Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah papa
"YEAH... YEEE...!!!"
"HOREEE...."
"HEBAT....!!"
"HORE....!!"
Teriak seluruh pendukung Seinara, ketika melihat Seinara kembali sebagai juara pada malam ini. Semua pendukung dan para sahabat Seinara berlari menghampiri. Mereka bangga dengan kemenangan Seinara pada malam ini.
"Good job baby, gue bilang juga apa! Loe pasti menang malam ini!" Seru salah satu sahabat seinara yang bernama Jessy.
"Gue juga yakin kok, kalau sahabat kita ini pasti menang, ya kan?!" Tambah Sila salah satu sahabat Seinara juga.
"Udah... Udah... Kalian nggak usah terlalu memuji gue seperti itu. Gue nggak sehebat apa yang kalian katakan kok" jawab Seinara, sambil menuruni motornya.
Kemudian dia berjalan menuju ke tempat lawannya, yaitu Mike. Saat ini Mike sedang kesal karena dia kalah dari Seinara pada balapan malam ini.
CRAAAKKK...
"Kurang ajar...! Bisa-bisanya gue kalah sama cewek kemarin sore!" Kesal Mike sambil membanting helm miliknya.
"Sabar brow, mungkin malam ini memang bukan rejeki loe buat menang!" Ucap salah satu teman Mike yang bernama Beny.
"Nggak...! Gue nggak terima Ben! Selama ini belum ada yang bisa ngalahin gue! Tapi... Kenapa?! Kenapa malem ini gue kalah sama cewek itu??" Bentak Mike tidak terima.
"Udahlah... Nggak usah marah-marah gitu bang! Orang kenyataannya malam ini gue yang menang. Apa loe mau jadi pengecut yang tidak terima kekalahan?!" Seru Seinara sambil berjalan menghampiri Mike.
"Apa maksud loe bicara begitu?! Loe ingin mengejek gue?!" Bentak Mike pada Seinara sambil mengangkat sebelah tangannya ingin memukul Seinara.
"Eeeh... Tunggu dulu bang! Loe mau ngapain?! Loe mau pukul gue? Memang dengan loe pukul gue, akan merubah kenyataan? Nggak...! Justru loe terlihat seperti pecundang yang nggak terima kekalahan!" Ucap Seinara tegas pada Mike.
Mike pun terdiam, kemudian dia berjalan menjauh dari Seinara. Lalu dia menyuruh salah satu temannya untuk memberikan uang taruhan yang dia janjikan.
"Berikan uang itu padanya!" Perintah Mike pada Beny.
"Baik Mike" jawab Beny sambil menganggukkan kepalanya.
"Ini uang yang Mike janjikan kemarin, selanjutnya loe harus hati-hati sama Mike. Karena dia nggak akan pernah biarin loe begitu saja" ucap Beny memperingatkan Seinara sambil memberikan amplop yang berisi uang.
" Thanks...! Loe tenang saja, karena gue bukan orang yang seperti loe pikir. Gue bukan cewek lemah yang bisa kalian remehin" jawab Seinara dengan tenang.
Kemudian Seinara kembali menghampiri para sahabatnya, dia memberikan sebagian uang yang di berikan oleh Mike pada para sahabatnya.
"Nih, uang taruhan malam ini! Terserah kalian mau buat apa! Tapi yang penting jangan bikin ulah!" Seru Seinara pada para sahabatnya.
"Hore....! Kita party malam ini!!" Seru salah satu sahabat Seinara dengan penuh semangat.
"Lah terus loe nggak ikut kita malam ini Sein?!" Tanya Jessy pada Seinara.
"Sorry, gue besok pagi ada kuliah. Jadi nggak bisa ikut kalian malam ini" jawab Seinara sambil tersenyum.
"Yah... Nggak asyik kalau loe nggak bisa ikut Sein!" Seru Jessy dengan wajah kecewa.
"Iya Sein, nggak seru kalau nggak ada loe"
"Bener banget itu, yang bikin seru itu kita kumpul bareng Sein"
"Ayo dong Sein ikut kita...!"
"Nggak seru kalau loe nggak ikut Sein"
Berbagai protes dari para sahabat Seinara, namun Seinara hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tanda dia tidak bisa ikut bersama mereka, karena dia harus segera pulang.
"Sorry gaes, gue nggak bisa ikut sama kalian. Gue harus pulang sekarang, kalau nggak, gue bakalan dapat masalah dari Bokap gue" ucap Seinara.
"Nggak asyik ah..."
"Kalau begitu kita tunda aja partynya, mungkin besok Seina bisa ikut" ucap Jessy mengusulkan.
