Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 Keputusan Mengejutkan
Malam itu, jalanan kota masih berkilau oleh lampu-lampu kendaraan. Tamara melaju di atas mobil yang baru saja ia rebut dari Andra.
Atap mobil ia biarkan terbuka. Angin malam menghantam wajahnya, membuat sebagian rambut panjangnya berkibar seperti amarah yang belum padam.
Jemarinya menggenggam kuat setir, tiap kali mengingat wajah tak berdosa Andra yang telah menipunya.
Napasnya memburu, amarahnya mencapai titik puncak. Bukan lagi amarah yang lahir dari rasa cemburu ala remaja labil, melainkan harga diri seorang perempuan yang sudah memberi terlalu banyak.
Ia tahu Andra bukan laki-laki yang matang dan dewasa, laki-laki itu jauh dibawah usianya.
Namun, itulah celah sempurna untuknya bisa merasakan cinta sebagai pengisi kekosongan. Tanpa komitmen, tanpa takut kehilangan kendali hidupnya.
Ia menyayangi laki-laki itu dengan caranya—dingin, penuh kontrol, dan tetap memberi.
Tapi kelakuan Andra malam ini sudah cukup membuatnya marah dan tidak percaya, bahwa ia bisa diperdaya dengan begitu mudahnya.
"Sialan... " Rahangnya mengeras, menyadari dirinya selama ini dibuat terlihat bodoh.
Lampu merah di depannya terlihat menyala, Tamara menurunkan kecepatan.
Suara mesin mobil dan deru angin melembut, tapi tatapannya masih penuh kilat amarah membara.
"Baiklah, Andra," katanya lirih, seolah laki-laki itu berada di sebelahnya.
"Bukan aku yang kehilangan kamu, tapi kamu yang akhirnya kehilangan aku." Ia menyandarkan kepala pada jok.
Hingga sudut matanya menangkap sesuatu, sebuah tatapan yang cukup untuk membuatnya menoleh ke arah samping.
Dari jalur sisi kiri mobilnya, seorang laki-laki berjaket kulit dengan motor sport mengangguk singkat ke arahnya.
Sepasang mata di balik helm full face setengah terbuka itu, memandang Tamara dengan penuh minat—sedikit kagum, seolah ingin memastikan sosok perempuan dengan mobil mahal itu benar-benar nyata.
Alis Tamara terangkat saat tangan laki-laki itu melambai singkat, sedikit nakal dan percaya diri.
Laki-laki tak dikenal itu memang tidak terlalu menarik perhatian Tamara, tapi keberadaannya seperti pengingat kecil, bahwa Andra bukanlah satu-satunya laki-laki di dunia ini.
Tamara memilih tak menghiraukan orang itu. "Simpan tatapanmu itu untuk perempuan lain," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Matanya menatap lurus ke depan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Tak bisa memungkiri gestur singkat dari laki-laki itu, meski ia acuhkan, tapi cukup mengembalikan kepercayaan diri yang selalu menjadi ciri khasnya.
Ia melirik pantulan diri di kaca spion—mata tajam, bibir tegas, aura pusat perhatian dengan pesona yang tak pernah padam, sekalipun hatinya sedang berantakan.
Aku nggak takut kehilangan laki-laki, tapi mereka lah yang datang dan mencariku, batinnya.
Dan Andra, hanyalah kepingan kecil yang tak lagi berarti apapun dalam hidupnya.
Lampu hijau menyala, Tamara menginjak pedal gas, membawa mobilnya melesat meninggalkan kendaraan lain jauh di belakang.
Mobil melaju mulus, dengan ritme kecepatan yang lebih terkontrol.
Tamara duduk tegak dengan senyum percaya diri, pose yang muncul secara alami ketika ia berhasil memulihkan kendalinya atas keadaan.
...
Tiba di rumah, Tamara melangkah ringan seolah baru saja berhasil menyingkirkan satu kerikil dalam hidupnya.
Lampu ruangan menyala hangat, saat ia memasuki area tengah yang luas.
"Non Tata baru pulang?" suara asisten rumah tangga, terdengar menyapa nama panggilan kecilnya.
Tamara menoleh, seorang wanita paruh baya datang dari arah dapur dan berjalan menghampirinya.
"Bapak tadi berpesan. Katanya kalau Non sudah pulang, disuruh menemui Bapak di ruang kerja beliau," ujarnya lembut, sedikit hati-hati menyampaikan.
Tamara mengangguk paham. "Makasih ya, Bi," ucapnya.
Wanita itu mengangguk singkat sebelum kembali menuju arah dapur, sementara Tamara masih di tempatnya.
