Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sinar matahari pertama menembus tirai kamar ketika Nadira terbangun.
Masih setengah mengantuk, ia cepat-cepat bangun. Hal pertama yang ia lakukan tiap pagi adalah pergi ke kamar Bintang.
Ia membuka pintu dengan senyum kecil, tapi senyum itu langsung lenyap. Ranjang bayi kosong, selimut terlipat, mainan-mainan di tempatnya. Bintang tidak ada.
Jantung Nadira berdegup liar.
"Bintang?"
Ia bergegas masuk, memeriksa di balik kursi, di kamar mandi, di setiap sudut, meski ia tahu putrinya tak mungkin bersembunyi. Keputusasaan menguasainya.
"Bintang!"
Ia berlari ke koridor, membuka pintu-pintu lain, tak ada. Tanpa pikir panjang ia menuruni tangga nyaris berlari.
Tiba di ruang utama, ia melihat pemandangan yang membuat kakinya lemas. Bintang ada di pangkuan Drilon.
Gadis kecil itu terkikik-kikik sementara Drilon menggoyang-goyangkan boneka beruang kecil di depannya. Agim mengamati dari sofa. Hana menyeruput kopi dengan tenang. Nadira menarik napas panjang.
"Ya Tuhan..."
Drilon mengangkat pandangan.
"Selamat pagi."
Nadira bergegas menghampiri mereka.
"Kamu hampir bikin jantungku copot."
Drilon mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena ranjang bayinya kosong!"
Ia menoleh pada Bintang.
"Dia bangun pagi-pagi."
"Dan kamu langsung membawanya?"
"Ya."
"Tanpa memberitahuku?"
Drilon tampak benar-benar tak mengerti di mana masalahnya.
"Kamu masih tidur."
Nadira mengusap wajah.
"Lain kali bangunkan aku."
Drilon menyadari kecemasannya.
"Maaf."
Jawaban itu mengejutkan Nadira. Ia tak menyangka akan mendengar permintaan maaf. Bintang merentangkan lengan mungilnya ke arah ibunya, dan Nadira segera menggendongnya.
"Kamu bikin Mama kaget, Nona kecil."
Bayi itu tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Agim tertawa.
"Sepertinya dia suka jalan-jalannya."
Nadira menarik napas dalam dan akhirnya tenang. Drilon berdiri.
"Habiskan sarapan kalian."
"Kenapa?"
"Kita akan keluar."
Nadira menatapnya.
"Ke mana?"
"Klinik keluarga."
Nadira membelalak.
"Ada apa-apa?"
"Tidak." Ia memandang putrinya. "Aku ingin dia diperiksa menyeluruh." Nadira langsung lega. "Aku ingin memastikan dia benar-benar sehat."
Hana tersenyum tipis.
"Selamat datang di dunia orang tua yang kelewat khawatir."
Tak lama kemudian mereka berangkat dengan dua mobil antipeluru. Drilon, Nadira, dan Bintang di mobil pertama. Hana, Agim, dan beberapa pengawal mengikuti di belakang.
Klinik keluarga itu menempati sebuah gedung besar yang tak mencolok, dijaga banyak pria bersenjata.
Begitu tiba, mereka langsung disambut, dan pemeriksaan berlangsung tenang.
Dokter anak itu memeriksa Bintang dengan teliti: berat badan, tinggi, refleks, pernapasan, detak jantung, semuanya. Setelah hampir satu jam, sang dokter tersenyum.
"Dia sangat sehat." Drilon akhirnya tampak bernapas lega. "Benar-benar sehat."
Nadira tersenyum pada putrinya.
"Sudah kubilang dia baik-baik saja."
Drilon hanya menjawab.
"Sekarang aku yakin."
Saat meninggalkan klinik, Hana berjalan di samping Nadira. Keduanya mengikuti beberapa langkah di belakang para pria. Nadira tampak termenung sampai memutuskan bicara.
"Bu Hana..."
"Ya?"