"Kalau gitu mending kita pulang ke rumah masing-masing yuk!"
"Baiklah...!"
"Baiklah...!"
Semua sahabat Seinara pun berhamburan menuju ke motor masing-masing. Lalu mereka pun satu persatu pergi meninggalkan tempat tersebut. Lagipula sudah lewat tengah malam saat ini, jadi Seinara tidak mau kena omel sang papa. Jadi dengan kecepatan tinggi Seinara mengendarai motornya.
Seinara melajukan motornya menuju ke rumah kedua orang tuanya. Hanya butuh empat puluh lima menit, untuk Seinara sampai di rumah. Dengan sedikit mengendap-endap Seinara memasuki rumahnya. Namun sayangnya, dia ketahuan oleh kedua orang tuanya. Lampu ruang tamu pun menyala semuanya, dan sang papa berdiri tepat di tengah ruang tamu, dengan wajah marah dan tatapan mata tajam.
"Duh... Ternyata papa sama mama belum tidur, gimana ini? Apa papa bakal marah sama aku?" Lirih Seinara dalam hati saat melihat sang papa.
"Sudah jam berapa ini?!" Tanya papa tegas pada Seinara.
Seinara hanya diam dan menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah pada sang papa. Seinara seperti itu karena dia sudah ingkar janji malam ini.
"Maaf pa..." Jawab Seinara lirih.
"Maaf...?! Sudah berapa kali kamu ucapin kata itu saat ingkar janji Seinara?!" Bentak Ardi sang papa dengan penuh emosi.
Seinara semakin menundukkan kepalanya, dia tidak berani menjawab apapun. Karena itu memang kesalahannya, dia nggak bisa membantah kedua orang tua.
"Udah pa, jangan marah-marah lagi. Udah malam juga" ucap Mama tegas menasehati.
"Nggak bisa ma! Papa belum selesai bicara sama anak kesayangan kamu itu!" Bentak Ardi pada sang istri.
"Loh, kenapa sekarang papa jadi marah sama mama? Mama kan cuma menasehati papa, supaya nggak marah-marah lagi, karena ini sudah lewat tengah malam!" Bentak mama nggak terima.
"Papa bukan marah sama mama! Papa hanya sedang kesal pada Seina!" Jawab Ardi kesal.
Kedua orang tua Seinara pun akhirnya bertengkar gara-gara Seinara.
"Stoop...!!" Teriak Seinara menghentikan perdebatan kedua orang tuanya.
Mendengar teriakan anaknya, kedua orang tua Seinara pun terdiam.
"Ini memang salah Seina! Papa sama mama nggak perlu berantem seperti ini!" Bentak Seinara.
"Huft... Ini memang salah kamu Sein! Kamu sudah berkali-kali ingkar janji sama papa!" Tegas Ardi sambil menghela nafasnya.
"Kan, Seina sudah minta maaf pa..." Jawab Seinara.
"Kata maaf kamu nggak cukup untuk menebus semua kesalahanmu!" Bentak Ardi.
"Terus Seina harus ngapain pa? Apa Seinara harus berlutut dan meminta maaf sama papa, mama?!" Tanya Seinara.
"Nggak perlu!, tapi... Setuju atau nggak kamu harus menikah dengan pria pilihan papa!" Tegas Ardi.
"What's....!! Menikah?! Papa jangan bercanda deh" seru Seinara terkejut.
"Papa nggak sedang bercanda Sein, karena kamu sudah bikin papa kecewa. Jadi ini keputusan final papa, maaf papa hanya ingin kamu menjadi anak yang berbakti" jawab Ardi tegas.
"Nggak...! Sein nggak mau menikah pa! Sein masih ingin kuliah! Sein juga masih ingin meraih cita-cita Sein!" Tegas Seinara menolak.
"Tenang saja kamu masih bisa kuliah meski sudah menikah Sein. Papa janji nggak akan melarang kamu untuk kuliah. Yang penting kamu bisa berubah menjadi perempuan seutuhnya! Bukan menjadi berandal seperti ini!" Tegas Ardi lagi.
"Pa, kenapa kamu jadi tega begini sih? Apa salah Sein? Bukannya selama ini dia sudah menjadi anak yang baik?" Tanya Mama bingung.
"Kamu terlalu memanjakan dia! Jadi sekarang dia menjadi anak yang pembangkang! Pokoknya papa nggak mau tau, Sein harus segera menikah! Kalau dia nggak mau, silahkan pergi dari rumah ini dan jangan pernah anggap saya papa kamu lagi!" Tegas Ardi yang kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.