Perasaanku kok jadi nggak enak ya, ujarnya dalam hati.
Papanya tidak mungkin memanggilnya ke ruang pribadi itu, kalau bukan untuk membahas sesuatu yang penting.
Tamara menarik napas singkat, ini mungkin bukan pembicaraan yang ringan, dan itu cukup membuatnya waspada.
Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan menuju ruang kerja papanya—ruangan yang jarang tersentuh oleh Tamara, tapi lebih banyak menyita waktu papanya.
Begitu pintu besar itu dibuka, aroma kayu tua dan buku-buku khas ruangan langsung menyergap—dalam dan sedikit memberi kesan menegangkan.
Tamara melangkah masuk, pelan, seakan takut jejak kakinya menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan di dalamnya.
Ruangan itu besar, sunyi, dan dipenuhi susunan rak-rak buku tinggi hampir di setiap sudut dinding.
Pandangannya langsung tertuju pada sosok pria paruh baya— duduk di balik meja kokoh, kacamata di pangkal hidung, serta buku tebal terbuka di tangannya.
Cahaya hangat jatuh lembut di wajah pria itu, membuat sosoknya terlihat lebih tegas dan lebih berwibawa dari biasanya.
Papa mau ngomongin apa ya, malam begini? Nggak biasanya.
Tamara menerka dalam hati, tapi terlalu segan untuk langsung menanyakan.
Ia merasakan sensasi aneh, campuran gugup, hormat, dan ada sedikit rasa takut—ini adalah zona sisi paling serius papanya.
Di kantor, ia boleh dikenal sebagai sosok pemimpin yang tak tergoyahkan. Hanya dengan mendengar langkah sepatunya saja, karyawan langsung menunduk.
Tapi di rumah, semuanya runtuh ketika berhadapan dengan Rudi Hadinata—sang Papa, orang tua tunggal yang sudah seperti pilar bagi hidup Tamara.
"Pa... " Tamara menyapa, segan, jauh dari kesan tegas seperti ketika menegur karyawan di kantor.
Tatapan pria itu beralih ke arah putrinya, hening sejenak saat Rudi menutup dan meletakkan buku tebalnya di sisi meja.
"Duduk," titahnya, dalam, tenang—suara khas profesor yang sudah terlalu sering menguji hasil penelitian mahasiswa.
Tamara menarik kursi pelan, dan duduk dengan perasaan sedikit gugup.
Entah kenapa, perasaannya semakin tidak enak.
Dan benar saja... Rudi menyodorkan tablet ke atas meja, layar menyala, memutar video yang membuat Tamara menegakkan punggung.
Matanya terbelalak, menyaksikan rekaman pertengkarannya dengan Andra beberapa saat yang lalu—semuanya terekam jelas.
Rudi melepas kacamata, meletakkan di samping buku. Lalu menatap putrinya, datar dan penuh wibawa lama.
"Setelah minggu lalu drama salah paham, dua minggu sebelumnya drama gagal kencan..." suaranya berat, antara marah dan lelah.
Tatapannya berubah lebih menginterogasi, meski nada bicaranya tenang. "Sekarang drama apa lagi? Laki-laki itu selingkuh?"
Tamara tidak menjawab, ia menahan napas sebentar. Syok.
Bagaimana bisa papanya tahu beberapa hal tentang hubungannya, yang selama ini ia simpan rapat—bahkan dari orang-orang.
Tapi ketika ia memperhatikan arah sudut pengambilan video itu direkam, ia yakin seseorang memang sengaja mengawasi.
Ia menatap papanya, antara penasaran dan tak percaya. "Papa nyuruh orang buat ngikutin aku?" tanyanya. "Sejak kapan?"
Rudi menautkan jemari di atas meja, sorot matanya tegas.
"Tata... Kalau selama ini Papa memang nggak pernah mengatur hidup kamu, itu bukan berarti Papa nggak ngawasin kamu."
Napasnya terdengar berat. "Sampai kapan kamu terus terjebak dalam hubungan sementara, yang hanya buang-buang waktu? Kapan kamu bisa serius memikirkan masa depan kamu?"
Pertanyaan itu menekan dada Tamara lebih berat, ia mulai menebak arah pembicaraan.
Tamara mencoba tetap tenang, meski jari telunjuknya sudah mengetuk-ngetuk lutut.
"Aku serius kok, Pa," jawabnya, matanya bergerak gugup mencari-cari arah. "Aku tetap bisa fokus mengembangkan perusahaan."
