Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana membujuknya?
"Pah, Papah! Papah dimana Pah?"
Thea terus berteriak memanggil sang Papa tanpa henti hingga membuat keributan.
Papa Jordan yang sedang bersantai di belakang rumah bergegas menghampiri anaknya yang terlihat sangat marah.
"Iya sayang I'm coming," sahut Papa Jordan sambil berlari kecil menghampiri Thea.
Thea membanting tas miliknya ke atas sofa dengan cukup kasar. Drama ini sungguh menjengkelkannya.
Pak Jordan datang dengan wajah memelas seperti biasanya.
"Ada apa lagi ini, Pah?" tanya Thea sambil melipat kedua tangannya.
Pak Jordan terkekeh kecil, "Kenapa kamu berteriak seperti itu? Tidak enak jika didengar oleh orang lain," ujar Pak Jordan dengan suara lirih.
Thea menghela nafasnya mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Apa maksud Papa mengirim pria tidak dikenal menjemput Aku ke sekolah, lalu dia mengaku-ngaku sebagai calon suami Thea di depan teman-teman Thea, Pah? Ini nggak lucu!" ucapnya dengan nada tegas.
Pak Jordan memegang lengan Thea dengan lembut, "Tenang dulu sayang, ayo kita duduk dulu lalu membicarakan ini semua pelan-pelan," ajak Pak Jordan sambil menuntun Thea menuju sofa seperti anak kecil.
Dari kejauhan, Sagara tersenyum tipis saat melihat tingkah Thea yang begitu kekanak-kanakan. Sebenarnya Sagara juga menolak perjodohan ini karena dia tidak suka perjodohan, namun karena Pak Jordan sudah banyak membantu keluarganya akhirnya dia memutuskan untuk mencoba perjodohan ini dan ingin mencoba untuk meluluhkan hati Thea terlebih dahulu.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu yang di ketuk dari arah luar.
Sontak Pak Jordan menoleh sambil tersenyum lebar.
"Sagara, ayo masuk," ajak Jordan dengan ramah.
Thea memutar kedua bola matanya sambil melipatkan kedua tangannya kedalam dada saat melihat kedatangan Sagara.
"Terima kasih, Om."
Sagara pun masuk tanpa ragu setelah dipersilakan oleh tuan rumahnya.
Jordan kembali duduk disamping putri kesayangannya.
"Kamu mau minum apa? Biar Thea ambilkan," tanya Pa Jordan.
Thea langsung menoleh dengan wajah malas, "Pah, kenapa Thea?" protes gadis itu yang langsung berdiri.
Pa Jordan langsung menangkap lengan Thea agar dia tidak kabur.
"Tetap di sini, Thea!"
Pak Jordan melotot kan matanya.
Dengan wajah kesal mau tidak mau Thea pun menuruti kemauan sang Papa untuk menghormatinya di depan tamu.
Sagara tersenyum ramah, "Tidak usah repot-repot Om," tolak Sagara dengan sopan.
"Baguslah sadar diri!" cetus Thea sambil membelakangi Sagara.
Pak Jordan menepuk bahu Thea karena ucapannya tidak sopan. "Maafkan anak Om ya Sagara, anak Om memang sedikit kekanak-kanakan," ujar Pak Jordan sambil memainkan tongkat miliknya.
"Tidak apa-apa Om, saya sudah paham betul dengan sikap anak jaman sekarang," ucap Sagara sambil tersenyum pada Jordan.
Thea mendengus sambil menggerutu keras, "Pura-pura baik lagi! Dasar Om-om nggak laku!"
Pak Jordan kembali menghela nafasnya sambil menatap ke arah Thea.
Thea yang merasa ditatap oleh sang Papa segera membelakanginya sambil memanyunkan bibirnya.
"Om, kalau begitu saya mohon izin untuk pamit pulang dahulu ya, Om. Besok saya akan datang lagi untuk menjemput Thea."
Thea kembali tersentak, "Apa! Ngapain Lo jemput lagi Gue? Emangnya Gue anak TK apa yang harus diantar jemput supir? Lagian Gue nggak butuh supir!" ketus Thea dengan kasar.
Pak Jordan segera menegur Thea yang terlalu kasar berbicara kepada tamunya.
"Thea, apa yang kamu ucapkan! Tidak baik berbicara kasar seperti itu kepada tamu! Ingat, dia adalah tamu di rumah ini," sentak Jordan yang sedikit membentak Thea.
Kali ini sang Papa benar-benar marah karena lelaki kolot itu, tak ingin membuat sang Papa semakin kesal, akhirnya Thea mengalah lalu kembali duduk di sofa yang agak jauh dari sang Papa.
