NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Hawa dingin di Lantai 10 merembes masuk melewati serat kain kusam yang membungkus tubuh Ren.

Setiap tarikan napas terasa perih di dada. Udara pekat berbau lumut basah dan karat besi mengendap di rongga tenggorokan, meninggalkan jejak pahit yang sulit hilang. Bagi orang-orang yang terjebak di dalam menara ini, desau angin pegunungan dan birunya langit daratan luar hanya tersisa sebagai ingatan samar yang kian memudar.

Di atas kepala mereka, langit-langit aula membentang luas tanpa batas dalam kegelapan pekat. Pendar ungu merembes dari sela batuan obsidian yang retak di ribuan titik, memantul redup di atas ubin marmer yang telah kusam dan pecah. Cahaya temaram itu jatuh menimpa ratusan sosok yang berdiri kaku dalam barisan rapat.

Tidak ada suara tawa atau percakapan santai. Yang terdengar hanyalah derak pelat zirah tipis, gesekan sol sepatu bot tua di atas lantai licin, dan tarikan napas pendek yang tertahan oleh rasa takut yang mencekik leher.

Ren berdiri di barisan paling depan formasi pelopor.

Kedua tangannya memegang gagang tombak pendek berujung perunggu murah. Telapak tangannya yang kasar basah oleh keringat dingin, membuat kayu tombak itu terasa licin setiap kali jari-jarinya bergeser. Di bawah sol sepatunya yang sudah menipis, lumut basah bercampur lendir sisa bangkai monster lantai sebelumnya terasa kenyal dan menjijikkan.

Pandangan Ren tertuju lurus ke depan, menembus kabut ungu yang menggantung tebal di ujung aula. Di sanalah gerbang sarang penjaga lantai berada, tersembunyi di balik bayang-bayang kelam yang menyerupai mulut jurang raksasa.

Di samping kirinya, seorang pemuda bertubuh kurus terus gemetar tanpa henti. Usianya belum genap tujuh belas tahun, rekrutan baru dari lorong kumuh pinggiran ibu kota. Lutut pemuda itu saling beradu, menimbulkan ketukan kecil yang menyedihkan di antara deru angin aula yang pengap.

"Tegakkan badanmu," bisik Ren pelan tanpa menoleh, menjaga nada suaranya serendah mungkin. "Gemetar tidak akan membuat monster di depan sana membatalkan gigitannya."

Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah, berusaha meredam getaran kakinya, tetapi teror di dalam kepalanya sudah terlanjur melumpuhkan akal sehat. Tangannya yang memegang perisai kayu lapuk bergetar hingga paku-paku pengikatnya berderik longgar.

Satu lecutan cambuk kulit berlapis kawat berduri melayang di udara, menghantam punggung pemuda itu tanpa peringatan.

Kain seragamnya robek seketika, menorehkan garis merah pekat di kulit punggungnya. Pemuda itu terjerembap ke lantai marmer sambil memekik tertahan, sebelum ditarik berdiri secara kasar oleh cengkeraman sarung tangan baja seorang perwira pengawas.

"Pasang matamu ke depan!" bentak perwira berzirah perak itu dengan suara parau yang dingin. "Utang keluarga kalian sudah dibayar lunas oleh Wangsa Ravensburg. Tugas kalian cuma berdiri di garis ini, tahan serbuan pertama monster, dan jangan ada yang mundur selangkah pun. Siapa yang berani berbalik arah bakal kupenggal lehernya saat ini juga!"

Ren tidak menoleh sedikit pun ke arah perwira itu. Pandangannya tetap terkunci ke depan, rahangnya terkatup rapat.

Ia paham betul posisi regu pelopor di tempat ini. Bagi para bangsawan yang mendanai ekspedisi penaklukan, prajurit berkasta rendah seperti dirinya hanyalah tumpukan angka di lembar logistik. Mereka dikumpulkan dari penjara utang, desa-desa yang gagal panen, dan lorong pemukiman terbakar.

Fungsi mereka di lantai menara sangat sederhana: menjadi dinding daging hidup untuk memancing arah serangan monster buas. Dengan begitu, para ksatria darah murni bisa membaca celah gerakan musuh tanpa perlu mengotori zirah berlapis emas mereka sejak awal pertarungan.

Lima tahun lalu, struktur menara obsidian raksasa menembus langit benua Valenthia tanpa peringatan. Bencana itu menghancurkan kota-kota besar di sekitarnya, mengubah tanah subur menjadi sarang makhluk buas beracun, dan memaksa manusia mendaki lantai demi lantai demi mencari sumber keselamatan di puncak menara.

