NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:58.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Monolog Tengah Malam

"Kakak tadi di meja makan ... dan yang sore tadi di ruang tengah ... beneran bercanda kan?" tanya Keisha blak-blakan dengan suara setengah berbisik, matanya menatar tajam memohon konfirmasi demi menyelamatkan kewarasannya malam ini. "Maksud aku, yang soal perempuan yang mau Kakak ajak nikah langsung itu. Kakak pasti cuma mau nakut-nakutin aku gara-gara Rendra bertamu, kan?"

Satria tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya hingga menghadap penuh ke arah Keisha, bersandar sedikit pada pinggiran meja dapur konter. Tatapan mata hitam pekatnya mengunci pandangan Keisha dengan intensitas yang mutlak.

"Menurut kamu, wajah Kakak terlihat seperti orang yang suka bercanda, Keisha?" tanya Satria serius. Suaranya yang rendah merayap lambat, membuat bulu kuduk Keisha meremang.

Keisha menelan ludah, refleks memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur dispenser. "Ya ... ya enggak sih. Muka Kakak kan emang konstan kaku kayak tripleks bangunan. Tapi masalahnya, Kak! Aku ini adik ipar Kakak! Aku adiknya Kak Vania! Kakak enggak amnesia, kan?"

"Kakak sadar sepenuhnya, Keisha," jawab Satria tenang, suaranya tetap tertata rapi tanpa terbawa emosi. "Vania sudah damai di sana semenjak lima tahun lalu. Dan selama lima tahun ini, Kakak tidak pernah melihat perempuan lain dengan cara yang sama seperti Kakak melihat kamu."

Wajah Keisha mendadak terasa seperti dibakar. Rona merah padam langsung menyebar hingga ke lehernya. "Kak Satria ih! Jangan ngomong begitu dong! Serem tahu enggak! Lagian aku ini tipe cewek barbar, enggak ada anggun-anggunnya sama sekali! Aku suka teriak-teriak, absurd, hobi nyusruk got pula siang-siang! Mana cocok jadi Ibu Persit yang harus anggun dan berwibawa di depan komandan?"

"Kakak tidak butuh istri yang pandai berpura-pura anggun," sahut Satria, seulas senyuman tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya melihat kepanikan Keisha. "Kakak butuh kamu. Rafka juga hanya mau kamu."

"Tapi aku enggak mau punya suami tentara!" seru Keisha frustrasi, akhirnya mengeluarkan kartu as penolakannya yang paling mendasar. "Suami tentara itu kaku, disiplinnya serem, terus suka ditinggal-tinggal tugas ke pedalaman seperti yang Kakak bilang di telepon kemarin! Aku tidak mau kesepian di rumah, Kak!"

Satria terdiam sesaat mendengar penolakan yang cukup telak itu. Namun, sorot mata dinginnya perlahan melunak, memancarkan ketulusan yang begitu mendalam yang belum pernah Keisha lihat sebelumnya selama mengenal pria ini sejak usia 12 tahun. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, menepuk pelan puncak kepala Keisha dengan gerakan kaku yang teramat lembut.

"Kakak memang kaku, Keisha. Kakak juga tidak bisa menjanjikan akan selalu ada di rumah setiap hari karena tugas negara," ucap Satria dengan nada suara yang melandai, terdengar begitu hangat menghujam dada Keisha. "Tapi Kakak bisa menjamin satu hal. Ke mana pun Kakak pergi bertugas, rumah yang akan selalu Kakak tuju untuk pulang ... adalah kamu."

Deg.

Jantung Keisha serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Kalimat Satria yang begitu jujur, tanpa bumbu puitis yang murahan, justru menghantam telak pertahanan hatinya hingga hancur berkeping-keping. Rasa baper yang luar biasa hebat mendadak membuncah di dalam dadanya, membuat matanya berkaca-kaca karena bingung harus merespons apa. Ia benar-benar dibuat korslet oleh kombinasi sikap tenang nan kaku dari kakak iparnya ini.

"Kak ...," cicit Keisha, suaranya mendadak serak dan kehilangan semua kosakata barbarnya.

"Sudah, jangan dipikirkan sampai membuat otak kamu yang absurd itu makin korslet," potong Satria tiba-tiba, kembali ke mode kakunya yang semula seolah-olah ia tidak baru saja menjatuhkan kalimat paling romantis sedunia. Ia menegakkan kembali posisi berdirinya. "Bawa air minummu ke atas, lalu segera tidur. Jangan sampai begadang hanya untuk memikirkan ucapan Kakak."

Keisha melongo di depan dispenser, menatar punggung tegap Satria yang sudah berjalan berbalik meninggalkan dapur menuju kamar bawah tanpa menoleh lagi.

"Dasar Mayor es balok misterius! Bikin orang jantungan aja hobinya!" gerutu Keisha gemas sembari mengacak-acak rambutnya sendiri dengan absurd setelah pria itu menghilang dari pandangan. Ia segera memeluk botol minumnya dan berlari kecil naik ke kamar atas dengan langkah kaki yang terasa lemas akibat debaran jantung yang belum juga mereda.

***

Keisha membalikkan tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, lalu menelungkup sembari membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Jam dinding di kamarnya sudah berdetik melewati angka satu malam, namun sepasang matanya masih saja melotot segar menatap langit-langit plafon. Kamarnya sunyi, hanya ada suara dengung halus dari AC, tetapi di dalam kepala Keisha, suara berat dan dalam milik Satria terus bergema tanpa jeda.

'Ke mana pun Kakak pergi bertugas, rumah yang akan selalu Kakak tuju untuk pulang ... adalah kamu.'

"Aaaakh! Kak Satria stres! Beneran stres!" pekik Keisha tertahan, menendang-nendang selimutnya dengan absurd.

