PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raka dan Pesan Singkat
Axel sudah membuka foto itu sebanyak enam kali.
Ia tahu karena Dimas, yang duduk di seberangnya, menghitungnya dengan suara keras setiap kali layar ponsel itu kembali menyala.
"Enam."
Axel tidak mengangkat kepala.
"Apaan?"
"Enam kali lo buka foto yang sama."
"Lo nggak punya kerjaan?"
"Ada. Mengawasi perkembangan kesehatan mental ketua geng paling menyebalkan se-SMA Garuda."
Axel mengunci layar ponselnya.
"Kalau lo masih ngomong, gue lempar HP lo ke kolam."
Dimas menyeringai. "Silakan. Tapi sebelum itu, mungkin lo mau menjelaskan kenapa foto Nadine sama Raka bikin lo kehilangan kemampuan berpikir?"
"Gue nggak kehilangan kemampuan berpikir."
"Bagus. Berarti lo sadar mereka cuma lagi belajar."
Axel menatap temannya tajam.
Dimas mengangkat kedua tangan, tetapi senyumnya tidak menghilang.
Foto itu sebenarnya tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Nadine sedang duduk di perpustakaan, memperhatikan layar laptop Raka. Beberapa lembar dokumen terbentang di antara mereka.
Mereka bahkan tidak sedang melakukan sesuatu yang bisa dianggap mencurigakan.
Axel tahu itu.
Ia juga tahu bahwa Nadine berhak berteman dengan siapa pun. Aturan tersebut sudah tertulis jelas dalam kontrak yang mereka tandatangani bersama.
Tidak ada larangan untuk berteman dengan lawan jenis. Tidak ada kewajiban melaporkan semua kegiatan. Tidak ada hak bagi Axel untuk meminta Nadine menjauhi seseorang hanya karena ia merasa tidak nyaman.
Masalahnya, semua aturan itu terasa mudah ketika belum ada sesuatu yang mengusik dirinya.
"Gue cuma heran," kata Axel akhirnya.
Dimas memiringkan kepala. "Heran apa?"
"Raka sampai bantuin dokumen beasiswa Nadine."
"Terus?"
"Dia punya urusan sendiri."
"Memangnya membantu teman harus menunggu semua urusan sendiri selesai?"
Axel terdiam.
Dimas mencondongkan tubuh ke depan.
"Xel, lo sadar nggak kalau sekarang lo sedang mencari alasan buat merasa terganggu?"
"Gue nggak terganggu."
"Bagus. Kalau begitu, berhenti membuka fotonya."
Axel langsung memasukkan ponsel ke saku.
Dimas tertawa.
"Dan itulah cara seorang laki-laki yang sama sekali tidak cemburu."
"Dim."
"Iya, ketua?"
"Pergi."
Dimas berdiri sambil membawa tasnya.
"Santai. Gue pergi. Tapi ingat, lo sendiri yang menyetujui semua aturan itu. Jangan sampai nanti Nadine yang harus membayar karena lo nggak nyaman dengan keputusan lo sendiri."
Setelah Dimas pergi, Axel kembali duduk.
Kalimat terakhir temannya terus terngiang.
Ia tidak suka dinasihati, terutama ketika nasihat itu menyentuh sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa Dimas benar.
Untuk pertama kalinya, Axel mulai memahami bahwa menyukai seseorang bisa membuatnya berhadapan dengan bagian dirinya sendiri yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan.
Dan ia belum tahu harus berbuat apa dengan bagian itu.
---
Keesokan paginya, Nadine datang ke sekolah membawa map biru yang mulai penuh dengan dokumen.
Ia baru saja duduk ketika Axel menghampirinya.
"Lo bawa semua berkasnya?"
Nadine mengangkat wajah.
"Semua berkas apa?"
"Beasiswa."
Nadine memperhatikan Axel sebentar sebelum menjawab.
"Iya. Ada yang perlu diperbaiki."
Axel mengangguk, kemudian melirik map tersebut.
"Raka yang bantu?"
Pertanyaan itu membuat Nadine berhenti membuka tas.
"Iya. Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Nadine menatapnya.
"Kalau nggak apa-apa, kenapa nanya?"
Axel memasukkan tangan ke saku celana.
"Gue cuma mau tahu."
"Tahu apa?"
"Seberapa jauh dia membantu lo."
Nadine menutup tasnya perlahan.
"Kenapa lo perlu tahu sejauh itu?"
Axel mengerutkan kening.
"Lo selalu menganggap semua pertanyaan gue sebagai masalah?"
