Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Luka yang Tak Pernah Kering
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta
Hawa panas Jakarta langsung menyapa kulitku begitu aku melangkah keluar dari terminal kedatangan. Dua tahun di Inggris membuatku sedikit lupa betapa menyengatnya matahari di sini. Tapi bukan panas matahari yang membuatku berkeringat dingin, melainkan sosok yang berdiri di area penjemputan.
Bukan sopir keluarga yang menjemputku.
Itu dia. Arvino.
Dia berdiri bersandar pada mobil SUV hitamnya, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung hingga siku. Dia terlihat lebih dewasa, lebih matang, dan sialnya... lebih tampan dari dua tahun lalu. Di sampingnya, Mbak Sarah berdiri dengan perut yang sudah sangat besar, melambai antusias.
"Aluna!!"
Sarah berjalan agak terhuyung karena beban perutnya. Aku segera berlari kecil, mengabaikan koperku, dan memeluknya.
"Hati-hati, Mbak. Jangan lari," tegurku.
"Kamu sih lama sekali keluarnya," gerutu Sarah, tapi pelukannya erat. Dia mencubit pipiku. "Kamu kurusan! Apa makanan di Inggris tidak enak?"
Aku hanya tertawa kecil. Mataku perlahan melirik ke arah Arvino yang kini berdiri di dekat kami. Dia tersenyum. Senyum "kakak" yang ramah.
"Selamat datang kembali, Dokter Kecil," sapa Arvino. Dia mengulurkan tangan untuk mengacak rambutku, kebiasaan lamanya.
Tubuhku membeku saat tangannya menyentuh kepalaku. "Hai, Kak Vino," jawabku kaku. Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.
Arvino tampak sedikit terkejut dengan reaksiku yang menghindar, tapi dia tidak berkomentar. Dia beralih merangkul pinggang Sarah dengan protektif. "Ayo kita pulang. Mama sudah masak besar untuk menyambutmu."
Di dalam mobil, aku duduk di kursi belakang. Pemandangan di depanku adalah siksaan murni. Tangan kiri Arvino yang tidak memegang setir, terus menggenggam tangan Sarah yang diletakkan di atas perut buncitnya.
"Sayang, nanti mampir beli asinan ya? Anakmu mau asinan," rengek Sarah.
"Apapun untuk Tuan Putri dan Pangeran Kecil," jawab Arvino lembut, lalu mengecup punggung tangan Sarah.
Aku membuang muka ke luar jendela, menatap jalan tol yang padat. Dadaku sesak.
Flashback, Jakarta 2011
"Kak, aku akan kuliah di kampus yang sama dengan kakak."
"Benarkah? Baguslah, aku bisa menjagamu."
Senyum itu. Harapan itu.
Aku ingat betapa hancurnya aku saat mereka mengumumkan kencan pertama mereka di ruang keluarga. Saat itu, Mama bilang mereka saling menyimpan rasa. Lalu di mana posisiku? Apakah perhatian Arvino selama ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh harapanku sendiri?
Hanya Nenek yang tahu. Saat aku menangis di pangkuannya hari itu, aku berjanji akan mengubur perasaan ini. Tapi nyatanya, cinta pertama tidak semudah itu mati.
Flashback End
"Aluna, kamu melamun?"
Suara Arvino membuyarkan lamunanku di masa kini. Aku melihat dia menatapku lewat spion tengah.
"Tidak, Kak. Cuma jetlag," dustaku.
"Sampai di rumah, periksa kandungan Sarah ya," ujar Arvino, nadanya berubah serius. "Dia sering mengeluh sakit punggung dan kakinya bengkak parah akhir-akhir ini. Dokter kandungannya bilang itu wajar, tapi aku khawatir."
"Arvino ini lebay, Aluna," sahut Sarah tertawa. "Padahal aku baik-baik saja."
Aku menatap kaki Sarah yang memang terlihat sangat bengkak (oedema). Sebagai dokter, instingku langsung bekerja. Bengkak itu terlihat tidak wajar.
"Nanti aku cek tensi Mbak Sarah," jawabku singkat.
Sesampainya di rumah besar keluarga Hardinata, sambutan hangat langsung kuterima. Mama, Papa, dan Nenek sudah menunggu.
"Cucu kesayangan Nenek!" Nenek yang duduk di kursi roda merentangkan tangannya.
Aku menghambur ke pelukannya. Aroma minyak kayu putih dan kehangatan tubuh Nenek adalah satu-satunya tempat aku merasa aman di rumah ini.
"Nenek, aku pulang," bisikku.
"Wajahmu pucat, Nduk. Apa hatimu masih sakit?" bisik Nenek sangat pelan, hanya aku yang bisa mendengar.
Aku mengangguk samar di pelukannya. Nenek menepuk punggungku menguatkan.
Malam itu, setelah makan malam keluarga yang penuh tawa—dimana aku hanya menjadi penonton kemesraan Arvino dan Sarah—aku masuk ke kamar Sarah untuk memeriksanya sesuai permintaan Arvino.
Sarah berbaring di kasur, Arvino duduk di sampingnya, memijat kaki istrinya.
Aku mengeluarkan tensimeter.
"Permisi ya, Mbak."
Saat cuff tensimeter menekan lengan Sarah, aku melihat angkanya. Alisku bertaut.
150/95 mmHg. Tinggi. Terlalu tinggi.
"Mbak sering pusing?" tanyaku.
"Sedikit. Kadang pandanganku agak kabur, tapi kata dokter itu karena kurang tidur," jawab Sarah santai.
Aku menatap Arvino. "Kapan terakhir kontrol?"
"Tiga hari lalu. Katanya semua normal," jawab Arvino.
"Ini tidak normal," kataku tegas. "Tensi Mbak Sarah tinggi. Kakinya bengkak parah. Ini gejala preeklamsia. Mbak harus bedrest total, kurangi garam, dan kita harus pantau protein urinnya."
Arvino mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan nada bicaraku. "Jangan menakut-nakuti, Aluna. Dokter spesialis kami bilang dia baik-baik saja. Kamu baru lulus, jangan sok tahu."
Kalimat itu menohokku.
"Aku memang baru lulus, tapi aku lulusan terbaik, Kak. Aku tidak main-main dengan nyawa," balasku tajam. "Mbak Sarah harus dijaga ketat."
"Sudah, sudah," Sarah melerai. "Arvino, Aluna cuma khawatir. Aku akan istirahat ya, Lun. Terima kasih."
Aku membereskan alatku dengan hati dongkol. Arvino menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kesal dan curiga. Seolah-olah peringatanku adalah doa buruk untuk istrinya, bukan diagnosis medis.
Jika saja aku tahu bahwa itu adalah awal dari mimpi buruk yang akan menghancurkan hidupku, mungkin aku akan menyeret Sarah ke rumah sakit malam itu juga.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️