NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjatuhkan Pilihan

"Aku milih dia." Arnold menunjuk salah satu orang yang berada di tengah-tengah ballroom hotel di mana ia mengadakan pesta ulang tahunnya.

Semua orang saling pandang, saling tunjuk antara diri mereka sendiri, orang di depannya atau orang di sekelilingnya saat Arnold menjatuhkan pilihan.

Para tamu yang hadir pun semakin riuh saling bertanya satu sama lain saat Arnold tak kunjung berdiri dari kursi kebesarannya.

"Dia? Dia siapa sih?" mereka masih saling bertanya-tanya hingga akhirnya Arnold berdiri sembari tersenyum sinis.

Laki-laki berperawakan tinggi, berbadan kekar dan mempunyai mata berwarna biru itu melangkah dari kursi kebesarannya menuju kerumunan orang dan berhenti di salah satu titik dimana ia tiba-tiba memegang lengan seorang perempuan.

Perempuan itu kaget dan hampir saja menjatuhkan minuman yang baru ia minum separuh saat Arnold semakin mengeratkan pegangan pada lengannya. "Tuan Arnold." sapanya dengan wajah pias seraya terasa susah menelan saliva.

"Hm! Kamu yang aku pilih." tegas Arnold sembari menaikkan alisnya saat melihat reaksi Arini.

"Saya?" Arini menunjuk dirinya dengan tangan yang memegang gelas, "Apa Anda tidak salah memilih, Tuan?"

Arnold menggelengkan kepala dan sedetik kemudian Arini yang berganti menggelengkan kepalanya berulang kali. "Anda pasti bercanda, Tuan."

"Apa di pesta sebesar ini kau anggap perkataanku sebuah lelucon?" Arnold mulai mengeraskan rahang.

"Tapi Anda salah jika memilih Saya, Tuan." Arini terus menolak sembari terus menggelengkan kepala.

"Apa yang salah?" Arnold bertanya dengan menaikkan nada suaranya satu oktaf. "Kamu perempuan dan aku laki-laki. Kita lawan jenis dan itu artinya kita bisa menikah." kekeh Arnold sembari menaikkan alisnya.

"Tuan, Tolong mengerti. Kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengerutkan keningnya, pasalnya ia tau perempuan di depannya ini dari kasta yang setara dengannya walaupun perempuan yang menolaknya ini memakai baju pembawa berita. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini. "Agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu." Arnold tersenyum miring, merasa puas saat melihat raut kaget Arini.

Arini tiba-tiba putus asa sembari susah menelan saliva, ia hadir malam ini di pesta ulang tahun ke tiga puluh Arnold untuk mendapatkan informasi siapa wanita yang akan dipilih Arnold, tapi kenapa malah ia yang dipilih oleh laki-laki itu?

Arnold adalah pebisnis dengan muka bengis yang sangat kentara. Bahkan jika Arnold tersandung batu, batu lah yang akan dimaki-maki dan disalahkan oleh para pengawalnya.

Dan semua orang juga tahu alasan Arnold tiba-tiba ingin menikah cepat.

Selain itu, Arnold adalah lawan bisnis Devano-Kakak sepupunya yang mana ia sangat mendengar jika Arnold sangat ditakuti oleh lawan bisnisnya saat laki-laki itu marah, karena akan berdampak pada usaha mereka.

"Apa sebenarnya alasan Anda memilih Saya?" Arini menatap manik biru milik Arnold untuk melihat kejujuran jawaban dari pertanyaannya.

Sungguh, ia berharap ada keajaiban dari jawaban Arnold supaya ia bisa menolak dengan halus pria itu.

"CK! Apa itu penting?" tanya Arnold sembari menatap tajam Arini.

"Sangat! Karena tidak mungkin kan seorang Tuan Arnold memilih seorang wartawan untuk menjadi pendamping hidupnya? Lagian, agama kita juga berbeda dan Anda segampang itu ingin pindah agama." Arini menarik napasnya begitu dalam untuk menutup rasa gugupnya, "Agama bukan mainan Tuan Arnold. Saya ingin yang menjadi suami saya nanti adalah orang yang pandai ilmu agama, bukan dengan seorang yang baru mau pindah bahkan mungkin hanya pindah agama di kartu tanda penduduk saja tanpa belajar lebih lagi tentangnya."

"Menarik." Arnold tersenyum tipis.

"Jadi?" Arini memberi pancingan pertanyaannya tadi sebelumnya.

"Apa kau benar-benar ingin mendengar alasan kenapa aku memilih kamu?" Arnold balik bertanya.

Arini menganggukkan kepalanya, "Tentu. Bahkan bukan hanya saya saja yang ingin mendengar alasan kenapa Anda memilih saya. Karena saya rasa, semua yang ada di pesta ini juga ingin mendengarnya." Arini menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan bahkan memutar dirinya ke belakang untuk melihat antusiasme para tamu yang lain, "Benar bukan?" tanyanya yang dijawab secara serentak anggukan antusias para tamu yang hadir.