"Enggak. Tapi pertanyaan lo belakangan ini selalu berkaitan sama Raka."
"Gue cuma bertanya."
"Dan gue cuma bertanya kenapa lo perlu tahu."
Untuk sesaat, keduanya saling menatap.
Axel merasa tersudut. Reaksi pertamanya adalah membalas, mengatakan bahwa Nadine terlalu sensitif atau terlalu cepat menganggap dirinya sedang ikut campur.
Kalimat itu bahkan sudah hampir keluar dari mulutnya.
Namun, ia teringat isi kontrak mereka.
Nadine tidak berkewajiban menjelaskan setiap pertemanannya.
Axel mengembuskan napas, lalu mengalihkan pandangan.
"Lupakan. Gue nggak perlu tahu."
Nadine tidak terlihat lega ataupun marah. Ia hanya kembali mengeluarkan buku pelajarannya.
"Bagus."
Satu kata itu terasa lebih menyebalkan daripada yang seharusnya.
Axel berdiri di samping meja selama beberapa detik, berharap Nadine akan mengatakan sesuatu yang membuat percakapan mereka berlanjut.
Nadine tidak melakukannya.
Akhirnya, Axel kembali ke bangkunya.
Ia baru menyadari sesuatu yang tidak menyenangkan: selama ini, ketika ia bertanya, orang-orang cenderung menjawab. Ketika ia mendesak, mereka biasanya mengalah atau setidaknya memberi penjelasan.
Nadine tidak merasa harus melakukan salah satunya.
Dan Axel tidak bisa memaksanya.
---
Waktu istirahat, Nadine duduk di kantin bersama beberapa teman sekelasnya.
Ia baru selesai makan ketika Raka datang membawa selembar kertas.
"Din, ini contoh format surat yang kemarin gue bilang."
Nadine menerimanya.
"Wah, makasih. Gue bisa pakai ini buat membandingkan surat yang lama."
"Iya. Tapi jangan lupa, lo tetap harus pakai data yang sesuai. Jangan asal menyalin formatnya."
Nadine tersenyum.
"Siap, Pak Guru."
Raka tertawa.
"Gue serius."
"Gue juga serius."
Percakapan mereka berlangsung singkat. Setelah memastikan Nadine memahami bagian yang perlu diperbaiki, Raka berpamitan untuk menemui guru di ruang staf.
Nadine menyimpan kertas itu ke dalam map.
Ketika mengangkat kepala, ia melihat Axel berdiri tidak jauh dari meja kantin.
Tatapan mereka bertemu.
Axel berjalan mendekat.
"Raka baru dari sini?"
Nadine mengernyit.
"Lo lihat sendiri, kan?"
"Gue cuma nanya."
"Dan gue cuma jawab kalau dia memang baru dari sini."
Axel menarik kursi di seberangnya.
"Gue boleh duduk?"
Nadine mengangguk singkat.
Axel duduk, tetapi tidak segera berbicara. Ia terlihat seperti sedang menyusun kalimat di dalam kepala.
Akhirnya, ia bertanya, "Lo sama Raka sudah berteman lama?"
Nadine meletakkan mapnya di samping tas.
"Sejak kelas sebelas."
"Oh."
"Kenapa?"
Axel mengangkat bahu.
"Nggak ada."
Nadine menatapnya beberapa saat.
"Axel, kalau lo ingin bertanya sesuatu, tanyakan saja. Tapi kalau lo cuma ingin mengumpulkan informasi tentang teman-teman gue, gue nggak melihat gunanya."
Rahang Axel mengeras.
"Gue nggak sedang mengumpulkan informasi."
"Kalau begitu, apa?"
Axel membuka mulut, lalu kembali menutupnya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak menyukai cara Raka memandang Nadine. Ia ingin bertanya apakah Raka selalu berada di dekat Nadine ketika mereka tidak bersama.
Namun, semua itu hanya berasal dari perasaan yang belum bisa ia jelaskan.
Dan Nadine tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Gue nggak punya masalah sama Raka," kata Axel akhirnya.
Nadine mengangkat alis.
"Gue bahkan nggak bilang lo punya masalah sama dia."
Axel terdiam.
Ia baru sadar bahwa ia sendiri yang membawa nama Raka ke dalam percakapan, lalu berusaha meyakinkan Nadine bahwa dirinya tidak keberatan.
Nadine mengambil tasnya.
"Gue harus kembali ke kelas."
"Din, tunggu."
Nadine berhenti.
"Apa?"
Axel menatapnya.