Di ruang tamu kini hanya menyisakan Seinara dan sang mama. Air mata Seinara pun lutuh begitu saja tanpa disuruh. Melihat itu sang mama segera memeluk tubuh Seinara.
"Sssstt... Kamu jangan sedih ya nak, mama akan berusaha untuk membujuk papa kamu. Semoga saja ini hanya gertakkan, karena selama ini papa juga nggak pernah memaksakan kehendaknya sama kamu" ucap mama menenangkan Seinara.
"Kenapa papa berubah ma? Apa mungkin papa sudah nggak sayang lagi sama Sein? Sehingga papa ingin segera mengusir' Sein dari rumah ini" lirih Seinara sambil memeluk tubuh mamanya erat.
"Hust... Kamu nggak boleh ngomong begitu! Mama yakin, papa kamu nggak mungkin seperti itu. Pasti papa punya alasan sendiri, kenapa dia bersikap seperti itu sama kamu. Ya udah mending sekarang kamu masuk kamar dan istirahat, karena besok kamu harus masuk kuliah" ucap mama.
"Baiklah... Tapi kalau memang itu keputusan papa gimana ma? Sein nggak mau menikah sekarang ma. Mending Sein pergi aja dari rumah ini, kalau papa nggak mau ubah keputusannya!" Jawab Sein.
"Tenang saja, biar mama yang ngomong sama papa kamu. Udah sana masuk kamar" jawab mama juga.
Seminar pun menganggukkan kepalanya, kemudian berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sedangkan mama memasuki kamarnya, untuk menemui sang suami.
##########$$##$######
Esok harinya di rumah keluarga Nugroho, sedang menikmati sarapan. Seperti biasa mereka berbincang di sela-sela sarapan mereka.
"Pagi dad, pagi mom...!" Sapa Nathan pada kedua orang tuanya, sambil berjalan memasuki ruang makan.
"Pagi juga nak...!" Jawab sang mommy.
"Semalam kamu darimana Than?" Tanya Sandy sang Daddy.
"Aku ada kerjaan di luar semalam dad, jadi pulang larut malam" jawab Nathan jujur.
"Than Daddy ada satu permintaan, apa kamu bisa mewujudkannya?" Tanya Sandy pada Nathan.
"Memang apa permintaannya dad? Jika Nathan bisa, pasti akan mewujudkannya" tanya Nathan penasaran.
"Kamu sudah dewasa, dan sudah waktunya kamu untuk menikah nak" jawab mommy sambil tersenyum.
"Kenapa bahas itu lagi sih mom? Bukannya kalian sudah janji nggak bahas masalah itu lagi? Kenapa sekarang kalian bahas itu lagi? " Tanya Nathan jengah.
"Than, Daddy sudah janji sama seseorang. Dan kemarin Daddy bertemu sama orang itu. Sekarang dia menagih janji itu, Daddy nggak bisa mengingkarinya. Apa kamu mengerti?" Ucap Ardi dengan nada serius.
"Huft... Dad, aku belum ingin menikah sekarang! Aku masih ingin mengembangkan perusahaan dulu! Aku mohon kalian mengerti!" Jawab Nathan dengan tegas menolak permintaan kedua orang tuanya.
"Eeeeh... Mommy belum selesai ngomong sama kamu Than! Kembali kesini!" Teriak Mommy memanggil anaknya.
Nathan pun pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh sedikitpun pada kedua orang tuanya, tujuan dia kali ini adalah tempat kerjanya. Dia tidak mau ambil pusing perdebatan kali ini. Di tempat lain, sambil menunggu jam kuliahnya, Seinara mencoba menghubungi nomor telepon sang kakak. Pada dering pertama telfon langsung terjawab, karena memang Abraham selalu memprioritaskan adiknya.
"Ya hallo, ada apa sayangku...!" Sapa Abraham samg kakak dari seberang telfon.
"Ih... Apaan sih, nggak usah lebay deh!" Jawab Seinara ketus.
"Hahahaha... Ada apa dek? Tumben banget kamu telfon kakak jam segini?" Tanya Abraham lagi sambil tertawa.
Abraham memang paling suka menjahili adiknya. Jika Seinara belum marah, pasti Abraham belum berhenti menjahili.
"Kak, aku mau ngomong penting sama kakak" jawan Seinara dengan nada serius.
"Ngomong penting apa dek? Apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Abraham segera, karena penasaran.
"Kak, papa ingin aku menikah" jawab Seinara.
"What's...!! Papa ingin kamu menikah? Sama sama siapa dek? Atau jangan-jangan papa ingin kamu menikah sama motor kesayangan kamu? Hahahaha..." Tanya Abraham beruntun sambil meledek adiknya lagi.
