NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Suami Tak Berguna / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran

Suara ketukan pintu yang ragu-ragu memecah keheningan sore itu. Sean membuka pintu rumah mewahnya dan mendapati pemandangan yang membuatnya tertegun. Seorang wanita berdiri di teras, menggendong seorang bayi, sementara tiga anak kecil lainnya yang usianya tampak berdekatan bersembunyi di balik rok usangnya.

Wanita itu, menunduk dalam. “Permisi, Pak. Bisa bantu beri saya pekerjaan? Sebagai pembantu rumah tanggapun saya bersedia, Pak. Asal anak-anak saya bisa makan,” ucapnya lirih.

Sean mengerutkan kening. Kehidupannya yang teratur di rumah ini tidak membutuhkan tambahan asisten rumah tangga. Ia hanya hidup berdua dengan Jinny, istrinya. Tidak banyak tenaga kerja diperlukan, apalagi pekerja yang membawa empat orang anak.

Merasa iba sekaligus bingung menghadapi rombongan kecil ini, Sean merogoh dompetnya. Ia mengulurkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar.

“Ambillah ini. Maaf, saat ini kami tidak sedang mencari pembantu rumah tangga.”

Meski ragu, wanita itu tetap menerima uang itu dengan tangan bergetar. Ia kesini benar-benar mencari pekerjaan, bukan mengemis. Namun gengsi atau harga diri sudah tidak patut ia pertahankan ketika anaknya sudah terancam mati kelaparan. “Terima kasih banyak, Pak…”

Tepat ketika wanita itu berbalik untuk pergi, pandangan Sean tertahan. Sinar matahari sore menerpa wajah Hanis dari samping. Untuk pertama kalinya, Sean benar-benar mengamati fitur wajah wanita itu. Di balik kelelahan, debu jalanan, dan gurat kesulitan hidup, Hanis memiliki kecantikan yang sangat alami. Garis wajahnya lembut namun memikat.

Pandangan Sean kemudian turun pada bayi yang tertidur pulas dalam pelukan Hanis. Anak itu berkulit putih bersih, , dan berwajah sangat cantik, seolah sangat kontras dengan pakaian lusuh yang dikenakannya.

Melihat profil genetik yang begitu baik di depannya, sebuah pikiran gila tiba-tiba menyambar benak Sean. Desakan orang tuanya, ancaman hilangnya warisan, dan kebutuhannya yang mendesak akan seorang anak kandung berputar menjadi satu kesimpulan yang berani.

“Tunggu,” panggil Sean cepat, menghentikan langkah Hanis. “Silahkan masuk sebentar. Kita bicara di dalam.”

Wanita itu memeluk bayi dalam gendongan lebih erat, rasa putus asa dan harapan akan mendapat pekerjaan membuatnya mantap melangkah masuk mengikuti Sean. Anak-anaknya yang lain mengekor dengan canggung, menatap takjub pada interior ruang tamu yang megah.

“Duduk dulu…” Sean mempersilahkan Hanis duduk di sofa ruang tamu. Ia kini menatap wanita di depannya dengan pandangan tajam.

“Oh ya… Silahkan diminum… Cookiesnya juga boleh dimakan.” Sean menyodorkan sebuah toples kaca berisi cookies cokelat kepada anak laki-laki yang duduk paling dekat dengannya. “Minumnya juga ambil aja…”

Ketiga anak laki-laki itu memandang ibunya, meminta izin, dan setelah diberi anggukan kecil mereka segera berebut cookies. Kemudian mengambil botol air mineral dari atas meja dengan gerakan cepat, meski tetap perlu bantuan sang ibu untuk membuka tutupnya yang masih tersegel.

“Saya punya tawaran pekerjaan untukmu, tapi bukan sebagai pembantu rumah tangga,” ucap Sean perlahan, menyusun kata-katanya agar terdengar lugas. “Saya sedang berada dalam posisi di mana saya membutuhkan seorang anak kandung untuk menyelamatkan hak waris keluarga saya.”

Sean mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata wanita itu. “Melihatmu dan anak-anakmu... saya ingin menawarkan sebuah kerja sama. Saya akan memberikan sejumlah uang yang sangat besar, menjamin kehidupanmu, dan menyekolahkan semua anak-anakmu. Tapi syaratnya, kamu harus bersedia menjadi ibu dari anak saya. Saya butuh anak kandung dari rahimmu.”

Wanita itu mematung. Matanya membelalak lebar mencerna tawaran absurd yang baru saja dilontarkan pria di hadapannya. Jantungnya berdetak kencang antara kaget dan takut.

“Maksud Bapak...?” Napasnya tertahan, tampak sangat kebingungan. “Saya datang mencari pekerjaan yang wajar, Pak. Lagipula…”

Ia menelan ludah, meremas ujung kain selendang gendongan bayinya dengan gugup. “Saya tidak bisa menerima tawaran seperti itu. Saya sudah punya suami.”

Ruang tamu itu mendadak terasa hampa meski diisi oleh enam orang. Sean terdiam sejenak, mencerna ucapan wanita di depannya.

Ada suami.

Tentu saja.Dari mana datangnya empat anak ini jika bukan dari sebuah pernikahan.

“Maaf, mari kita mulai dengan perkenalan yang pantas. Nama saya Sean,” ucapnya sambil memperbaiki posisi duduk, mencoba mencairkan ketegangan yang mengudara di ruangan itu.

“Saya... Hanis, Pak,” jawabnya gugup, tangannya terus menahan gerakan anak-anaknya agar tidak sembarangan menyentuh barang-barang mahal yang ada di ruangan itu.

“Usia kamu…? Saya dua puluh enam tahun,” ucap Sean, berusaha menanyakan beberapa hal mendasar yang diperlukan.

“Saya juga dua puluh enam tahun… September nanti…,” jawab Hanis. Sedikit terkejut dengan kesamaan usia dan bulan lahir mereka.

Sean tak kalah terkejut. Tak menyangka mereka seusia. Sebuah fakta yang terasa bagai ironi. Mereka sama-sama dua puluh enam tahun, namun Hanis sudah memiliki empat orang anak, sedangkan dirinya belum juga menjadi ayah.

“Saya minta maaf jika tawaran saya tadi menyinggungmu. Tapi jika nanti kamu berubah pikiran, ini nomor ponsel saya…”

“Saya tidak punya,” potong Hanis cepat. “Saya tidak punya ponsel.”

Mulut Sean terbuka. Kaget. Tidak menyangka di zaman yang serba modern ini masih ada orang dewasa yang tidak punya ponsel. Bahkan anak-anakpun sekarang memiliki ponsel atau setidaknya tablet.

“Suami saya ada, tapi ya… dibawa suami saya…”

“Baiklah, kamu bisa diskusikan dengan suami jika tidak keberatan, lalu hubungi saya dengan nomor suamimu juga tidak apa-apa,” ucap Sean sembari menuliskan nomor ponselnya pada secarik kertas notes warna kuning dengan pulpen dan menyerahkannya kepada Hanis.

...****************...

1
falea sezi
sean ini bodoh mau ma jiny bekas gt🤣 mending bantuin haniscerai dr suami nya 🤣 trs elu ama hanis aja
Quoari: Eh nanti gelut dong sama Reno 😭
total 1 replies
falea sezi
egois ini sean🤣 dan lu masih mau ma istri yg bekas di obok2 mantan pcrnya menjijikkan
falea sezi
🤣goblok istri bekas aja mau
Quoari: Terlalu baik sih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!