NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - TAWARAN PERNIKAHAN

BAB 1 — DITOLAK HARI INI, DITAWARI NIKAH KONTRAK OLEH CEO

Dari pagi aku belum makan.

Perutku sudah berkali-kali berbunyi, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Uang di dompetku tinggal tujuh puluh tujuh ribu rupiah. Tiga puluh lima ribu di antaranya sudah kugunakan untuk membeli mawar putih yang sekarang kugenggam dengan tangan gemetar.

Bodoh? Mungkin.

Namun, setelah empat tahun menyukai Rio, aku lelah terus menjadi penonton dalam hidupnya. Aku ingin tahu apakah selama ini ada kemungkinan bagiku untuk menjadi seseorang yang lebih berarti.

Hari ini aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku.

“Lil, kamu serius?”

Rio menatap bunga di tanganku. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang membuat keberanianku perlahan surut.

Aku mengangguk. “Serius. Aku suka sama kamu.”

Aku menyodorkan mawar itu. Sayangnya, Rio tidak langsung menerimanya. Dia justru mengusap wajah dan mengembuskan napas panjang.

“Maaf, Lil. Aku anggap kamu teman.”

Dadaku terasa kosong.

Teman.

Selama empat tahun, aku mengingat kebiasaannya, menemani dia ketika punya masalah, bahkan rela terjaga sampai subuh hanya untuk mendengarkan ceritanya. Aku masih ingat ketika dia datang ke kos membawa obat saat aku sakit. Aku mengira perhatian kecil itu mungkin berarti sesuatu.

Ternyata, aku hanya salah mengartikan kebaikan.

“Oh,” jawabku sambil tersenyum tipis. “Nggak apa-apa.”

Rio terlihat lega.

“Jangan berubah, ya. Kita tetap teman.”

Aku ingin bertanya bagaimana caranya kembali menjadi teman setelah mengumpulkan keberanian selama bertahun-tahun hanya untuk mengakui perasaan. Namun, sebelum sempat menjawab, suara tawa dari meja belakang membuatku menoleh.

“Woi, ditolak!”

Dua teman Rio mengarahkan ponsel ke arah kami.

“Rekam, rekam! Momen bersejarah!”

“Empat tahun, bro! Empat tahun!”

Wajahku panas. Aku tidak tahu dari mana mereka mengetahui perasaanku selama ini, tetapi melihat mereka menjadikannya bahan tertawaan membuat tenggorokanku tercekat.

Rio malah tertawa kecil.

“Sudah, jangan lebay.”

Kemudian dia menatapku.

“Jangan baper, Lil.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada penolakannya.

Aku memasukkan bunga ke dalam tas dan berdiri.

“Aku pulang dulu.”

“Lili, tunggu—”

Aku tidak menoleh.

Begitu keluar dari restoran, hujan langsung membasahi tubuhku. Aku berlari menuju atap kecil dekat parkiran belakang, lalu berhenti sambil mengatur napas.

Aku tidak menangis karena Rio tidak mencintaiku. Setidaknya, itulah yang berusaha kukatakan kepada diriku sendiri.

Aku menangis karena selama ini aku membangun harapan dari hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah berarti apa-apa baginya.

Aku mengeluarkan mawar dari tas.

Bungkusnya lecek. Salah satu tangkainya patah.

“Harusnya uangnya buat beli nasi,” gumamku.

Tiga puluh lima ribu rupiah. Uang yang seharusnya bisa kugunakan untuk makan selama beberapa hari.

Tanganku terpeleset. Bunga itu jatuh ke genangan lumpur.

Aku buru-buru mengambilnya, tetapi kelopaknya sudah kotor.

Air mataku akhirnya jatuh.

“Lengkap banget, ya, Lil.”

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dariku.

“Lili?”

Aku mengangkat wajah. Pak Damian, CEO perusahaan tempatku magang, menatapku dari balik jendela mobil.

Dia keluar membawa payung.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Kamu menangis.”

“Kena hujan.”

Damian melirik langit yang masih mencurahkan air dengan deras, lalu kembali menatapku.

“Air hujan biasanya tidak membuat seseorang berusaha menyembunyikan tangisnya.”

Aku terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat pertahananku runtuh.

“Saya ditolak, Pak,” kataku akhirnya. “Terus teman-temannya merekam dan menertawakan saya.”

“Orang yang kamu sukai?”

Aku mengangguk.

“Sudah berapa lama?”

“Empat tahun.”

Damian terdiam sesaat.

“Pasti tidak mudah mengatakannya.”

Aku tertawa hambar. “Yang susah itu menerima kenyataan kalau selama ini saya berharap sendirian.”

