Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
POV: Arga
Namaku Arga Wiratama. Wiratama Tech kubangun dari nol, dari kamar kontrakan sampai menara di Sudirman, dan aku tidak minta maaf atas apa pun yang kulakukan di sepanjang jalan. Orang-orang menganggapku dingin. Mereka tidak tahu separuhnya.
Dari makan malam aku langsung kembali ke kantor, bukan naik ke kamar. Di dinding, enam layar menampilkan rumah Pondok Indah dari segala sudut. Dia sudah sampai. Dia bersandar di dinding lorong, tangan di perut, bicara dengan Bi Ningsih. Kunaikkan volume salah satu kamera.
"Pergilah dari rumah ini," kata Bi Ningsih.
Kumatikan suaranya. Tak perlu kudengar. Aku sudah tahu apa yang akan Lia lakukan, karena sudah bertahun-tahun kupelajari dia, seperti aku mempelajari pesaing sebelum mengakuisisinya. Dia akan mengancam, menangis sendirian, mengemas tas. Dan dia tidak akan berhasil keluar, karena setiap pintu yang penting sudah kukunci: pintu besi, dan pintu bank.
Dimas, asistenku, masuk tanpa mengetuk, seperti biasa.
"Media sudah mulai berspekulasi soal perpisahan kalian," katanya. "Besok pagi ini jadi kolom gosip."
"Biarkan saja."
"Arga, kamu mempermalukan Priska di acara investor. Separuh meja menganggapnya tidak pantas. Dana Amerika itu bertanya padaku di pintu keluar apakah 'kehidupan pribadi CEO masih terkendali'."
"Kehidupan pribadi CEO ada persis di tempat yang dia mau." Kuputar kursiku menghadapnya. "Dan Priska bukan masalahku."
"Dia hamil dan merasa itu masalahmu."
"Priska itu langkah Mama." Aku berdiri, berjalan ke layar-layar itu. "Mamaku mau pewaris, garis keturunan, foto keluarga untuk majalah hari Minggu. Kuberi dia perut yang dia mau, dan alasan buat Lia akhirnya sadar pernikahan ini bukan demokrasi. Itu saja. Priska berguna. Akan kubuang kapan pun aku mau."
Dimas terdiam sejenak, wajahnya mengeras.
"Dan kalau Bu Amelia benar-benar mau cerai?"
"Dia tidak akan bisa."
"Secara hukum dia bisa. Pernikahan itu bukan penjara, Arga."
"Secara hukum dia tidak punya sepeser pun yang tidak lewat perusahaanku." Aku kembali menatap layar. "Kartu, rekening bersama, mobil, asuransi kesehatan, ponselnya. Kariernya kukubur pelan-pelan, selama tiga tahun, satu peran yang lenyap di sini, satu undangan yang tak pernah sampai di sana, satu agensi yang 'merombak' casting-nya. Dia kira dunia sudah melupakan aktris Amelia Pramesti. Dunia tidak lupa. Aku yang membayar supaya lupa."
Dimas menunduk. Dia tidak suka percakapan seperti ini. Dia bekerja bersamaku sejak awal dan masih percaya ada versi diriku yang baik. Tidak kupatahkan keyakinannya karena dia berguna, dan karena kadang-kadang aku pun ingin versi itu ada.
Ponselku berdering. Mama.
"Kamu lihat wajahnya?" tanya Mama, riang, dengan suara orang yang baru memenangkan hadiah. "Pergi sambil menunduk. Sekarang kamu segera nikahi Priska, sebelum anak itu lahir tanpa ayah yang tercatat. Keluarga ini butuh pewaris yang bersih."
"Aku tidak akan menikahi Priska."
"Arga."
"Priska sudah berguna sesuai fungsinya." Kupijat pelipis. "Selamat malam, Ma."
"Jangan tutup telepon di depan Mama. Mama yang membesarkanmu, Arga. Setiap langkah perusahaan ini..."
"Selamat malam, Ma."