Untuk sesaat, ia ingin meminta Nadine duduk kembali. Ia ingin percakapan itu berakhir dengan sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik.
Namun, ia tidak menemukan satu pun alasan yang pantas untuk memintanya tetap tinggal.
"Nggak jadi," katanya.
Nadine mengangguk, lalu pergi.
Axel memperhatikan langkahnya sampai perempuan itu menghilang di antara siswa lain.
Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan kecil.
Bukan karena bertanya tentang Raka, melainkan karena berharap Nadine akan menenangkan perasaan yang bahkan belum berani ia akui sendiri.
---
Sore harinya, Nadine dan Raka kembali bertemu di perpustakaan.
Mereka memeriksa dokumen beasiswa sampai satu per satu persyaratan yang belum lengkap berhasil ditandai.
"Surat ini harus diperbarui sebelum berkas dikirim," kata Raka.
Nadine mencatatnya.
"Besok gue urus."
"Terus, bagian ini perlu diperiksa lagi. Nama programnya jangan sampai salah."
Nadine mencondongkan tubuh untuk melihat layar laptop.
"Benar. Hampir saja gue pakai nama program yang lama."
"Untung belum dikirim."
Nadine tertawa kecil.
"Kalau sampai salah, gue bakal menyalahkan lo."
"Kenapa gue?"
"Karena lo yang memeriksa."
Raka menggeleng sambil tertawa.
Mereka melanjutkan pemeriksaan hingga akhirnya semua dokumen yang bisa diselesaikan hari itu sudah tersusun rapi.
Nadine memandang mapnya dengan lega.
"Satu tahap selesai."
"Masih ada tahap berikutnya," kata Raka.
"Gue tahu. Tapi setidaknya sekarang gue nggak harus memikirkan semua kekurangan dokumen sekaligus."
Raka mengangguk.
"Pelan-pelan saja. Yang penting, lo tetap mengurusnya."
Nadine tersenyum.
Kalimat itu sederhana, tetapi membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Selama beberapa minggu terakhir, ia terbiasa memikirkan tagihan rumah sakit, pekerjaan, sekolah, dan masa depan secara bersamaan. Ada hari-hari ketika semua itu terasa terlalu banyak untuk ditangani sendiri.
Bantuan Raka tidak menghilangkan masalahnya. Namun, bantuan itu membuat beberapa hal terasa lebih mungkin diselesaikan.
Dan Nadine menghargainya.
Ketika mereka keluar dari perpustakaan, Raka menawarkan untuk mengirimkan salinan daftar periksa dokumen melalui pesan.
"Biar lo nggak lupa apa yang harus diurus besok."
"Boleh. Makasih."
"Nanti kabarin kalau suratnya sudah selesai."
"Siap."
Raka berjalan menuju parkiran, sementara Nadine menuju gerbang sekolah.
Di koridor lantai dua, Axel melihat mereka berpisah.
Ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia hanya melihat Nadine tersenyum sebelum berjalan pergi.
Perasaan tidak nyaman itu muncul lagi.
Namun, kali ini Axel tidak mengikuti mereka. Ia tidak menghampiri Nadine dengan pertanyaan baru, dan ia tidak mencari alasan untuk membuat Raka menjauh.
Ia hanya berdiri di tempatnya, mengingat percakapan siang tadi.
Nadine tidak melakukan kesalahan apa pun.
Kalimat itu mudah dipahami.
Yang sulit adalah menerima bahwa perasaannya sendiri tidak memberikan hak untuk mengubah kehidupan Nadine.
---
Malam harinya, Nadine sedang menyusun dokumen yang perlu dibawa keesokan hari ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Raka masuk lebih dulu.
Raka: Gue sudah kirim daftar periksa yang tadi. Coba cek, jangan sampai ada yang kelewat.
Nadine membuka berkas tersebut, lalu membalas.
Nadine: Sudah masuk. Makasih banyak, Rak.
Raka: Sama-sama. Semoga lancar.
Nadine meletakkan ponsel di samping mapnya.
Beberapa menit kemudian, pesan dari Axel muncul.
Axel: Lo sudah sampai rumah?
Nadine membalas singkat.
Nadine: Sudah.
Axel: Oke.
Percakapan berhenti.
Nadine menatap layar sebentar, kemudian kembali mengerjakan dokumennya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Axel bicarakan. Namun, ia juga tidak berniat memancing percakapan hanya karena laki-laki itu mengirim pesan.
Jika ada sesuatu yang perlu disampaikan, Axel bisa mengatakannya sendiri.