Namun, di garis paling depan penaklukan ini, tidak ada kemuliaan atau kepahlawanan suci seperti yang didengungkan para juru warta di alun-alun kota. Yang ada hanyalah perhitungan dingin tentang siapa yang harus mati lebih dulu agar orang lain bisa melangkah lebih jauh.

Di barisan belakang yang berjarak puluhan langkah dari tempat Ren berdiri, sebuah kubah pelindung sihir berwarna emas bersinar terang.

Di balik lingkaran perisai itulah berdiri sang komandan ekspedisi Batalion Ketujuh, Julius von Ravensburg. Pria berambut pirang terang itu mengenakan zirah lempeng perak berukir batu safir nilam. Pedang rapier tipis di pinggangnya memancarkan pendar sihir halus, menandakan keahlian tinggi sebagai penyihir pedang terkemuka di lingkungan militer kekaisaran.

Di samping Julius, seorang gadis muda dengan jubah sutra putih memandang ke arah barisan depan dengan kening berkerut dalam. Elise, putri dari Wangsa Althea yang memiliki bakat sihir pemulihan tingkat tinggi, mencengkeram tongkat pusaka peraknya erat-erat.

"Tuan Muda Julius," kata Elise, suaranya terdengar cemas di tengah dengungan pelindung sihir. "Kepadatan mana di lantai ini tidak stabil. Menempatkan barisan depan tanpa perisai sihir di dekat pintu sarang terlalu berisiko. Mereka akan tersapu habis begitu monster itu menerobos kabut."

Julius menoleh perlahan, raut wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi.

"Nona Elise," sahut Julius dengan nada datar yang dingin. "Menara ini tidak bisa ditaklukkan dengan rasa iba. Kemampuan bertarung mereka terlalu buruk untuk ditempatkan bersama pasukan inti. Menggunakan mereka untuk membuka pola serangan monster adalah pilihan paling efisien agar ksatria kita tidak membuang tenaga dan mana di awal laga."

"Mereka tetap manusia yang punya keluarga, bukan umpan buangan," balas Elise, nada suaranya mengeras menahan jengkel.

"Di tempat ini, hanya hasil akhir yang dinilai oleh dewan kekaisaran," jawab Julius santai sambil mengalihkan pandangan ke kabut ungu. "Kecuali jika Anda bersedia menempatkan ksatria pengawal Wangsa Althea di garis paling depan untuk menggantikan mereka."

Elise terdiam. Tangannya meremas tongkat perak hingga sendi jarinya memutih karena tekanan emosi, tetapi posisinya terikat di bawah mandat komando ekspedisi Ravensburg. Di hadapan kalkulasi militer dan kekuasaan para tetua wangsa, protes moralnya terkunci rapat tanpa celah pembelaan.

Ren mendengar potongan percakapan para bangsawan itu terbawa angin aula yang dingin.

Ia tidak membiarkan amarah meracuni konsentrasinya. Di lantai menara yang dipenuhi monster buas, kemarahan yang meluap hanya akan membuang energi dan mempercepat kematian. Yang ia perlukan adalah kepala dingin dan perhitungan tepat untuk tetap bernapas melewati hari ini.

Bertahun-tahun hidup di gang sempit kawasan pelabuhan mengajarinya satu kenyataan keras: orang miskin tidak punya hak untuk merengek saat bahaya maut datang mengetuk pintu.

Di sebelah kanannya, seorang pria bertubuh tegap dengan janggut lebat compang-camping menarik napas panjang.

Paman Vargas, veteran perang garis depan yang telah bertahan hidup bertahun-tahun di menara, menyandarkan tubuhnya pada perisai besi tebal yang penuh goresan cakar monster. Pipa tembakau tua yang padam terselip di sudut bibirnya yang kering pecah-pecah.

"Ren," bisik Vargas tanpa menoleh, suaranya parau dan berat menyerupai gesekan batu kali. "Buka telingamu lebar-lebar kalau kau masih mau melihat jatah ransum besok pagi."

Ren melirik sekilas dari sudut matanya. "Aku dengar, Paman."

"Saat gerbang itu runtuh dan lantai mulai berguncang, jangan pernah tusukkan tombakmu ke arah kepala atau dada monster itu," bisik Vargas dengan nada mendesak. "Begitu makhluk itu melompat dari balik kabut, langsung banting tubuhmu serong ke kanan, mendekati pilar batu ketiga."

"Pilar ketiga?" tanya Ren pelan.

