NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Tembok di Belakang Dapur

Maret 1947

Kalau ada yang bilang perjalanan dari kota ke Sumberwungu itu menyenangkan, Zaki ingin sekali mengajak orang itu duduk di bak dokar yang sama dengannya.

Dokar itu berguncang setiap kali rodanya menghantam lubang. Sudah tujuh kali Zaki hampir terlempar bersama karung beras dan dua ayam milik penumpang lain. Ayam-ayam itu tampak lebih tenang darinya.

"Nak Zaki, sabar. Tinggal satu tikungan lagi," kata Pak Kusir tanpa menoleh.

"Tikungan yang tadi juga Bapak bilang begitu."

"Nah, ini beneran."

Zaki menghembuskan napas dan memeluk erat buntalan kain di pangkuannya. Isinya dua sarung, satu baju koko, kitab tipis yang sudah lusuh, dan sebungkus dodol buatan ibunya. Ibunya berpesan agar dodol itu diberikan kepada Kiai. Kalau ada sisa, boleh dimakan sendiri, katanya. Tentu saja Zaki tahu itu bukan pesan yang bisa dipegang. Sisa dodol di tangan anak umur dua puluh tahun yang lapar sehabis perjalanan jauh biasanya tidak ada.

Tikungan itu akhirnya datang, dan benar, di baliknya hamparan sawah terbuka lebar. Padi baru setinggi lutut, hijau muda, bergoyang pelan ditiup angin sore. Di ujung pematang berdiri sebuah gapura sederhana dari bata merah dengan papan kayu bertulisan tangan:

PONDOK PESANTREN AL-HIKMAH

Di belakangnya tampak deretan atap genteng dan sebuah menara kecil masjid. Suara orang mengaji terbawa angin, samar tapi teratur, seperti denyut sesuatu yang hidup.

Dada Zaki tiba-tiba terasa penuh. Ia sendiri tidak tahu apakah itu takut, lega, atau sekadar lapar.

"Sudah sampai," kata Pak Kusir sambil menarik tali kekang. "Semoga betah, Nak. Kiai Wahid itu orang baik."

Zaki turun, menepuk-nepuk debu di sarungnya, dan mengucapkan terima kasih. Dokar bergerak pergi dengan membawa dua ayam yang masih tampak tenang.

Halaman pondok lebih ramai dari yang ia bayangkan. Beberapa santri duduk di teras asrama sambil menjemur kitab. Ada yang menimba air di sumur, ada yang menyapu, dan seorang santri bertubuh gempal sedang berlari mengejar ayam yang lepas. Ayam itu jelas lebih cepat.

"Woy, tolong! Tangkap! Itu jatah lauk Jumat!"

Refleks, Zaki menjatuhkan buntalan kain miliknya dan menghadang. Ayam itu berbelok, Zaki ikut berbelok, lalu keduanya bertabrakan dengan cara yang tidak terhormat. Zaki jatuh terduduk. Ayam itu mendarat di pangkuannya dan menatapnya dengan wajah tak bersalah.

Santri gempal itu terengah-engah menghampiri, lalu tertawa keras.

"Hebat! Baru sampai sudah dapat ayam!" Ia menjulurkan tangan. "Darto. Asal Blitar. Santri lama, kelas dua, dan pengejar ayam profesional."

Zaki menyambut tangannya sambil berdiri. "Zaki. Dari kota. Santri baru, dan sepertinya pengejar ayam amatir."

"Amatir yang berbakat," kata Darto sambil mengambil ayam itu dan mengapitnya di ketiak. "Ayo, saya antar ke Kiai. Beliau pasti sudah menunggu. Oh iya, jangan kaget kalau nanti Beliau menanyakan hafalanmu. Itu semacam ujian masuk tidak resmi."

"Kalau hafalanku berantakan?"

"Berarti kita senasib." Darto nyengir. "Tapi tenang, Kiai itu galak di depan, baik di dalam."

Rumah Kiai Abdul Wahid berdiri di sisi masjid, sederhana dengan lantai tegel dingin dan aroma kopi yang menggantung di udara. Kiai duduk bersila di atas tikar pandan. Usianya sekitar enam puluh, janggutnya putih rapi, dan matanya teduh tapi seakan bisa melihat apa saja yang bersembunyi di kepala orang.

