu, tapi peluru di sabuk mereka mengkilap. Siap ditembakkan kalau ada yang mencoba melarikan diri.

Kereta bupati melintas pelan.

Para mandor yang menyadari lambang kadipaten di pintu kereta langsung membungkuk hormat. Beberapa menyentak tahanan agar ikut memberi hormat, meski yang bisa dilakukan para lelaki berkaki rantai itu hanya berhenti bekerja sejenak dan berjongkok dengan tangan membentuk sembah.

Arjo memasang wajah datar dari balik jendela. Memandang dengan tatapan yang ia harap tampak seperti tatapan sang Bupati; tegas, menilai, tapi tidak kejam.

Salah satu tahanan mengangkat wajah. Mata mereka bertemu.

Lelaki itu sudah tua. Rambutnya memutih. Kulitnya keriput dan penuh luka cambuk yang sudah menghitam. Tapi matanya, matanya masih hidup. Penuh kebencian yang terlalu dalam untuk dipadamkan kerja paksa bertahun-tahun.

Arjo tidak memalingkan wajah. Seorang bupati tidak akan memalingkan wajah dari tatapan tahanan.

Tapi dalam hati, sesuatu bergejolak. Agak ngeri dengan tatapan yang seolah mengutuk. Entah apa masalahnya dengan sanga bupati, tapi satu yang pasti, tatapan itu membuat sekujur kulitnya meremang.

‘Aku bukan bupati,’ ingin ia berteriak. ‘Aku cuma tukang kuda yang kebetulan berwajah mirip.’

Kereta bergerak melewati area pembangunan. Perlahan, suara palu dan pecut menjauh. Pemandangan berubah menjadi persawahan hijau yang damai.

Arjo menutup tirai. Dadanya berdebar.

1
Eniik
apakah dia jodohmu jo 😂 sangat cocok
Astuti Puspitasari
Cerdas sekali kamu jo 🤣👍
Muhammad Arifin
cocok JD pasanganmu Jo 😁😁
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ🫦
kena kau kenes 🤣🤣🤣
SENJA ℘ℯ𝓃𝓪
kamu ini jo 🤣
SENJA ℘ℯ𝓃𝓪
sabar bentar lagi ilang kok si mak lampir 🤣
Ricis
jangan sampai Agnes mengalihkan duniamu Arjo, fokus 😀
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hayoo joo
sopo kae jal
padhal kui plg kerjaane si kusumawati kan dek e paling sok yes klakuane ngilani
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hadir di sini ndoro maaf baru sempat buka ndoro
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ayu ora joo
ehhh empuk yo jo 🤣🤣🤣🤭🤭🤭

terus piye jo enak ora dadi bupati 🤭🤭🤭🤣
Fetri Diani
Nyi seger pakai cushion apa ndoro? boleh dong kranjang kuning nya... 🤭
Hayisa Aaroon: lempung 😂 menghaluskan kulit, kasih minyak kelapa dan bubuk rempah
total 1 replies
Eniik
❤❤❤
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ🫦
saking galfoknya sampe lupa JD bayangan😭😭😭
lilyrose
fokus jo 🤣
Muhammad Arifin
keceplosan 🤣🤣🤣🤣
Kustri
agnes lg mikirke kowe, Jo
mulane gelisah
Teh Qurrotha
aduh Arjo🤣🤣🤣🤣
belum menikah, iya sih Arjo Khan masih bujang tingting 😄
Ricis
waduh Jo, calonmu dah mau dijodohkan itu.. Ndang gercep 😅
Kenzo_Isnan.
knp dl kenes nyerang bupati kak ,,apa q lp atau krg tliti yg baca ya tp kok q sll brtnya" ttg itu 😅
Hayisa Aaroon: memang kerjaannya Kenes begal ningrat kaya 😅
total 1 replies
Wiya Tun
penasaran Karo kelanjutane cerito cintane arjo 🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!