"See." Arini kembali menatap Arnold yang kini terlihat menganggukkan kepalanya.

"Jangan menyesal jika kamu mau tau alasannya."

"Saya tidak akan menyesal." Arini berpikir keras mengenai alasan Arnold memilihnya, dan ia sangat berharap bisa menggunakan alasan itu untuk menolak laki-laki bermuka bengis di depannya ini.

"Karena--" Arnold sengaja menjeda perkataannya untuk menarik atensi orang-orang. "Karena hal sepele sebenarnya. Karena kamu satu-satunya orang yang minum susu almond yang sengaja aku sediain di pesta ini." jelas Arnold yang membuat Arini kontan menatap gelas berisi susu almond yang dipegangnya.

Dan para tamu undangan pun serentak menatap pada satu titik di mana stand minuman berada dan memang stand susu almond-lah yang baru berkurang satu gelas dibanding minuman lainnya yang sudah hampir habis.

"Tapi-" Arini menatap gelasnya lalu beralih menatap Arnold dengan berusaha menelan salivanya dengan susah payah. "Tapi saya mengambil susu almond ini karena ini minuman favorit saya, bukan karena ingin dipilih oleh Anda."

"Minuman favorit kita sama." jelas Arnold yang membuat Arini tiba-tiba migrain.

"Tidak! Anda tidak bisa seperti ini, Tuan." Arini kembali menolak saat ia tersadar kembali.

"Bisa! Karena aku Arnold."

"Sa-- Saya sudah menikah." Arini terbata mengatakannya. Karena menurutnya, alasan sudah punya pasangan akan membuat Arnold berhenti memaksanya.

"Jangan berbohong! Jangan mencoba sekali-kali berbohong padaku, Nona." teriak Arnold tepat di telinga Arini, lalu dengan sekali sentakan menarik Arini menuju keluar hotel di mana konferensi pers sedang menunggu mereka.

Sudah cukup kesabarannya sedari tadi menghadapi penolakan Arini.

"Semua sudah siap, Tuan." jelas Bagas--Asisten pribadi Arnold sembari menatap Arini.

"Thanks! Dan berhenti menatapnya seperti itu. Dia milikku." tegas Arnold yang membuat Bagas dan Arini memutus tatapan putus asa mereka lalu duduk di kursi masing-masing saat seluruh awak media terkumpul.

"Arini. Kenapa kamu duduk di sebelah Tuan Arnold?" tanya teman satu redaksi Arini yang tidak ikut masuk ke dalam hotel, tapi Arini hanya bisa diam tidak bisa menjawabnya.

"Tuan Arnold. Mana perempuan yang Anda pilih?" tanya salah satu wartawan sembari terus membidik foto Arnold.

"Iya, Tuan. Mana perempuannya?"

Satu persatu awak media silih berganti bertanya tentang wanita yang dipilihnya Arnold karena mereka tidak mengira jika Arini yang dipilih.

Arini menatap nanar seluruh teman wartawan yang hadir, ia tau konferensi pers yang diadakan Arnold saat ini disiarkan secara langsung di seluruh channel televisi dan sosial media milik Arnold dan bisa dipastikan jika kini keluarganya melihatnya.

"Perempuan yang ada di sebelah Saya ini adalah perempuan yang Saya pilih." jelas Arnold setelah Bagas mengangkat tangannya agar para awak media berhenti bertanya sejenak.

"Perempuan di sebelah Anda berhijab, Arini dan Anda berbeda agama. Kalian punya tembok yang tinggi yang tidak bisa menyatukan kalian, Tuan." salah satu awak media berkomentar.

"Soal agama, Saya akan mengikuti agama yang dipilih calon istri saya."

"Tapi Tuan--" pertanyaan wartawan itu dipotong oleh Arnold, " Saya tidak mau menanggapi pertanyaan yang sudah Saya jawab dengan jelas." Arnold melirik Bagas, lalu berdiri dan berbalik badan dengan sebelumnya melirik Arini juga.

Laki-laki bermuka bengis itu meninggalkan Arini dengan sejuta pertanyaan dari teman-teman redaksinya.

"Kok bisa Lo, Rin?" tanya Eve, setelah konferensi pers dibubarkan oleh Bagas.

"Gue juga enggak tau, Ve. Masa cuman gara-gara gue minum susu almond gue mau dijadiin istri sama dia."

"Itu kan minuman favorit Lo, Rin."

"Enggak! Sekarang enggak lagi, Ve. Karena gara-gara itu minuman gue sial."

"Sial?" Eve menunjukkan wajah kaget, "Banyak wanita yang mau di posisi Lo, Rin."

"Tapi gue enggak mau. Gue udah dilamar, Ve." jelas Arini sembari menundukkan kepalanya.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!