Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Tiket Sekali Jalan
"Kami kehilangan Bu Nala, Pak."
Suara di telepon terdengar seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk dimarahi. Jumat malam, pukul sembilan. Damar sedang berdiri di depan peta jalur kapal yang ditempel di dinding kantor gudang.
"Kapan?"
"Selasa pagi, Pak. Beliau masuk minimarket di Fatmawati, kami tunggu di luar. Dua puluh menit nggak keluar-keluar. Kami cek ke dalam, sudah nggak ada. Ternyata ada pintu samping ke gang belakang." Jeda yang canggung. "Ada mobil SUV abu-abu yang jemput. Laki-laki yang nyetir. Pelatnya Bandung."
"Dan kalian baru bilang sekarang."
"Beliau sudah pulang Kamis malam, Pak. Kami pikir..."
"Kalian pikir."
Damar memutus sambungan dan meletakkan ponselnya di meja dengan sangat pelan.
Reza, yang duduk di sofa usang di sudut kantor dengan kaki di atas meja, menurunkan kakinya.
"Laki-laki," katanya. "Pelat Bandung."
Damar tidak menjawab.
***
Dua tahun lalu, sehari setelah perempuan bergaun putih itu muncul di Vila Mawar dengan pisau berlumuran darah di tangannya, Reza sudah menyerahkan sebuah map ke meja Damar.
Anala Paramitha. Lahir di Solo. Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, beasiswa penuh. Empat kali juara lomba studi kasus bisnis tingkat nasional. Anak tunggal. Orang tua sudah meninggal. Tidak ada utang, tidak ada catatan polisi, tidak ada mantan pacar yang bisa ditemukan. Tidak ada media sosial selain akun LinkedIn yang dibuat tiga minggu sebelumnya.
"Terlalu rapi," kata Reza waktu itu. "Orang normal nggak serapi ini, Mar. Orang normal punya foto mabuk waktu kuliah, punya mantan yang nulis status galau. Dia nggak punya apa-apa."
"Jadi?"
"Jadi aku nggak suka. Pulangin dia."
Damar menutup map itu. "Justru karena terlalu rapi," katanya, "biarkan dia di sini. Aku mau lihat apa yang dia sembunyikan."
Dua tahun. Reza menyuruh orang mengikutinya di akhir pekan, membuka riwayat transfernya, memeriksa siapa yang dia telepon. Dua tahun, dan tidak ada apa pun yang ditemukan. Perempuan itu bekerja, pulang, tidur, dan bekerja lagi. Seperti jam yang tidak pernah terlambat satu detik pun.
Sekarang, tiba-tiba, sebuah minimarket dengan pintu samping. Seorang laki-laki dengan pelat Bandung.
"Tarik orang-orangmu," kata Damar.
Reza mengangkat kepala. "Apa?"
"Semua yang mengikuti dia. Tarik. Tinggalkan dua orang. Bukan untuk mengikutinya. Untuk menjaganya. Dari jauh. Dia tidak boleh tahu."
Reza menatapnya. Lama. Lalu dia bersandar ke sofa dan melipat tangan di dada.
"Mar," katanya. "Kamu beneran suka sama dia?"
Damar menatap peta di dinding. Garis-garis biru jalur kapal. Titik-titik merah pelabuhan. Pulau-pulau kecil yang namanya tidak dia ingat.
Dia tidak menjawab.
Reza tidak bertanya lagi. Tapi Damar bisa merasakan tatapan sahabatnya itu di punggungnya, lama sekali, sampai Reza akhirnya berdiri dan keluar untuk menelepon orang-orangnya.
Di ponselnya, ikon kecil berbentuk titik biru masih menyala di pojok layar. Berbagi lokasi. Dia menyalakannya di Puncak, ketika dia mengirimkan titik merah itu ke nomor Anala. Dia tidak pernah mematikannya. Dan Anala, entah kenapa, juga tidak.
***
Pukul empat lewat tiga puluh pagi, ponselnya berdering lagi.
Damar tidak tidur. Dia duduk di kursi yang sama dengan jas yang sama, dan dia mengangkat telepon itu pada dering pertama.
"Pak, maaf ganggu subuh-subuh." Salah satu dari dua orang yang dia tinggalkan di Jakarta. "Bu Nala barusan check-in di Soekarno-Hatta. Penerbangan jam enam ke Batam. Kami cek manifesnya, Pak. Tiketnya sekali jalan."
Sekali jalan.
Damar berdiri.
Pikiran pertamanya seharusnya curiga. Dua tahun dia melatih dirinya untuk curiga pada perempuan itu. Pikiran pertamanya seharusnya: kenapa dia ke Batam, siapa yang dia temui, apa hubungannya dengan laki-laki berpelat Bandung itu, apa hubungannya dengan Gilang, dengan Bayang, dengan barang yang hilang dari gudang.
Tapi bukan itu yang pertama muncul di kepalanya.
"Siapa yang bilang ke dia?"
"Maaf, Pak?"
"Siapa yang bilang ke dia aku di sini. Bahwa ada masalah." Suaranya naik, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari. "Siapa yang bilang ke dia sampai dia beli tiket sekali jalan?"