Dia tidak langsung menjawab. Damian hanya menggeser payung agar tubuhku terlindung dari hujan.

“Kamu tidak salah karena berani mengungkapkan perasaan,” katanya. “Jangan sampai perlakuan orang lain membuatmu malu atas keberanianmu sendiri.”

Aku menunduk menatap bunga di tanganku.

“Tetap saja sakit, Pak.”

“Saya tahu.”

Dia tidak memaksaku bercerita lebih jauh. Dia hanya menemaniku sampai kendaraan jemputan tiba. Sebelum pergi, dia memastikan aku mendapatkan transportasi yang aman.

Anehnya, perhatian kecil dari seseorang yang hampir tidak kukenal justru membuatku merasa lebih dihargai.

Pukul sembilan malam, aku tiba di kos.

Kamar sempitku masih sama: dinding mengelupas, kasur tipis, dan atap bocor yang membuat air menetes ke ember plastik.

Aku berganti pakaian, lalu duduk di ujung kasur untuk menghitung uang di dompet.

Empat puluh dua ribu rupiah.

Besok aku harus membayar ongkos ke kantor, membeli air minum, dan makan. Aku menghela napas sebelum mengambil nasi sisa dari kulkas. Kutambahkan kecap, lalu kumakan perlahan sampai habis.

Setelah itu, aku memasukkan mawar putih ke dalam gelas plastik berisi air.

“Besok aku buang,” gumamku.

Namun, tanganku tidak sanggup melakukannya.

Ponselku bergetar. Sebuah video masuk ke grup anak magang. Saat kubuka, dadaku langsung sesak.

Video penolakanku.

Tawa mereka terdengar jelas. Komentar demi komentar bermunculan, sebagian menertawakan, sebagian lagi mengasihaniku.

Aku segera mematikan layar.

Aku ingin berhenti magang. Aku tidak sanggup membayangkan harus bertemu Rio besok pagi, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu mendengar bisikan di belakang punggungku.

Namun, aku tidak punya pilihan. Aku membutuhkan pekerjaan itu.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Pak Damian: Sudah sampai di kos?

Aku: Sudah, Pak. Terima kasih atas bantuannya tadi.

Pak Damian: Besok setelah jam kerja, saya ingin membicarakan sesuatu dengan kamu.

Aku mengira itu urusan pekerjaan.

Namun, pesan berikutnya membuatku mengernyit.

Pak Damian: Sebagian urusan kantor. Sebagian lagi urusan pribadi.

Belum sempat kubalas, telepon darinya masuk.

“Maaf mengganggu malam-malam,” katanya.

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Saya ingin bicara terus terang. Keluarga saya sedang mendesak saya untuk menikah. Saya sedang mempertimbangkan pernikahan kontrak.”

Aku langsung duduk tegak.

“Pernikahan kontrak?”

“Iya.”

“Pak, saya cuma anak magang. Kenapa Bapak menceritakan ini kepada saya?”

“Saya ingin menawarkan sesuatu kepada kamu. Besok saya akan menjelaskan alasannya.”

Aku terdiam cukup lama.

“Kenapa harus saya?”

“Saya sudah mengenal cara kerja kamu. Kamu teliti, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya.”

Aku hampir tertawa getir.

“Bapak salah orang. Hari ini saja saya baru ditolak.”

Hening sejenak.

“Itu justru alasan saya ingin berhati-hati,” jawab Damian. “Saya tidak ingin kamu menerima tawaran ini hanya karena sedang terluka.”

Suaranya terdengar serius.

“Kalau kamu menolak, pekerjaanmu tetap aman. Saya tidak akan menggunakan posisi saya untuk memengaruhi keputusanmu.”

Aku menatap mawar putih di dalam gelas.

“Kalau saya mau mendengarkan penjelasannya dulu?”

“Datang besok. Kamu tidak perlu memberikan jawaban saat itu juga.”

“Baik, Pak.”

“Terima kasih, Lili.”

Telepon berakhir.

Aku meletakkan ponsel di samping bantal, kemudian menatap langit-langit kamar yang bocor.

Hari ini aku kehilangan harapan yang kusimpan selama empat tahun. Sekarang, seorang CEO menawarkan sesuatu yang bahkan tidak pernah berani kubayangkan.

Aku belum tahu apa yang sebenarnya diinginkan Damian. Aku juga belum tahu apakah pernikahan kontrak itu akan menjadi jalan keluar atau justru masalah baru.

Namun, aku tidak mau menikah hanya karena patah hati.

Jika suatu hari aku menerima tawaran itu, aku ingin melakukannya karena memahami risikonya, bukan karena ingin melarikan diri dari rasa malu.

Aku ingin mengambil keputusan yang benar-benar menjadi milikku sendiri.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!