NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SATU

# TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

## Bab 1: Pagi yang (Kukira) Sempurna

Kalau saja saat itu aku tahu, kehangatan yang kurasakan pagi itu hanyalah bagian dari kebohongan yang paling rapi yang pernah dijaga seseorang untukku.

Tapi manusia memang selalu telat menyadari sesuatu. Aku, Ayu, dua puluh sembilan tahun, menjalani pernikahanku yang keempat tahun dengan Bayu seperti biasa—penuh rutinitas kecil yang, kupikir waktu itu, adalah bentuk paling murni dari kebahagiaan.

Jam menunjukkan pukul lima pagi ketika alarm di ponselku berbunyi pelan. Aku bangun lebih dulu, seperti biasa, menyalakan lampu dapur, menyiapkan air panas untuk kopi Bayu—tanpa gula, sedikit susu, persis seperti yang ia suka sejak pertama kali kami menikah. Kebiasaan kecil semacam ini yang membuatku merasa, setidaknya, aku tahu betul siapa suamiku.

"Ayu," suara Bayu terdengar dari kamar, masih serak karena baru bangun. "Kemejaku yang biru ada di mana?"

"Sudah kusetrika, Mas. Di lemari sebelah kiri, gantungan kedua dari atas," jawabku sambil terus mengaduk kopi.

Tak lama, Bayu keluar dari kamar dengan kemeja biru itu sudah terpasang rapi di badannya. Ia tersenyum, mendekat, lalu mencium keningku sekilas—gestur kecil yang selalu berhasil membuat pagi-pagiku terasa baik-baik saja.

"Kamu ini, istri paling perhatian sedunia," katanya, setengah bercanda, setengah serius. "Untung aku nikah sama kamu."

Aku hanya tertawa kecil, menyodorkan cangkir kopi ke tangannya. "Untung? Harusnya bersyukur, Mas."

"Iya, iya, bersyukur," ia mengangguk sambil menyesap kopinya. "Enak. Selalu enak kalau kamu yang bikin."

Begitulah pagi-pagi kami biasanya berjalan. Sederhana, hangat, dan—menurutku waktu itu—tulus. Kami berdua sama-sama karyawan kantoran; Bayu staf pemasaran di sebuah perusahaan distributor bahan bangunan, sementara aku bekerja sebagai supervisor keuangan di sebuah perusahaan swasta di pusat kota. Aku tidak pernah menganggap itu sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, meski jujur saja, gajiku memang jauh lebih besar dari gaji Bayu. Bagiku, rezeki itu urusan masing-masing orang, bukan alat ukur siapa yang lebih hebat dalam rumah tangga.

Setiap bulan, sebagian besar kebutuhan rumah—cicilan rumah, listrik, belanja bulanan, bahkan tabungan keluarga—memang lebih banyak kutanggung. Bayu sering bercanda menyebut dirinya "hanya membantu", dan aku selalu menanggapinya dengan santai.

"Yang penting kita sama-sama kerja, Mas. Soal siapa yang lebih besar gajinya, nggak penting," kataku suatu kali, saat ia sedikit merajuk karena bonus tahunannya kalah jauh dariku.

"Iya sih. Tapi kadang aku ngerasa nggak enak juga," jawabnya waktu itu, sambil tersenyum kecil—senyum yang, sekarang kalau kuingat-ingat lagi, entah kenapa terasa seperti menyembunyikan sesuatu.

Tapi pagi itu, aku tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Aku hanya sibuk menyiapkan sarapan, memastikan Bayu berangkat tepat waktu, sebelum akhirnya bersiap-siap sendiri untuk berangkat ke kantor.

"Mas, hari ini pulang cepat, nggak?" tanyaku sambil membereskan piring sarapan.

Bayu terdiam sejenak, tangannya sibuk merapikan dasi. "Kayaknya nggak, Yu. Ada meeting sama klien di luar kota. Mungkin pulang agak malam."

"Klien di luar kota lagi? Minggu lalu juga."

"Iya, lagi musim proyek soalnya. Bulan-bulan segini banyak tender masuk," jawabnya cepat, nyaris tanpa jeda, seolah sudah menyiapkan jawaban itu jauh-jauh hari.

Aku mengangguk saja. Tidak ada alasan untuk curiga. Bayu memang dikenal pekerja keras di kantornya, bahkan beberapa kali mendapat pujian dari atasannya karena rajin mengejar target. Kalau ia sering pulang malam atau pergi ke luar kota, aku menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga—meski secara penghasilan, akulah yang menopang lebih banyak.

"Ya sudah, hati-hati di jalan," kataku, menyodorkan tas kerjanya.

Bayu mengambil tas itu, lalu memelukku sebentar—pelukan singkat yang entah kenapa selalu terasa cukup untuk membuatku merasa aman sepanjang hari. "Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan kecapekan di kantor."