Di rumahnya, Axel duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi layar ponsel.
Ia sudah mengetik dan menghapus beberapa pesan.
Awalnya, ia ingin bertanya apakah Nadine masih bersama Raka setelah pulang sekolah.
Ia menghapusnya.
Kemudian, ia ingin bertanya apakah Raka juga membantu Nadine di luar urusan beasiswa.
Ia menghapusnya lagi.
Semakin lama, semakin jelas bahwa tidak satu pun pertanyaan itu benar-benar diperlukan.
Akhirnya, Axel mengetik kalimat yang sejak tadi berusaha ia hindari.
Axel: Soal tadi siang, gue mau minta maaf.
Balasan Nadine tidak langsung datang.
Axel meletakkan ponsel, lalu mengambilnya lagi beberapa menit kemudian.
Nadine: Soal apa?
Axel menatap layar.
Axel: Gue terlalu banyak bertanya tentang Raka. Itu bukan urusan yang perlu lo jelaskan ke gue.
Nadine membaca pesan tersebut dengan saksama.
Ia tidak langsung membalas.
Di satu sisi, ia menghargai permintaan maaf itu. Di sisi lain, ia tidak ingin Axel menganggap satu pesan cukup untuk menyelesaikan semua persoalan.
Akhirnya, ia mengetik.
Nadine: Iya. Gue nggak keberatan kalau lo mau kenal teman-teman gue. Tapi gue nggak mau merasa harus membuktikan bahwa gue nggak melakukan kesalahan setiap kali lo merasa nggak nyaman.
Axel membaca pesan itu dua kali.
Ia bisa membela diri. Mengatakan bahwa ia hanya penasaran. Mengatakan bahwa ia tidak bermaksud membuat Nadine merasa diawasi.
Namun, niatnya tidak mengubah bagaimana pertanyaannya terdengar.
Axel: Gue ngerti.
Nadine menunggu beberapa saat sebelum membalas.
Nadine: Bagus.
Axel menatap satu kata itu.
Jawaban tersebut tidak hangat, tetapi juga bukan penolakan. Nadine menerima permintaan maafnya tanpa berpura-pura bahwa masalah itu tidak pernah terjadi.
Dan mungkin memang seperti itu seharusnya.
Axel tidak bisa mengharapkan Nadine selalu membuatnya merasa lebih baik setelah ia melakukan kesalahan.
Ia harus belajar mengurus perasaannya sendiri.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan Nadine muncul.
Nadine: Gue masih harus menyelesaikan dokumen. Besok gue harus mengurus surat yang kurang.
Axel: Oke. Semoga lancar.
Nadine: Makasih.
Axel meletakkan ponselnya.
Percakapan itu berakhir tanpa pertengkaran, tetapi juga tanpa kedekatan yang tiba-tiba bertambah.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa meminta maaf bukan cara untuk mendapatkan sesuatu kembali.
Ia meminta maaf karena memang telah melakukan kesalahan.
Dan Nadine tidak berutang apa pun setelah menerimanya.
---
Keesokan paginya, Nadine datang lebih awal ke sekolah.
Ia membawa dokumen yang perlu diperbarui dan sebuah catatan kecil berisi jadwal pengumpulan berkas beasiswa. Jika semua berjalan sesuai rencana, ia bisa menyelesaikan persyaratan administrasi dalam beberapa hari ke depan.
Saat sedang memeriksa catatan itu, Axel menghampirinya.
"Gue boleh lihat?"
Nadine mengangkat wajah.
"Apa?"
"Jadwal di tangan lo."
Nadine menyerahkan catatan tersebut.
Axel membacanya sekilas. Ada beberapa tanggal penting, jadwal pengumpulan dokumen, dan perkiraan waktu seleksi.
Ia mengembalikan catatan itu.
"Lo sudah menyiapkan semuanya."
"Harus. Kalau gue menunda, bisa-bisa ada yang kelewat."
Axel mengangguk.
"Semoga lo lolos."
Nadine tampak sedikit terkejut.
"Makasih."
Axel hendak kembali ke bangkunya ketika matanya tertuju pada salah satu tanggal di catatan itu.
"Kalau lolos seleksi awal, lo harus datang ke kampus?"
"Belum tentu. Tergantung ketentuan berikutnya."
"Dan kalau harus datang?"
"Gue akan pergi."
Jawaban Nadine begitu sederhana, seolah-olah kemungkinan itu tidak perlu diperdebatkan.
Axel memasukkan tangan ke saku celana.
