Kinara tak menyangka jika kedatangannya di acara reuni akan membawa bencana bagi kehidupan selanjutnya. Bertemu dengan pria yang dulunya membuat hidupnya tertekan.
Hingga ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan sang pria. Dan kali ini, pertemuan dirinya dan pria masa lalunya membawa duka lara untuk dirinya.
"Aku sudah lama menunggu kehadiranmu! Biarkan malam ini menjadi saksi rasa sakit hatiku padamu Kinara."~ Edgar Regantara
"Kau tak tau bagaimana rasanya jadi aku, Mungkin dengan cara kamu membalaskan dendam padaku! Rasa sakit hatimu lenyap bersamaan dengan luka yang akan aku bawa pergi" ~Kinara Saqeel Ardav
Sanggupkah Kinara melewati semua itu, melewati hal tak terduga dari masa lalunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMR 21
"Edo," panggil Kinara ketika Edgar hendak masuk ke kamarnya. Edgar menoleh dengan dahi mengkerut.
"Kenapa?" tanya Edgar ketika Kinara menunduk, wanita itu terlihat ingin berbicara namun ia masih bingung apa yang akan dibicarakannya pada Edgar.
"Mmm, gak jadi." sahut Kinara membuka pintu kamarnya dan menutupnya secara gamblang.
Ya, kamar Kinara dan Edgar memang bersebelahan berbeda dengan rumah minimalis itu. Saat ini keduanya telah kembali ke apertemen setelah seharian bersama Ardav di rumah sakit. Bahkan Edgar juga ikut berdiam disana tanpa memperdulikan pekerjaan yang sudah menumpuk dikantornya.
Edgar tersenyum kecil mendapati tingkah Kinara yang menggemaskan. Memang setelah pulang dari rumah sakit tadi, Kinara terdiam dan melamun didalam mobil. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.
"Apa dia sudah menimbangi ucapan Papa?" batin Edgar bertanya-tanya, pasalnya ia tau ucapan yang disampaikan Ardav pada Kinara ketika ayah dan anak itu tengah berdua.
Edgar bersyukur ketika Ardav memberi pengertian pada istrinya. Meskipun saat ini Kinara masih terlihat kaku, namun tak apa . Edgar yakin seiring berjalannya waktu, Kinara akan menerima dirinya kembali seperti dulu.
Tok...tok...
"Rara," panggil Edgar. Ya, Rara adalah panggilan kesayangannya dulu untuk wanita itu. Wanita yang dengan teganya ia hakimi bahkan disiksa batin dan fisiknya.
ceklekk...
"Kenapa?" tanya Kinara ketika pintu itu sudah terbuka, wanita itu menunduk. Apa dia malu atau ada hal yang lebih menarik di keramik itu pikir Edgar.
"Aku mau tidur disini," ujar Edgar melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Kinara tanpa permisi. Jantung Kinara bergemuruh, bahkan nafasnya terasa tercekat dengan kelakuan Edgar.
Tidur disini! Berarti ia dan Edgar akan tidur satu ranjang lagi seperti semalam pikir Kinara.
"Ed, kenapa tidur disini? bukankah kamarmu lebih luas dari pada ini." celetuk Kinara mencoba membuat Edgar mengurungkan niatnya.
"Tak apa, aku ingin tidur disini dengan memeluk istriku." sahut Edgar dengan santainya. Pria itu membuka kancing kemejanya didepan Kinara tanpa rasa sungkan sekalipun.
"Ed, jangan gila." sahut Kinara mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika sekilas matanya melihat kearah roti sobek milik Edgar. Dada berdesir namun ia berusaha mengontrol rasa yang tiba- tiba menyeruak di dada.
"Jangan berpaling ,Ra. kamu istriku, apa tubuhku terlalu menjijikkan hingga kamu enggan melihatku?" tanya Edgar yang tiba-tiba sudah berada didepan Kinara, pria itu memegang kedua bahu Kinara dengan mata menatap wajah merah merona itu.
"Ed, Ak-ku ___"
"Memang kesalahanku sangat fatal padamu,Ra. Aku hanya ingin menebus semuanya. Aku ingin membahagiakanmu," ucap Edgar penuh keseriusan.
Kinara menelan ludahnya secara kasar ketika matanya bersitubruk dengan mata tajam Edgar. Ia bingung, haruskah ia mendengarkan ucapan Ardav dan menjalankannya. Namun mengingat perlakuan Edgar dulu membuat Kinara takut. Entahlah.
"Mungkin kamu masih mempunyai rasa benci dengan ku, Ra. Tapi tak apa, aku bisa maklum karena semua itu ulahku." sahut Edgar dengan suara nelangsanya. Kinara mendongak menatap pria tampan yang kini tengah menunduk. Dengan bergetar, tangan Kinara mencoba meraih dagu Edgar dan mengelusnya secara pelan. Ia ingin berusaha melupakan hal yang memilukan dimasa lalu, meskipun terlihat sangat berat untuknya. Biarkan Edgar harus sabar menunggu perubahannya.
"Berusahalah, Ed. Berusaha buat aku bisa kembali luluh seperti dulu. Maafkan aku kalau selama ini belum bisa jadi istri baik dan sangat mengecewakan untukmu. Tapi bersabarlah, tidak lama lagi." ungkap Kinara dengan tangan setia mengusap rahang tegas milik Edgar.
"Aku akan sabar! Ja-di kamu mau memaafkan ku!" seru Edgar namun hanya dijawab anggukan oleh Kinara.
Bibir Edgar tersenyum lebar, ia gapai tangan Kinara dan menciumnya berkali- kali. Sungguh malam ini adalah malam bahagia untuknya, malam yang tak bisa ia lupakan begitu saja.
Mendapatkan maaf dari Kinara membuatnya seakan terbang, hatinya lega mendengarnya.
"Terimakasih," seru Edgar menarik tubuh Kinara untuk mendekap tubuhnya. Kinara dengan ragu membalas pelukan itu walaupun dengan tangan yang masih bergetar. Ia canggung namun ia berusaha menepis segalanya.
Demi Ardav dan demi kelangsungan rumah tangganya yang baru seumur jagung. Meskipun cara Edgar menikahinya adalah sebuah kesalahan, namun ia akan tetap berusaha.
"Mari tidur, sudah malam." ungkap Edgar melerai pelukannya, ia menuntun Kinara untuk tidur di ranjang yang semalam menjadi saksi keromantisan keduanya.
Bersambung...
mengandung bawang iya,emosi iya
gado2 😁