"Beres, Mas."

Ia berjalan keluar rumah, menyalakan motor, dan melambai sebelum akhirnya menghilang di ujung gang. Aku berdiri di teras sebentar, menghirup udara pagi yang masih segar, sebelum akhirnya kembali masuk untuk bersiap berangkat kerja.

---

Kantorku terletak di daerah pusat bisnis kota, sekitar empat puluh menit dari rumah dengan kendaraan pribadi. Sebagai supervisor keuangan, hariku biasanya dipenuhi laporan, rapat koordinasi, dan memastikan arus kas perusahaan berjalan sesuai rencana. Pekerjaan yang cukup menuntut, tapi aku menikmatinya—apalagi hasilnya bisa kupakai untuk menopang rumah tangga kecil kami.

"Bu Ayu, laporan bulan ini sudah difinalisasi?" tanya salah satu staf di divisiku, Rina, begitu aku sampai di meja kerja.

"Sudah, tinggal aku cek sekali lagi sebelum dikirim ke atasan," jawabku sambil menyalakan komputer.

Hari itu berjalan seperti biasa—rapat pagi, koreksi laporan, sesekali diskusi ringan dengan rekan kerja soal rencana akhir pekan. Di sela kesibukan, aku sempat membuka ponsel, mengecek pesan dari Bayu. Tidak ada. Wajar, pikirku, mungkin sedang di perjalanan atau sibuk meeting. Aku melanjutkan pekerjaan tanpa banyak berpikir.

Menjelang siang, ibuku menelepon.

"Yu, gimana kabar Bayu? Udah lama Ibu nggak lihat dia mampir," suara ibuku terdengar dari seberang telepon.

"Baik, Bu. Lagi sibuk kerja soalnya, sering ke luar kota."

"Ya sudah, jaga kesehatan kalian berdua. Jangan lupa makan yang teratur, jangan cuma mikirin kerjaan sama gaji terus."

Aku tertawa kecil. "Iya, Bu, siap."

Percakapan singkat itu berakhir dengan biasa saja, tanpa firasat apa pun. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri memikirkan betapa beruntungnya aku memiliki suami yang bertanggung jawab dan pekerja keras seperti Bayu—meskipun itu berarti waktu kami berdua jadi sedikit berkurang karena kesibukannya, dan meskipun aku tahu betul, di atas kertas, akulah yang menanggung lebih banyak biaya rumah tangga kami.

---

Malam harinya, Bayu pulang lebih larut dari biasanya, sekitar pukul sepuluh. Wajahnya tampak lelah, tapi ia tetap menyempatkan diri mencium keningku sebelum akhirnya duduk di ruang makan, menunggu makan malam yang sudah kusiapkan sejak sore.

"Capek banget hari ini," katanya sambil melonggarkan dasinya.

"Makan dulu, Mas. Aku hangetin lagi biar enak."

Ia mengangguk, lalu menatapku sejenak dengan tatapan yang—entah kenapa—terasa sedikit berbeda dari biasanya. Bukan tatapan curiga atau bersalah, hanya... lebih lama dari biasanya, seolah ia sedang memikirkan sesuatu.

"Kenapa, Mas? Ada masalah di kantor?" tanyaku, agak khawatir.

Ia buru-buru menggeleng, tersenyum kecil. "Nggak ada apa-apa. Cuma... bersyukur aja punya kamu. Kamu kerja keras, gajimu juga besar, tapi nggak pernah bikin aku ngerasa kecil."

Aku tertawa kecil, menganggapnya sekadar ucapan lelah setelah seharian bekerja. "Ya nggak ada gunanya juga aku bikin kamu ngerasa kecil, Mas. Kita kan tim."

"Iya. Tim," ulangnya pelan, nyaris seperti bergumam pada dirinya sendiri.

Malam itu berlalu seperti malam-malam biasa lainnya. Kami makan bersama, mengobrol ringan tentang hal-hal sepele, lalu tidur berdampingan seperti pasangan yang—paling tidak dalam pandanganku—baik-baik saja.

Aku tidak tahu, dan tidak akan tahu untuk waktu yang cukup lama, bahwa di balik senyum lelahnya malam itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kelelahan kerja. Sesuatu yang perlahan-lahan sedang dibangun di tempat lain, dengan uang yang—tanpa kusadari—sebagian besar berasal dari keringatku sendiri, dari gaji yang selama ini kubanggakan bisa menopang rumah tangga kami berdua.

Tapi malam itu, aku hanya seorang istri yang tertidur dengan tenang, memeluk lengan suaminya, percaya penuh bahwa esok hari akan sama baiknya dengan hari ini.

---

*Bersambung ke Bab 2*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!