Aleksander Smith seorang pria berusia 35 tahun,
Ia merupakan seorang bos mafia yang ditakuti dinegara Indonesia. Kekejian dan kekejamannya membuat ia paling ditakuti di dunia Mafia.
____
Agatha Leonor wanita cantik yang selalu terlihat ceria dan periang, namun keceriaan itu seketika hilang ketika tanpa sengaja dia harus berurusan dengan Aleksander Smith dan berakhir menjadi tawanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Bia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bimo dan anak buahnya menyeret Leonor membawanya dihadapan alex. Duduk dengan sorotan mata tajamnya yang siap memangsa siapapun.
"Lepaskan saya, saya tidak bersalah" Pintanya memohon untuk dilepaskan.
Kalau tahu bakal seperti ini jadinya, ia memilih untuk mengabaikan suara itu tadinya.
Mereka melepaskan Leonor dan meninggalkan ruangan tersebut menyisakan Bimo dan tuan alex.
Dengan senyum sinis yang hampir tidak terlihat ituu, ia memandang Leonor dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Merasa ditatap dengan lekat membuat Leonor menjadi risih dan tidak nyaman.
'Jujur demi apapun ini orang menakutkan untuk ditatap berlama-lama seperti ini' gumam nya dalam hati.
"Jadi kamu orang suruhannya" Tanya alex menatap Leonor dengan tatapan mata yang tajam, sorotan mata itu bagaikan kilatan petir yang siap menghancurkan satu bukit.
Leonor mengerutkan keningnya mencerna ucapan pria yang ada didepan nya.
"Maaf saya tidak mengerti apa yang kamu ucapkan" Jawab nya bingung dengan pertanyaan itu.
"Rupanya kamu mencoba untuk bermain-main dengan saya" Balasnya dengan tegas sambil berdiri memutari tubuh Leonor.
"Bimo kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" Ucapnnya pada Bimo, karena sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh tuannya ia langsung meninggalkan ruangan itu menjalankan perintah.
Selang beberapa menit Bimo kembali dengan membawa beberapa alat diantara ada cambuk dan setrum listrik berkekuatan tinggi.
Meletakkan alat-alat diatas meja dan meninggalkan tuannya sendiri, ia sudah tahu persis apa yang akan dilakukan oleh tuannya.
"Kerena kamu tidak mau mengaku, maka biarkan saya memberi sedikit pelajaran dengan alat-alat ini" Ucapanya sambil mendekati alat-alat itu dan memegang nya satu persatu.
"Kumohon jangan!, aku tidak tahu apa yang kamu maksud" Pintanya dengan suara bergetar, melihat alat-alat itu saja sudah membuat nya merinding dan gemetar.
"Tergantung padamu, kamu sendiri yang menentukan pilihan" Jawabnya dengan menarik rambut Leonor kebelakang hingga membuatnya mendongak.
"Ishhh auhhh, lepaskan sakit" Pinta Leonor dengan menahan sakit karena tarikan rambutnya semakin keras.
"Pelan-pelan saya belum puas untuk menyiksamu sampai kamu mengaku sendiri siapa yang menyuruhmu" Jawabnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar hanya bisikan ditelinga Leonor.
"Harus berapa kali saya katakan, saya tidak tahu dan saya bukan suruhan siapa" Balasnya dengan tak kalah tegas...
"Lepaskan saya sekarang, saya harus kerja" Mohon Leonor, mengingat beberapa hari ia tidak bekerja karena tidak enak badan, kalau harus izin lagi maka dipastikan besok ia akan dikeluarkan dari tokoh bunga.
Alex bangkit mengambil alat cambuk itu dan mendekati Leonor yang matanya sudah berkaca-kaca.
Cetar!
Ceter!
"Aaaahhhh aaahhhh" Leonor memejamkan mata menahan rasa sakit yang begitu luarbiasa dari cambukan itu.
"Masih tidak mau mengaku?"ucap leon sambil mengusap cambuknya, Leonor hanya diam terduduk di kursi yang ada di tengah ruang itu.
Isak tangis terdengar begitu memilukan darinya, dua cambukan hampir meremukkan tulang pinggang nya " Bunuh saja saya kalau itu dapat mengobati rasa penasaranmu terhadap saya" ucap Leonor pasrah dengan keadaannya selama ini.
"Kamu tidak akan mati semudah itu karena aku belum puas menyiksamu" Ucapnya sambil meningalkan Leonor sendiri didalam ruangan.
Sebelum meninggal Leonor ia sudah membuka borgol yang ada ditangan nya. Leonor menyikap bajunya dan melihat bekas cambukan pria tadi, meninggalkan bekas yang mulai membiru.
Ia terduduk dipojokan ruangan merenungkan kembali apa yang terjadi dalam kehidupannya.
'Tuhan kenapa cobaan yang engkau berikan tidak pernah ada habisnya?, kenapa tidak pernah ada kebahagiaan sekali saja dalam hidupku' guman Leonor, hingga tanpa sadar air matanya menetes.
**
Sementara disisi lain alex menghampiri Bimo yang menunggu di luar memastikan semua aman terkendali.
"Bagimana dengan perempuan itu?" Tanya alex pada Bimo.
"Mayatnya sudah saya bereskan dan tidak akan ada jejak yang tertinggal tuan" Jawabnya sambil menunduk, hingga tepukan sebuah tangan di bahunya membuat ia mengangkat kepala.
"Bagus!, kamu memang selalu bisa di andalkan" Balasnya sambil menepuk pundak Bimo.
"Saya minta kamu cari tahu siapa perempuan yang ada didalam,saya mau detail".
" Kamu urus dia dan bahwa ke mansion, kurung dia diruang bawah tanah" Ucap alex seraya meninggalkan Bimo untuk mengurus Leonor.
"Baik tuan" Jawab Bimo tak kalah tegas.
***Bersambung***
makasih thorr cerita mu sgt bagus