Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Janji Berdosa di Salamanca
Pagi Madrid menyambut Alicia dengan cahaya keemasan yang dingin, memantul dari fasad batu kapur di kawasan Salamanca. Udara berbau kopi dan bunga jacaranda, kontras tajam dengan kekacauan yang mendidih di dalam dirinya. Alicia tidak tidur. Ia menghabiskan sisa malamnya di sebuah suite hotel butik di Hotel Ritz, dikelilingi oleh cetakan biru rencana Ibiza, yang sekarang terasa seperti ironi pahit.
Ia telah mengenakan seragam perang terhebatnya: setelan rok Alexander McQueen berwarna navy yang tajam, sepatu stiletto Louboutin yang tingginya menjanjikan kekuasaan, dan riasan wajah yang sempurna. Ia terlihat seperti Direktur Strategi yang tak tertandingi, bukan wanita yang semalam menemukan sisa-sisa pengkhianatan di kerah baju suaminya.
Pukul 09:30, Audi A8 miliknya berhenti di depan Montenegro Towers, markas besar Montenegro Group, pesaing utama Solera Luxury Homes. Markas ini adalah penjelmaan dari ambisi Rafael Montenegro: kaca hitam yang sleek, baja yang dingin, dan kemewahan yang agresif.
Saat ia melangkah keluar dari mobil, Alicia merasakan tatapan para pejalan kaki—campuran kekaguman dan rasa ingin tahu. Sebagai istri Santiago Valero, ia adalah bagian dari dinasti Valero. Sekarang, ia adalah Valero yang berada di wilayah musuh.
Di lantai teratas, Kantor Eksekutif Rafael Montenegro terasa seperti gua modern yang menawan. Semuanya serba hitam, abu-abu arang, dan kayu ek gelap, dengan satu dinding kaca yang menyajikan pemandangan 180 derajat kota Madrid yang terbentang di bawah. Ini adalah kantor yang menjanjikan kekuasaan tanpa batas.
Seorang asisten wanita yang sangat profesional mengantar Alicia. "Tuan Montenegro menunggu Anda, Nyonya Valero."
Rafael Montenegro berdiri di dekat jendela, membelakangi Alicia, memegang segelas cairan amber—mungkin wiski, meskipun masih pagi. Posturnya tegak, bahunya lebar, memancarkan aura bahaya yang terkontrol. Saat ia berbalik, Alicia merasakan dampak fisik yang sama kuatnya seperti saat pertama kali ia melihat pria itu lima tahun lalu.
Rafael adalah antitesis dari Santiago. Santiago adalah kemewahan yang dipoles, old money yang disamarkan. Rafael adalah kekuatan mentah, new money yang tidak meminta maaf.
Ia mengenakan kemeja tanpa dasi yang pas di tubuhnya, dan celana panjang tailored yang menegaskan kakinya yang panjang. Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan, matanya—warna madu gelap yang bisa melihat menembus kulit—menatap Alicia dengan intensitas yang tidak senonoh. Senyumnya, ketika ia memberikannya, adalah janji yang berbahaya.
"Alicia," sapanya, suaranya dalam dan sedikit serak, seperti beludru yang diwarnai asap. Ia tidak menawarkan jabatan tangan. Ia hanya membiarkan keheningan yang tegang mengisi ruangan. "Kehormatan yang tak terduga. Aku yakin panggilan teleponmu semalam membuat Santiago tidak bisa tidur nyenyak."
Alicia berjalan menuju kursi kulit yang ditawarkan, tapi ia tidak duduk. Ia mempertahankan posisinya, sejajar dengan Rafael, memaksanya untuk menatap matanya.
"Aku tidak datang untuk membahas kualitas tidur suamiku, Rafael. Aku datang untuk membahas bisnis," jawab Alicia, suaranya stabil dan profesional. "Dan juga, balas dendam."
Rafael tertawa kecil. Itu adalah suara yang kasar dan menarik. Ia meletakkan gelasnya di meja kerja kaca yang besar dan akhirnya berjalan ke arah Alicia. Jarak di antara mereka mengecil, dan udara menjadi tegang.