Orang di seberang tidak tahu harus menjawab apa.
Damar memutus sambungan dan langsung menekan nomor Anala. Nada sambung berbunyi sekali, dua kali. Lalu suara operator: nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Dia menekannya lagi. Sama.
Dia berdiri di tengah kantor gudang yang sunyi itu dengan ponsel di tangan, dan dadanya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang panas dan sesuatu yang dingin di tempat yang sama. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Dia hanya tahu bahwa dia ingin perempuan itu tidak naik pesawat itu. Dan dia tahu, di saat yang sama, dengan cara yang membuatnya membenci dirinya sendiri, bahwa sebagian dari dirinya senang dia naik.
Sekali jalan. Tanpa tiket pulang.
Reza muncul di ambang pintu dengan mata merah karena kurang tidur. "Ada apa?"
"Anala ke Batam."
Reza mengerjap. Lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga."
"Kirim orang ke Hang Nadim. Jemput dia begitu mendarat. Bawa ke hotel. Jangan biarkan dia ke mana-mana."
"Oke." Reza sudah mengeluarkan ponselnya. Lalu dia berhenti. "Mar. Sore ini kita tetap berangkat?"
Damar menatap jendela. Langit di atas Batam mulai abu-abu.
"Tetap."
***
Pukul dua belas siang, orang-orang yang dia kirim ke bandara melapor.
Mereka sudah menunggu di pintu kedatangan sejak pesawatnya mendarat. Bu Nala tidak keluar lewat pintu itu. Mereka mengecek manifes, dia memang ada di pesawat. Tapi dia tidak keluar. Atau keluar lewat jalan lain.
"Jalan lain itu di mana?" tanya Damar.
"Kami juga lagi cari tahu, Pak."
Damar menutup telepon. Reza menatapnya dari kursi penumpang mobil, wajahnya serba salah.
"Dia memang begitu," kata Reza pelan. "Dari dulu. Kalau dia nggak mau ditemukan..."
"Aku tahu."
Titik di ponselnya. Damar membuka aplikasi peta. Titik biru milik Anala muncul sebentar di Nagoya, lalu hilang lagi. Sinyal yang buruk, atau ponsel yang dimatikan.
Dia masih di Batam. Itu saja yang dia tahu.
***
Pukul lima sore, mereka menyeberang ke Bintan dengan kapal RoRo dari Telaga Punggur. Mobilnya satu, sebuah SUV hitam. Tagih di balik kemudi. Reza di sebelahnya. Damar di kursi belakang.
Bayang bilang tidak boleh membawa banyak orang. Damar membawa dua. Dua orang yang dia percaya lebih dari siapa pun di dunia ini.
Jalan lintas timur Bintan lengang menjelang magrib. Aspalnya mulus, lurus panjang di antara kebun karet dan semak belukar. Sesekali lewat sepeda motor dengan karung kelapa di jok belakang. Sesekali lewat truk pengangkut pasir. Di kiri jalan, sesekali, laut terlihat di sela-sela pohon, berwarna jingga oleh matahari yang hampir tenggelam.
Matanya mulai melemah. Seperti setiap sore. Pinggir-pinggir pandangannya mulai buram, warna-warna mulai luntur menjadi abu-abu. Dia merogoh saku jas untuk mengambil obat tetes, lalu ingat bahwa botol itu tertinggal di meja kantor gudang.
Botol yang selalu diletakkan Anala di sudut kanan mejanya setiap pagi.
"Kilometer tiga puluh," kata Tagih. "Dua kilo lagi, Bos."
Reza menggosok-gosok telapak tangannya di celana. Tidak ada yang bicara.
Damar menatap ponselnya. Tidak ada sinyal. Titik biru itu tidak muncul lagi sejak siang.
Di mana kamu, pikirnya.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia mengucapkannya dalam kepalanya dengan cara yang lain. Bukan apa yang kamu sembunyikan. Bukan siapa kamu sebenarnya. Hanya, di mana kamu. Apakah kamu baik-baik saja. Apakah kamu makan siang ini.
"Kilometer tiga puluh satu."
Sebuah truk besar muncul di kejauhan, dari arah berlawanan. Lampunya sudah menyala, meskipun langit belum benar-benar gelap.
Lalu dari kebun karet di sisi kanan jalan, terdengar bunyi yang Damar kenal.
Letupan. Satu. Dua. Kaca belakang di sisinya retak seperti jaring laba-laba.
"Turun!" teriak Tagih. Dia membanting setir.
Damar merunduk. Peluru lain menghantam pintu. Reza memaki.
Dan truk itu, yang tadi berada di jalurnya sendiri, tiba-tiba membelok. Tidak mengerem. Justru menambah kecepatan. Langsung menuju sisi kanan mobil mereka. Sisi tempat Damar duduk.
Cahaya lampunya memenuhi jendela. Putih menyilaukan, seperti siang yang tiba-tiba pecah di tengah senja.
"MAR!"
Teriakan Reza adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum dunia terbalik.