Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 11
Senja menarik napas panjang, meredam emosi yang bergolak di dadanya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja rias tanpa sempat membaca pesan yang baru masuk. Langkah kaki Adam terdengar mendekat dari arah koridor, berat dan tergesa.
Pintu kamar terdorong terbuka. Adam melangkah masuk dengan dasi yang sudah melonggar dan kemeja putih yang sedikit kusut. Wajah pria itu tampak letih, namun begitu matanya menangkap sosok Senja yang berdiri tegak di samping koper besar yang sudah terkunci rapi, raut mukanya seketika berubah.
"Senja?" panggil Adam dengan dahi berkerut dalam. Matanya menatap koper di lantai, lalu beralih pada wajah istrinya.
"Kamu... belum tidur? Terus itu koper mau dibawa ke mana?"
Senja tidak menjawab dengan teriakan atau tangisan. Ia hanya menatap pria yang telah menemaninya selama dua tahun itu dengan tatapan yang amat dingin—sebuah tatapan asing yang belum pernah Adam lihat sebelumnya.
"Aku menunggumu pulang, Mas. Aku mau kita menyelesaikan ini secara baik-baik," suara Senja terdengar pelan, namun teramat tenang dan tegas.
Adam mengerutkan kening, mencoba melangkah mendekat.
"Menyelesaikan apa, Senja? Kamu jangan mulai aneh-aneh malam-malam begini. Aku capek, seharian urus pekerjaan di kantor."
"Urus pekerjaan? Atau urus Arum? Tolong jangan menghindar terus, mas. Selama beberapa bulan ini kamu terus menghindar dari aku! Selama ini kita hidup dalam satu atap, tapi nyatanya kita benar-benar asing!" tembak Senja tanpa basa-basi.
Langkah Adam terhenti seketika. Tubuhnya membeku di tempat, dan warna di wajahnya meluruh habis bagai disiram air es.
"Kamu... bicara apa, Senja? Kamu sepertinya sedang kurang enak badan. Karena bicaramu ngelantur. Lebih baik kita kamu istirahat saja. Kita bicarakan masalah ini besok pagi saja!" Adam kembali mencoba untuk menghindar.
Jujur saja Adam merasa kaget saat Senja menyebut nama Arum. Jangan sampai Senja tahu kalau Arum kembali dan mereka menjalin hubungan. Adam belum siap kehilangan Senja, walau bagaimanpun selama dua tahun ini dia sudah terbiasa dengan kehadiran Senja. Selama tiga bulan belakangan setelah dia kembali kepada Arum. Adam merasakan perbedaan yang sangat nyata. Sebenarnya, Adam mengajak Arum menikah saat pertama kali mereka berhubungan badan, apalagi Adam juga merasakan kalau Arum ternyata tak bisa menjaga dirinya. Karena saat pertama kali itu, Arum sudah tak suci. Namun karena cintanya yang begitu besar kepada Arum, Adam tak mempermasalahkan hal itu.
Namun saat Adam mengajak Arum menikah, Arum menolak dengan alasan jika dia tak mau menyakiti Senja. Dan dia ingin hubungan mereka seperti ini saja, apalagi Arum mengatakan kalau dia juga akan segera menikah karena perjodohan. Adam semakin merasakan perbedaan sikap Arum dan Senja, karena ituah dia juga ingin mempertahankan Senja menjadi istrinya. Sungguh egois memang, namun akhr-akhir ini dia merasa nyaman dengan Senja, saat bersam dengan Arum sejujurnya yang ada dalam pikirannya adalah Senja yang pasti akan sellau menungunya pulang.
Senja melangkah pelan menuju meja rias, meraih ponselnya, lalu mengoperasikan layarnya dengan jemari yang stabil. Ia mengarahkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Adam.
Foto-foto mesra Adam yang tertidur di ranjang bersama Arum, video ciuman di dalam mobil saat makan siang tadi, hingga tangkapan layar pesan beracun dari Arum terpampang nyata di depan mata pria itu.
"Ini yang kamu maksud dengan pekerjaan, Mas?" bisik Senja, bibirnya mengulas senyum yang penuh dengan rasa getir.