"Balas dendam adalah bisnis terbaik di dunia, Alicia. Terutama jika dilakukan dengan indah. Duduklah. Ceritakan padaku, mengapa ratu Solera menawarkan mahkotanya kepada musuh bebuyutannya?"
Alicia duduk, menyilangkan kakinya dengan anggun. Ia membuka tas tangan mewahnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi dokumen hukum yang telah ia siapkan semalaman dengan bantuan notaris kepercayaannya.
"Aku tidak menawarkan mahkota, Rafael. Aku menawarkan aliansi. Aku menjual suamiku," katanya terus terang.
Rafael duduk di seberangnya, bersandar santai. Ia mengambil dokumen itu. Matanya yang tajam menelusuri isi dokumen dengan kecepatan yang mengagumkan.
"Hak kendali mayoritas di Solera Luxury Homes... Saham 50% Santiago, yang akan kau beli dengan harga diskon, kemudian kau alihkan 10% di antaranya kepadaku, menjadikanmu 40% dan aku 10%," bacanya. "Sebuah pengambilalihan yang indah. Lalu, apa yang kau inginkan dariku, selain uang dan anonimitas dalam transaksiku? Kau mampu membiayai ini sendiri."
Alicia bersandar ke belakang. "Aku ingin lebih dari sekadar uang dan anonimitas. Aku ingin kehancuran Santiago. Aku ingin dia melihat Solera menjadi mainanmu. Aku ingin dia tahu bahwa bukan hanya aku yang meninggalkannya, tetapi juga perusahaannya beralih ke tangan pria yang paling dia benci."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menantang.
"Dan sebagai imbalan dari 10% saham itu, aku ingin kau mendanai proyek Ibiza. Aku ingin Solera mengumumkan kemitraan strategis dengan Montenegro Group. Bayangkan beritanya, Rafael. Valero dan Montenegro bersatu."
Rafael melempar dokumen itu kembali ke meja. Ia tidak lagi tersenyum. Sekarang, ia terlihat berbahaya.
"Kau wanita yang luar biasa, Alicia. Kejam. Aku menyukainya. Tapi aku tidak bermain untuk 10%. Aku tidak berinvestasi, aku mendominasi. Dan aku tidak pernah membiarkan wanita cantik menggunakan namaku untuk membalas dendam kepada suaminya."
"Aku tidak menggunakanmu. Aku menawarkanmu keuntungan. Dengan 10% ini, kau memiliki suara di dewan direksi Solera. Dan dengan proyek Ibiza yang sukses, nilai saham Solera akan melonjak—termasuk 10% milikmu." Alicia membalas, menjaga ketenangannya. "Atau, kau bisa menolak. Dan aku akan mencari investor lain. Tapi kau tahu, tidak ada yang bisa menyakiti Santiago separah dirimu."
Rafael bangkit dan berjalan kembali ke jendela. Ia mengambil napas dalam-dalam, seolah sedang menghirup udara Madrid dan mempertimbangkan risiko.
"Aku memiliki klausul tambahan," katanya, setelah keheningan yang panjang dan membebani. "Jika aku setuju untuk menenggelamkan Santiago Valero dan mempertaruhkan reputasiku untukmu, aku menuntut lebih dari sekadar 10% saham dan proyek Ibiza."
Alicia mengangkat dagunya. "Sebutkan."
Ia berbalik, matanya mengunci mata Alicia, dan intensitasnya hampir membuat Alicia kehilangan napas. Ini bukan lagi negosiasi bisnis. Ini adalah permainan kekuatan, ujian kemauan, dan hasrat terlarang.
"Aku menginginkan sebuah aliansi yang lebih pribadi, Alicia," ucap Rafael, melangkah ke meja dan mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alicia. Aroma maskulinnya, campuran sandalwood dan sedikit tembakau, menguasai indra Alicia.