"Om, saya pamit sekarang," ucap Sagara lagi.
Pak Jordan berdiri, "Loh, kamu mau ke mana? Minuman kamu saja belum ada, jangan buru-buru dulu, kita berbincang-bincang dulu lah sebentar," bujuk Pak Jordan dengan suara lirih khas orang tua.
"Tidak usah repot-repot Om, saya benar-benar harus pergi sekarang karena kebetulan hari ini saya ada meeting penting, Om," ucap Sagara.
Pak Jordan menghela nafasnya sambil menundukkan wajahnya karena berpikir mungkin saja Sagara sudah kecewa dengan sikap Thea yang begitu kasar.
"Baiklah, Kamu yakin tidak ingin minum dahulu?" tanya Jordan lagi, ingin memastikan jika dia tidak kecewa.
Sagara tersenyum hangat, "Tidak Om, saya ucapkan terima kasih banyak untuk jamuannya," ucapnya.
Pak Jordan menganggukkan kepalanya, "Baiklah jika kamu ingin pulang, titip salam untuk kedua orang tua Mu ya, Saga," ucap Pak Jordan.
"Tentu, Om."
Sagara mencium telapak tangan Pak Jordan sebelum dia pergi. Namun, dia tidak lupa untuk berpamitan kepada calon istrinya itu.
"Thea, kalau begitu Aku pamit untuk pulang dahulu ya, besok aku akan mengantarkan kamu pergi ke sekolah."
Thea tak berniat ingin basa-basi, bahkan dia masih membelakangi Sagara dengan wajah kecutnya. "Kalo Lo mau pulang, ya pulang aja! Nggak usah pamitan segala! Lagian Lo bukan siapa-siapa Gue kali, dan besok Loe nggak usah repot-repot jemput Gue segala, Gue nggak butuh supir!" ketusnya lalu pergi meninggalkan sang Papa yang masih bersama Sagara.
"Thea.." teriak Pak Jordan sambil mengernyitkan dahinya lalu menghentakkan tongkat miliknya ke lantai.
Sagara langsung memegang lengan Om Jordan agar dia tidak marah dan memperburuk keadaannya saat ini.
Pak Jordan menoleh ke arah Sagara, "Maafkan sikap Thea yang kekanak-kanakan ya Sagara, dia memang sedikit kasar dan keras kepala. Tapi dia wanita baik-baik dan juga baik hati, sebaiknya kamu dekati Thea dahulu untuk mencuri hatinya, lalu setelah itu kita langsung pikirkan tahap selanjutnya untuk pernikahan kalian," usul Pak Jordan sambil memegang bahu Sagara.
Sejenak Sagara menghela nafasnya, "Maaf Om, tapi apa ini tidak terlalu cepat untuk Thea? Dia bahkan masih duduk di bangku SMA, saya takut batin nya tertekan kalau harus memikirkan pernikahan," ucap Sagara.
Pak Jordan kembali tersenyum, "Tidak Sagara, ini bukanlah masalah besar. Om yakin Thea akan menuruti semua permintaan Om, tapi kamu harus sabar menghadapi sikap Thea yang keras kepala. Lagi pula sebentar lagi dia akan segera lulus sekolah, hanya satu tahun lagi tidak terlalu lama kalau menurut Om," ucap Pak Jordan dengan senyuman renyah yang keluar dari bibirnya.
Melihat sikap serius yang ditunjukkan oleh Om Jordan, mau tidak mau dia harus setuju karena hanya dengan ini dia bisa membalas semua hutang Budi keluarganya terhadap Om Jordan.
"Baiklah Om, jika memang keputusan ini adalah yang terbaik untuk Om dan Thea, maka saya siap untuk menikahi Thea."
Pak Jordan menghela nafas lega, "Syukurlah kalau kamu setuju dengan perjodohan ini, Om sangat senang mendengarnya. Semoga kamu bisa menjadi suami yang baik untuk anak Om ya, Saga."
"Iya Om, kalau begitu saya pamit ya Om," ucap Sagara lalu berjalan menuju mobilnya.
"Ucapkan salamku pada ayahmu ya, Gar," teriak Pak Jordan.
Sagara menyahut, "Baik Om, nanti saya sampaikan."
Pak Jordan melambaikan tangannya ke arah Sagara. Namun, saat dia ingin melajukan mobilnya, tidak sengaja dia melihat Thea sedang memperhatikannya dari atas balkon dengan wajah kesal.
Sagara menghela nafasnya, "Entah ini keputusan yang tepat atau bukan, tetapi Yasmin juga masih membutuhkan Ku."