"Udah dong kak, jangan bercanda terus! Aku serius nih! Kata papa, kalau aku nggak mau menikah sekarang, maka aku harus pergi dari rumah kak!" Ucap Seinara dengan kesal.
"Apa....?! Separah itu dek? Perasaan selama ini kamu itu anak kesayangan papa deh. Sampai-sampai kakak tuh iri melihat papa yang selalu memanjakan kamu" ucap Abraham.
"Iya kak, papa semalam bilang seperti itu sama aku. Dan gara-gara itu aku nggak bisa tidur semalaman" jawab Seinara.
"Nggak bisa dibiarkan ini dek, nanti kakak yang akan ngomong sama papa. Jika papa sudah nggak mau menjaga kamu, biar kakak yang gantiin jagain kamu! " Tegas Abraham.
"Tolong ya kak, aku mohon... Jika aku menikah muda, gimana masa depan aku kak? Aku nggak mau kehilangan masa depan aku gara-gara harus menikah. Lagi pula aku juga nggak tau seperti apa orang yang akan papa jodohkan sama aku" ucap Seinara memohon.
"Oke... Sekarang juga kakak akan telfon papa" jawab Abraham.
"Aku tunggu kabarnya kak, sekarang aku tutup dulu telfonnya. Sebentar lagi mata kuliah ku juga mulai"
"Ya udah kamu fokus kuliah aja, masalah ini biar kakak yang tangani. Udah dulu ya Assalamualaikum..." Ucap Abraham.
"Iya Wa'alaikum salam... " Jawab Seinara.
Panggilan telfon pun berakhir, Seinara berjalan menuju ke kelasnya dengan malas. Sedangkan Abraham segera menghubungi nomer telpon sang papa. Dia ingin membantu sang adik untuk lepas dari rencana perjodohan kedua orang tuanya. Pada dering ketiga telfon pun terjawab, suara bariton Ardi langsung menyapa telinga Abraham.
"Hallo...." Sapa Ardi.
"Pa, apa maksud papa ngomong seperti itu sama Seinara?!" Tanya Abraham segera tanpa basa-basi.
"Sepertinya Sein sudah mengadu sama anak ini. Sehingga dia tiba-tiba menelfonku" lirih Ardi salam hati setelah mendengar pertanyaan dari Abraham.
"Kamu itu memang anak nggak punya sopan santun ya! Sama orang tua kok bentak-bentak gitu!" Ucap Arfi dengan nada kesal pada Abraham sang anak.
"Udah deh pa, nggak usah basa-basi lagi. Cepat jawab aku, kenapa papa punya rencana seperti untuk Seinara?! Bukannya selama ini papa selalu memanjakan dia? Terus kenapa tiba-tiba sekarang Papa ingin dia menikah?!" Tegas Abraham.
"Huft... Bukannya adikmu sudah cerita semuanya? Kenapa ku malan tanya sama papa?" Tanya Ardi sambil menghela nafasnya menahan kesal dan emosinya.
"Ya aku ingin tau alasannya pa, kenapa papa harus menyuruh Seinara menikah? Bukannya itu hanya membuat dia sedih?"
"Alasannya dia sudah membuat papa kecewa Ham, apa itu cukup buat kamu? Dan satu lagi, dia sudah bukan Seinara kita yang dulu! Dia menjadi cewek yang liar, hobi balapan, dan juga tawuran. Spa papa salah jika menghukum dia dia dengan menikah?!"
"Tapi... Nggak gitu juga dong pa! Kan bisa di omongin baik-baik sama Sein. Kenapa harus pakai jalur seperti itu pa...?"
" Semua jalan sudah papa coba nak, tapi adikmu itu selalu saja membuat papa sama mama kecewa. Dan sekarang papa sudah nggak punya pilihan lagi selain itu. Jadi papa mohon kamu juga mengerti papa sama mama. Ini semua kita lakukan untuk kebaikan Seinara juga, lagi pula orang yang akan papa jodohkan sama Seinara itu bukan orang sembarangan. Dia sudah sukses dan punya masa depan yang cerah. Jadi dia nggak akan menderita ataupun hidup susah kedepannya" tegas Ardi memberi penjelasan pada sang anak.
"Tapi... Abraham tetap nggak setuju dengan rencana papa itu! Bila perlu, sekarang juga Abraham akan kembali ke rumah dan ajak Sein untuk ikut sama aku tinggal disini! " Tegas Abraham.
Kemudian Abraham memutuskan panggilan telfon secara sepihak. Dia tidak ingin berdebat terlalu lama dengan sang papa. Ardi hanya bisa menghela nafas dan mengelus dadanya mendengar perkataan tegas dari sang anak.