"Santiago berselingkuh dengan tetangga mudanya yang bodoh, menghinamu. Aku mengerti rasa sakitnya. Aku telah melihatmu selama bertahun-tahun, di setiap acara amal, di setiap pelelangan. Kau adalah wanita paling cerdas, paling berapi-api yang pernah aku temui di Madrid. Dan kau pantas mendapatkan lebih dari sekadar suami yang lemah."
Jantung Alicia berdetak kencang, bukan karena ketakutan, melainkan antisipasi yang mendebarkan.
"Aku ingin kau menjadi pasanganku di depan umum. Di setiap acara sosial yang harus kita hadiri. Aku ingin dewan direksi melihat bahwa Alicia Valero bukan hanya menyelamatkan Solera, tetapi juga pindah ke pelukan Montenegro. Aku ingin Santiago melihatmu di pelukanku, di setiap surat kabar, di setiap majalah gaya hidup," bisik Rafael, suaranya serak dan intim.
"Aku ingin dia tahu bahwa dia kehilangan bukan hanya perusahaannya, tetapi juga permata yang paling berharga."
Alicia menelan ludah. Ini adalah bahaya yang ia cari.
"Kau ingin aku menjadi trophy-mu, Rafael?" tanyanya, mencoba menjaga suaranya tetap sinis.
Rafael tertawa, kali ini lebih dari sekadar cibiran—itu adalah gairah yang tersembunyi.
"Aku tidak mengoleksi trophy, Alicia. Aku menuntut teman bermain yang setara. Dan kau lebih dari itu. Kau adalah senjata," ia menjeda, matanya turun ke bibir Alicia. "Dan jika kita menjadi pasangan... aku akan menuntut hak istimewa seorang pasangan."
Implikasinya menggantung di udara, panas dan tanpa filter. Dia tidak hanya menginginkan kerja sama bisnis. Dia menginginkan tubuhnya, pikirannya, dan kehancuran emosional suaminya.
"Aku tidak tidur dengan rekan bisnis, Rafael."
"Kau tidur dengan musuh suamimu, Alicia," koreksi Rafael, suaranya rendah dan meyakinkan. "Dan kau tidak akan tidur dengan rekan bisnis. Kau akan tidur dengan pemegang saham minoritas yang sangat tertarik untuk melihatmu bahagia."
Ia mengulurkan tangannya, dan kali ini, ia meraih tangan Alicia. Sentuhannya bukan hanya panas, melainkan mengandung listrik. Jari-jarinya yang panjang dan kuat menggenggam pergelangan tangan Alicia dengan keintiman yang mengejutkan.
"Aku tahu apa yang kau inginkan, Alicia. Kau ingin balas dendam yang manis dan memuaskan. Dan aku adalah pria yang bisa memberikannya kepadamu. Lebih dari itu, aku bisa memberimu gairah yang tidak pernah diberikan Santiago kepadamu. Gairah yang membuatmu merasa hidup lagi, bukan hanya seorang istri yang sibuk di dewan direksi."
Rafael menarik Alicia sedikit ke depan. Jarak di antara mereka sekarang melanggar batas, nyaris kurang ajar. Alicia bisa mencium napasnya, merasakan panas tubuhnya. Dia bisa mengakhiri ini, menarik diri, dan mencari investor lain. Tapi, godaan untuk berjalan di tepi jurang bersamanya terlalu kuat.
"Kontrakmu tidak mencakup klausul intim, Rafael," kata Alicia, suaranya sedikit bergetar.
"Tentu saja tidak. Itu hanya perjanjian lisan di antara kita. Jika kita memutuskan untuk berbagi ranjang, itu karena gairah. Bukan karena paksaan hukum," jawabnya, matanya tidak pernah meninggalkan mata Alicia. "Tapi ketahuilah ini, Alicia. Begitu kau menandatangani aliansi denganku, kau akan menjadi milikku di mata Madrid. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Santiago, mendekatimu."
Ia melepaskan tangan Alicia, seolah-olah melepaskan tautan fisik yang baru saja mereka ciptakan, tetapi efeknya tetap ada.