"Selama dua tahun aku berusaha jadi istri yang sabar. Aku paham kalau dari awal kamu memang tidak mencintaiku. Tapi membiarkan wanita itu menginjak-injak harga diriku... kamu benar-benar kejam, Mas. Bukankah dari awal kita sudah sepakat, kalau suatu hari nanti Arum kembali dan kalian akan bersama, kamu akan bicara padaku? Kenapa kamu malah membohongiku? Dengan pengkhianatan ini benar-benar sangat menyakitkan untukku, Mas? Aku tahu kamu tak pernah mencintaiku dan tak pernah menganggap aku sebagai seorang istri. Tapi tidak dengan seperti ini caranya! Ini benar-benar menyakitkan!"
Adam mematung, lidahnya terasa kufur kata. Rasa malu, panik, dan penyesalan mendadak menghantam dadanya bertubi-tubi.
"Senja... ini... dengarkan aku dulu," suara Adam bergetar hebat. Tangannya terulur hendak meraih jemari Senja, namun Senja melangkah mundur menjauh secara tegas.
"Arum yang mendatangi aku, Senja! Aku... aku khilaf. Tolong beri aku kesempatan untuk jelaskan... Arum juga akan segera menikah dan... Aku akan berusaha untuk belajar menerima dan mencintai kamu, Senja! Aku mohon beri aku kesempatan, kita mulai dari awal semuanya! Bukankah kamu sangat mencintaiku dan begitu menginginkan rumah tangga sewajarnya..."
"Ah, ternyata kamu emmandang aku serendah itu, Mas Adam. Aku mencintai kamu bukan berarti aku wanita bodoh yang mau kamu permainkan setelah apa yang kamu lakukan dengan Arum atau mungkin namanya Lyra bagi orang lain... Ah itu tak penting. Maaf, Mas. Cintaku untuk kamu sudah hilang bersama dengan saat Arum mengirimkan foto-foto menjijikan kalian..."
"Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas Adam," potong Senja mantap. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan amplop cokelat berisi draf gugatan cerai yang sudah ia tanda tangani. Ia meletakkannya di atas kasur.
"Surat perceraian kita sudah aku siapkan. Aku keluar dari rumah ini malam ini juga, dan aku tidak akan menuntut harta gono gini sepeser pun darimu. Aku hanya ingin kita berpisah secara baik-baik seperti saat kita menikah dengan cara yang baik, terlepas dari selama dua tahun pernikahan kita yang sangat dingin,"
"Nggak! Aku nggak mau cerai, Senja!" teriak Adam frustrasi. Pria itu menyambar lengan Senja, matanya memerah menahan panik.
"Aku tahu aku salah, tapi jangan ambil keputusan emosional seperti ini! Kita bisa perbaiki semuanya! Aku minta kesempatan lagi... Aku akan belajar mencintai kamu, Senja..."
"Lepaskan tanganku, Mas!" sentak Senja dengan tatapan mata melotot tajam.
"Dua tahun aku mengemis cintamu, dan malam ini tugasku sudah selesai. Pintu ini tertutup untukmu selamanya. Kamu terlambat, aku bahkan sudah memberikan puluhan kesempatan padamu,"
Dengan sekali hentakan kasar, Senja melepaskan cengkeraman tangan Adam.
"Tolong segera tanda tangani surat perceraian ini dengan baik-baik... atau aku akan menyebarkan semua foto dan video kalian?"
Sreeet
Sreeet
Akhirnya Adam menandatangani dokumen perceraian mereka.
"Terima kasih, Mas Adam. Terima kasih untuk dua tahunnya, maaf karena selama dua tahun ini aku memiliki banyak kekurangan sebagai seorang istri. Selamat berbahagia bersama dengan, Arum. Wanita yang kamu cintai. Selamat tinggal!'
Ia menyambar gagang koper besarnya, lalu melangkah mantap menyusuri koridor dan turun melewati Adam tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Senja! Senja, tunggu!" panggil Adam berulang kali, mencoba mengejar hingga ke depan pintu utama.
Namun Senja terus berjalan menerobos malam, melangkah menuju taksi online yang sudah menunggunya di depan gerbang.
Begitu pintu taksi tertutup rapat dan mobil mulai bergerak meninggalkan pelataran rumah mewah itu, Senja akhirnya menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Napasnya terengah-engah, namun dadanya terasa amat lega.
Ia memegang ponselnya kembali untuk melihat pesan tak dikenal yang sempat tertunda sebelum Adam datang tadi.
Senja menggeser layar, dan matanya membelalak kaget saat membaca nama pengirim di baris teratas perpesanan tersebut. Pesan itu bukan dari Arum.
“Ini Angkasa. Saya sudah mendapatkan nomor kamu dari Rian. Kirim semua bukti-bukti yang kamu miliki tadi!"