Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-2
Angin dingin membelai wajahnya.
Perlahan, Selene membuka matanya.
Tapi ini bukan mansion Montclair.
Alih-alih balkon dengan pemandangan kota, ia berdiri di tengah hutan yang sunyi. Cahaya bulan memantul di permukaan danau yang luas di hadapannya, menciptakan pemandangan yang tidak seharusnya ada di zamannya.
Apa yang terjadi?
Ia menunduk. Gaun emasnya masih melekat di tubuhnya, sutranya terasa nyata di kulit.
Sialan
Hm?
Dia melihat danau yang memancarkan wajah nya di atas air,mata nya tertegun, penampilan yang begitu familiar, Sangat muda,seakan akan-
"apa ini?Kenapa aku kembali ke umur-17 Tahun?."dia menyentuh wajah nya dan mata nya tertegun, ekspresi wajah nya begitu kejut,panik dan nafas nya seperti akan meledak.
Pikirannya berputar cepat.
Tidak mungkin ini mimpi. Tidak mungkin ilusi.
Selene menyentuh cincin di jarinya, matanya menelusuri ukiran aneh yang sebelumnya ia lihat di balkon. Apakah benda ini yang membawanya ke sini?
Tidak ada penjelasan ilmiah untuk ini. Tetapi sebagai seorang penasihat kerajaan, ia tahu satu hal: jika sebuah situasi tidak bisa dijelaskan, maka yang harus dilakukan adalah beradaptasi.
Tarik napas. Kendalikan diri. Analisis keadaan.
Langkah pertama: di mana ini?
Langkah kedua: apakah tempat ini berbahaya?
Langkah ketiga: siapa yang bisa dia percayai?
Langkah keempat:Kenapa aku berubah di umur ku-17 tahun?
Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang.
Jantungnya mencelos.
Dengan cepat, ia berbalik.
Dan di bawah sinar bulan, dia melihatnya.
Seorang remaja muda, seperti berumur 16 tahun berdiri di antara pepohonan.
Rambut biru kehitaman pekat tergerai hingga bahunya, mata gelapnya menatapnya dengan keheranan.
Jubah biru tua yang dikenakannya menunjukkan statusnya-bukan rakyat biasa. Pedang perunggu yang tergantung di pinggangnya berkilauan dalam cahaya redup.
Tatapan mereka bertemu.
Sejenak, hanya ada keheningan.
Pria itu tidak bergerak, tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Selene-seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Tapi bukan hanya keterkejutan yang tampak di wajahnya.
Ada sesuatu yang lain.
Kekaguman.
Dia ingin bertanya, ingin mendekat, tetapi lidahnya terasa kelu.
Siapa wanita ini?
Dan kenapa... dia tidak bisa mengalihkan pandangannya?
Gaun satin berwarna biru gelapnya memeluk tubuhnya dengan sempurna, menampilkan keanggunan yang sepadan dengan kecantikannya. Rambut biru panjang yang indah , seperti langit membentang di bawah rambut nya dan berkilauan di bawah cahaya bulan.
Dia tidak tahu siapa gadis ini. Tapi yang pasti, dia belum pernah melihat seseorang seindah ini dalam hidupnya.
Dan tanpa dia sadari, hatinya yang selalu tenang mulai bergetar untuk pertama kalinya.
yang lembut, menciptakan bayangan perak di atas permukaan air yang tenang. Hutan di sekelilingnya sunyi, hanya suara angin yang berbisik lembut di antara dedaunan.
Selene Calista Ravenshire berdiri di tepi danau, gaunnya yang elegan masih sedikit berdebu karena tanah hutan yang lembap. Tapi itu bukan hal yang dia pikirkan saat ini.
Sepasang mata birunya menatap pria di depannya-sang pangeran Hittite yang muncul dari balik pepohonan.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Dia tidak mengenal pria ini, tidak memahami mengapa dirinya ada di tempat asing ini. Tapi tatapan mereka bertemu-mata gelap pangeran itu yang penuh misteri dan keheningan, bertabrakan dengan mata birunya yang jernih dan menusuk.
Selene terbungkam.
Dia tidak berbicara, tidak bergerak. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Entah karena keterkejutan atau karena sesuatu yang lain.
Tanpa sepatah kata pun, dia memalingkan wajahnya dan berbalik, meninggalkan pria itu begitu saja. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, seperti bayangan yang menghilang di bawah sinar bulan.
Namun, pangeran itu tidak mengalihkan pandangannya dari sosoknya.
Aku tidak tahu aku Dimana...
Aku harus tenang
Pakaian yang aneh
Pertama aku harus memperhatikan hal di sekitar ku,lebih dari itu aku harus bertahan hidup.
Pangeran Hittite itu tetap berdiri di tempatnya, matanya masih mengikuti langkah Selene yang semakin menjauh. Rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam-sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan-menggerakkan kakinya untuk maju.
Tanpa pikir panjang, dia mengikuti wanita asing itu.
Selene berjalan cepat, hampir seperti berlari kecil, meskipun tetap mempertahankan keanggunannya. Gaunnya yang panjang sedikit menghalangi gerakannya, tetapi dia tidak peduli. Dia tidak tahu di mana dia berada, siapa pria itu, atau bagaimana bisa terdampar di dunia ini. Yang dia tahu hanyalah instingnya-bahwa dia harus pergi dari sana.
Namun, suara langkah kaki yang mengikuti di belakangnya membuatnya sadar bahwa dia tidak sendirian.
Selene mempercepat langkahnya, tetapi pangeran itu juga melakukannya.
Akhirnya, saat jarak mereka semakin dekat, pangeran itu berbicara untuk pertama kalinya, suaranya rendah tetapi penuh kewibawaan.
"Berhenti."
Selene mengabaikannya.
"Aku tidak tahu siapa kau, tetapi kau tidak bisa berlari di dalam hutan ini sendirian."
Dia masih tidak menjawab, masih terus melangkah, berharap bisa menemukan tempat untuk bersembunyi atau sekadar menjauh dari pria itu.
Namun, dia tidak memperhitungkan akar pohon besar yang mencuat dari tanah.
Langkahnya tersandung.
Selene hampir jatuh, tetapi dalam sekejap, sepasang tangan kuat menangkap pergelangan tangannya dan menariknya dengan cepat.
Tubuhnya terhenti dalam satu tarikan halus, membuatnya berdiri hanya beberapa inci dari pria itu. Nafasnya tercekat, dan untuk pertama kalinya, dia melihat wajahnya lebih dekat-rahangnya yang tegas, tatapan gelap yang menusuk, dan sedikit ketegangan di wajahnya.
"Sudah kubilang, berhenti."
Selene mengangkat kepalanya, menatap pangeran itu dengan sorot mata tajamnya, menyembunyikan rasa panik yang mulai muncul di dadanya.
"Lepaskan aku." Suaranya datar, tenang, penuh wibawa-seperti seorang penasihat kerajaan yang terbiasa memberi perintah.
Pangeran itu menatapnya sejenak, seolah menilai keberanian dan ketenangan yang jarang ia lihat dalam diri seorang wanita. Lalu, perlahan, dia melepaskan pergelangan tangan Selene.