Zaki mencium tangan Kiai dan menyerahkan dodol dengan kedua tangan.

"Dari ibu saya, Kiai."

"Alhamdulillah. Ibumu masih pintar bikin dodol, ya. Ayahmu sehat?"

Zaki tertegun. "Kiai kenal ayah saya?"

"Ayahmu dulu sering ke sini menjual kain untuk sarung santri. Tawar-menawarnya alot sekali." Kiai tersenyum tipis. "Tapi jujur. Orang jujur itu langka, jadi saya ingat."

Dada Zaki hangat. Ia tidak tahu ayahnya pernah datang ke tempat ini.

Setelah beberapa pertanyaan tentang hafalan dan kitab yang pernah dipelajari, Kiai mengangguk-angguk, lalu berkata pelan, "Di sini kamu belajar ilmu agama, tapi jangan lupa belajar juga membaca zaman. Kita hidup di masa yang tidak sepenuhnya tenang, Nak."

Zaki mengangguk, meski belum paham betul maksudnya. Belanda memang masih berkeliaran di sana-sini, dan orang-orang kota ramai membicarakan perundingan dan gencatan senjata. Tapi di tempat seperti ini, di antara sawah dan suara ngaji, semua itu terasa jauh.

Ia belum tahu betapa dekat sebenarnya.

Menjelang magrib, Darto mengajak Zaki berkeliling.

"Ini asrama putra. Kamarmu di sana, bareng saya dan lima orang lain. Yang paling ujung namanya Kang Ridwan, tukang ngorok, jadi siap-siap." Ia menunjuk ke arah lain. "Itu sumur, itu kamar mandi, itu tempat jemuran. Jangan jemur sarung di pagar, nanti dimarahi Pak Ustaz."

"Dan itu?" Zaki menunjuk sebuah tembok bata tinggi yang membentang di sisi timur halaman, dengan pintu kayu tertutup rapat di tengahnya.

"Nah." Darto menurunkan suara seperti hendak membocorkan rahasia negara. "Itu pembatas. Di seberangnya asrama putri. Aturan nomor satu di pondok ini: santri putra tidak boleh melewati tembok itu, dan santri putri tidak boleh melewati sini. Pelanggar dihukum, dan hukumannya bukan yang enak-enak."

"Lalu bagaimana kalau ada urusan?"

"Ada satu tempat." Darto menunjuk sebuah bangunan panjang di dekat tembok, dengan asap tipis mengepul dari cerobongnya. "Dapur umum. Pintu depannya untuk putra, pintu belakangnya untuk putri. Tengah-tengahnya ada lubang pemberian. Kadang piring lewat situ, kadang juga sedikit kabar."

Zaki menatap tembok itu lama-lama. Bata-bata merahnya berlumut di beberapa bagian. Di puncaknya tumbuh rumput liar, dan seekor burung gereja bertengger di sana seolah tembok itu miliknya seorang.

"Kenapa tinggi sekali?"

"Supaya hati tenang," kata Darto sambil tertawa. "Meski kadang tidak berhasil."

Zaki ikut tertawa, tapi sebelum tawanya habis, sesuatu menahannya.

Dari balik tembok terdengar suara seseorang membaca. Bukan mengaji, melainkan membaca puisi dengan pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Suaranya perempuan, jernih, dan sedikit ragu di kata-kata terakhir, seolah takut ada yang mendengar.

Zaki tidak menangkap semua katanya. Tapi ada satu kalimat yang sampai jelas ke telinganya, dan entah kenapa langsung menetap:

"...dan rindu adalah tamu yang tak pernah mengetuk pintu."

Suara itu berhenti. Burung gereja terbang. Dari kejauhan, azan magrib mulai berkumandang.

"Zaki? Kok melamun? Ayo wudhu, nanti telat."

"Iya," jawab Zaki. Tapi kakinya baru mau bergerak setelah ia sekali lagi menoleh ke arah tembok itu.

Ia belum tahu siapa pemilik suara itu. Ia hanya tahu, entah kenapa, malam itu ia tidak akan bisa tidur dengan tenang. Dan itu bukan karena dengkuran Kang Ridwan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!