Alicia memandang dokumen di meja, lalu ke Rafael. Ini adalah keputusan yang akan mengubah segalanya. Ini adalah kehancuran yang terencana, tetapi juga awal dari bahaya baru yang menggiurkan.
"Baiklah, Rafael. Aku setuju," kata Alicia, suaranya kembali mengeras, dipenuhi tekad. "Aku setuju untuk menjadi 'pasanganmu' di depan umum. Dan aku setuju untuk 'bermain api' denganmu."
Ia mengambil pulpen Montblanc dari sakunya.
"Tapi kau harus mengerti satu hal: Aku bukan boneka. Kau bisa mendominasi pasar real estat, tetapi kau tidak akan mendominasi aku. Jika aku memilih untuk tidur denganmu, itu adalah keputusanku. Dan jika kau berani menghinaku seperti Santiago, aku akan menghancurkanmu. Aku tahu di mana letak kelemahanmu, Rafael. Aku tahu seberapa besar kau membenci Santiago."
Senyum Rafael kembali. Kali ini, senyum itu adalah janji tak terhindarkan.
"Deal, Alicia. Aku menantikan kehancuran Santiago, dan lebih dari segalanya, aku menantikan tarian kita. Kau baru saja membuat keputusan yang paling berbahaya, tetapi juga yang paling mendebarkan dalam hidupmu."
Rafael meraih pulpen lain dan mendorong dokumen itu ke arah Alicia.
"Tandatangani. Mari kita mulai pertunjukan ini."
Alicia menandatangani dengan coretan yang tegas dan cepat. Alicia Valero.
Rafael kemudian menandatangani dengan goresan yang kuat di bawah nama perusahaannya. Montenegro Group.
Aliansi itu resmi.
Ia mengambil dokumen itu, menyimpannya kembali ke tasnya.
"Konferensi pers besok, pukul 10 pagi. Pengumuman Proyek Ibiza dan kemitraan strategis. Santiago akan mendapatkan dokumen perceraiannya malam ini, yang sudah berisi permintaan pengalihan saham 50% miliknya kepadaku. Kau harus siap di sampingku," kata Alicia, berdiri.
Rafael juga berdiri, dan kali ini, ia mengulurkan tangannya, bukan untuk bersalaman, melainkan untuk menggenggam tangan Alicia.
"Aku akan berada di sampingmu, Alicia. Dan kita akan membuat Santiago berdarah. Tapi sebelum kau pergi," katanya, menarik Alicia mendekat, "berikan aku sesuatu untuk meyakinkan diriku bahwa ini bukan hanya kontrak bisnis yang kering."
Sebelum Alicia bisa memprotes, tangan Rafael telah mencapai pipinya, ibu jarinya membelai tulang pipinya dengan kelembutan yang mengejutkan. Kemudian, ia mendekat.
Ciumannya bukan seperti ciuman Santiago yang familiar dan lelah. Ciuman Rafael adalah serangan, sebuah pernyataan kepemilikan. Hangat, menuntut, dan penuh gairah yang telah lama Alicia lupakan. Rasa wiski yang lembut terasa di lidahnya, bercampur dengan keinginan mentah.
Ia tidak membalas, tetapi juga tidak menolak. Alicia merasakan dirinya meleleh dalam cengkeraman bahaya itu. Itu adalah ciuman yang menjanjikan dosa, pengkhianatan yang paling manis. Ia menutup matanya, membiarkan dirinya terseret ke dalam pusaran hasrat yang telah lama terkunci.
Ketika Rafael melepaskan diri, ia menyentuh bibir Alicia dengan ibu jarinya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah wanita itu.
"Itu adalah janji, Alicia. Janji dari tarian yang akan kita lakukan. Sampai jumpa besok pagi, mi reina," bisiknya.
Alicia berbalik, jantungnya berdebar kencang, lututnya sedikit lemas. Ia melangkah keluar dari kantor kaca itu, membawa serta aroma sandalwood dan janji dosa.
Ia telah meninggalkan kesetiaannya di atas abu. Sekarang, ia siap menari dengan api. Dan Rafael Montenegro adalah nyala api yang paling indah dan paling berbahaya.