"Aku ingin bekerja lagi."
Hana menoleh padanya.
"Bekerja?"
"Ya." Ia menarik napas. "Aku rindu profesiku."
"Kamu sesuka itu pada pekerjaanmu?"
Nadira tersenyum.
"Sangat."
"Kalau begitu jangan tinggalkan mimpi itu."
Nadira menunduk.
"Tapi aku tak tahu apakah itu masih mungkin."
Hana berpikir beberapa detik.
"Bicaralah dengan anakku."
Nadira terkekeh pelan.
"Ibu bicara seolah gampang."
"Aku tak bilang gampang." Ia tersenyum. "Tapi dia mendengarkanmu lebih dari yang kamu kira."
"Ibu yakin?"
"Yakin."
Nadira terus merenung. Mungkin ia memang harus bicara dengan Drilon, bukan sekarang, tapi segera.
Kedua mobil meninggalkan klinik dan melaju di jalan yang dikelilingi pepohonan. Di dalam, Bintang tidur nyenyak di kursi bayinya.
Nadira memandangi pemandangan dari jendela. Semuanya tampak tenang, senyap, sampai...
DOR!
Kaca antipeluru dihantam keras. Tembakan lagi, lalu lagi, lagi.
"Ya Tuhan!"
Sopir langsung menginjak gas, radio-radio memuntahkan perintah bersamaan.
"Penyergapan!" seru seorang anak buah.
"Mobil di kiri!"
"Tembak!"
Rentetan tembakan menggema di jalan. Drilon menarik Nadira merunduk.
"Menunduk!"
Nadira refleks melindungi kepala, jantungnya seakan mau melompat dari mulut. Satu hantaman lagi mengenai mobil, dan Bintang mulai menangis.
"Anakku!"
Drilon menoleh cepat ke belakang. Kursi bayi itu masih terpasang kokoh.
"Dia aman!"
Sopir membanting setir, ban berdecit di aspal, mobil nyaris keluar jalur.
Di belakang mereka, mobil kedua menutup sebagian jalan, dan para anak buah melepas tembakan ke arah penyerang. Rentetan peluru bergema dari segala arah.
Nadira belum pernah mendengar tembakan sebanyak itu. Memekakkan telinga. Tubuhnya gemetar tak terkendali, tapi yang paling menyakitkan adalah mendengar tangis Bintang.
"Tarik napas."
Tapi ia nyaris tak mendengarnya. Mobil musuh lain muncul dari depan.
"Kanan!"
Sopir melakukan manuver tajam, kendaraan sempat berputar sebagian sebelum kembali lurus. Nadira mencengkeram jok sekuat tenaga hingga jari-jarinya memutih.
Lewat jendela ia melihat pria-pria bersenjata menembak tanpa henti. Ia tak pernah membayangkan mengalami ini. Rasanya seperti mimpi buruk.
Mobil antipeluru itu melewati jalan kecil di samping, sementara di belakang para anak buah terus melindungi pelarian mereka.
Tembakan lagi.
Asap lagi.
Teriakan lagi dari radio.
Setelah beberapa menit pengejaran, tembakan akhirnya tertinggal di belakang.
Sopir baru memperlambat laju setelah yakin tak ada lagi yang mengikuti.
Di dalam mobil, hanya tangis Bintang yang memecah kesunyian. Napas Nadira tersengal.
Tangannya masih gemetar, wajahnya pucat pasi. Ia menatap lurus ke depan, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Drilon menyadarinya.
"Nadira..."
Ia tak menjawab, masih syok. Tak pernah terbayang bahwa pergi ke pemeriksaan dokter biasa bisa berakhir seperti ini.
Saat itu juga ia memahami, dengan cara yang brutal, arti sebenarnya hidup di samping keluarga mafia.
Di sini, bahaya tidak mengabari kapan datangnya. Ia muncul begitu saja, dan nyaris saja ia, Bintang, dan semua orang lain menjadi korban sebuah perang yang bahkan bukan perang mereka.