"Di dasar pilar ketiga ada lantai yang amblas dan licin bekas sihir pembeku ekspedisi bulan lalu," jawab Vargas sambil terus menatap kabut ungu di depan. "Monster berbadan berat benci pijakan licin saat mendarat. Dia bakal buang serangannya ke arah kiri, ke tempat orang-orang yang berdiri di ubin rata. Itu bisa memberimu beberapa detik untuk bernapas."

"Berapa lama?"

"Cukup supaya kepalamu tidak langsung lepas di detik pertama," sahut Vargas dengan dengusan getir. "Dan jangan pernah berharap pada perisai bangsawan di belakang kita. Begitu monster itu menerjang barisan depan, Julius bakal melepaskan panah sihirnya tanpa peduli siapa yang terinjak di bawah cakar. Kematian kita cuma harga murah untuk celah tembak yang bersih."

Ren mengangguk kecil. Ia menyimpan petunjuk itu dalam kepalanya, menghitung jarak antara posisinya dan pilar ketiga yang berdiri sekitar lima belas langkah di sisi kanan.

Di barisan belakang regu pelopor, seorang wanita muda bernama Shizuka memeriksa botol ramuan pereda nyeri dan gulungan perban di dalam tas selempangnya. Gerakan tangannya sigap dan rapi, sementara seorang anak lelaki bernama Riku berdiri di sampingnya dengan mata membelalak cemas.

Riku adalah pengintai termuda di regu mereka, anak yang terpaksa menjual tenaganya ke menara demi membeli obat untuk ibunya di perkampungan kumuh bawah.

"Pegang belatimu erat-erat, Riku," bisik Shizuka lembut meski napasnya terdengar memburu. "Tetap di belakang perisai Paman Vargas dan jangan pernah lepaskan pandanganmu dari arah tanah."

Riku mengangguk pelan, jari-jarinya mencengkeram gagang belati berkarat dengan napas tersengal.

Sebelum ada yang sempat bersuara lagi, lantai aula berguncang keras.

Getaran hebat merambat dari bawah ubin marmer, meretakkan lantai batu dan merontokkan serpihan tajam dari kubah langit-langit aula. Udara seketika memanas, membawa aroma bangkai busuk dan cairan asam pekat yang menyengat lubang hidung hingga membuat beberapa prajurit di barisan depan tersedak mual.

Dari dalam kegelapan kabut ungu, dua titik cahaya merah menyala terang.

Dua mata merah sebesar kepala manusia menatap lapar ke arah barisan prajurit. Diiringi suara derak sisik tebal yang menggores ubin marmer, sesosok monster berkaki enam berbalut lempengan zirah hitam melangkah keluar dari kegelapan.

Tubuhnya sebesar gerbong kereta barang, dilengkapi tiga ekor berduri yang meliuk di udara dan barisan taring runcing yang meneteskan lendir hijau membakar ke lantai batu. Hawa pembunuh yang pekat memancar dari tubuh monster itu, menekan dada setiap prajurit di aula hingga terasa sesak.

Prajurit muda di sebelah kiri Ren memekik histeris, kehilangan kekuatan di kedua kakinya dan ambruk ke lantai yang bergetar. Kepanikan menjalar cepat di sepanjang barisan depan. Beberapa orang bahkan melepaskan tombak mereka dan memutar tubuh untuk melarikan diri, meski moncong panah para perwira pengawas sudah terarah tepat ke dahi mereka.

Di barisan belakang, suara Julius terdengar menggema melalui sihir pengeras suara.

"Seluruh barisan depan, kunci formasi kalian! Tahan serbuan monster di tempat dan jangan biarkan makhluk itu melewati garis tengah aula!"

Perintah itu adalah vonis mati yang dibungkus aba-aba militer. Julius tidak berniat menyelamatkan siapa pun di garis depan; ia hanya membutuhkan dinding daging untuk menahan laju monster agar para penyihir di belakangnya memiliki waktu merapalkan lingkaran sihir penghancur berskala besar.

Ren menarik napas dalam-dalam, mengunci otot-otot kakinya ke atas lantai batu. Ia memusatkan seluruh pandangannya pada arah tekukan kaki sang monster, bersiap menghadapi benturan maut yang sebentar lagi menerjang hidupnya.

Di hadapannya, monster zirah hitam itu merendahkan badannya ke lantai, mengibaskan ketiga ekor berdurinya ke udara, lalu melompat ke arah barisan manusia dengan kecepatan yang menyapu pandangan mata.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!