Lalu menatap papanya penuh hormat, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Buktinya, Lunara sekarang udah jadi salah satu brand kecantikan ternama. Bulan depan, udah mau peresmian warehouse tambahan," paparnya.
Tamara bersikap sok profesional, padahal hanya berkelit.
"Aku bahkan ngerencanain tahun depan udah punya pusat riset formulasi dan bahan baku sendiri," tambahnya.
Tapi Rudi tak mudah terbawa arus pembicaraan putrinya. "Papa tahu, tapi bukan itu inti pertanyaan Papa."
Ia melanjutkan, "Tata... Papa bangga kamu bisa sukses karena usaha dan kegigihan kamu. Tapi kamu juga harus pikirin tentang diri kamu sendiri. Masa depan kamu bukan hanya urusan perusahaan."
Tamara mendengarkan, meski kakinya mulai bergerak-gerak gelisah.
"Kamu bukan lagi remaja labil, kamu udah mau kepala tiga, dan Papa sudah semakin tua." Rudi menekankan.
Tamara tetap terdiam, ia tahu arah nasihat ini—serius, dan menjebaknya ke dalam pembahasan yang selama ini paling ia hindari.
Rudi kembali menambahkan, "Kamu juga perlu seseorang untuk hidup kamu, yang bisa jagain kamu. Bukan laki-laki yang hanya memanfaatkan kamu."
Tamara tertunduk, gerakan kakinya berhenti. "Aku bisa jaga diri aku sendiri, Pa."
Suaranya pelan. Lebih terdengar seperti penyangkalan, bukan keyakinan.
Rudi sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. "Mau sampai kapan? Mau sampai Papa udah nggak ada lagi?"
Alis Tamara terangkat sedikit. "Papa kok ngomongnya gitu sih?"
"Papa hanya ingin ada yang jagain kamu saat Papa udah nggak ada nanti," jawab Rudi cepat.
Tamara terdiam lagi, hening mengisi ruangan sesaat.
Hingga sorot mata Rudi kini lebih tegas. "Papa sudah cukup bersabar dengan kamu, Tata. Kalau kamu belum juga bisa serius memikirkan diri kamu sendiri, biar kali ini Papa yang bertindak."
Tamara tercengang. "Maksud Papa?"
Rudi menarik napas pendek, sorot matanya penuh keputusan bulat. "Papa akan menikahkan kamu."
Tamara merasakan jantungnya hampir terpeleset ke perut, ia melotot tak percaya.
"Apa?! Ni—nikah?" katanya tergagap, nada bicaranya sedikit meninggi.
"Ya. Dengan laki-laki yang Papa pilihkan untuk kamu." Suara Rudi lebih mantap.
Bahu Tamara merosot. "Pa, aku baru aja putus," keluhnya, dengan suara lemah.
Rudi berdiri dari kursinya, menatap sebentar—tatapan yang tidak menerima penolakan.
"Justru karena kamu sudah lepas dari laki-laki itu. Kamu harus menikah secepatnya."
Tamara tercekat, tubuhnya membeku di tempat.
Rudi mengambil kacamatanya, lalu berjalan ke arah pintu seraya berkata, "Papa akan atur pertemuan untuk kalian secepatnya."
Tamara ingin berteriak rasanya, namun pernyataan itu sudah cukup membuat lututnya lemas.
Ia tahu setiap papanya memutuskan, itu bukanlah hasil dari spontanitas—melainkan selalu hasil dari pemikiran yang matang, terencana dan terukur.
Dan ia, tidak akan pernah bisa membantahnya.
Pintu ruangan kembali tertutup, setelah sosok pria itu menghilang di baliknya.
Tamara menggigit jari, punggungnya bersandar malas di kursi. Ruangan itu mendadak lebih sunyi, tapi pikirannya justru semakin gaduh.
Tamara memukul jidatnya pelan. "Kok jadi gini, sih?"
Ia menatap langit-langit. Nikah? Hal yang bahkan tak pernah masuk dalam prioritas hidupnya.
Ia masih ingin bebas, tetap memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri, tanpa harus terikat dengan hubungan yang penuh aturan.
Tapi kini, satu keputusan terencana itu, terdengar seperti ancaman yang siap memporak-porandakan hidupnya.
"Aku... bakal nikah? Sama siapa?" suaranya pecah, setengah putus asa.
Tamara tak sanggup membayangkan, apalagi belum ada bayangan sama sekali tentang laki-laki pilihan papanya itu.
Pandangannya berpindah ke arah pintu. Entah seorang yang seperti apa laki-laki itu.
Apakah bisa mengimbanginya, atau justru hanya akan membuat hidupnya lebih berantakan.
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