Kututup sebelum dia mulai lagi. Suara Mama punya bakat membuat kepalaku nyeri di belakang mata, nyeri lama yang tak bisa disembuhkan obat apa pun. Kubuka laci, kuminum dua tablet yang dia sendiri pesankan dari apotek kepercayaannya, dan nyerinya mereda, seperti biasa. Aku tak pernah bertanya kenapa hanya obat itu yang manjur. Sudah bertahun-tahun begini, dan aku meminumnya tanpa berpikir.
Aku kembali ke layar.
Lia sudah naik. Dia di kamar, duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun, menatap sesuatu di tangannya. Kuperbesar gambarnya. Sehelai saputangan terlipat. Dia membukanya dan menutupnya, membukanya dan menutupnya, seperti sedang berdoa.
Ada sesuatu yang menekan dadaku, dan aku membenci perasaan itu.
Karena kebenaran yang tak kuucapkan, bahkan pada Dimas, sederhana dan buruk. Aku tidak acuh pada Lia. Tidak pernah. Aku menginginkannya dengan cara yang tak muat dalam penjelasan, dan justru karena itu kuisi rumah dengan kamera, kukunci uangnya, kubunuh kariernya. Perempuan yang bebas bisa pergi; perempuan yang tak punya apa-apa tidak.
Aku lebih suka dia membenciku di dalam rumah daripada tersenyum pada lelaki lain di luar sana.
Dimas berdeham di belakangku.
"Saya permisi kalau begitu. Kecuali Bapak butuh yang lain."
"Butuh." Kuambil ponsel dan mulai mengetik. Cari tahu ke mana dia akan pergi beberapa hari ini. Perketat pengawasan. Begitu ada gerakan aneh di rekeningnya, blokir semuanya.
"Rekeningnya juga diblokir?" Dimas bertanya, membaca dari balik bahuku. "Itu kekerasan ekonomi, Arga. Ada pasalnya di undang-undang."
"Lakukan."
Dia keluar, dan aku menatap layar. Lalu aku ragu, dan mulai mengetik pesan kedua, lebih pendek. Cari tahu juga apakah dia hamil.
Kutatap kata-kata yang berkedip itu. Beberapa minggu terakhir sebelum makan malam, dia menolak kopi, tidur sampai siang, berlari ke kamar mandi tiap pagi dan menutup pintunya. Semuanya kulihat lewat kamera dan tak kuhitung, karena tiga tahun mengajariku untuk tidak menghitung, tidak berharap. Kini angka-angka itu menjumlahkan dirinya sendiri, dan hasilnya membuatku ngeri.
Kuhapus pesan kedua sebelum terkirim.
Bukan karena aku tak mau tahu. Karena aku takut jawabannya. Kalau dia hamil, dan kalau itu anakku, maka semua yang kulakukan malam ini, kembang api, Priska, Mama yang menancapkan tusukannya, semua itu kesalahan terbesar dalam hidupku. Kesalahan yang tak bisa kuperbaiki dengan seluruh uang di dunia.
Kutatap lagi layarnya. Lia menyelipkan saputangan itu di bawah bantal, mematikan lampu, dan berbaring miring, meringkuk, cara tidur orang yang ketakutan. Cara dia tidur selama berbulan-bulan, yang pura-pura tak kulihat.
"Kamu tidak akan pergi dari sini," kataku pada layar, pada siapa pun. "Aku tidak akan membiarkan."
Aku terjaga sampai dini hari, menontonnya tidur, dengan keyakinan sakit bahwa begitulah cinta, tanpa mengerti kenapa semua itu, makin hari, makin mirip sel tempat aku sendiri ikut terkurung.
Pagi harinya, ketika Dimas mengirimkan jawabannya, sudah terlambat. Lia bangun jam enam, mengemas tas kecil, dan meminta Bi Ningsih membuka gerbang servis.
Dan sistemku, yang kurancang begitu cermat supaya dia tak pernah bisa kabur, yang menghabiskan biaya selangit, baru memberi peringatan setelah semuanya lewat. Kamera pos servis, kuketahui kemudian, sudah rusak sejak sehari sebelumnya. Bi Ningsih yang mengakalinya. Bahkan di dalam sangkarku sendiri, ada orang yang berdoa supaya dia lolos.