Ia mendudukkan diri di atas kasur, mengacak-acak rambut panjangnya yang sudah mirip sarang burung. Tangannya memegangi dadanya yang anehnya masih saja menyisakan debaran halus. Rasa bingung, geregetan, dan tidak percaya bercampur aduk menjadi satu.

"Nggak mungkin, nggak mungkin. Ini pasti gara-gara Kak Satria kelamaan menjomblo, makanya pikiran ia agak bergeser," gumam Keisha pada diri sendiri, mencoba mencari pembenaran yang logis. "Kayak nggak ada perempuan lain di dunia ini aja. Padahal Ibu-ibu Persit di luaran sana antreannya mungkin sudah sepanjang jalur pantura."

Keisha melipat lututnya, menopang dagu di atasnya. Pikirannya mundur ke belakang, mengingat kembali bagaimana hubungan mereka selama lima tahun terakhir.

"Selama ini kan kita lempeng-lempeng aja. Ia anggap aku adik, aku juga anggap ia kakak. Lah, kok tiba-tiba plot twist begini?" gerutu Keisha dengan dahi berkerut. "Kalau masalah Rafka ... ya wajar dong bocil itu lengket sama aku! Kan dari bayi merah sejak Kak Vania nggak ada, aku sama Ibu yang ikut begadang ngurusin dia. Aku ini tantenya, ya wajarlah kalau Rafka sayangnya takaran penuh!"

Kruuuk ....

Di tengah monolog batinnya yang serius, sebuah suara dari arah perut mendadak memecah keheningan. Keisha memegangi perutnya yang mendadak terasa perih. Efek tersedak saat makan malam tadi rupanya membuat porsi makannya tidak maksimal. Ditambah beban pikiran yang menguras kalori, cacing di perutnya kini resmi berdemonstrasi menuntut hak.

"Duh, malah kelaparan lagi," keluh Keisha.

Dengan langkah super pelan dan berjingkat agar tidak menimbulkan suara, Keisha membuka pintu kamarnya. Ia menuruni anak tangga satu per satu di kegelapan, hanya mengandalkan lampu teras yang tembus dari sela-sela jendela ruang tengah. Keadaan rumah sudah sangat sepi.

Begitu sampai di dapur, Keisha langsung menyalakan lampu kecil di atas kompor. Matanya berbinar begitu menemukan sebungkus Indomie goreng di dalam lemari bahan makanan. Tanpa buang waktu, ia menyalakan kompor, merebus air, dan mulai menyiapkan bumbu di atas piring. Aroma mi instan yang khas itu perlahan memenuhi area dapur, membuat air liurnya hampir menetes.

"Tinggal nunggu matang, terus makan, terus tidur. Lupakan si Mayor kaku," bisik Keisha menyemangati diri sendiri sembari mengaduk mi di dalam panci kecil.

Tap. Tap. Tap.

Bersambung...

1
Mulaini
Ingrid menurut kamu pantas untuk Satria tapi sayang Satria sudah punya tambatan hati hehehe...
Mulaini
Jangan-jangan orang tuanya Satria ingin menjodohkan Satria dengan Inggrid.
yuni ati
Lanjut Mom💪
Sugiharti Rusli
kalo si Ingrid yang diberikan peluang, pasti langsung terima dengan sangat bahagia, karena itu memang tujuan dia ikut ke Jakarta, cari kerjaan mah modus saja
Sugiharti Rusli
bahkan saat Satria sudah mengutarakan niatnya pun, Keisha menolaknya dan merasa tidak tertarik jadi istri tentara
Sugiharti Rusli
karena selama ini mana pernah si Keisha cari" perhatian pada dirinya yang sudah jadi duda kakaknya selama lima tahun ini,,,
Sugiharti Rusli
Satria malah ga suka perempuan yang merasa dirinya pantas menjadi pendamping dirinya saat ini, dia malah suka yang cuek model adik iparnye sendiri
Sugiharti Rusli
apalagi yang sok" caper dari dirinya dengan sangat kentara yah😁😁😁
Sugiharti Rusli
tapi sayang Ngrid, kamu bukan tipikal yang Satria inginkan sebagai calon istri,,,
Sugiharti Rusli
jadi penasaran sama reaksi kedua ortu Satria saat dia mengutarakan niatnya, apalagi sepertinya sang ibu sudah memilih perempaun lain yang dia bawa swkarang
Sugiharti Rusli
dan sekarang di saat ortunya datang ke Jakarta, mau tidak mau Satria harus membiacarakan hal itu nanti,,,
Sugiharti Rusli
karsna bagaimanapun Satria sudah mengutarakan niatnya meminang sang adik ipar ke ayah mertuanya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi saat sang ibu ingin segera bertemu cucunya dari bandara, hal itu akan membuat suasana tidak akan kondusif
Sugiharti Rusli
meski Satria belum tahu maksud kedua ortunya membawa serta si Ingrid bersama mereka, tapi feelingnya mengatakan lain deh,,,
Puput Assyfa
jangan harap satria mau melirikmu grind karena km terlalu banyak drama untuk cari perhatian supaya dilirik,
Puput Assyfa
pasti Inggrid gencar bgt pengen dapet satria ditambah dapat dukungan dr ibunya satria makin di atas angin
Engkar Sukarsih
nah kan dah ketauan...kalau kedatangan orang tua bang Satria,ada udang di balik bakwan 🤭🤭🤭nih
Wiek Soen
kayaknya Satria mw bilang klo sdh melamar Keisha
Wiek Soen
ternyata oh ternyata ada niat terselubung Ingrid,semoga Satria konsisten dg Keisha
Naufal Affiq
ngomong aja satria,kalau kau sudah punya pilihan calon istri,biar orang tua mu tau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!