"Gue tahu."
Nadine memandangnya sebentar.
"Lo nggak perlu khawatir. Ini memang rencana gue dari awal."
"Gue nggak bilang gue khawatir."
Nadine mengangkat alis.
Axel mengembuskan napas.
"Oke. Mungkin gue sedikit khawatir."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu membuat Axel terdiam.
Ia bisa mengatakan bahwa ia khawatir Nadine akan kesulitan beradaptasi di tempat baru. Ia bisa mengatakan bahwa kuliah di luar kota akan membuatnya jauh dari keluarga dan teman-temannya.
Semua itu mungkin benar.
Namun, ada alasan lain yang belum ingin ia ucapkan.
Karena jika Nadine pergi, ia tidak akan lagi bisa bertemu dengannya setiap hari.
Dan ia mulai menyadari bahwa kemungkinan itu terasa lebih mengganggu daripada yang seharusnya.
"Karena lo bakal jauh dari rumah," jawab Axel akhirnya.
Nadine mengangguk pelan.
"Memang. Tapi gue sudah mempertimbangkan itu."
"Gue tahu."
"Dan gue nggak mau melewatkan kesempatan hanya karena takut pergi."
Axel menatapnya.
Kali ini, ia tidak mencoba membantah.
"Kalau itu yang lo mau, kejar saja."
Nadine terdiam sejenak sebelum kembali memasukkan catatannya ke dalam map.
"Terima kasih."
Axel mengangguk, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya.
Ia tidak merasa lebih baik setelah percakapan itu. Namun, ia tahu Nadine benar.
Masa depan perempuan itu bukan sesuatu yang bisa ia minta untuk ditunda hanya demi mempertahankan kedekatan mereka.
Bahkan jika suatu hari nanti ia benar-benar menginginkan Nadine berada di sisinya, ia harus menerima bahwa perempuan itu memiliki tujuan sendiri.
Dan tujuan tersebut tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar untuk sebuah hubungan.
---
Bel masuk berbunyi ketika Dimas muncul di samping meja Axel.
"Lo sudah dengar pengumuman sekolah?"
Axel mengerutkan kening.
"Pengumuman apa?"
"Minggu depan ada festival sekolah. Setiap kelas diminta menyiapkan stan dan penampilan."
"Terus?"
Dimas menyeringai.
"Ketua kelas sudah mengusulkan agar lo dan Nadine ikut mewakili kelas dalam salah satu sesi pasangan."
Axel langsung menoleh.
"Pasangan apa?"
"Pasangan permainan. Bukan pernikahan, santai."
"Siapa yang mengusulkan?"
"Entah. Tapi sepertinya semua orang sudah tahu lo punya pacar baru."
Axel melirik ke arah Nadine yang sedang berbicara dengan teman sekelasnya.
Festival sekolah.
Acara yang akan dipenuhi siswa, guru, kamera, dan kemungkinan besar orang-orang yang ingin melihat seberapa serius hubungan mereka.
Selama ini, mereka hanya perlu terlihat seperti pasangan dalam beberapa situasi yang masih bisa dikendalikan.
Festival akan berbeda.
Mereka harus berinteraksi di depan banyak orang, mengikuti kegiatan bersama, dan mungkin melakukan sesuatu yang tidak bisa dipersiapkan hanya dengan membaca kontrak.
Dimas menepuk bahu Axel.
"Jangan bilang lo takut."
Axel menepis tangannya.
"Gue nggak takut."
"Bagus. Berarti lo bisa langsung ngomong sama Nadine."
Axel menoleh ke arah perempuan itu sekali lagi.
Nadine sedang tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan temannya. Ia terlihat santai, tidak menyadari bahwa namanya baru saja dikaitkan dengan sebuah kegiatan yang berpotensi menguji hubungan kontrak mereka.
Axel menarik napas.
Ia harus membicarakannya dengan Nadine terlebih dahulu. Bukan menerima atau menolak atas nama mereka berdua.
Hal sederhana yang seharusnya sudah ia pahami sejak awal.
Namun, ketika ia mulai berjalan mendekati Nadine, satu pertanyaan muncul dalam pikirannya.
Jika berpura-pura menjadi pacar saja sudah cukup membuatnya cemburu, bagaimana ia akan bertahan ketika seluruh sekolah mulai memperhatikan setiap gerakan mereka?
Dan yang lebih mengganggu—
Bagaimana jika suatu hari nanti, ia tidak lagi bisa membedakan bagian mana dari semua itu yang hanya pura-pura?